Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Sonia Berubah?


__ADS_3

"Nona Muda,"


Chelsea yang hendak melahap buah yang sudah di petik oleh sang Ayah, langsung menoleh. "Ada apa?"


"Ada yang mencari Anda di depan," kata pelayan dengan menunjuk ragu-ragu ke arah ruang tamu.


"Siapa?" tanyanya dengan alis mengerut bingung. Chelsea mengurungkan niatnya dan bergegas untuk memenuhi orang yang di maksud oleh pelayan.


"Saya tidak mengenalnya, tapi Nona itu mengatakan bahwa dia adalah keluarga dari Tuan Zane." jawab sang pelayan membuat Chelsea langsung menghela napas panjang. Pasti Sonia.


"Sajikan minum dan cemilan,"


"Baik, Nona." Pelayan tersebut sepertinya enggan untuk meninggalkan Chelsea berduaan dengan wanita asing. Tetapi Chelsea sudah menghilang dari pandangannya, membuatnya hanya menghela napas.


Chelsea menatap punggung wanita yang ternyata benar Sonia, rambut wanita itu sudah tidak pirang dengan warna mencolok. Chelsea lebih suka melihat Sonia dengan rambut hitam legam dan bergelombang seperti sekarang, "Sonia."


Sonia menoleh dan tersenyum melihat kedatangan Chelsea. Tatapan wanita itu beralih pada perut Chelsea yang lebih besar dari kehamilan biasanya. "Apa kabar, Chel. Bagaimana dengan kandungan mu?" tanyanya dengan spontan.


Chelsea tersenyum canggung dan mendudukkan dirinya tak jauh dari Sonia, "Lebih baik. Bagaimana bisa kau mengetahui mansion Ayah ku?" tanyanya dengan penuh curiga. Sonia tersebut tipis dan membenarkan posisi duduknya.


"Aku bertanya kepada Calvin beberapa hari yang lalu. Ada hal penting yang ingin aku katakan kepada mu," kata Sonia dengan raut wajah serius. Chelsea hanya diam dan membiarkan wanita di hadapannya berbicara.


"Kalau kau datang untuk mengatakan yang tidak baik, sebaiknya kau pergi saja, Sonia." balas Chelsea dengan sarkas. Sonia menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan sesuatu dari tas selempang nya.


"Tujuan ku kemari bukan untuk itu, Chel. Ini perihal tentang kejadian di hotel waktu itu,"


Jantung Chelsea langsung berdetak kencang mendengar ucapan Sonia. Wanita itu memberikan sebuah amplop kepada Chelsea, "Buka lah."


Chelsea langsung membuka isi amplop tersebut dan terkejut bukan main, "Ini?"


Sonia tersenyum tipis dan mengangguk, "Ibu ku yang merencanakan penembakan itu, aku tidak mengetahui rencana itu, dan setelah aku mengetahui rencananya, aku memutuskan untuk memberitahu mu." ungkap Sonia membuat Chelsea semakin terkejut bukan main. Wanita itu menatap beberapa lembaran foto berbeda, yang jelas-jelas menampilkan waja Ibu Tasya dan satu pria asing yang mencurigakan.


"Ibu ku membawa kunci pintu belakang, membantu pria yang bernama Bayu untuk masuk ke ballroom hotel, aku tidak tahu apa yang mereka berdua bicarakan di cafe, karena hanya ada CCTV saja. Tapi kalau aku perhatikan, Ibu ku dan pria itu sedang melakukan negosiasi, tapi entahlah. Pasti suami mu mengetahui ini semua lebih dulu," Tambahnya dengan berpindah posisi di sebelah Chelsea.


Tak lama, sang pelayan datang dengan membawa nampan berisi minuman dan cemilan ringan. Pelayan tersebut langsung pergi begitu saja.


"Kenapa?" tanya Chelsea dengan suara rendah. Sonia mengerutkan keningnya.


"Kenapa mereka tega melakukan ini kepada ku? Apakah aku memiliki kesalahan yang fatal, hingga Ibu Tasya, Ibu Anggun, Reno, pria ini, dan semua orang ingin aku tiada? Kenapa?"


DEG ....


Bibir Sonia menjadi kelu untuk menjawab, "A ... apa?"


