Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
ASHTON dan ASHLEY


__ADS_3

Di kamar bernuansa anak remaja, terlihat Ashton yang tampak terdiam merenung seorang diri tanpa kembarannya, Ashley. Remaja 17 tahun itu tampak menatap ke arah luar jendela dengan sendu, tidak ada yang ingin Ia bicarakan, bahkan Ashley tidak Ia hiraukan setelah konferensi pers.


"Aku menyayangi mu, tapi ternyata kau wanita busuk yang pernah aku temui." gumam Ashton dengan lirih. Bahkan di saat panas-panasnya konferensi pers berlangsung, Ibu Anggun tetap memilih harta gono-gini daripada mementingkan perasaan kedua putra kembarnya.


Ibu Anggun terlihat dalam kasus pembunuhan berencana yang di alami oleh keluarga Lemos bertahun-tahun lalu, Ayah Robert tidak banyak bicara tentang bukti yang Ia miliki dan langsung menyeret serta menuntut Ibu Anggun ke polisi. Semua fakta itu benar-benar menampar dirinya, bahkan saat Ayah Robert tidak berniat membantu untuk memberikan pembelaan kepada istrinya, walaupun bukan istri sah, tetap saja Ibu Anggun sudah menjadi istri dari Ayah Robert selama 17 tahun ini.


PRANG .....


"AKU MEMBENCI MU!" teriak Ashton secara tiba-tiba dengan membanting sebuah frame foto kecil di atas mejanya. Foto satu-satunya yang Ia miliki selama 17 tahun, foto dirinya, Ashley, Ibu Anggun, dan Ayah Robert.


Remaja itu berdiri dan langsung menginjak-injak frame foto hingga kacanya benar-benar hancur, "Aku tidak ingin melihat mu lagi! Wanita busuk!"


TOK ... TOK ....


"Ashton,"


Remaja itu menoleh cepat ke arah pintu kamarnya yang di ketuk, "Siapa?!"


"Ashley, boleh aku masuk?" tanya Ashley dengan begitu polos. Sebenarnya bisa saja dirinya langsung masuk tanpa mengetuk pintu, tetapi mengetahui suasana hati Ashton tidak baik, membuatnya tidak ingin berbuat macam-macam.


"Pergi lah! I want to be alone!" jawab Ashton setelah mencoba mengatur emosinya.


"Tapi kau belum makan siang. Ayo makan siang, Kak!" ajaknya dengan kekeh. Ashton mendengus kesal.


"Aku tidak ingin! Kau saja sana!"


Ashley mulai dongkol mendengar jawaban dari sang kembaran. Tapi apa bisa Ia lakukan, Ashton memang sudah menunjukkan wajah-wajah tidak enak di pandang sejak konferensi pers di laksanakan, berbicara pun tidak dengannya.


"Bagaimana kalau roti selai coklat? Kau mau tidak?" tawar Ashley kembali dengan menempelkan telinganya di daun pintu.


"Tidak!" tolak Ashton dengan menendang pecahan kaca frame foto hingga menyebar ke beberapa tempat.


Ashley terkekeh kecil mendengarnya, "Susu bagaimana? Kau kan suka susu!"


"Ash! Aku sedang tidak ingin! Pergi lah!" Usir Ashton dengan nada kesal.


"Bagaimana kalau-"


"ASHLEY!"


Ashley memegangi dadanya karena terkejut, saat Ashton berseru dengan nada tinggi. "KENAPA KAU GALAK SEKALI!" gerutu Ashley dengan tangan mengepal ke udara, siap-siap untuk memukul pintu.


PLAK ....


"Aduh! Sakit ...."


"Kau sedang apa, bocah?"

__ADS_1


Ashley yang tengah meringis, langsung menoleh. Remaja itu memutar matanya malas, "Sedang apa Paman di sini? Menganggu pemandangan ku saja!"


Calvin mendelik mendengar ucapan dari remaja di hadapannya, "Panggil aku Kakak! Kau ini nakal sekali," kesal Calvin dengan mencubit lengan remaja di hadapannya. Ashley menepis dan langsung pergi begitu saja, meninggalkan Calvin.


Calvin menatap pintu kamar Ashton yang sejak tadi tertutup, bahkan makan siang pun Ashton lewatkan. Calvin menghela napas panjang dan merasa aneh dengan sikap Ashton, "Apa aku harus memanggilnya ya?" gumamnya penuh tanya.


"Ashton." panggil Calvin membuat Ashton yang berada di dalam kamarnya semakin kesal di buatnya. Dengan penuh emosi, Ashton berjalan ke arah pintu.


