
Di sebuah cafetaria, seorang pria yang tidak lain adalah Reno, terlihat sedang menikmati secangkir teh hangat dengan asap yang masih mengepul ke udara. Pria itu tengah menunggu seseorang untuk membantu dirinya, merusak rumah tangga Chelsea dan Zane.
"Bila aku tidak bisa memiliki Chelsea, itu artinya orang lain juga tidak bisa memiliki nya!" gumam Reno dengan senyuman miring.
Tidak ada raut wajah menyesal setelah kejadian di mana, Reno hampir saja melecehkan Chelsea di kantor suaminya sendiri. Sangat lucu, Reno bagaikan pria yang sudah terkena gangguan jiwa karena rasa cintanya kepada Chelsea. Bahkan setelah mendapatkan bogem mentah untuk kedua kalinya dari Zane, pria itu pantang untuk mundur sebelum mendapatkan apa yang Ia inginkan.
Wajahnya masih terlihat memar karena bogem mentah yang di berikan oleh Zane kemarin, bahkan rasa sakit itu masih sangat terasa hingga keesokan harinya. Reno memilih untuk mengambil cuti sehari untuk memulihkan kondisinya. Pria itu mulai kesal, karena hampir setengah jam dirinya menunggu, orang yang di tunggu-tunggu tidak juga terlihat batang hidungnya.
"Kemana wanita tua itu, membuang waktu ku saja!" gerutu Reno dengan melihat jam tangannya.
Tak lama, terdengar suara langkah kaki yang membuat Reno menoleh dan menyunggingkan senyum tipis, "Akhirnya kau datang juga."
"Maaf Ibu sedikit terlambat, Nak." jawab seorang wanita paruh baya, siapa lagi kalau bukan Ibu Anggun. Kedua manusia yang begitu gigih untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Ibu Anggun menginginkan uang, sedangkan Reno menginginkan Chelsea. Sangat cocok bukan.
"Lupakan itu, duduk dan minumlah teh pesanan mu, Bu." Ibu Anggun tersenyum saat pesanan dari Reno akhirnya datang, setelah beberapa menit tertunda. Ibu Anggun menyeruput minuman tersebut dan langsung membulatkan kedua matanya.
"Wah, ini sangat enak! Aku sudah lama tidak menikmati ini!" kata Ibu Anggun membuat Reno terkekeh kecil.
Kampungan. Batin Reno dengan menatap remeh wanita di hadapannya.
"Bukan sudah sangat lama tidak menikmati," kata Reno membuat Ibu Anggun menaikkan alisnya, "tapi memang Ibu tidak pernah menikmatinya." Lanjutnya dengan senyuman remeh.
UHUK ....
Ibu Anggun tersedak karena tidak menyangka bila Reno akan mengatakan hal itu kepadanya. "Bocah kurang ajar! Berani sekali-"
"Apa?" tantang Reno membuat Ibu Anggun mendengus kesal. Hanya Reno sumber uang satu-satunya, Ibu Anggun sangat yakin kalau Reno akan mengirimkan dirinya uang dalam jumlah yang sangat banyak.
"Okay, maaf. Katakan, kenapa kau minta kita bertemu di cafe?" tanya Ibu Anggun membuat Reno langsung melipat kedua tangannya dengan angkuh dan tak lupa melipat salah satu kakinya. Ibu Anggun mengernyit heran melihat tingkah anak muda di hadapannya.
"Aku sudah mengatakannya, aku ingin kau menghancurkan rumah tangga Chelsea." ujar Reno membuat Ibu Anggun terkekeh kecil.
"Itu sangat mudah bagi ku, anak muda."
"Really? Aku sudah banyak menemukan orang-orang yang hanya berbicara manis seperti mu, tetapi akhirnya gagal juga." cibir Reno membuat Ibu Anggun memutar matanya malas. Kalau bukan karena uang, mana mungkin Ibu Anggun mau di rendahkan seperti sekarang.
"Apa rencana mu? Katakan!" desak Ibu Anggun membuat Reno langsung mencondongkan tubuhnya.
"Jebak Chelsea dengan ini," Reno mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan memberikan kepada Ibu Anggun.
"Kapsul apa ini?"
"Bukan sembarangan kapsul. Ini adalah obat perangsang, kau harus memancing Chelsea terlebih dahulu, mungkin ke sebuah klub atau hotel." jelas Reno membuat Ibu Anggun terdiam sejenak. Wanita itu tidak bodoh untuk tidak mengetahui apa yang selanjutnya akan terjadi.
Ibu Anggun mengembangkan senyum dan menerima kapsul itu, "Aku akan menyewa beberapa algojo untuk menikmati tubuh Chelsea. Bukankah itu maksud rencana mu?"
"No. Bukan algojo, tapi aku. Aku yang akan menikmati tubuh Chelsea seorang diri," ralat Reno dengan senyuman yang sungguh aneh bila di lihat lebih teliti.
"Baiklah, itu artinya aku akan mengurus hotel dan Chelsea?"