"Kenapa kau juga menyakiti ku dahulu, lalu tiba-tiba kau berubah? Kau tidak menginginkan sesuatu kan?" tanya Chelsea dengan menuding kepada Sonia. Wanita berambut hitam bergelombang itu terdiam sejenak.

__ADS_1


"Aku cemburu kepada mu," jawab Sonia dengan memalingkan wajahnya. Malu? Tentu saja rasa itu langsung tersemat di dalam dirinya. Di saat dirinya mencintai seorang Zane, tetapi pria yang di cintanya malah menikah dan mencintai wanita lain.


"Aku cemburu karena kau berhasil merebut Zane dari ku! Aku sadar bahwa aku selama ini salah, tidak seharusnya aku menaruh hati kepada sepupu ku sendiri, dan aku sadar diri bahwa tidak seharusnya aku berbuat serendah itu hingga menyakiti mu. Maafkan aku, Chelsea." ungkap Sonia dengan penuh penyesalan, bahkan Sonia sudah menggenggam tangan Chelsea.


Chelsea terdiam dan menatap Sonia dengan serius, entah Sonia tulus atau tidak mengatakannya, Chelsea tidak tahu tentang hal itu. "Sebaiknya kau pulang, Zane akan segera kembali,"


...****************...


Zane mengerutkan keningnya saat melihat Sonia yang berdiri di depan pintu mobilnya, pakaian wanita itu cukup sopan untuk sekarang, dan hal yang membuat Zane kebingungan adalah gaya rambut Sonia.


"Hai, Zane!" sapa Sonia dengan seulas senyuman.


"Sedang apa kau di sini?" tanyanya dengan acuh. Nicholas dan Daniel bahkan sudah menatap tajam ke arah Sonia, membuat wanita itu langsung memudarkan senyumannya.


"Aku hanya lewat, jadi aku mampir saja."


"Alasan," gerutu Daniel yang terdengar jelas di pendengaran Sonia. Wanita itu hanya menunduk dan mencoba untuk tidak memasukkan ucapan pria bermulut pedas itu.


"Pulang lah, aku sibuk!" kata Zane berniat untuk mengusir sepupunya. Zane tidak ingin Chelsea salah paham untuk keduanya kalinya, bahkan Zane sudah menjauhkan dirinya, sebagai antisipasi bila Sonia di dorong oleh orang lalu terjatuh seperti di mall saat itu.


"Apakah kau sibuk untuk menyusun rencana menangkap Ibu ku, Zane?" tanya Sonia membuat Zane langsung membatu di tempatnya. Nicholas mulai memicingkan matanya, tanpa Ia bertanya pun, Sonia pasti sudah mengetahui tentang rencana penembakan itu.


Sonia tersenyum tipis melihat diamnya Zane, "Aku tidak masalah bila kau menangkap dan menuntut Ibu ku." imbuhnya dengan senyuman tulus.


"Aku mohon, dengarkan aku sekali ini saja, Zane."


Zane langsung menepis tangan Sonia dan menatap kesal kepada wanita itu, "Katakan!"


Sonia melirik ke arah kedua pria lain yang memandangi nya dengan tajam, "Sebaiknya di cafe saja ya? Aku yang traktir." ajak Sonia membuat Daniel langsung mengangguk setuju.


"SETUJU-"


"TIDAK!" sela Zane dan Nicholas secara bersamaan. Daniel melirik kedua pria di sampingnya dan mendengus. Padahal kesempatan bagus mendapatkan traktiran.


"Katakan di sini saja, atau tidak sama sekali,"


Sonia menghela napas dan mengangguk, "Mungkin kalian berpikir bahwa aku ikut dalam rencana penembakan malam itu. Pemikiran kalian terhadap ku salah besar, malam itu aku sedang mencari Ibu ku yang tiba-tiba menghilang, kau tahu Daniel saat kau menghampiri ku sebelum kejadian?"


Daniel mengangguk, "Iya. Memangnya kenapa?"


"Aku bertemu dengan Ibu ku, lebih tepatnya aku di tarik ke belakang pilar dan Ibu hanya mengatakan bahwa akan ada hal yang mengejutkan dan Ibu juga meminta ku untuk membayangkan bahwa Zane akan menjadi milik ku. Aku tidak tahu apa maksud dari Ibu, jadi aku hanya diam di samping Ibu." jelas Sonia dengan sungguh-sungguh. Zane menghela napas panjang dan mengepalkan kedua tangannya.


