
Pagi hari di keluarga Lincoln, Chelsea sudah terbangun pagi-pagi buta untuk membuat sarapan untuk keluarga Lincoln, wanita yang gemar memasak itu bersenandung kecil seraya tangannya yang cekatan itu memasak. Keluarga yang lain belum bangun, hanya dirinya saja yang sudah dan sudah beberapa kali Zane meminta sang istri untuk tidak terjun ke dapur, tetapi Chelsea keras kepala hingga saat ini.
"Wah, ternyata keluarga Lincoln memiliki pembantu baru,"
Chelsea yang semula sibuk menumis dan memasak makanan kesukaan seluruh anggota keluarga Lincoln, langsung menoleh ke arah pantry dapur. Terlihat seorang wanita yang cukup cantik, memakai baju tidur yang benar-benar ketat, membuat mata Chelsea tiba-tiba sakit melihatnya.
"Kak Sonia sudah bangun? Ingin minum apa?" tanya Chelsea dengan suara sopan, bahkan terkesan tidak meladeni perkataan Sonia yang di awal.
Sonia tersenyum miring, "Buatkan aku teh berisi madu!" perintahnya dengan angkuh. Chelsea menggelengkan kepalanya dan membuatkan seperti permintaan wanita itu.
"Ini minuman yang kau minta, Kak."
Sonia mengeram kesal dan menyingkirkan gelas berisi teh madu itu, "Panggil aku dengan sebutan Kakak! Dasar wanita tidak tahu malu!" hardiknya dengan mata penuh akan ketidaksukaan. Chelsea mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Kakak tadi memanggil ku dengan sebutan pembantu, dan aku tidak marah. Lalu kenapa kau marah di saat aku memanggil mu tanpa embel-embel Kak? Kau ini sangat lucu," jawab Chelsea dengan santai. Wanita Belanda itu bagaikan sudah kebal dengan hinaan manapun, bahkan di desa Mentari saja sudah Ia lawan beberapa wanita yang sudah menghinanya.
"Kau! Aku lebih tua dari mu, seharusnya kau sopan kepada ku, bocah!" Sonia begitu kesal dengan Chelsea yang masih sibuk memasak tanpa menghiraukan dirinya. Chelsea memilih diam karena malas berdebat dengan wanita berambut pirang itu.
"Sebaiknya kau kembali ke kamarmu, karena aku tidak ingin di ganggu." pinta Chelsea membuat Sonia membulatkan kedua matanya. Di saat orang-orang tunduk kepada perintahnya, tetapi berbeda dengan Chelsea yang justru melawan kepadanya.
"Kau berani kepada ku, hah?!"
Byur ....
"Shhh ...."
Chelsea meringis kala teh madu yang cukup panas itu mengetahui bagian perutnya. Sonia tersenyum senang melihatnya dan bergegas pergi setelah itu, tanpa menghiraukan Chelsea yang kesakitan.
"Dasar janda pirang!" gerutu Chelsea. Wanita itu langsung menuju ke arah wastafel. Setelah selesai, Chelsea memilih untuk menyelesaikan aktivitas nya dan bergegas menuju kamar untuk membangunkan Zane.
"Loh, kau sudah bangun, Chel?"
Chelsea yang baru saja melewati sebuah kamar langsung tersentak. Mama Bellamy menatap penampilan Chelsea yang begitu cantik natural. "Kau habis dari mana? Ini masih pagi sekali, Sayang."
Chelsea menjadi kikuk sendiri, "Aku habis dari dapur memasak sarapan untuk kalian."
Mama Bellamy terkejut mendengarnya, "Memasak? Kenapa kau repot-repot, sudah ada pelayan yang akan memaksa nanti." kata Mama Bellamy dengan menatap tangan putih itu dengan cemas.
Chelsea hanya tersenyum tipis, lalu berkata, "Aku sudah terbiasa, Ma. Tidak masalah bagi ku, lagipula Zane meminta untuk di buatkan bubur dan kuah sayur." jawab Chelsea seadanya membuat Mama Bellamy menghela napas dan beralih menatap sang menantu.
"Dasar anak nakal," gerutu Mama Bellamy membuat Chelsea semakin tidak bisa menyembunyikan senyumannya. "Pergi lah ke kamar mu dan kembali istirahat,"
"Baik, Ma." Chelsea langsung berjalan kembali menuju kamarnya. Melihat Zane yang masih tertidur di bawah selimut dengan telanjang dada, membuat Chelsea semakin tidak bisa untuk tidak tersenyum.