"Correct! You are so wise!" puji Reno dengan bertepuk tangan pelan. Ibu Anggun mengibaskan rambutnya dengan bangga.
"Baiklah, ini rencana pertama. Untuk rencana kedua dan selanjutnya, serahkan semuanya kepada ku." kata Ibu Anggun membuat Reno mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Kenapa harus kepada Ibu?"
"Karena bukan hanya kau saja yang menginginkan kehancuran Chelsea. Wanita itu sudah berani membentak dan menghina ku di keluarga Lincoln!" kesal Ibu Anggun membuat Reno mendengus kesal mendengarnya.
"Dan kau akan menghadapi ku, bila kau benar-benar melakukan hal itu!" sahut Reno membuat Ibu Anggun terkejut bukan main.
"A ... apa?"
"Aku mencintai Chelsea, hanya aku yang berhak untuk membalaskan apa yang selama ini aku rasakan! Dan kau hanya menjalankan perintah ku saja!" jelas Reno dengan tatapan yang sungguh tajam dan penuh ancaman. Ibu Anggun mengepalkan kedua tangannya di bawah sana, dan merasa tidak adil dengan pernyataan Reno.
"Tidak adil! Kenapa hanya kau saja-"
"Iya atau tidak?" sela Reno dengan memiringkan kepalanya. Ibu Anggun menelan ludahnya sendiri dan entah mengapa, dirinya tiba-tiba saja jauh lebih takut melihat wajah Reno, yang berbeda.
"Baiklah, kau yang akan memegang kendali atas rencana ini. Tapi aku punya syarat!" pinta Ibu Anggun membuat Reno mengangguk.
"Katakan,"
"Bila aku berhasil menjalankan rencana pertama dan seterusnya, maka kau akan mengirimkan aku uang dalam jumlah yang banyak."
Wanita rendahan, batin Reno.
Reno berdiri dan langsung melenggang pergi tanpa menjawab Iya atau tidak dari tawaran Ibu Anggun. Wanita paruh baya itu mengerutkan keningnya melihat tingkah Reno.
"Aku anggap jawaban mu adalah Iya,"
Jangan harap kau bisa memperalat ku, wanita *****.
...****************...
Ibu Anggun dan Chelsea saat ini sedang berada di salah satu hotel ternama. Chelsea hanya diam mendengar celotehan sang Ibu yang sejak tadi tanpa hentinya. Wanita itu merasa bersalah karena telah bersikap cukup kasar kepada wanita paruh baya, yang selama bertahun-tahun telah merawatnya walaupun sedikit berbeda.
"Chelsea juga senang, Bu." Jawab Chelsea seadanya. Ibu Anggun ingin menghabiskan waktu berdua dengan Chelsea, hal itu lah yang membuat wanita muda itu langsung mengajak Ibu tirinya ke sebuah hotel, untuk sehari saja.
"Kita akan berduaan kan di sini?" tanya Ibu Anggun memastikan. Chelsea hanya tersenyum tipis.
"Nanti sore kita akan kembali, tidak apa-apa kan, Bu?"
Ibu Anggun mengangguk, tetapi tidak dengan hatinya yang mengumpat karena ucapan Chelsea. Ibu Anggun ingin berlama-lama tinggal di hotel, kapan lagi dirinya bisa menikmati hotel berbintang lima seperti sekarang. Sangat jarang, terlebih lagi Chelsea mendapatkan perilaku yang berbeda dari berbagai karyawan di hotel tersebut.
Hotel mewah dengan interior yang megah. Membuat siapapun langsung takjub, begitu juga dengan Ibu Anggun, tetapi tidak dengan Chelsea yang sama sekali tidak menikmati perjalanan mereka berdua. Perasaannya terus saja gelisah saat pertama kali, Ibu Anggun datang.
Kenapa perasaan aku enggak enak ya? batin Chelsea dengan mengusap-usap dadanya yang berdebar kencang.
Chelsea bahkan melirik ke arah Ibu Anggun yang sibuk sendiri dengan ketakjubannya. Chelsea menggeleng dan mencoba untuk menepis pikiran negatifnya yang mulai menyerang.
"Apa yang aku bayangkan, semoga saja Ibu tidak macam-macam." gumam Chelsea pelan.
Mereka keluar dari lift sata tiba di lantai yang mereka tuju. Lagi dan lagi, Ibu Anggun takjub dengan lorong hotel yang begitu mewah, terdapat lukisan abstrak, pot bunga sebagai penghias, dan tak lupa dengan karpet merah yang menyapa lantai.
"Lihat, hotel ini sangat mewah sekali!" puji Ibu Anggun membuat Chelsea hanya lagi dan lagi bergeming. Tidak ada jawaban apapun yang terdengar, hanya senyuman canggung saja yang terlihat.
Chelsea selama ini tidak terlalu dengan dekat dengan Ibu Anggun, bahkan sekedar menyapa saat di rumah, selebihnya tidak pernah. Ada sebuah perasaan lega, kala Ibu Anggun memeluknya bahkan mengusap kepalanya, tetapi tetap saja merasa aneh, karena Chelsea tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu, selain dari Ayah Robert.
