Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Hamil


__ADS_3

Hamil. Satu kata itu mulai membuat Zane tidak bisa fokus dalam bekerja sejak tadi. Setelah Chelsea tidur terlelap di pelukannya, pria itu kembali bekerja dan memilih untuk bekerja di kamar saja, cemas dengan Chelsea yang akan mengelus sakit kembali.


Zane mencari artikel tentang kehamilan, tetapi tidak semua gejala di rasakan oleh Chelsea atau dirinya, terkecuali rasa pusing yang berlebihan. Zane melirik Chelsea yang tertidur dengan sesekali mengerutkan keningnya, apakah segitu sakitnya hingga membuatnya menangis? pikir Zane sejak tadi.


Memikirkan kehamilan saja sudah membuat Zane senang setengah mati, bagaimana bila kenyataannya Chelsea benar-benar hamil buah hati mereka? Bayangkan rasa senang apa yang akan Zane rasakan, selama tiga bulan dirinya menantikan kabar kehamilan sang istri. Zane tersenyum tipis dan meraih ponselnya untuk menelpon seseorang.


"Ada apa?" tanya orang di seberang sana dengan nada serak.


"Belikan aku alat tes kehamilan," tutur Zane membuat pria di seberang sana mendesah berat.


"Oh ayolah, ini sudah sangat-"


"Atau gaji 50% mu aku potong, Daniel!" ancam Zane membuat Daniel semakin mendesah berat.


Tidur malamnya tertunda kembali, bagian pria itu baru saja ingin menyentuh selimut setelah menyelesaikan pekerjaan yang di berikan oleh Zane secara mendadak.


"Dasar!" gerutu Daniel dan langsung mematikan sambungan telponnya.


Zane memijat pangkal hidungnya dan beralih mengisap kening Chelsea, "Aku di sini." bisik Zane membuat Chelsea menggeliat.


"Zane," panggil Chelsea tanpa membuka matanya. Zane meletakkan laptopnya di meja dan menidurkan tubuhnya.


"Aku di sini, Amora." jawab Zane dengan begitu lembut. Chelsea membuka matanya dan tersenyum tipis.


"Don't go, stay here."


Zane tersenyum lebar dan mengangguk, "Aku tidak akan kemana-mana. Aku tetap di sini, tidur lah."


Chelsea menggeleng sebagai jawabannya, "Aku tidak bisa tidur lagi. Aku ingin ...."


Tatapan Chelsea jatuh pada perut kotak-kotak milik Zane. Pria yang mulai hobi tidur tanpa atasan itu mulai menyunggingkan senyum tak biasa, "ingin dia?" tebak Zane dengan membawa tangan lentik sang istri ke pusat tubuhnya.


GLEK ....


Wajah Chelsea langsung berubah menjadi merah padam dan tidak menarik tangannya seperti biasanya. Zane dengan nakalnya, menekan pusat tubuhnya dengan tangan Chelsea, wanita itu semakin di buat panas dingin karena ulah nakal suaminya.


"Zane!" Chelsea menarik tangannya, tetap Zane langsung menahannya.


"Bagaimana kalau kita mewujudkan keinginan keluarga kita?" Zane merapatkan tubuh mereka berdua, napas mulai menerpa satu sama lain. Chelsea menjatuhkan tatapannya pada leher Zane yang begitu kekar.


"Tapi bagaimana kalau gagal?" tanya Chelsea dengan raut wajah sendu. Akhir-akhir ini, Chelsea memang sering menggunakan alat tes kehamilan untuk berjaga-jaga, tetapi hasilnya tetap sama yaitu garis satu.


"Tidak ada salahnya untuk mencoba lagi dan lagi, siapa tahu benih ku sedang berlomba-lomba di sini." jawab Zane dengan mengusap perut rata Chelsea dari dalam dress-nya. Chelsea hanya diam, saat tangan nakal itu mulai meraba ke tempat lain.


"Zane-mhhh!" lenguhan Chelsea semakin membuat Zane bersemangat. Itu artinya Chelsea tidak menolak dirinya. Pria itu langsung mengunci tubuh sang istri, dengan tangan kekarnya sebagai tumpuan.