"Ibu mu sudah sangat keterlaluan, Sonia. Bila saja ... bila saja peluru itu menyentuh istri ku, aku tidak bisa membayangkan apa yang harus aku lakukan?! Kau tahu, bahwa kau tidak seharusnya-"


"Aku tahu, aku sadar bahwa perasaan ku ini salah terhadap mu, Zane. Maka dari itu, aku tidak ingin melanjutkan ini semua. Aku ingin Ibu sadar!" sela Sonia dengan begitu sendu. Nicholas bahwa langsung memalingkan wajahnya dan mendengus kesal.

__ADS_1


"Apa yang akan menjadi jaminan mu, bila kau tidak akan seperti Ibu mu?" tanya Nicholas pada akhirnya. Sonia menadah dan mengusap air matanya.


"Bila aku seperti Ibu ku, kalian bebas melakukan apapun, bahkan kalian berhak untuk mengangkat senjata kalian!" ujar Sonia dengan bersungguh-sungguh kembali, Daniel tidak melihat bahwa wanita di hadapannya sedang bercanda dalam berbicara.


"Aku tidak akan pernah bisa mengangkat senjata ku kepada mu," balas Zane dengan datar.


"Tapi kenapa?"


"Karena kau adalah sepupu ku. Sebagai seorang sepupu, seharusnya aku menjaga mu, bukan menyakiti mu. Jangan pernah menyalahartikan semua kepedulian ku terhadap mu, anggap saja itu semua sebagai belas kasih." jawab Zane yang langsung masuk ke dalam mobil, dan menutup pintu dengan keras.


Sonia mengatupkan kedua tangannya dan menatap mobil merah itu pergi dari hadapannya, "Lalu, apakah kau mengetahui tentang racun tikus itu?" tanya Daniel membuat Sonia langsung menoleh.


"Racun tikus yang di campurkan dalam susu milik Chelsea?" tanyanya memastikan. Daniel mengangkat, Sonia terdiam sejenak.


"Aku sedang berada di tempat pemotretan, jadi aku tidak melihat siapa pelaku nya."


Daniel menghela napas panjang, "Aku harap racun tikus itu bukan bagian dari rencana Ibu mu, Sonia."


"Kau tahu bagaimana aku, Daniel, dan Zane selama ini. Bila Zane dan Daniel ragu, maka aku yang akan maju untuk membunuh kalian berdua,"


GLEK ....


Daniel dan Sonia langsung saling berpandangan dan menelan ludah sendiri. Nicholas jarang berbicara dan cepat dalam mengambil tindakan, hal tersebut yang membuat begitu di sukai oleh para pelayan wanita di mansion. Aura yang tidak biasa yang di pancarkan oleh Nicholas, mencari ciri khasnya sendiri.


"Membunuh?" beo Sonia dengan tubuh bergetar hebat. Bahkan untuk memegang pelatuk pistol saja, membuat tubuhnya panas dingin hingga jatuh sakit, entah bagaimana rasanya bila timah panas menembus kulitnya.


"Daniel, ayo pulang!"


Daniel mengangguk dan masuk ke dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari teras, Sonia tersadar dan langsung mengikuti kedua pria tersebut. "Aku ikut!"


"Apa?" Daniel membulatkan kedua matanya saat pintu mobil yang Ia buka, sudah di tempati oleh Sonia secara tiba-tiba.


"Aku ikut, kau di belakang!"


Daniel mendelik dan menarik lengan Sonia untuk keluar, "Enak saja! Keluar!"


"ADUH! SAKIT, JANGAN MENARIK LENGAN KU!" pekik Sonia yang langsung menarik rambut Daniel dengan kuat.


"AKHHHH!"


Nicholas memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri, rasanya begitu kesal melihat aksi Jambak Jambak rambut dari kedua manusia berbeda gender itu.


"Sonia, aku sedang sakit, jadi biarkan-"


"LAKI-LAKI HARUS MENGALAH! TITIK!"

__ADS_1


__ADS_2