"Nak, di mana kamar hotel kita?" tanya Ibu Anggun begitu antusias. Chelsea menunjuk ke arah pojok lorong dan Ibu Anggun langsung berlari layaknya anak kecil.
__ADS_1
"Cepat buka! Ibu tidak sabar melihat bagaimana kamar kita, Chel!"
Chelsea hanya menurut dan membuka pintu kamar tersebut dengan sebuah kartu.
CEKLEK .....
Ibu Anggun langsung begitu saja, "Wah, bagus-KENAPA KAMAR INI SEMPIT SEKALI?!" pekik Ibu Anggun yang menelan pujiannya dalam sekejap mata.
Chelsea menaruh tas selempang nya, "Kenapa, Bu?" tanya Chelsea bingung saat melihat raut wajah wanita paruh baya itu.
Ibu Anggun mendekat dan mendengus, "Kamu salah pesan kamar, ini bukan kamar kita! Cepat panggil resepsionis!"
"Salah kamar? Tapi memang kamar ini yang aku pesan, Ibu. Kita tidak perlu memanggil resepsionis," jelas Chelsea membuat Ibu Anggun langsung mendelik kesal.
"Lalu bagaimana dengan perlakuan para staff hotel kepada kita?!"
Chelsea menghela napas panjangnya, "Itu hal yang lumrah, Ibu. Staff hotel di wajibkan untuk menyapa dan memberikan service terbaik kepada semua tamu hotel, termasuk kita." Chelsea kembali menjelaskan, berharap-harap Ibu Anggun mengerti.
"Tidak! Ibu tidak mau di kamar ini! Sudah sempit, bahkan tidak ada kolam renangnya!" Protes Ibu Anggun membuat Chelsea terdiam. Wanita itu baru saja merasakan senang, tetapi kesenangan itu seketika hancur dalam sekejap mata.
"Kita tidak menginap Ibu, jadi aku memesan kamar ini saja. Untuk apa juga kita menyewa kamar hotel tetapi tidak bermalam? Itu termasuk mengabiskan uang untuk hal yang tidak berguna," balas Chelsea dengan nada pelan. Takut bila Ibu Anggun tersinggung dengan ucapannya.
"Jadi maksud ucapan mu adalah membahagiakan orang tua itu sama saja menghabiskan uang?!" tanya Ibu Anggun dengan nada tinggi. Chelsea menggelengkan kepalanya, bukan itu yang Ia maksud.
"Bu, bukan itu yang-"
"Kamu ini bagaimana, Chel! Keluarga dari suami mu itu kaya raya dan tersohor, sangat mustahil uang mereka akan habis hanya untuk menyewa kamar kelas atas, walaupun tidak menginap!" tutur Ibu Anggun membuat Chelsea tidak habis pikir dengan jalan pikiran sang Ibu.
"Bu, kekayaan yang mereka miliki bukanlah milik ku, jadi aku tidak bisa seenaknya begitu!"
"Alah alasan saja kamu! Bilang saja suami mu itu tidak mengizinkan kamu mengeluarkan uang untuk ku!" ketus Ibu Anggun membuat Chelsea semakin menghela napas panjang.
"Kalau Ibu masih protes, aku akan membatalkan-"
"Jangan! Biarkan saja," tolak Ibu Anggun dengan ketus. Chelsea mengangguk dan merebahkan tubuhnya di kasur yang cukup empuk baginya itu.
Ibu Anggun hanya melipat kedua tangannya dan mulai memikirkan sesuatu, "Ibu haus, kamu ingin minum apa? Jus?" tawar Ibu Anggun membuat Chelsea yang hendak memejamkan matanya, langsung menoleh.
"Air putih saja, Bu. Maaf merepotkan,"
Kau memang sangat merepotkan, batin Ibu Anggun dengan senyuman yang sangat fake.
Ibu Anggun berjalan menuju dapur kecil dan langsung menjalankan rencana liciknya. Wanita itu menuangkan kapsul bubuk berisi obat perangsang kepada air minum Chelsea. Ibu Anggun tersenyum licik dan mulai membayangkan apa yang akan terjadi.
"Rencana pertama akan berhasil, selamat menikmati Chelsea." Gumamnya dengan sangat pelan.
Ibu Anggun mengeluarkan ponselnya dan langsung mengirimkan pesan kepada seseorang, bahwa semua rencana pertamanya akan segara di mulai.
Berbeda dengan Ibu Anggun, Chelsea yang masih merasa gelisah bahkan semakin gelisah, langsung menghubungi Zane dan mengirimkan lokasi dirinya berada saat ini. Chelsea merasa akan terjadi sesuatu, bukan hanya kepada Zane, wanita itu juga mengirimkan pesan yang sama kepada Daniel serta Nicholas untuk berjaga-jaga.
"Semoga semua pikiran ku tidak benar."
...****************...
...Picture of the Pinterest❤️...
__ADS_1