Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Malam Yang Panjang


__ADS_3

"Selamat atas pernikahan kalian berdua," kata Ayah Robert kepada Zane dan Chelsea. Senyuman tidak pernah luntur dari kedua sudut bibir pasangan baru itu. Chelsea mendekat dan memeluk Ayah Robert dengan sangat erat.


"Sea enggak mau ninggalin Ayah di sini,"


Ayah Robert tersenyum tipis, dirinya juga merasa tidak rela untuk melepas kepergian Putri semata wayangnya. Tetapi Ayah Robert kini sudah tidak berhak untuk ikut mencampuri apapun tentang kehidupan Zane atau Chelsea. "Nak, dengarkan Ayah."


Ayah Robert menghapus air mata sang Putri, "Chelsea adalah Putri kesayangan Ayah sampai kapanpun, Chelsea akan tetap menjadi Putri kecil Ayah sampai kapanpun. Kau harus ikut ke kota bersama suami dan keluarga suami mu. Ayah akan sering berkunjung ke rumah mertua mu, bukankah seperti itu, Besan?"


Papa Owen memutar matanya malas, tetapi sontak mengangguk kala Mama Bellamy melotot kepadanya. "Tentu saja, Besan. Pintu rumah kami tidak akan pernah tertutup untuk mu," jawab Papa Owen seraya menepuk pundak Putra sulungnya.


"Benarkah Ayah? Ayah akan sering berkunjung?" tanya Chelsea memastikan dengan air mata yang terus lolos dari matanya.


"Tentu saja, Sayang. Ayah akan mengajak si kembar untuk tinggal di sana,"


Ashton dan Ashley yang sudah menangis sejak tadi langsung tersenyum lebar. "Kami akan merindukan Kakak!" kata Ashton yang sudah kembali menangis di pelukan Ashley.


"Peluk aku,"


Ashton dan Ashley langsung memeluk Chelsea dengan sangat erat. Ayah Robert tersenyum haru melihat kasih sayang dan tidak pernah membeda-bedakan antara anak kandung dan anak kandung dari istri yang berbeda. Papa Owen tersenyum dan melirik ke arah Zane yang hanya diam.


"Nak, jaga Istri dan anak mu kelak. Jangan pernah melukai atau menyakiti hatinya. Ayah Robert bersusah payah membesarnya dengan penuh cinta dan kasih sayang." Celetuk Papa Owen membuat Zane menoleh sejenak.


"Aku akan menjaga istri dan anak-anak ku sepenuh hati. Aku dan Chelsea telah sepakat untuk saling terbuka dan percaya di depan Tuhan." sahut Zane dengan penuh keyakinan dan keseriusan yang terpancar.


Papa Owen tersenyum bangga. "Chelsea, bila suamimu ini tidak mendengarkan mu, katakan kepada Papa!"


Chelsea menoleh dan tersenyum bahagia. "Tentu saja, Pa."


"Kakak tetap akan pulang kan ke desa?" tanya Ashley pada akhirnya. Mata kedua anak kembar tersebut sudah memerah karena terus-menerus menangis.


"Hmmm," Chelsea melirik ke arah Zane meminta jawaban. Zane mendekat dan merangkul mesra wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.


"Tentu saja, kapanpun kita bisa kembali ke desa. Aku juga ingin menanam padi lagi," jawab Zane dengan tawa kecil. Chelsea tanpa sungkan lagi mencubit pinggang sang suami.


"Kalian akan tinggal di mana nanti? Aku tidak ingin kalian menyusahkan ku karena kalian tinggal tanpa membayar di sini?!"


Semua keluarga menoleh ke arah sumber suara. Ashton dan Ashley yang sudah mengenal suara itu pun mulai jengah. Ibu Anggun dengan angkuhnya mendekat dan menarik tangan Chelsea dengan cukup kasar. "IBU!" pekik Chelsea terkejut saat Ibu Anggun tiba-tiba saja melepas gelang emas yang Ia kenakan.


"Bu! Apa yang Ibu lakukan?!" tanya Ayah Robert dengan menahan gerakan sang istri. Ibu Anggun menepis dan menunjuk wajah sang suami.