__ADS_1


"Aku menginginkanmu, Honey." bisik Zane bagaimana sengatan listrik bagi Chelsea. Pria itu mulai mengendus-endus leher jenjang Chelsea yang terbuka, tanpa penolakan, Chelsea pun mengalungkan tangannya dan mengusap rambut pria itu.


Lenguhan dari Chelsea mulai terdengar indah di pendengar Zane. Pria itu menarik resleting dress dan menanggalkan pakaian Chelsea, hingga tertinggal pakaian dalam saja. Gundukan kembar yang begitu mempesona, membuat hasrat Zane begitu memuncak. Pria itu menelan ludahnya dan menatap Chelsea meminta izin.


"Aku milik mu malam ini," kata Chelsea membuat Zane langsung melahap habis salah satu ***** milik Chelsea, tangan pria itu **** milik Chelsea.


"Ahhh, Zane, ja ... jangan di-mhhh!" Kata-kata itu berakhir dengan lenguhan lembut. Zane seakan-akan tidak membiarkan sang istri untuk berbicara kali ini.


Setelah puas, Zane mencium perut rata sang istri dan langsung menanggalkan segitiga milik Chelsea. Zane menatap goa tersebut dengan takjub, melebarkan kedua paha sang istri dan memainkan pusat tubuh Chelsea dengan nakal.


Chelsea memainkan rambut Zane dan sesekali menekan pria itu untuk memperdalam permainannya. Chelsea mengangkat pinggulnya saat Zane terus-menerus memainkan pusat tubuhnya tanpa henti, kedua tangan pria itu kembali lagi pada dua gundukan di tubuh Chelsea.


"Call me baby." kata Zane dengan suara serak. Chelsea mengangguk dan langsung melenguh hebat disertai dengan ****, saat Zane langsung memasukkan miliknya dalam sekali hentakan.


Suara ******* dan lenguhan dari keduanya mulai menggema di kamar kedap suara itu. Meraka tidak takut, bila orang di mansion akan mendengar suara bercinta mereka, lagipula siapa yang berani menganggu pasangan suami istri tersebut.


"Ahhh, Amora!"


...****************...


Di pagi harinya, Chelsea terbangun lebih dahulu, wanita itu menutup mulutnya dan bergegas menuju kamar mandi.


HUEK ....


"Sayang," panggil Zane membuat Chelsea menoleh. Pintu kamar mandi tidak tertutup, membuat Zane leluasa masuk dan mendekati sang istri yang tengah memuntahkan isi perutnya. "Kenapa?" tanyanya.


Chelsea menggeleng, "A ... aku tidak tahu, tiba-tiba saja-"


HUEK ....


Zane langsung memijat tengkuk leher Chelsea dan menghidupkan air di wastafel, "Mual?"


"Iya, perut ku juga sedikit kram." jawab Chelsea membuat Zane terdiam sejenak. Chelsea mengernyit heran saat baru menyadari bahwa yang keluar dari mulutnya hanya air liur saja. Wajahnya mulai memucat dan membasuh mulutnya di bantu dengan Zane.


"Ayo istirahat, aku akan menghubungi dokter." Zane langsung menggendong tubuh Chelsea dan membawanya keluar. Sedangkan wanita itu bergelut dengan pikirannya sendiri.


Apakah benar aku hamil? batin Chelsea dengan menyentuh perut ratanya.


"Aku akan membuatkan susu hangat-"


"Zane," panggil Chelsea dengan menahan lengan pria itu. Zane mengurungkan niatnya dan mendudukkan dirinya.


"Ada apa?"


"Daniel kemarin membawa sesuatu, apa itu?" tanya Chelsea yang penasaran.

__ADS_1


"Alat tes kehamilan untuk mu," jawab Zane dengan menatap mata cantik sang istri dengan lekat. Chelsea menunduk sejenak dan memainkan anak jarinya.


"A ... aku sudah telat seminggu," ungkap Chelsea membuat Zane langsung terdiam kaku. Zane tahu apa yang di maksud oleh Chelsea, pria itu bergegas memberikan alat tes kehamilan kepada sang istri.


