Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Gadis Cantik itu Kembang Desa


__ADS_3

"Ayah!" Panggil seseorang dengan suara lantang, seorang wanita dengan pakaian basah kuyup bersusah payah memapah tubuh pria asing yang masih memejamkan kedua matanya. Malam sudah datang, membuat wanita itu bersyukur karena tidak ada yang melihat dirinya memapah pria asing.


Derap langkah kaki terdengar dari sebuah rumah sederhana, pria paruh baya dengan wajah bule itu terkejut melihat kepulangan Anaknya dengan seorang pria asing. "Astaga, Nak!"


Sang Ayah bergegas membantu sang putri untuk membawa pria asing tersebut masuk ke dalam rumah. Rumah sederhana itu hanya ada dua orang, Ayah dan seorang wanita yang berstatus sebagai Putrinya.


"Ayah, Sea ke belakang dulu untuk mengambil obat dan perban. Ayah jangan kemana-mana,"


"Iya, Nak."


Chelsea Amora Lemos, seorang wanita cantik yang memiliki darah keturunan Belanda. Kulit putih dan rambut hitam legam adalah ciri khasnya, Ayahnya adalah orang asli Belanda, sedangkan Ibunya adalah hanya seorang wanita sederhana yang berhasil memikat hati Ayah Chelsea.


Chelsea berusia 23 tahun yang selama bertahun-tahun hanya tinggal di desa Mentari, desa kelahiran Ibu kandung Chelsea. Ayah Chelsea, yaitu Robert Lewandowski Lemos menikah kembali dengan seorang wanita yang tidak sengaja Ia tiduri dengan keadaan tidak sadar, setelah beberapa tahun kehilangan Istrinya atau Ibu kandung dari Chelsea, karena sebuah penyakit langka yang di deritanya.


Ayah Robert di karuniai seorang anak kembar laki-laki, yang bernama Ashton Argatura Lemos dan Ashley Argantura Lemos. Kedua anak remaja yang hanya terpaut enam tahun dari Chelsea, tumbuh dengan baik dan cerdas. Banyak pemuda-pemuda yang begitu mendambakan seorang Chelsea menjadi pasangan mereka, bagaimana tidak, bagaikan bidadari jatuh dari surga, Chelsea begitu di gandrungi oleh pemuda desa, bahkan tak banyak yang datang dari kota ke desa, langsung jatuh cinta dalam pandangan pertama.


Sudah di tawari ribuan lamaran untuk menikah, bahkan pria duda pun ikut melamar, tetapi tidak ada niatan sedikitpun untuk Chelsea menikah dan berakhir meninggalkan keluarga kecilnya di desa. Kepribadian Chelsea sendiri begitu disukai oleh pemuda desa, baik hati, manis, cantik, pintar memaksa, dan tentunya dermawan.


Tak lama, Chelsea datang dengan membawa baskom air dan obat-obatan. "Ayah, tolong bantu Chelsea.


Ayah Robert membantu sang Putri untuk membuka pakaian pemuda tersebut dengan pakaian yang baru. Ayah Robert kebingungan, kenapa putri sulungnya bisa bersama seorang pria asing dan kenapa bisa dalam keadaan basah seperti sekarang.


"Nak, apa yang terjadi?" tanya Ayah Robert dengan kebingungan. Chelsea yang sedang mengelap darah di pelipis pria asing itu, menoleh.


"Ayah, aku tadi sedang mandi di sungai, aku tidak tahu apakah pria ini melihat ku mandi atau tidak." jelas Chelsea membuat Ayah Robert membulatkan kedua matanya.


"Dia mengintip?!" pekik Ayah Robert terkejut


Chelsea menggelengkan kepalanya tidak tahu. "Aku tidak tahu, saat akan melihat malah dia yang aku lihat, mungkin dia tergelincir di atas batu yang penuh dengan lumut. Aku akan memanggil bidan kemari, Ayah." sambungan dengan helaan napas panjang. Setelah selesai membersihkan luka, Chelsea bergegas mengambil sebuah ponsel rumah dan menghubungi bidan desa.


"Nak, kamu yakin tidak mengenal pria ini?" tanya Ayah Robert memastikan. Chelsea menoleh dan menghela napas untuk sekian kalinya.


