
"Lewat sini!"
Ibu Tasya kini mengendap-endap seraya di ikuti oleh pria yang akan melakukan sesuatu yang mengejutkan. Pria tersebut juga ikut berwaspada dengan menatap sekeliling, memastikan tidak ada yang melihat mereka berdua.
Mereka berdua kini berada di belakang altar pernikahan yang cukup tertutup dan tidak ada seorang pun. Ibu Tasya mengambil kain dan menutupi aktivitas pria tersebut, yang mulai sibuk dengan senjata apinya.
"Cepat! Kenapa lama sekali!" protes Ibu Tasya membuat pria tersebut mendengus kesal.
"Bersabar lah! Aku harus mencari waktu yang pas untuk menembak!" sahut pria tersebut dengan kesal. Setelah selesai, pria tersebut menatap senjata api tersebut dan melirik Ibu Tasya.
"Kau kembalilah ke ballroom, pasti akan ada curiga karena kau tidak ada di sana." kata Pria tersebut membuat Ibu Tasya menepuk dahinya.
"Aku tidak memikirkan hal itu," gerutu Ibu Tasya dan bergegas kembali ke ballroom hotel tanpa pikir panjang. Pria tersebut merapihkan ransel hitamnya dan mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.
Sedangkan di sisi lain, Ibu Tasya mengusap keringat dinginnya dan menghembuskan napas panjang. Menatap sekeliling dan memastikan tidak ada yang melihat dirinya keluar dari belakang altar.
"Ibu!" Panggil Sonia membuat jantung Ibu Tasya hampir saja terlepas.
"Kau membuat Ibu terkejut!" protes Ibu Tasya dengan mencubit lengan sang putri. Sonia merintis kecil dan langsung memasang wajah kesal.
"Ibu kemana saja? Aku mencari mu sejak tadi!" kata Sonia membuat Ibu Tasya menghela napas dan langsung menarik lengan sang putri ke belakang pilar.
"Dengar ini baik-baik, Sonia." bisik Ibu Tasya membuat Sonia mulai bertanya-tanya, "akan ada hal yang mengejutkan di sini. Kau harus tetap bersama Ibu, agar tidak terjadi sesuatu dengan mu!" lanjut Ibu Tasya dengan raut wajah serius.
"Apa yang Ibu rencanakan?" tanya Sonia dengan tatapan yang sungguh tajam. Ibu Tasya menyunggingkan senyum dan menunjuk ke arah lain dengan dagunya.
"Kau lihat saja nanti, akan ada berita yang mengejutkan! Bayangkan saja dulu, Zane akan menikah dengan mu!" ujar Ibu Tasya membuat Sonia tersenyum senang. Wanita itu mulai membayangkan Zane yang akan menikah dengannya.
"Zane adalah milikku, Bu. Bukan milik Chelsea!" jawab Sonia dengan girang. Ibu Tasya mengelus kepala sang putri dengan penuh bangga dan kasih sayang.
"Pasti, Nak. Tidak akan lama lagi," gumam Ibu Tasya dengan tatapan menerawang.
Mereka berdua tidak menyadari, bahwa ada seorang gadis yang mendengar pembicaraan antara Ibu dan Anak itu. Gadis itu bahkan mulai bertanya-tanya, apa yang mereka rencanakan hingga mengatakan akan ada berita mengejutkan.
Gadis cantik dengan rambut tergerai itu bergegas pergi untuk menemui Ayahnya. "Aku harus membicarakan ini dengan Ayah!" gumam gadis tersebut dengan mempercepat langkahnya mendekati Ayahnya yang sibuk berbicara dengan kepala keluarga Lincoln, Owen.
"Ayah!" panggil gadis tersebut membuat kedua pria tersebut langsung menoleh cepat. Papa Owen langsung terpana melihat kecantikan dari gadis yang begitu Ia kenali.
"Dia?"
"Perkenalkan dia adalah putri bungsu ku, Rebecca Wiguna. Nak, beri salam kepada teman Ayah." kata Tuan Wiguna kepada putri bungsunya.
Rebecca menoleh dan tersenyum sangat manis, "Halo, Om! Aku Rebecca!" sapa Rebecca membuat Papa Owen tersenyum tipis.