"Ternyata dia sangat seksi," gumam Chelsea. Wanita itu mendekat dan menatap wajah sang suami yang terlelap nyenyak.
"Zane, bangun. Sudah pagi," Chelsea mengelus wajah tampan itu, rasanya tangan lentik itu tidak bisa diam dan ingin terus mengelus wajah tampan sang suami.
__ADS_1
"Kau sudah bangun?" Chelsea mengangguk dan menatap Zane yang sudah menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. "Kenapa tidak membangunkan aku?"
"Mana mungkin, kau baru kembali ke kamar di pukul 3 dini hari, bergegas lah, aku akan menyiapkan keperluan mu."
...****************...
PERUSAHAAN Z.L COMPANY
Zane menatap Daniel yang sejak tadi hanya tersenyum ke arahnya, bahkan Nicholas hanya diam dengan alis mengerut bingung kepada pria muda itu.
"Apakah kau sedang sakit?" tanya Zane pada akhirnya dengan jengah. Daniel memutar matanya malas dan melirik Nicholas yang menatapnya heran.
"Kau pasti sudah melakukannya, katakan kepada ku, Kak!" desak Daniel membuat Zane semakin tidak mengerti dengan tingkah pria yang jauh lebih muda darinya itu.
"Apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti,"
Daniel mendengus kesal dan menunjuk ke arah leher kekar milik sang atasan. "Itu ...."
Nicholas mengikuti arah tunjuk Daniel, mata pria itu membulat sempurna dan sontak memalingkan wajahnya, "Sial! Kenapa kau tidak menutupi area leher mu, bodoh!"
Melihat raut wajah kebingungan dari Zane, membuat Daniel berinisiatif memberikan kaca kecil yang selalu Ia bawa kemana-mana. "Lihat lah,"
Zane membulatkan kedua matanya, saat melihat tanda kemerahan yang sempat Chelsea buat tadi pagi. Ya, sebelum berangkat ke kantor, kedua pasangan baru itu melakukan olahraga pagi yang begitu memabukkan, membuat Zane harus terlambat karena ulahnya sendiri. Mana mungkin Zane mensia-siakan kesempatan emas saat melihat Chelsea keluar dari kamar mandi, dengan jubah mandi yang menutupi bagian tubuhnya.
"Ternyata banyak juga di membuatnya," gumam Zane dengan senyuman manis. Nicholas bergidik ngeri, sedangkan Daniel tercengang hebat.
"Ah, aku lupa kalau kalian berdua adalah pasangan baru saja menikah. Wajar saja," kata Daniel dengan mengusap wajahnya dengan kesal. Di tatapnya Nicholas yang sejak tadi hanya diam.
"Kau mengatakan apa?! Kurang ajar kau, Daniel!" teriak Zane membuat Daniel langsung keluar dengan cepat. Nicholas berjalan santai tanpa menghiraukan Zane ataupun Daniel.
Zane menghela napas dan menatap pantulan dirinya dari cermin, "Aku bahkan sudah merindukan istri kecilku." gumam Zane dengan senyuman yang terus-menerus merekah tiada henti.
Di lain sisi ....
Seorang wanita dengan pakaian minim, belahan dada yang terbuka, dress ketat berwarna merah di atas lutut, high heels senada dengan dress, jangan lupa rambut pirang wanita itu sudah tergerai.
"Aku datang untuk bertemu dengan atasan kalian, apakah Zane ada di ruangannya?" tanya wanita itu yang tidak lain adalah Sonia. Resepsionis tersebut menelisik penampilan Sonia dengan intens.
"Maaf, Nyonya. Apakah Nyonya sudah membuat janji temu dengan Tuan Zane?" tanya sang Resepsionis membuat Sonia mendengus kesal.
BRAK ....
Sang Resepsionis terkejut bukan main saat mejanya di pukul oleh Sonia, "Panggil aku Nona Sonia! Paham kau!"
Sonia langsung melenggang pergi begitu saja setelah membuat kegaduhan di lobby. Sang Resepsionis tersebut langsung tersadar dan bergegas mencegah wanita bernama Sonia itu.
"Nona! Maaf, Anda tidak bisa sembarangan bertemu dengan Atasan kami!" kata sang Resepsionis tersebut dengan menahan lengan Sonia dengan sopan. Tatapan Sonia langsung menatap penuh amarah.