"Mungkin pria ini berasal dari kota, bisa di lihat dari pakaiannya yang mahal dan barang-barangnya." Chelsea menunjuk beberapa barang milik Zane di dekatnya. Ada jam rolex, kemeja hitam bermerek, dan lainnya.


Ayah Robert terkejut melihatnya, tentu saja dirinya mengetahui berapa semua harga barang tersebut. Jutaan bisa sampai ratusan.


"Nak, simpan barang-barang itu, sebelum Ibu mu datang dan melihatnya!" Tutut Ayah Robert cemas. Chelsea mengangguk dan bergegas memasukan barang-barang yang bukan miliknya ke dalam almari di kamarnya.


"Ayah, bagaimana kalau pria ini hilang ingatan?"


"Maksud kamu, Nak?"


"Aku cuma takut di tuduh berbuat zinah sama dia, Ayah. Semoga tidak ada yang melihat ku dan dia di sungai tadi," ucapnya penuh dengan harapan. Ayah Robert mengusap punggung sang Putri.


"Mustahil, Nak. Mana ada orang yang melihat, kan sudah gelap."


Chelsea terdiam, yang di katakan oleh Ayahnya ada benarnya juga. Mustahil warga desa melihat dirinya memapah pria asing, bisa-bisa dirinya di paksa menikah karena kesalahpahaman sepihak. Chelsea menggelengkan kepalanya dan menatap ke arah kamar sang Ibu.


"Kembar dan Ibu mana?"


"Ibu sama Adik-adik kamu lagi keluar, bentar lagi juga pulang."


...****************...

__ADS_1


Keesokan Harinya ....


Daniel dan Nicholas kelimpungan mencari Zane yang tiba-tiba saja menghilang di sungai semalam, bahkan para bodyguard tidak beristirahat demi mencari keberadaan Tuan mereka. Nicholas tak henti-henti memukul dinding dan mengumpat penuh kemarahan. Daniel yang melihat hal itu, merasa takut sekaligus kasihan.


"Nic, hentikan! Kau ingin membuat rumah ini hancur!" tegur Daniel dengan menahan tangan Nicholas yang hendak kembali memukul dinding. Para bodyguard sudah berkumpul di halaman depan dengan kepala tertunduk, mereka merasa bersalah karena tidak mengawasi Tuan mereka.


"Zane menghilang! Apa yang harus aku katakan kepada Mama dan Papa?!"


Daniel terdiam, bahkan wajah pria itu menjadi sasaran empuk kemarahan dari Nicholas. Walaupun kesakitan, Daniel tidak bisa membiarkan Nicholas terus-menerus seperti sekarang.


"Jangan berpikiran jauh, kita baru mencari keberadaannya di sekitaran sungai, belum di pemukiman warga." jawab Daniel membuat Nicholas menoleh.


"Benar," Nicholas bergegas menuju halaman depan. Daniel menghembuskan napas panjang dan meringis memegangi ujung bibirnya yang kamar.


"Kalau kau bukan Sahabat ku, sudah aku bunuh kau, Nic!" Gerutunya penuh emosi. Daniel bergegas menyusul Nicholas ke depan.


"Kalian semua saya berikan tugas, untuk mencari keberadaan Tuan Muda Zane hingga ketemu. Saya tidak mau tau, kalian harus mencarinya sampai ketemu!" ujar Nicholas menatap semua bodyguardnya dengan tatapan yang sangat tajam.


"Baik, Tuan!"


"Bila hingga malam hari tiba, Tuan Muda Zane belum juga ketemu, kita harus memanggil polisi dan menyewa detektif,"


Daniel menoleh syok, apakah tidak keterlaluan hingga menyewa seorang detektif, hanya sebuah kehilangan orang yang belum sampai 24 jam. Walaupun mengeluarkan uang tak sedikit, bagi Nicholas dan Zane sama saja seperti memberikan sumbangan kepada anak Yatim.


"Nic, Tuan Zane menghilang belum-"


"Kenapa harus menunggu 24 jam?!" sela Nicholas seraya menatap Daniel dengan tajam. Daniel bergidik ngeri dan berakhir mengangguk. Daripada dirinya yang terkena imbas lagi, lebih baik setuju saja, pikirnya.