__ADS_1
Sepertinya gadis ini sangat cocok dengan Daniel. Batin Papa Owen dengan melirik Daniel yang sibuk dengan Nicholas.
...****************...
Sejak tadi, Chelsea tetap terdiam di saat Zane mencoba untuk mengajaknya berbicara. Pikiran Chelsea terus jatuh pada pria misterius yang tak sengaja Ia lihat dari balkon kamar. Perasaannya mulai tidak enak sejak tadi, bahkan tak sadar dengan menatap sekeliling memastikan semuanya baik-baik saja.
"Sayang, ada apa?" tanya Ayah Robert yang menyadari kekhawatiran sang Putri.
"Duduk lah, Kak." kata Ashton dengan perhatian. Ashley sudah sangat sibuk, ikut menyambut tamu bersama Alex dan Arthur. Sedangkan Nicholas sibuk mengawasi para bodyguard bersama Daniel.
"Aku tidak apa-apa, mungkin aku kelelahan." jawab Chelsea dengan helaan napas. Zane mengusap pundak sang istri.
"Tetap di sini, aku akan mengambilkan sesuatu untukmu, kau belum menyentuh sesuatu sejak tadi." Chelsea hanya mengangguk dan membiarkan Zane untuk pergi ke stand makanan.
Ayah Robert menatap sang putri yang kembali terdiam, tetapi pria itu memilih untuk diam dan tidak bertanya apapun. Sedangkan di sisi lain, Rebecca sibuk memilih makanan untuknya sendiri.
"Becca?"
Gadis manis berusia 20 tahun itu menoleh, "Kak Zane!" sapa Rebecca yang terkejut dengan kedatangan Zane. Pria itu tersenyum tipis sebagai balasannya.
"Kau kemari dengan Ayah mu?" tanya Zane dengan sibuk memilih makanan untuk Chelsea. Rebecca mengangguk antusias.
"Benar," jawabnya, tetapi senyuman itu semakin mengembang karena satu hal. "Apakah aku boleh bertanya, Kak?"
Rebecca tersenyum senang dan melirik ke arah pintu masuk, tatapannya tentu saja jatuh kepada dua pria tampan, tetapi bukan kepada Nicholas, melainkan kepada Daniel yang sibuk dengan HT miliknya. Zane mengikuti arah pandang Rebecca dan menyunggingkan senyum tipis.
"Kau menatap siapa?" tanya Zane pura-pura tidak tahu. Wajah Rebecca merona, karena terciduk menatap pria tampan di pintu masuk.
"Siapa nama pria itu?" tanya Rebecca dengan tangan bergetar, seraya menunjuk ke arah Daniel.
Zane hanya tersenyum tanpa ikut menoleh, "Namanya Daniello Robert, dia masih lajang dan kira-kira usia kalian terpaut 5 tahun. Daniel bekerja sebagai sekretaris ku di kantor, sekaligus sudah aku anggap sebagai Adik," Zane menjelaskan semuanya tentang Daniel. Rebecca semakin merona mendengarnya dan memilih untuk pergi. Zane menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Rebecca yang sepertinya jatuh pada pandangan pertama kepada Daniel.
Di sisi lain, Daniel membenarkan HT miliknya yang sedikit bermasalah. Pria itu tampak kesal dan menghela napas panjang, Nicholas yang sejak tadi menelisik semua tamu dengan tatapan yang sungguh tajam pun menoleh.
"Ada apa?" tanya Nicholas karena sejak tadi Daniel terus saja berisik.
"HT ku sepertinya bermasalah. Kau memiliki yang baru?" tanya Daniel. Nicholas mengeluarkan benda yang di maksud oleh Daniel dari saku jasnya.
"Kau ini sungguh merepotkan saja!" gerutu Nicholas membuat Daniel memutar matanya malas. Setelah memasang HT yang baru, tatapan Daniel malah jatuh pada pria berpakaian serba hitam, yang terlihat mencurigakan di sudut ruang ballroom.
