
Malam hari telah tiba, seluruh keluarga Lincoln tengah berkumpul di ruang tamu yang benar-benar menakjubkan di mata Chelsea. Wanita itu tak henti-hentinya terus melontarkan pujian pada bangunan mansion yang bergaya barat Eropa. Sejak pertama kali menginjakkan kakinya, Chelsea hanya mengunci mulutnya dan sesekali bersuara apabila di tanya.
"Kau menyukai mansion ini, Sayang?" tanya Mama Bellamy yang sejak tadi memperhatikan pandangan dari sang Menantu. Chelsea yang tertangkap basah pun, hanya mengulas senyum.
"Sangat, Ma! Chelsea belum pernah melihat rumah sebesar ini," jawab Chelsea tanpa ragu untuk mengungkapkan apa yang ada di hatinya. Zane tersenyum puas mendengarnya dan merangkul mesra wanita tersebut.
"Tapi mansion ku jauh lebih indah dari mansion utama, Sayang." sahut Zane dengan menaikturunkan alisnya.
"Kau memiliki rumah lagi?" tanya Chelsea tidak percaya. Papa Owen tersenyum melihat reaksi menantu perempuan nya yang begitu mirip dengan Ibunya, Kimberly.
"Jauh sebelum kita menikah, aku memiliki dua mansion untuk mu dan kita akan tinggal di sana." jawab Zane membuat Mama Bellamy mendengus kesal. Chelsea melirik ke arah Mama Bellamy dengan perasaan tidak enak.
"Kalian beneran mau tinggal di mansion pribadi? Kenapa tidak di sini saja?" tanya Papa Owen pada akhirnya. Tentu saja Mama Bellamy dan Papa Owen sangat ingin mendampingi pasangan pengantin baru itu, terlebih lagi Zane memiliki mansion besar tetapi hanya ada beberapa pekerjaan saja.
"Tentu saja, Pa. Kami membutuhkan privasi, terlebih lagi kami harus membuat adonan donat." sahut Zane membuat Mama Bellamy mengambangkan senyumannya. Kalau membicarakan tentang keturunan pastinya akan di izinkan untuk tinggal secara terpisah.
Chelsea yang tidak mengerti akan maksud ucapan sang suami, hanya menatap pria itu dengan penuh kebingungan. "Adonan donat? Kenapa tidak beli saja adonannya?"
Sudut bibir Zane berkedut, saat sang istri bertanya dengan polosnya. Pria itu mengacak rambut panjang sang istri dengan gemas, bahkan jauh lebih gemas dari sebelumnya, "Maksud aku bukan adonan jajan, Sayang."
"Lalu apa? Kan adonan donat itu adonan jajan,"
Mama Bellamy dan Papa Owen tidak bisa menahan senyuman mereka. "Maksud dari suami mu adalah anak, Sayang."
"A ... anak?" beo Chelsea yang mulai tercengang. Wanita itu mencoba untuk meresapi ucapan sang Ibu mertua dan sampai lah di otaknya.
Zane tersenyum dan mendekatkan bibirnya, "Membuat cucu yang banyak untuk Mama dan Papa."
BLUSH ....
Wajah Chelsea mulai terlihat rona merah, wanita itu mencubit lengan sang suami lantaran malu sekaliber kesal. "Kita ini baru nikah, Zane!"
"Itu yang bagus, Sayang. Mama dan Papa sudah menyiapkan tiket bulan madu untuk kalian," sahut Papa Owen membuat Chelsea semakin terkejut, berbanding balik dengan Zane yang mengacungkan ibu jarinya.
"Papa yang terbaik!"
"Ta ... tapi-"
"Jangan pikirkan apapun, fokuslah membuat adonan donat hingga menjadi donat matang." sela Mama Bellamy membuat Chelsea langsung bungkam. Wanita cantik itu tidak bisa untuk menolak seseorang yang meminta tolong atau berharap kepadanya.
