
BYUR .....
Ibu Anggun langsung terkejut bukan main, saat seseorang menyiram dirinya dengan air dingin. Tubuh Ibu Anggun mulai menggigil dan memegangi kepalanya, saat rasa pusing menghampiri kepalanya.
"Apa yang-SIAPA KALIAN?!" pekik Ibu Anggun yang semakin terkejut saat melihat enam pria asing bertubuh sangat kekar di hadapannya. Menatap seisi ruangan yang cukup mewah, membuat Ibu Anggun berusaha untuk mengingat apa yang terjadi kepadanya.
"Kau sudah ingat sesuatu, ja la ng?" tanya pria bertubuh bongsor dengan tangan terlihat di depan dada. Ibu Anggun langsung menoleh saat baru menyadari bahwa dirinya tidak memakai pakaian sama sekali, alias full naked. Bergerak cepat untuk menutupi tubuhnya dengan selimut, saat melihat pakaiannya sudah terbakar habis di dekat ranjang.
Tetapi salah satu pria di saja dengan sigap langsung menarik selimut dan menghempaskan jauh dari ranjang. Ibu Anggun mengeram kesal dan tidak ada pilihan lain selain menutupi tubuh polosnya dengan tangan. Menatap keenam pria yang tidak Ia kenali, dengan tatapan yang sangat tajam.
"SIAPA KALIAN? APA YANG TELAH KALIAN LAKUKAN KEPADA KU?!" tanya Ibu Anggun dengan nada tinggi. Pria bertubuh bongsor tertawa renyah mendengar penuturan dari wanita di hadapannya itu.
"Kami berenam sudah mencicipi tubuhmu, sangat manis tapi sayangnya sudah longgar!" hina pria bongsor tersebut membuat jantung Ibu Anggun berdetak kencang jauh lebih cepat. Ibu Anggun semakin mengeratkan pelukannya sendiri, agar bagian sensitifnya tidak terlihat.
"Untuk apa kau menutupi tubuh mu itu, kami sudah melihatnya dengan jelas sejak tadi." celetuk pria satunya dengan menyeringai kecil. Ibu Anggun menepis tangan pria tersebut yang hendak menyentuh lengannya.
"JANGAN MENYENTUH KU, DASAR BI AD AP!" hardik Ibu Anggun membuat keenam pria tersebut memiringkan kepala dan menyunggingkan senyum tak biasa.
"Ikat wanita ini! Aku ingin mencicipi," ucap pria bongsor dengan melucuti pakaiannya sendiri. Ibu Anggun mendelik tajam saat kedua kaki dan tangannya mulai di ingat oleh sebuah tali rafia.
"AKAN AKU LAPORKAN KALIAN-MHPPP!"
Pria bongsor tersebut langsung membungkam mulut Ibu Anggun dengan kasar. Sedangkan kelima pria lainnya langsung menyiapkan kamera untuk merekam adegan yang mereka lakukan, seperti perintah Robert.
Ibu Anggun terus memberontak, membuat pria bongsor itu semakin menindih tubuh Ibu Anggun dan menyesal kuat pada bagian inti tubuh wanita itu. Ibu Anggun yang semulanya memberontak, kini mulai memberikan sebuah respon yang membuat keenam pria di saja menyunggingkan senyum.
"Lihat, wanita ini mulai begitu menikmati. Sangat munafik," cibir salah satu dari mereka dengan menatap teman bongsor yang tengah menikmati tubuh Ibu Anggun.
"Kalian ambil beberapa foto dan rekaman video," perintah pria yang cukup tinggi dengan wajah datar. Kedua dari lima pria di sana, mulai melakukan pekerjaan mereka. Menaruh alat perekam video dan juta memotret beberapa adegan intim yang begitu menggelikan.
"Hey, setidaknya biarkan kami menikmatinya juga!" protes pria yang tak kalah bongsor. Ibu Anggun mendelik mendengar ucapan pria tersebut dan mulai memberontak kembali, entah sadar atau tidak ternyata Ibu Anggun membuka jalan peluang bagi mereka berenam.
"TIDAK! INI PELECEHAN!" hardik Ibu Anggun setelah berhasil melepaskan ciuman kasar tersebut. Tidak munafik karena Ibu Anggun juga menikmati permainan pria bongsor yang tidak Ia kenal.