TAK ....


"MAU APA LAGI?!"


Calvin tercengang melihat Ashton yang meninggikan suaranya. Ashton langsung diam dan menciut melihat wajah Calvin yang sudah berubah menjadi datar dan tidak ada ekspresi sedikitpun, bahkan pria itu sudah melipat kedua tangannya dan menatap penampilan Ashton dengan menelisik.


"Paman? A ... aku kira kau Ashley," ucapnya dengan terbata. Emosinya seperti terbawa angin, yang langsung hilang.


"Kau kenapa? Buka pintu, bukannya menyahut dengan sopan, kenapa kau malah berseru keras kepada ku, hah?!" tanya Calvin dengan tampang galak. Ashton menelan ludahnya sendiri dan menggaruk tengkuknya.


"A ... aku kira Paman adalah Ashley, itu saja. Aku kesal, karena dia terus mengajak ku keluar!" ungkap Ashton membuat Calvin menaikkan alisnya.


"Jadi kau menyamakan aku dengan Ashley! Apakah suara ku seperti kembaran mu itu? Dasar anak remaja satu ini!" Calvin rasanya ingin mencubit bibir remaja di hadapannya, katakan saking kesalnya.


"Bukan!" elaknya dengan berpindah posisi, "ada apa Paman memanggil ku?" tanya Ashton mengubah topik. Calvin terdiam sejenak dan terbatuk kecil.


"Ayo keluar, kau ini malas sekali!" ajak Calvin dengan menarik pundak Ashton dengan penuh kekuatan.


...****************...


"Hey bocah! Menjauh lah, kau bisa di hap oleh Loca!" tegur Calvin dengan menarik kerah baju Ashley dengan kesal. Bahkan di bandingkan dengan Ashton, emosi Calvin benar-benar di puncak bila bersama Ashley, remaja dingin namun terlihat cerewet.


"Paman! Jangan menarik ku!" kesal Ashley.


Sibuk berseteru, berbeda dengan Arthur yang mengernyit bingung dengan tingkah Ashton yang diam, "Apakah kau merindukan Ibu mu?"


"Tidak!" jawab Ashton tanpa pikir panjang. Arthur mengangguk dan melipat kedua tangannya.


"Kata Ayah, jangan membenci seseorang yang masih memiliki hubungan darah dengan kita. Kau tidak seharusnya membenci Ibu mu, Ashton." nasihat Arthur dengan bijaksana. Ashton menghela napas dan memalingkan wajahnya.


"Tapi Ayah masih memiliki hubungan dengan Ibu-wanita itu,"


Arthur tampak aneh sendiri dengan gaya pembicaraan Ashton yang menyebut Ibunya sendiri dengan sebutan 'Dia atau wanita itu'.


"Ayah sudah memberikan talak ketiganya, jadi mereka berdua sudah tidak berhubungan." jawab Arthur dengan logis. Lagipula hubungan mereka berdua adalah hubungan pernikahan siri, dengan talak maka semuanya selesai dan tidak memiliki hubungan apapun lagi.


"Sudah lah jangan membahas itu, aku semakin malas saja." ketus Ashton dengan memprotes keras kepada Arthur. Pria itu tertawa pelan dan mengangguk setuju.


"Okay, lalu bagaimana dengan sekolah kalian berdua? Tidak ada yang mencari masalah dengan kalian berdua?" tanya Arthur. Ashton terdiam sejenak, memang semua teman-teman barunya tidak ada yang mengejek mereka berdua, seperti di Desa Mentari. Tapi entahlah bagaimana reaksi mereka, bila mengetahui bahwa Ashton dan Ashley terlahir dari wanita bordil.

__ADS_1


"Entahlah, Kak."


"Kalian berdua tidak di bully kan?" tanya Arthur dengan raut wajah serius. Ashton terdiam kembali, tidak ada yang tahu tentang pembullyan yang sempat mereka berdua alami selama di Desa Mentari.


"Tidak,"


"Dari raut wajah mu saja, kau terlihat seperti orang berbohong. Lihat, telinga mu memerah," kesal Arthur membuat Ashton menelan ludahnya sendiri. Remaja itu sontak memegangi telinganya dengan cemas, Arthur terkekeh geli.


"Aku tidak berbohong!" sahut Ashton dengan kekeh.


"Seribu kali kau berkata tidak berbohong, bukan berarti akan mengalihkan kenyataan yang ada. Jadi katakan yang jujur, kalian berdua di bully?" tanya Arthur mengulang pertanyaan yang sama, tidak ada raut wajah main-main saat Arthur mengulang pertanyaannya.