"Ingin mencobanya?" tawar Zane dengan menyodorkan alat tes yang masih terbungkus rapi tersebut. Dengan perasaan tidak menentu, Chelsea mengambil alat tes kehamilan tersebut.


"Kau tunggu di sini,"


Zane mengangguk dan membiarkan Chelsea menuju kamar mandi. Pria itu berharap-harap bahwa Chelsea benar-benar hamil buah cinta mereka, dan maka dari itu tidak ada yang bisa memisahkan mereka berdua sampai kapanpun. Zane berdiri dan mulai mondar-mandir karena cemas. Sedangkan di dalam sana, Chelsea tengah menatap layar tes kehamilan tersebut dengan perasaan campur aduk.


"Hanya 5 menit." Chelsea membalikkan tes kehamilan tersebut dan mulai bergerak gelisah. Chelsea takut bila tes kehamilan kali ini, gagal dan tidak sesuai ekspektasi seperti sebelumnya. Melihat bagaimana antusias Zane tadi, membuat Chelsea begitu menaruh harapan yang begitu besar.


Wanita itu langsung mengambil tes tersebut dan terdiam melihat garis samar-samar di sana, "Du ... dua? Garis dua?" gumam Chelsea yang sontak menutup mulutnya terkejut.



"Za ... Zane dan a .. aku?" Chelsea langsung keluar dan menatap Zane yang masih belum menyadari kedatangan. Wanita itu menangis tertahan dan mendekati sang suami.


"Zane," lirih Chelsea membuat Zane membeku dan menoleh terkejut.


"Ba ... bagaimana hasilnya, Sayang?"


Chelsea memberikan alat tes kehamilan tersebut, dengan kebingungan, Zane menerima dan menatap layar tes tersebut. Garis dua, dua garis samar-samar tersebut, mulai terlihat nyata di mata Zane.


"Pregnant?" tanya Zane memastikan, Chelsea mengangguk. Zane memeluk tubuh Chelsea dengan erat, tanpa pikir panjang. Chelsea tentu saja langsung menangis dan membalas pelukan dari pria yang sangat Ia cintai itu.


"Kita akan memiliki anak, Zane." lirih Chelsea membuat Zane mengangguk dan mengusap kepala Chelsea dengan tangisan tertahan. Pria itu tidak ingin menjadi pria lemah, hanya karena menangis bahagia.


3 bulan menanti datangnya calon bayi, ternyata cukup membuat keduanya belajar menjadi pasangan yang saling melengkapi. Kini, pasangan tersebut semakin sempurna dengan kehadiran bayi di dalam kandungan Chelsea. Zane melepaskan pelukannya dan menatap Chelsea yang menangis sesenggukan.


"Jangan menangis, jangan." Zane menghapus air mata Chelsea dengan bergetar. Hatinya bergemuruh hebat, kabat bahagia akhirnya bisa membuatnya semakin semangat untuk menjalani hidup. Chelsea mengelus rambut Zane, kala pria itu berjongkok menghadap perut ratanya.


"Terima kasih sudah datang, Mama dan Papa menunggu mu, Nak."


CUP ....


Pria itu mencium perut rata Chelsea dengan perasaan bahagia yang tidak bisa di ukur dengan apapun. Chelsea tersenyum dan menghapus air matanya kembali. Tak lama, Zane kembali bangun dan memegang kedua sisi wajah cantik Chelsea.


"Kau bahagia?" tanya Chelsea membuat Zane terkekeh geli.


"Tentu saja. Bayi yang selama ini aku tunggu-tunggu dari wanita yang aku cintai sudah tumbuh di rahim istri ku, kebahagiaan ku semakin lengkap. Terima kasih," jawab Zane membuat Chelsea bernapas lega. Wanita itu memeluk kembali tubuh kekar sang suami dengan Zane mengelus perutnya.


"Jaga bayi kita, aku tidak akan membiarkan siapapun melukai kalian. Aku berjanji," ujar Zane dengan ucapan yang begitu tulus dan sangat lembut di pendengar Chelsea.


"Jangan pergi meninggalkan aku, apapun yang terjadi."

__ADS_1


__ADS_2