Sedangkan di sofa yang lain, terlihat seorang wanita dan wanita yang sedikit lebih tua dari Chelsea, hanya menatap sinis dan tidak suka kepada Chelsea.
__ADS_1
"Lihatlah, wanita ini sangat kampungan sekali. Memalukan," cemooh nya dengan suara pelan. Wanita berambut yang di cat menjadi biru itu, terkekeh geli melihat penampilan Chelsea yang begitu tidak sedap di pandang.
"Kau benar, kau lebih pantas untuk menjadi istri dari Zane. Bukan wanita kampungan udik seperti dia," sahut Ibu dari wanita itu, yang secara terang-terangan memang tidak menyukai akan kehadiran Chelsea, yang menjadi penghalang akan anaknya.
"Tentu saja, Mom. Karena aku jauh lebih unggul dari wanita manapun." jawab wanita dengan dada besar dengan penuh percaya diri. Wanita itu berdiri dan mendekati Zane dan istrinya.
"Hai, Zane." Sapa Wanita tersebut dengan suara seksinya. Chelsea dan Zane menoleh, terlihat raut wajah Zane yang tidak menyukai akan kehadiran wanita tersebut.
"Kau tidak ingin membalas sapaan ku, Zane?" tanya wanita tersebut.
"Hai,"
Chelsea mengerutkan keningnya, balasan Zane terdengar ketus dan tidak bersahabat sama sekali. Wanita tersebut tersenyum ke arah Chelsea.
"Hai, Chelsea! Salam kenal, aku Sonia Natalia Francois, kau bisa memanggil ku Sonia." Sapanya membuat Chelsea tersenyum canggung.
"Aku Chelsea," jawabnya. Alis Chelsea langsung berubah bertautan saat Sonia meremas kuat tangannya yang berjabat dengannya.
"Shhh," Chelsea meringis membuat Zane terkejut dan langsung menepis kasar tangan Sonia.
"Kau baik-baik saja, Sayang? Sonia, apa yang kau lakukan kepada istri ku?!"
...****************...
Sekarang, wanita itu tengah menatap sebuah buku yang menarik perhatiannya, "Zane, bolehkah aku meminjam salah satu buku di sini?" tanya Chelsea membuat Zane yang semula fokus pada pekerjaannya, kini menoleh dan tersenyum tipis.
"Pinjam lah sesuka mu, Sayang." Chelsea langsung mengambil buku yang cukup tebal itu dengan senang.
"Duduk di sini," Zane menepuk pahanya dan mengisyaratkan agar sang istri duduk di pangkuannya. Chelsea tidak menolak dan langsung duduk di sana, seraya membawa buku yang Ia ambil.
"Kau menyukai buku?"
"Iya, seingat ku Mama begitu menyukai buku hingga mengoleksi beberapa buku dulu." jawab Chelsea membuat Zane langsung bungkam. Melihat sang istri yang fokus membaca, membuat Zane mendengus kesal bukan main.
"Jangan abaikan aku," Zane menarik buku tersebut dan menaruhnya di atas meja. "Aku cemburu,"
Chelsea tercengang melihat sikap Zane yang bertolak belakang. Tiba-tiba saja langsung manja, tiba-tiba saja langsung dingin, dan seterusnya. "Kenapa sikap mu berubah-ubah!"
Chelsea ingin meraih buku miliknya, tetapi Zane langsung mengunci pergerakan wanita itu. "Bukankah kau ingin mengetahui tentang identitas ku."
Chelsea menghela napas dan hampir saja melupakan hal itu. "Baiklah, katakan semuanya. Aku akan mendengar,"
__ADS_1
Zane tersenyum dan mengeratkan pelukannya, seolah-olah takut ada yang mengambil wanitanya. Chelsea hanya mengelus rambut alami keemasan milik sang suami. "Apakah kau akan meninggalkan ku, bila kau mengetahui identitas ku?" Alis Chelsea mengerut bingung.
