Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Daniel dan Rebecca


__ADS_3

"Daniel, kau baik-baik saja?" tanya Mama Bellamy sesaat setelah operasi selesai, wanita itu yang paling khawatir di antara yang lain, bahkan enggan meninggal sahabat sekaligus pria yang sudah Ia anggap sebagai putranya itu.


Daniel yang baru saja terbangun dari efek obat bius, tentu saja terdiam sejenak. "I ... iya, aku baik-baik, Ma." jawab Daniel dengan canggung.


"Dasar pria sialan itu, bisa-bisanya dia menyusup ke dalam hotel! Aku akan memotong juniornya bila aku berpapasan dengan pria itu!" gerutu Mama Bellamy membuat Daniel dan Nicholas yang berada di dalam ruang rawat, mulai menatap Mama Bellamy dengan takut-takut.


"Apa yang Mama katakan? Memangnya Mama berani?" tanya Nicholas dengan wajah yang sudah pucat pasi. Walaupun banyak pria atau wanita luaran sana, bahkan saudara Lincoln lainnya, selalu menganggap seorang Nicholas sebagai pria datar, dingin, tidak tersentuh seperti Zane dulu. Tapi bila sudah berhadapan dengan Mama Bellamy seperti sekarang, maka jiwa ngerinya juga akan muncul.


"Tentu saja! Bahkan Mama bisa memotong Junior mu sekarang juga!" tantang Mama Bellamy dengan senyuman miring. Nicholas dan Daniel sontak memegangi aset pribadi mereka dengan cepat.


"Milik Nicho saja! A ... aku tidak bertanya apapun, Ma!"


PLAK ....


"AKHHH! APA YANG KAU LAKUKAN!" pekik Daniel yang mengeram kesakitan, karena Nicholas memukul lengannya yang terkena tembakan dengan sangat semangat.


"Nicholas!" Tegur Mama Bellamy membuat Nicholas langsung bergegas keluar dari ruangan, untuk menghindari tarikan telinga dari Mama Bellamy. Daniel rasanya ingin menangis karena rasa sakit yang luar biasa.


"Mama akan memanggil dokter, tunggu ya." Mama Bellamy bergegas keluar untuk memanggil dokter.


"Nicholas, sialan! Awas saja kau nanti!" geram Daniel dengan memejamkan matanya dengan penuh emosi itu.


Tak lama, pintu ruangan tiba-tiba saja terbuka membuat Daniel yang baru saja menutup matanya, langsung kembali membuka mata dan mengerutkan keningnya.


"Siapa kau?"


DEG ....


Aku ketahuan ya? Batin seorang gadis cantik yang langsung menjadi kaku di ambang pintu.


Tatapan mata Daniel benar-benar menghunus tajam, gadis asing yang tersenyum canggung ke arahnya. Tatapan Daniel beralih pada buah tangan, yang di bawa gadis yang cukup cantik tersebut.


"Hai, Daniel!" sapanya dengan senyuman ramah. Daniel langsung berwaspada dan mengeluarkan pistolnya.


BRUK ....


Gadis tersebut menjatuhkan buah tangan dan mengangkat kedua tangannya ke udara, "A ... apa?" tanyanya dengan polos.


"Siapa kau? Siapa yang mengirim mu untuk datang?!" tanya Daniel membuat gadis tersebut melongo bingung.


"Aku kemari karena di perintah oleh ...."


TUK .....


"SIAPA?!"


"OLEH AYAH! AKU REBECCA WIGUNA, AKU KEMARI DI ANTAR OLEH KAK ZANE UNTUK MENJENGUK MU! AKU ANAK BAIK, MANIS, DAN CANTIK! AKU GADIS YANG DI PESTA PERNIKAHAN KAK ZANE!" jawab gadis yang tak lain adalah Rebecca dengan spontan dengan nada tinggi. Mata gadis itu bahkan sudah tertutup rapat dengan tubuh bergetar.


"Zane?" gumam Daniel dengan dahi mengerut. Daniel menelisik penampilan gadis di hadapannya, mungkin jauh lebih muda darinya. Daniel akhirnya menurunkan pistolnya dan terbatuk kecil.


"Apakah kau tidak memiliki sopan santun?! Masuk ke kamar inap orang itu seharusnya mengetuk pintu dan mengucapkan permisi!" ketus Daniel dengan kesal, bahkan rasanya ingin melempar wajah gadis di hadapannya dengan vas bunga, tapi karena ucapannya membuat Rebecca langsung mengintip kecil.