PLAK .....
Pipi Ibu Anggun langsung menjadi merah karena tamparan kuat dari pria bongsor satunya. "Ja la ng tetap saja ja la ng! Jangan berlagak bahwa kau itu suci!" tekan pria tersebut dengan tatapan yang sangat tajam.
"TIDAK! AKU TIDAK-AHHHH! de sa han mulai keluar kembali saat tubuh Ibu Anggun di nikmati oleh dua pria sekaligus.
__ADS_1
Keenam pria lainnya memilih untuk diam, dan tidak ikut untuk bermain-main. Kedua pria bongsor itu begitu menikmati tubuh Ibu Anggun dengan sedikit kasar. Lenguhan dan de sa han menjadi satu saat Ibu Anggun kembali mendapatkan pelepasannya.
"Ahhh!"
...****************...
Robert menatap rekaman dan beberapa foto dari bodyguardnya. Foto dan rekaman video tentang Ibu Anggun yang begitu terlihat menikmati kedua pria sekaligus, Lona memperhatikan wajah Robert dengan bingung.
"Tuan, baik-baik saja?" tanya Lona membuat Robert menoleh seraya terkekeh geli.
"Sangat baik. Apakah kau masih ingin bekerja menjadi bartender di sini?" tanya Robert mengalihkan pembicaraan mereka. Lona terdiam sejenak.
"Tentu, Tuan. Saya sudah nyaman bekerja di sini," jawab Lona. Robert hanya menghela napas panjang dan mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.
"Bekerja di tempat ini sungguh rawan, Nak. Ini kartu nama ku, kau bisa menghubungi ku bila ada sesuatu, terutama pekerjaan." Lona menerima kartu nama tersebut dan membulatkan kedua matanya.
Terlihat jelas ada nama Robert Lewandowski Lemos di sana. Lona menatap Robert yang hendak pergi, "Tuan!" panggil Lona membuat Robert mengurungkan niatnya untuk keluar dari rooftof. Pria itu membalikkan badan dan mengerutkan keningnya.
"Apakah Tuan, suami dari Anggun?" tanya Lona memastikan. Walaupun Lona sudah mengetahui, tentang saja wanita itu tidak langsung percaya begitu saja.
"Benar, apakah ada sesuatu?"
"Robert Pattinson nama samaran ku, dan nama asli ku adalah Robert Lewandowski Lemos." jawab Robert dengan santai dan langsung pergi begitu saja, meninggalkan Lona yang masih terdiam kaku.
"Astaga, dunia ini begitu sempit." Gumam Lona dengan memegangi dadanya yang berdetak kencang.
Sedangkan di sisi lain, Robert menyunggingkan senyum tak biasa dengan memasukkan kembali ponselnya. Rasanya sangat puas saat melihat Anggun terkulai tak berdaya di bawah lenguhan kedua bawahannya. Sesampainya di lorong kamar, Robert hanya menatap pintu bercat putih dengan tatapan tak minat. Tak lama, ada dua bodyguard datang menghampiri dirinya dengan tergesa-gesa.
"Tuan," sapa mereka dengan membungkuk tubuh hormat. Robert hanya diam dan mencium bau alkohol wine dari mulut kedua bodyguardnya itu.
"Aku ingin bersandiwara, kalian harus ikut memainkan peran." kata Robert membuat kedua bodyguard tersebut langsung menggaruk tengkuknya sendiri, karena Robert tampak memalingkan wajah dan menutup hidungnya.
"Baik, Tuan!"
Robert melepaskan jas serta kemejanya, dan mengganti pakaiannya dengan baju biasa. Tak lupa juga melepaskan sepatu pantofel menjadi sandal, setelah selesai, Robert meregangkan sedikit otot tubuhnya.
"Kalian sudah mencetak foto yang aku inginkan?" tanya Robert dengan menatap anak buahnya. Salah satu bodyguard memberikan beberapa lembar foto dan memilih untuk tetap di luar kamar, untuk berjaga-jaga saja.
"Hari ini, aku akan memberi mu talak, Anggun." gumam Robert dengan memutar handle pintu. Kedua bodyguard yang masih begitu menikmati tubuh Anggun, tersentak terkejut saat pintu terbuka menampakkan Tuan mereka.