"Mereka ini sudah menumpang, tapi tidak membayar kita! Ibu tidak ingin mereka terus-menerus tinggal di sini dan tidak membayar kami!"


Chelsea meringis kala gelang emas itu melukai pergelangan tangannya. Zane yang melihat itu pun merasa geram, dan mendorong tubuh Ibu Anggun dengan keras.

__ADS_1


"Menjauh dari istri ku!" hardik Zane dengan penuh amarah. Mama Bellamy mendekat dengan khawatir.


"Sayang, kau baik-baik saja?" tanyanya dengan menatap pergelangan tangan sang menantu. Terdapat goresan karena gelang emas itu, Mama Bellamy meradang karena ulah Ibu Anggun.


"Dasar wanita gila! Berani sekali kau melukai menantu ku?!" hardik Mama Bellamy yang sudah bersiap untuk menyerang Ibu Anggun. Tetapi Papa Owen langsung menahan sang istri untuk tidak membalas.


"Sayang, jangan!"


"Pa, tapi wanita ini sudah keterlaluan!"


...****************...


Di Rumah Sewa ....


Sepasang pengantin baru baru saja tiba di rumah tersebut, rumah berlantai dua yang masih Zane sewa untuk sementara waktu. Mereka berdua udah berganti pakaian setelah beberapa jam akad nikah selesai di laksanakan. Kini, di sebuah kamar sederhana yang di hias sedemikian rupa, Zane menatap sang istri yang berdiri di depan cermin.


"Kenapa susah sekali!" gerutu Chelsea yang terlihat sedang berusaha membuka dress panjang yang Ia kenakan. Zane hanya diam dengan senyuman tak biasa. Mama Bellamy dan Papa Owen memilih untuk langsung kembali ke kota, karena ada keperluan yang mendesak.


"Perlu bantuan, Sayang?"


Tubuh Chelsea langsung menjadi tegang, wanita itu bahkan menoleh dan terkejut melihat sang suami yang sudah melipat tangan dengan wajah genitnya. "Ka ... kau? Keluar lah dulu, aku akan berganti-"


CUP ....


Chelsea semakin di buat menegang karena secara tiba-tiba Zane mencium tengkuk lehernya yang terbuka. Tangan kekar pria itu sudah melingkar di perut tamping dan menyembunyikan wajahnya di leher jenjang Chelsea.


"Aku ingin memeluk mu lebih lama," jawab Zane dengan suara yang sudah memberat. Chelsea menelan ludahnya sendiri dan menatap pantulan diri mereka di cermin. Rasanya tidak menyangka bila mereka menikah dalam kurun waktu kurang satu bulan, saling mengenal.


"Lepaskan dulu, aku-"


DEG ....


Chelsea dan Zane saling beradu tatap. Chelsea dapat melihat kabut gairah yang sudah terlihat di manik mata Zane. Wanita itu mengigit bibir bawahnya dengan gugup.


Zane mendekatkan dirinya dan semakin mengeratkan pelukannya. Hingga membuat tubuh keduanya saling menempel, dan Chelsea merasa ada yang mengganjal di bawah sana. "Aku menginginkanmu, Sayang." bisik Zane membuat Chelsea di gugup setengah mati.


"Ka ... kau yakin?" tanya Chelsea memastikan, Zane menatap Chelsea dengan napsu yang sudah di ujung kepala. Chelsea menghela napas dan mengangguk malu-malu.


Mana mungkin dirinya menolak, terlebih lagi mereka berdua sudah sah menjadi suami istri. Dengan perasaan malu-malu, Chelsea melepaskan ikat rambutnya dan membuat rambut panjang itu tergerai. Zane hanya diam melihat tingkah sang istri, sangat seksi melihat sang istri yang bertingkah seperti malam ini.


Tanpa menunggu lama lagi, Zane langsung menyambar bibir ranum yang sudah menggodanya sejak awal itu. Chelsea yang tidak memiliki pengalaman dalam berciuman pun merasa kesulitan untuk mengimbangi.


Dengan segala napsu mereka, kamar yang berisi AC pun rasanya membuat mereka kepanasan. Zane langsung melepaskan pakaian yang masih melekat di tubuh Chelsea dan juga di tubuhnya. Tubuh mereka sudah full naked.

__ADS_1


GLEK ....