__ADS_1


Seperti tidak mendengar ucapan Daniel Rebecca malah langsung mencondongkan tubuhnya, membuat Daniel terkejut bukan main. "APA YANG KAU LAKUKAN! MENJAUH DARI KU!"


"Kenapa kau galak sekali? Padahal niat ku sudah baik untuk menjenguk mu, Daniel." jawab Rebecca dengan santai. Daniel tertawa sumpah dan mendorong kening Rebecca agar menjauh dari hadapannya.


"Aku tidak mengenal mu! Sebaiknya jangan sok akrab dan sok asik dengan ku, Nona!" ujar Daniel dengan sangat ketus. Seperti melupakan rasa sakitnya, kini rasa sakit itu berubah menjadi rasa dongkol yang besar.


"Padahal aku sudah memperkenalkan-"


"Loh? Becca?"


Rebecca sontak menoleh, sedangkan Daniel memiringkan tubuhnya untuk mengintip. Mama Bellamy datang dengan seorang dokter laki-laki.


"Halo, Tante Bella." sapa Rebecca dengan memeluk wanita paruh baya itu tanpa sungkan. Daniel mendengus kesal dan membiarkan dokter laki-laki memeriksa lengannya.


"Perbannya harus saya ganti, sepertinya terkena sesuatu, hingga menyebabkan darahnya kembali keluar." kata dokter tersebut, tetapi Daniel hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Kenapa tidak menghubungi Tante dulu? Tante bisa menunggu dan menemani mu di sini,"


Rebecca tersenyum dan teringat dengan buah tangannya yang terjatuh ke lantai. Mama Bellamy mengerutkan keningnya, saat melihat Rebecca memunguti buah-buah bawahannya. "Biar Tante-"


"Jangan, Ma. Biarkan gadis suka nyelonong ini saja yang mengambilnya sendiri!" larang Daniel dengan cepat membuat Mama Bellamy mengerutkan keningnya.


Bukannya tersinggung, Rebecca langsung menaruh buah tangannya di meja dan tersenyum seraya memberikan kedipan mata kepada Daniel. "Kau pasti akan rindu kepada ku,"


HAH?


Daniel melongo mendengar pernyataan gadis yang baru Ia temui ini, "Rindu? Aku tidak pernah merindukan-****! PELAN-PELAN!" hardik Daniel saat Dokter laki-laki itu menutupi lukanya dengan cukup kencang.


Rebecca menyelipkan anak rambutnya, "Benarkah?"


...****************...


Daniel menatap seisi kamarnya yang cukup membosankan. Walaupun keluarga Lincoln sudah memberikan kamar terbaik yaitu VVIP, tetap saja rasa bosan menyelimuti dirinya. Daniel rasanya sangat gatal ingin ke taman rumah sakit, sekedar berjalan-jalan saja.


"Aku bosan. Kenapa Nicho tidak peka sekali kepada ku!" rengek Daniel dengan suara tertahan. Semenjak kedatangan dan kepulangan dari gadis bernama Rebecca tadi, membuat darah Daniel rasanya mendidih. Sebab, gadis absolut itu sangat di luar nalarnya.


Daniel membenarkan posisi tangannya yang harus di gift, dan turun dari ranjang seraya menarik tiang infus. "Lebih baik aku pergi sendirian,"


DUK ....


BRUK ....


"Aduh!"


Daniel terkejut bukan main saat membuka pintu dengan gerakan cukup kuat, ternyata mengenai seorang gadis hingga terjungkal ke belakang.


"Nona!" Daniel bergegas mendekati, "Anda baik-baik saja?" tanya Daniel dengan cemas. Gadis yang masih merintih kesakitan seraya memegangi keningnya yang, dengan posisi masih di lantai.


"Kenapa mendorong pintu dengan keras, HUAAA!" Daniel semakin gelagapan karena gadis tersebut menangis cukup kencang.


"Don't cry, does it hurt so bad?" tanya Daniel membuat gadis yang masih menangis itu, langsung terbangun dan menatap Daniel kesal.

__ADS_1


DEG .....


"KAU!" Daniel menunjuk wajah gadis yang baru saja di gumamnya. Rebecca.