"Kita semua memancar! Nyawa kalian berada di tangan saya kali ini!" katanya kembali penuh dengan ancaman. Para bodyguard, termasuk Daniel dan Zane bergegas masuk ke dalam mobil. Meraka berniat menuju ke pemukiman warga, untuk mencari Zane yang menghilang, bahkan ponsel pria itu tidak aktif.


Zane menatap Chelsea tanpa berkedip sedikitpun, bahkan Ayah Robert, Ibu, dan kedua Adik kembar Chelsea menatap bingung ke arah Zane yang enggan berbicara sejak tadi.


"Kakak, pria ini kenapa tidak berbicara? Apakah dia bisu?" tanya Ashton membuat Chelsea menoleh terkejut dan langsung memukul pelan mulut salah satu Adik kembarnya.


"Jangan berbicara sembarangan!"


"Ash, Kakak ini masih dalam tahap pemulihan. Jadi jangan menganggu nya dulu," sahut Ayah Robert membuat sang istri memutar matanya malas.


"Kalau sudah pulih, minta pria ini membayar kita!" celetuk Ibu Anggun dengan nada ketus. Chelsea menoleh dan menggelengkan kepalanya.


"Apa yang Ibu katakan, mana mungkin Chelsea memintanya untuk membayar kita, Bu." jawab Chelsea dengan tidak percaya. Ibu Anggun mendelik kesal dan menatap ke arah Pria tampan yang sejak tadi hanya diam.


"Rumah ini bukan rumah sewa atau rumah sakit! Untuk apa pria ini berlama-lama kalau tidak mau membayar! Lebih baik dia pulang saja!" kata Ibu Anggun dengan tatapan bengis ke arah Chelsea dan Zane.


"Ibu!" tegur Ayah Robert menatap sang istri penuh peringatan. Ibu Anggun berdecak kesal dan langsung melenggang pergi begitu saja. Sedangkan Ashton dan Ashley hanya menatap kepergian Ibu mereka dengan malas.


"Kakak jangan terlalu memikirkan apa yang Ibu katakan," celetuk Ashley dengan menatap Pria asing itu dengan senang. Senyuman kedua pria kecil yang berbeda usia dengan Zane, membuat jiwa tersebut kecil.


"Tidak apa-apa-shhhh,"


"Kau baik-baik saja? Apakah masih sakit?" tanya Chelsea khawatir saat melihat Dans memegangi bagian kepalanya. Kepala Zane di balut dengan kasa putih, hanya luka ringan dan tidak akan menyebabkan amnesia kepada pria asing itu.


"Hanya sedikit pusing," jawab Zane lirih. Ashton tiba-tiba mendekat dan memberikan segelas air dan obat milik Zane.

__ADS_1


"Kakak belum minum obat,"


"Terima kasih," balas Zane dengan senyuman tipis. Zane sangat menyukai kedua saudara kembar itu, mengingatkan Zane dengan Adik kembarnya juga, Alex dan Alexia.


Chelsea membantu Zane untuk minum dengan pelan-pelan. Ayah Robert hanya tersenyum melihat interaksi anak-anaknya yang begitu jarang Ia lihat selama ini. "Ayah mau kebelakang dulu sebentar ya,"


Setelah Ayah Robert pergi, Chelsea menatap Zane dengan tatapan penuh curiga. "Apakah kau kemarin mengintip ku, Tuan?" tanyanya membuat Zane tersentak.


"Mengintip?" beonya bingung. Hingga tatapannya jatuh pada kemeja miliknya yang sudah terlipat rapi di atas meja. Zane langsung teringat dengan wanita yang tidak sebagai Ia intip, saat sedang mandi, hingga berhasil membuat pusaka nya langsung berdiri di balik celana.


"Aku hanya-"


"Sebaiknya kami pergi bermain! Kakak kembang desa, jangan pergi jauh-jauh ya!" sela Ashley membuat Ashton mengangguk setuju. Chelsea menghela napas panjang, melihat kepergian kedua Adik kembarnya, kini hanya ada Chelsea dan Zane saja.


"Hanya apa?"


"Aku hanya berjalan-jalan saja sembari menunggu sahabat, aku tidak sengaja menangkap senandung lagu yang kau nyanyikan. Jadi aku mengintip di balik batu dan aku tidak menyangka wanita itu adalah kau." jelas Zane tanpa ada yang di tutupi.