Mata pria itu menyipit sempurna, "Aku akan pergi sebentar." pamit Daniel yang membuat Nicholas hanya mengangkat bahunya acuh. Daniel berjalan mendekati pria yang sungguh sangat asing itu melalui jalur belakang. Tidak ingin pria tersebut lari karena melihat kedatangannya, dan tentu akan membuat satu ballroom langsung ricuh.
"Dia sangat mencurigakan!" gumam Daniel yang terus melangkah dengan pelan. Dan kini, Daniel sudah berdiri di belakang pria asing tersebut, dengan memegang revolver miliknya. Matanya membulat sempurna, saat melihat pria asing tersebut mengeluarkan senjata api dari saku celananya.
__ADS_1
Pria asing itu mengangkat senjatanya dan mulai mengarahkan ke arah sasarannya, Chelsea. Chelsea yang tengah berdiri tepat di samping Zane. Daniel mengepalkan kedua tangannya dan mematikan HT miliknya.
"Tidak akan aku biarkan, kau merusak acara ini!" gumam Daniel yang mulai mengangkat revolver miliknya.
Sedangkan pria asing tersebut mulai menyeringai dan hendak menarik pelatuk pistol. Pria itu membulatkan matanya saat menyadari bila ada sesuatu yang menempel di pelipisnya, benda dingin dan sangat tidak asing.
"Bila kau menarik pelatuk pistol mu, maka peluru ini akan namanya kepala mu!" bisik Daniel penuh ancaman. Pria tersebut mengumpat dan menurunkan pistolnya. Berbalik badan dan saling beradu tatap dengan Daniel.
"Ternyata kau menyadari kedatangan ku, Tuan." katanya membuat Daniel tertawa sumbang.
"Sepintar-pintarnya kau, tapi sayangnya aku yang lebih pintar di sini." jawab Daniel dengan sarkas.
TUK .....
Daniel mengetuk ujung topi hitam tersebut, mengisyaratkan pria asing di hadapannya untuk menjatuhkan pistolnya. Alih-alih menurut, pria tersebut malah menyeringai tajam dari balik maskernya.
"Kau bagaikan buaya di kartun kancil. Mudah untuk di bodohi," sahut pria tersebut membuat Daniel mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Aku kancil dan kau buaya, sangat adil kan?"
"Apa maksud mu?!" tanya Daniel dengan nada penuh ancaman. Pria tersebut melipat tangannya ke belakang, dengan pistol mengarah kepada sasarannya.
"Lihat ke arah depan, kau di sini bersama ku, sedangkan rekan ku yang siap membunuh target!"
DEG .....
Daniel mengeram kesal saat melihat seorang pria yang juga mengarahkan pistol ke sasarannya, Chelsea. Seolah-olah melupakan tentang pria asing tersebut, Daniel langsung berlari kencang ke arah Chelsea, sebelum pelatuk pistol di tarik. Pria tersebut tertawa kecil dan langsung mengarahkan pistol nya ke arah Chelsea.
DOR ....
BRUK ....
"AKHHH!"
"DANIEL!"
"CHELSEA!"
Pekik semua tamu di sana, mereka terkejut bukan main saat mendengar suara letusan peluru yang menggema. Pria asing tersebut membulatkan matanya, saat Daniel ternyata sangat tidak mudah untuk di bodohi. Daniel yang mengetahui bahwa dirinya di bodohi, langsung mendorong tubuh Chelsea hingga terjatuh ke lantai, sedangkan dirinya yang terkena tembakan tepat di lengan kanan.
"SAYANG!" Zane langsung menggendong Chelsea yang menangis kesakitan seraya memegangi perutnya. Wanita itu begitu syok dengan apa yang baru saja terjadi, Zane semakin di buat panik saat darah segar mulai mengalir di sela-sela paha sang istri.
"Zane, sakit sekali!" Semua tamu bahkan sudah keluar untuk menyelamatkan diri. Zane bergegas keluar ballroom dan masuk ke dalam mobil menuju rumah sakit.
Nicholas yang menerima sinyal tatapan dari Daniel sebelum terjadi penembakan pun, langsung mengajar pria asing yang sudah Ia lihat setelah Daniel pergi dari sampingnya.
__ADS_1
"Da ... Daniel, apakah kau tidak a ... apa-apa?"