"KENAPA KAU-"


"KENAPA?! KAU INGIN MARAH? KENAPA KAU SUNGGUH MENYEBALKAN SEKALI, HUAA!" jawab Rebecca dengan tangisan yang semakin kencang. Daniel menelan ludahnya dan mulai bingung bagaimana cara menenangkan tangisannya.


"Maaf, aku tidak sengaja!" kata Daniel nyari seperti bisikan.


Rebecca bangun dan langsung menghadap ke arah dinding, menangis kembali dengan meratapi rasa sakit di keningnya. Daniel menggaruk tengkuknya, kali ini kesalahannya karena kecerobohannya membuat gadis yang tidak salah itu menjadi korban pintu.


"Hey, jangan menangis!" ketus Daniel membuat Rebecca menepis lengan Daniel yang hendak menepuk pundaknya.


"Kau jahat! Padahal niat ku datang lagi untuk mengajak mu ke taman! Tapi kenapa kau galak sekali!" lirih Rebecca membuat Daniel semakin di buat bingung. Lorong yang sepi, membuat tangisan itu benar-benar menggema.


Daniel membalikkan tubuh Rebecca dengan sekuat tenaga, "Sttt ... nanti ada yang dengar! Jangan menangis lagi!" bisik Daniel dengan meletakkan jarinya di bibir Rebecca.


DEG .....


Ayah, aku mau menikah saja dengan Daniel! Batin Rebecca yang tertegun melihat ketampanan Daniel di hadapannya secara langsung dan dekat.


Daniel melirik ke arah kening Rebecca yang mulai terlihat memar, apakah sekuat itu dirinya mendorong pintu kamar inap? "A ... apakah itu sakit?" tanya Daniel dengan menunjuk kening Rebecca.


"Apakah pertanyaan mu tidak ada yang berbobot sedikit? Tentu saja ini sakit!" jawab Rebecca tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Daniel. Bulu mata yang lentik, iris mata yang begitu menenangkan, rambut hitam legam, membuat Rebecca begitu betah menatap Daniel.


Merasa di tatap, Daniel tertegun melihat wajah cantik Rebecca dengan begitu dekat. Sangat dekat. Detak jantung Rebecca begitu kencang, wajah gadis itu bahkan sudah merona merah. "Kau sangat tampan!" puji Rebecca membuat Daniel langsung menjauhkan tubuhnya.


"Ekhem!" Daniel mengusap wajahnya dengan salah tingkah. "Kau ingin ke taman kan? A ... ayo!" ajak Daniel membuat Rebecca tersenyum senang. Gadis itu tanpa pikir panjang langsung meraih tiang infus dan mengikuti langkah Daniel menuju lift.


"Sudah lebih baik lukanya?" tanya Rebecca membuat Daniel hanya berdeham sebagai jawabannya. Rebecca tidak menyerah untuk mendapatkan jawaban sesuai dengan kemauannya.


"Apakah kau tidak ingin meminta maaf kepada ku?" tanya Rebecca setelah mereka berdua masuk ke dalam lift. Daniel menatap pantulan Rebecca dari samping.


"Maaf,"


Pria ketus ini sangat menjengkelkan tapi aku menyukainya! Batin Rebecca.


"Bukan sebuah kata, tapi sebuah tindakan!" protes Rebecca membuat alis Daniel mengerut.


"Kenapa kau malah meminta lebih! Dasar,"


"Tapi kau sudah membuat kening ku terluka! Aku bisa mengadu dengan Kak Zane-"


"Cerewet sekali!"


Rebecca tersenyum kecil dan mendekati Daniel, "Selain cerewet, aku juga suka dengan mu!" Ungkap Rebecca membuat Daniel memutar matanya malas. Daniel memilih diam dan tidak mengatakan atau menjawab apapun kepada Rebecca.


"Aku menunggu permintaan maaf mu berupa tindakan!" celetuk Rebecca kembali. Daniel hanya melirik sekilas dan akhirnya menatap Rebecca yang cukup cantik baginya. Bila Rebecca dan Chelsea bertemu, pasti kecantikan mereka semakin di puji-puji, terlebih lagi aura ibu hamil Chelsea begitu kuat.


"Jangan harap!" sahut Daniel yang langsung keluar dari lift. Rebecca mendengus kesal dan raut wajahnya langsung berubah menjadi senang melihat anak-anak balita di Playground.

__ADS_1


"Mereka lucu sekali! Daniel, ayo buat anak!"


__ADS_2