__ADS_1
"Tu ..." Ucapan seketika seketika tergantung, kala Robert memberi isyarat untuk diam. Mengeluarkan beberapa lembar foto di tangannya. Dua bodyguard yang sebenarnya belum piss untuk menjelajahi tubuh Anggun, terpaksa untuk menghentikan kegiatan mereka dan bergegas memakai baju.
"ANGGUN!" hardik Robert membuat Anggun yang baru saja membuka matanya, sontak terkejut melihat kedatangan suaminya, Robert.
"Ro ... Robert? Sedang apa kau di sini?!" tanya Anggun dengan panik dan seraya menutupi tubuhnya yang penuh dengan tanda merah dan keringat. Bahkan napas wanita itu masih tersengal-sengal karena begitu menikmati permainan kedua pria bertubuh bongsor itu.
Robert mulai memainkan dramanya, tangan pria itu terkepal kuat dan menarik lengan sang istri. "Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kau di club malam? Dan apa ini?!" Robert menatap kedua pria bongsor dengan tajam, Anggun menelan ludahnya sejenak dan tersadar sesuatu.
"Untuk apa kau peduli, kita akan berpisah!" jawabnya dengan tak kalah ketus. Robert diam-diam menyunggingkan senyum, ini yang Ia inginkan sejak dulu, menghancurkan musuh dengan berkeping-keping lalu mencampakkannya.
"Kau tidak memperdulikan kedua putra kita?! Kau benar-benar keterlaluan, Anggun!"
PLAK .....
Anggun terkejut bukan main saat Robert pertama kali melayangkan tamparan keras pada pipinya. Anggun sontak menatap marah pria di hadapannya, "Seharusnya kau sadar diri, kenapa aku menjadi seperti ini! Aku muak hidup miskin dan penuh dengan gunjingan warga! Kau bahkan tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari ku sebagai seorang wanita! Mungkin wanita lainnya akan meninggalkan mu karena miskin!" cemooh Anggun membuat Robert terkekeh geli dan mengusap wajahnya dengan gusar.
"Sekarang katakan, apa yang kau inginkan dari ku, Anggun?!" tanya Robert dengan tatapan yang masih sangat tajam. Anggun tertegun melihatnya, ini pertama kali baginya melihat Robert begitu marah hingga menampar dirinya dengan kuat.
"AKU INGIN BERPISAH!"
"OKE! MULAI HARI INI, AKU ROBERT LEWANDOWSKI LEMOS MENJATUHKAN ANGGUN CHANDRAGUNA TALAK HARI INI JUGA!"
DEG ....
Nama belakang itu? Kenapa sangat tidak asing. Batin Anggun yang terkejut setengah mati.
Robert menyunggingkan senyum tak langsung melempar lembaran foto tersebut ke udara, Anggun membulatkan kedua matanya melihat apa yang ada di foto tersebut, "Kau! Kau memotret ku!" tatapan Anggun sangat tajam, membuat Robert tersenyum miring.
"Kau tidak memiliki hak mulai hari ini, karena kita sudah tidak ada hubungan apapun! Mau dengan si kembar, aku tidak akan mengizinkan mu untuk bertemu dengan kedua putra ku!" kata Robert dengan menunjuk penuh amarah ke arah Anggun. Anggun mengepalkan kedua tangannya dengan penuh emosi dan hendak berdiri, namun dirinya lupa bahwa kaki serta tangannya di ikat oleh tali.
"Kalian, cepat lepaskan ikatan ini!" perintah Anggun, tetapi kedua pria bongsor itu mengabaikan dan membungkuk kepada Robert.
"Biarkan di seperti itu, bila kalian masih ingin menikmati tubuhnya, silahkan! Hubungi Tuan Arjun untuk mengurus bukti hak asuh agar jatuh ke tangan ku!"
"Baik, Tuan Besar!" jawab mereka berdua dengan tegas. Anggun menelan ludahnya dengan takut.
Robert pergi meninggalkan kamar, tetapi langkah pria itu berhenti di ambang pintu dan menoleh menatap Anggun, "Kau terlalu bermain-main dengan ku selama ini, Anggun! Kita lihat, apakah usaha mu dengan Reno berhasil untuk memisahkan Putri ku dari Zane!"
DEG .....
__ADS_1