Ashton melirik Ashley dan Calvin yang masih berdebat di depan kandang, perkara Loca. Bahkan terlihat jelas kalau Calvin mendorong kening kembarannya dengan kesal, sedangkan Ashley hanya menggerutu kesal. Arthur mengikuti arah pandang Ashton, dan tersebut tipis.


"Apakah Kakak akan memberitahu Ayah tentang hal ini?" tanya Ashton tanpa menatap Arthur.


"Tergantung. Kau tahu sendiri kalau Ayah itu tidak akan tinggal diam, bila bersangkutan dengan Anak-anaknya." jelas Arthur dengan menyandarkan punggungnya di kursi. Melipat kaki dan menatap kembali ke arah Ashton. Membayangkan berapa kerasnya sang Ayah, membuat Ashton bergidik ngeri.


"Aku tidak tahu bagaimana reaksi mereka semua, tentang identitas kami saat ini. Aku dan Ashley sudah mengalami perundungan selama SMP angkatan 8, mencoba bertahan dan tidak memberitahu Ayah dan Kak Chelsea adalah keinginan kami. Kata Ayah, sebagai seorang anak laki-laki, maka tuntaskan sendiri masalah yang kita terima. Aku dan Ashley hanya menjalankan apa yang di katakan Ayah, selalu berada di samping Kak Chelsea sampai kapanpun." jelas Ashton dengan wajah datar, tangan remaja itu terkepal kuat seiring dengan pembahasannya.


"Kenapa kalian tidak melawan?" tanya Arthur dengan rasa penasaran yang benar-benar besar.


"Melawan pun kami tidak bisa. Kakak tahu sendiri bagaimana kondisi kami berdua saat di desa, Ayah menyamar sebagai orang miskin dan kami tidak mengetahui apapun. Mungkin karena kami terlahir dari keluarga miskin, itu sebabnya kami di bully." sahut Ashton dengan mengangkat bahunya tidak yakin.


"Kau tidak ada niatan untuk membalas mereka?"


Ashton sontak menoleh ke arah Arthur, "Apa?"


Arthur mengangguk, "Membalas perlakuan mereka. Kau tidak ingin?" tanyanya dengan penuh tanda tanya. Ashton terdiam sejenak dan menyunggingkan senyum tipis.


"Biarkan itu menjadi urusan ku dan Ashley kelak. Sekarang kami harus fokus dengan pendidikan," jawab Ashton dengan santai. Arthur tersenyum hangat dan berdiri dari tempatnya.


"Ayah juga mengatakan hal yang sama kepada Kakak dulu," celetuknya membuat Ashton langsung menadah cepat. Punggung kekar itu membuatnya semakin penasaran dengan kehidupan Arthur sebelumnya.


"Sebagai seorang anak laki-laki, maka tuntaskan sendiri masalah yang kita terima. Itu adalah kata-kata yang sama, yang selalu Ayah katakan kepada Kakak. Bahkan Kakak masih sangat ingat, Kakak berusaha untuk menjadi Kakak sekaligus teman untuk Chelsea, tetapi Kakak selalu gagal dan membuat Ayah harus menghukum ku." ungkapnya dengan tawa sendu. Ashton memiringkan kepalanya bingung.


"Kakak di hukum kenapa? Dan apa hukumannya?" Yaya Ashton yang mulai penasaran.


Arthur menghembuskan napas panjang dan menatap lurus ke depan, "Chelsea harus terjatuh dari tangga karena terpeleset, dan itu membuat Kakak bersalah. Ayah menghukum Kakak dengan tinggal di Desa terpencil selama berpuluh-puluh tahun," jawabnya dengan melirik ke arah Ashton yang sudah berdiri di sampingnya.


"Kakak salah,"


Ashton dan Arthur menoleh ke arah Ashley yang tiba-tiba saja berseru ke arah mereka. Remaja itu berjalan mendekati Arthur dan Ashton, "Ayah meninggalkan Kakak di kota, bukan untuk hukuman. Aku mendengarnya secara langsung,"


Arthur terkejut mendengarnya, "Apa maksud mu?"


"Ayah hanya ingin menenangkan pikirannya, Kak Chelsea mengalami trauma pasca kecelakaan, itu yang membuat Ayah harus pergi ke desa dengan dalih menghukum Kakak." ungkap Ashley membuat Ashton tercengang mendengarnya.

__ADS_1


"KAPAN AYAH MENGATAKANNYA?"


"Hanya menebak, dari raut wajah Ayah sudah terlihat saat kita akan ke kota." Sahut Ashley dengan acuh.


__ADS_2