"Untuk apa aku meninggal pria yang sudah nikahi ku? Aku tidak memiliki alasan yang lugas untuk meninggalkan mu nanti," jawab Chelsea membuat Zane langsung menyembunyikan wajahnya di belahan dada sang istri.
"Aku bukan seorang karyawan di perusahaan, tapi aku adalah seorang pengusaha. Para pebisnis memanggil ku King Business Two, kau pernah mendengar tentang perusahaan Z.L Company?"
Chelsea berpikir sejenak, bila orang lain di tanyakan tentang perusahaan yang paling tersohor nomor dua di dunia yaitu Z.L Company, tentu saja mereka akan heboh. Perusahaan yang bergerak di bidang properti, tekstil, dan ekspor impor yang begitu besar, membuat Zane meraup untung yang begitu besar dalam setiap bulan, terlebih lagi dengan harta dan aset yang di miliki pria itu, yang tidak akan pernah habis sampai tujuh turunan nantinya.
"Jangan bilang kalau kau adalah pemilik perusahaan raksasa itu!" tebak Chelsea membuat Zane terdiam. Pria itu menelisik reaksi sang istri yang begitu berbeda.
"Kau tidak terkejut?"
"Awalnya aku terkejut, tapi sekarang tidak." Kini giliran Zane yang di buat terkejut karena jawaban sang istri.
"Kau sudah mengetahui tentang identitas ku?"
Chelsea mengangguk penuh keraguan, "Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mu dengan Ayah waktu itu. Jadi benar, kau adalah pemilik perusahaan besar itu?"
Zane terkekeh geli. "Iya, Z.L adalah nama depan dan belakang ku, Zane Lincoln." ungkap Zane dengan penuh rasa bangga. Chelsea hanya diam dan menatap manik mata pria itu dengan serius.
"Apakah kau juga mengetahui tentang identitas Ayah ku?" tanya Chelsea penuh akan keraguan untuk kedua kalinya. Zane langsung menegang bukan main, pria itu mengira bahwa sang istri hanya mengetahui tentang identitas, tapi ternyata tidak.
"A ... apa?"
"Aku baru mengetahuinya, dan itu tidak di sengaja saat Ayah ku berbicara dengan seseorang mengenai perusahaan A.M Company, aku juga tidak mengetahui kenapa Ayah menyembunyikan identitas aslinya dari ku dan Ibu."
Zane mengangkat dagu dan istri, air mata sudah tergenang di pelupuk mata wanita cantik itu. Zane menghapusnya dan mengecup kedua mata sang istri dan penuh cinta, "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membohongi mu, Sayang."
"Jadi kau benar-benar mengetahuinya? Kenapa tidak memberitahu ku?" tanya Chelsea dengan tangisan kecil yang mulai terdengar pilu di pendengaran Zane.
"Jangan menangis, aku mohon." pintanya dengan suara serak. Tersirat rasa bersalah dari Zane, pria itu hanya menjalankan apa yang di inginkan oleh Ayah Robert. Tidak memberitahu tentang identitas aslinya kepada Chelsea sebelum waktunya.
"Ayah Robert meminta ku untuk tidak memberitahu mu sebelum waktunya. Ayah hanya mengatakan akan memberitahu mu saat dia sudah berhasil mengumpulkan semua bukti dan menjebloskan wanita itu ke penjara." jelas Zane membuat Chelsea mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Wanita? Penjara? Bukti? Apa maksudnya?"
"Kita tunggu saja waktu itu, Sayang. Aku akan membantu mengurus perusahaan milik Ayah mu dan membantunya juga untuk menangkap wanita itu."
Chelsea terdiam seketika, otaknya berkelana ke masa lalu yang begitu menyeramkan. Masa lalu yang penuh warna, di gantikan dengan tragedi yang begitu menyeramkan bagi Chelsea yang berusia 6 tahun. Wanita itu sontak memegangi kepalanya yang sedikit terasa sakit, membuat Zane cemas saat ini.
"Kau baik-baik saja?"
__ADS_1
"Kepala sedikit pusing,"