Semburat merah mulai terlihat di kedua pipi Zane dan Chelsea. Kejadian yang tidak di sengaja, yang berakhir membawa berkah bagi Zane. Mengintip lalu bertemu pula dengan wanita bidadari.


Melihat Chelsea menunduk, membuat Zane di selimuti rasa bersalah. "Aku minta maaf, aku tidak sengaja, hmmm?"


"Chelsea Amora Lemos, kau bisa memanggilku Chelsea atau Amora." ujar Chelsea dengan keadaan kepala yang masih tertunduk malu. Chelsea malu karena ada yang melihat dirinya mandi di sungai. Wanita muda itu mengira, bahwa hanya ada dirinya seorang, tapi dugaannya salah.


"Aku sungguh minta maaf karena tindakan ku yang di luar batas, tapi senandung lagu mu benar-benar menyihir diriku, Amora." ungkap Zane membuat Chelsea semakin malu karenanya. Zane tersenyum simpul melihat tingkah Chelsea yang malu-malu.


"Kau ingin berjalan-jalan?" tawar Chelsea membuat Zane langsung mengangguk cepat. Zane sedikit merasa jenuh karena seharian berada di dalam rumah kecil tanpa AC. Chelsea tahu, bahwa Zane sejak tadi kepanasan karena tidak ada pendinginan udara.


Setalah berada di luar rumah, Zane menatap rumah Chelsea yang begitu sederhana, begitu pun dengan kehidupan Chelsea yang begitu sederhana. Zane begitu tertarik dengan kehidupan desa karena Chelsea, wajah cantik wanita itu sangat natural tanpa make-up sedikit pun.


"Sepertinya kau keturunan Belanda?" tebak Zane membuat Chelsea yang tengah memapah pria itu menoleh. Chelsea hanya tersenyum dan mengangguk kecil.


"Kenapa kau tidak tinggal di kota saja?"


"Karena desa ini adalah desa kelahiran almarhum Ibu ku, Tuan." Jawab Chelsea seadanya. Zane mengernyit heran dengan panggilan Chelsea kepadanya.


"Panggil saja aku Zane,"


Chelsea hanya mengangguk tanpa membantah. Banyak pemuda-pemuda dan warga sekitar yang melihat wanita cantik yang tak lain adalah Chelsea, memapah seorang pria tampan bule.


"Hai, Chelsea!" sapa seorang pemuda membuat langkah kaki Chelsea dan Zane terhenti.


"A ... ada apa, Bang?" tanya Chelsea dengan takut-takut. Pemuda yang berdiri di hadapannya adalah Putra bungsu dari kepala desa, namanya Reno Mustafa. Reno di kenal karena sikapnya yang playboy, bahkan wanita di Desa Mentari hampir semuanya Reno jadikan kekasih.


"Mau kemana, Cantik? Mau Abang antar?" tawarnya dengan tatapan genit. Zane menatap pemuda yang jauh lebih muda darinya itu tidak suka.


"Tidak perlu, Bang. Terima kasih,"


"Abang enggak menerima penolakan, pokoknya Abang siap sedia mengantar Chelsea kemanapun!" ujarnya kembali penuh penekanan. Chelsea mendesah pelan dan memberanikan menatap Reno.


"Maaf, Bang. Chelsea cuma mau jalan-jalan aja sekitaran rumah," jawab kembali Chelsea yang terus-menerus berusaha menolak tawaran Reno. Zane langsung menahan lengan Reno, yang hendak menarik lengan Chelsea.


"Chelsea tidak mau dan sudah menolak dengan baik-baik, jangan memaksanya bocah!" sahut Zane geram. Reno menatap Zane dengan remeh dan menepis tangan Zane dengan kasar.

__ADS_1


"Hey, Pak tua! Sebaiknya kau jangan ikut campur dengan urusan ku ini! Memangnya kau siapa, berani sekali melawan ku, hah?!"


Sekarang Zane mengerti kenapa Ashley memanggil Chelsea dengan sebutan kembang desa. Bagaimana tidak menjadi kembang desa, Chelsea saja sangat cantik dan pintar memanjakan lidah semua orang dengan masakan sederhananya.


__ADS_2