Zane menelan ludahnya sendiri saat melihat bukit kembar yang menantang dirinya. Chelsea sontak menutupi payu**** dengan wajah memerah. "Jangan menatapnya seperti itu, Zane!"


Zane tersenyum bahagia. "Jangan di tutup. Aku menyukai nya,"


Zane langsung melahap kembali bibir ranum itu dengan rakus, kedua tangannya tidak tinggal diam dan meremas kuat payu**** milik sang istri. Chelsea yang merasa sengatan, secara tidak sadar mengangkat tubuhnya dan menekan kepala Zane, agar memperdalam lumatannya.


"Shhh, Zane." ****** itu keluar setelah Zane berhasil memberikan tanda miliknya di leher putih sang istri.


Zane beralih ******* payu**** sang istri dengan rakus. "Ahhh, iya, mhhh ...."


Zane tersenyum puas mendengar ***** terus keluar dari bibir sang istri. Zane yang sudah puas pada inti tubuh atas sang istri, langsung menarik benda segitiga yang masih berada di tempatnya.


Chelsea mengangguk dan semakin meremas rambut Zane yang sudah berantakan, pria itu memainkan lidahnya di bawah sana dengan sangat mahir. Chelsea bahkan terus-menerus mengeluarkan suara indahnya.


"Aku mencintaimu, Amora. Aku sangat mencintaimu," bisik Zane sebelum pria itu memasukkan pusaka miliknya yang sudah menegang.


Chelsea meremas seprei dan juga mencakar punggung sang suami, "Zane, sakit, ahhhh!" pekik Chelsea yang merasa sakit karena pusaka Zane yang mencoba untuk menerobos miliknya.


"Tahan sebentar, Sayang." Zane mencium bibir ranum yang sudah bengkak karena ulahnya sendiri. Zane benar-benar di buat candu oleh tubuh sang istri, walaupun masih terkesan kaku, tetapi hal itu semakin membuat Zane merasa beruntung bukan main.


"Ahhh! Zane, sa ... sakit!" pekik Chelsea sata merasakan selaput darahnya sudah di terobos paksa oleh pusaka milik sang suami.


Zane mengusap air mata sang istri, "Cuma sebentar, okay. Jangan nangis." kata Zane mencoba untuk menenangkan Chelsea. Tak lama, akhirnya Zane mulai mempercepat tempo gerakan miliknya, membuat Chelsea hanya merem melek di buatnya. Rasa sakit itu di gantikan dengan rasa nikmat yang belum pernah Chelsea rasakan.


"Ahhh, iya, Zane ... di sana."


Zane tersenyum tipis dan semakin mempercepat gerakannya. Sesekali pria itu mencumbu bibir dan beberapa bagian sensitif milik sang istri. Chelsea hanya bisa mengeram nikmat dan sesekali memperdalam ******* bibir Zane pada payu****.


"Panggil nama ku, Sayang. Ahhhh,"


Posisi mereka telah berubah, dengan Chelsea yang berada di atas tubuh Zane dan wanita itu yang mengambil kendali atas permainan panas mereka. Keringat sudah membasahi tubuh, keadaan kamar juga sudah berantakan, membuat kesan panas semakin merajalela.


"Mhhhh ... kau hebat, honey. Ahhhh, lebih cepat lagi, Sayang!" **** Zane dengan penuh nikmat. Chelsea semakin mempercepat goyangannya dan sesekali membuat tanda di beberapa bagian tubuh sang suami.


"Zane, a ... aku ingin pipis!" kata Chelsea yang masih menggerakkan pinggulnya. Zane membalikkan posisi, dengan Chelsea yang menungging.


"Tunggu aku,"


Zane mempercepat tempo pinggulnya, membuat Chelsea semakin ***** hebat dan melenguh karenanya. Memainkan dua bongkahan yang sudah menjadi favorit miliknya, membuat Zane berada di atas langit.


"Ahhhh!"

__ADS_1


Zane menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri. Keduanya berhasil mendapatkan pelepasan mereka secara bersama-sama. Zane membawa Chelsea ke pelukannya.


"Terima kasih, aku mencintaimu, Amora." Chelsea hanya tersenyum dan membalas pelukan sang suami.


__ADS_2