__ADS_1
"Aku tidak peduli! Aku ingin bertemu dengan Zane, tanpa atau tidaknya izin darinya!" jawab Sonia dengan tatapan bengis. Sang Resepsionis langsung menghubungi security untuk membantunya.
"Pak! Cepat cegah wanita itu! Dia ingin menerobos untuk bertemu dengan Tuan Zane!" kata sang Resepsionis dengan menunjuk ke arah Sonia yang baru saja memasuki lift para petinggi, secara tidak sopan.
"Baik, Nona!"
Para karyawan yang berada di lobby sejak tadi melihat apa yang terjadi. Banyak yang mengkritik sikap tidak sopan dari Sonia, bahkan bertindak kasar. Terlihat jelas watak wanita itu, yang terlihat ambisius.
Tak lama, Sonia akhirnya tiba di lantai di mana ruangan Zane berada. Daniel yang baru saja keluar dari ruangannya pun mengerutkan keningnya, saat melihat tamu yang tidak di undang, Sonia. Daniel bahkan sontak menutup matanya, karena melihat pakaian seksi dan terbuka yang di kenakan oleh wanita itu.
"Kenapa wanita ini berlagak seperti ingin jadi pebinor. Dasar wanita gila!" Daniel langsung bergegas mendekati Sonia yang hendak membuka pintu ruangan Zane secara tidak sopan.
"Maaf, Nona Sonia, anda di larang masuk menemui Tuan Zane, tanpa izin dari saya!" cegah Daniel dengan menahan handle pintu ruangan. Sonia melirik sinis dan melipat kedua tangannya.
"Minggir! Aku ingin bertemu dengan pria ku!"
Daniel rasanya ingin tertawa kencang, "Pria mu? Hello, pria yang Anda maksud itu sudah menikah, Nona Sonia." kata Daniel dengan sinis, bahkan tak segan-segan pria macho itu berubah menjadi lambai.
"Aku tidak peduli, karena Zane adalah milikku seorang! Kau minggir, karena aku tidak memiliki urusan dengan mu, dasar pria udik!" hina Sonia membuat Daniel rasanya ingin membungkam mulut wanita bermulut pedas di hadapannya.
"Tuan Zane bahkan tidak akan berselera melihat janda pirang, yang sudah tidak perawan!" cemooh Daniel membuat Sonia menoleh marah.
"KAU! BERANI SEKALI-"
"Ada apa ini?" tanya Zane dari arah berlawanan. Sonia dan Daniel sontak menoleh ke belakang, terlihat Zane yang datang bersama Nicholas serta beberapa security di belakangnya.
"Zane!" Zane hanya diam saat Sonia berlari ke arahnya dan memeluknya dengan erat. "Zane, Daniel berbuat kasar kepada ku!" adu Sonia dengan berpura-pura menangis.
Daniel membulat dan sudah mencak-mencak di belakang sana, saking kesalnya. "Dasar wanita bermulut ular, aku doakan kau terkena kanker mulut!"
Zane merasa risih karena Sonia semakin mengeratkan pelukannya, "Sonia lepaskan aku!"
"Tidak! Aku tidak mau, Daniel akan menyakiti ku lagi nanti!" jawab Sonia membuat Zane semakin garam.
BRUK ....
"Akkk!" Sonia terjungkal ke lantai karena dorongan Zane, sebenarnya dorongan Zane tidak terlalu kuat, tetapi karena Sonia menggunakan high heels dan membuatnya langsung terjatuh dengan kuat.
"Zane! Kau mendorong ku?!"
"Aku tidak suka wanita lain memelukku seperti tadi, selain istri ku! Kau sudah melanggar aturan kantor, kau bisa bertemu dengan ku setelah kau membuat janji temu jauh-jauh hari! Sekarang kau sebaiknya pergi dari perusahaan ku!" geram Zane membuat Sonia terdiam kaku di sana.
Nicholas menyunggingkan senyumnya, "Bawa wanita ini keluar! Jangan sampai dia datang kembali!"
"Baik, Tuan!"
"Tidak! Apa yang kalian lakukan! Lepaskan aku!" Sonia memberontak saat akan di bawa keluar dari perusahaan besar tersebut.
__ADS_1
"Nona, kami tidak akan segan-segan berbuat kasar bila Anda terus memberontak!"
"ZANE! MEREKA MENYAKITI KU!"