
"Sial!"
PRANG ....
Ibu Tasya menatap kepingan kaca di kamarnya dengan penuh rasa kesal. Membanting semua barang di kamarnya hingga tak tersisa, bahkan Gucci mahalnya pun menjadi sasaran amukannya.
"Kenapa anak itu tidak menurut lagi kepada ku! Apa yang terjadi dengannya?!" Ibu Tasya bergerak gelisah kesana-kemari. Melihat reaksi dan sifat Sonia yang mulai bertolak belakang bahkan menolak semua ajakan ataupun telepon darinya, membuat Ibu Tasya benar-benar kehilangan kesabaran.
Wanita itu menendang meja kaca yang sudah terbalik di hadapannya, "Aku harus bisa menguasai Sonia lagi. Dia adalah kunci untuk aku mendapatkan semua harta milik keluarga Lincoln," katanya kepada dirinya sendiri. Sudah beberapa hari belakangan ini, Ibu Tasya memilih untuk kembali ke kediamannya, di mana ada suaminya yang sedang jatuh sakit dan terbaring tak berdaya dengan tubuh kaku di ranjang tidur, hanya pembantu dan perawat rumah sakit yang merawatnya. Sedangkan dirinya? Ibu Tasya memilih untuk tidak peduli dan menutup telinga bila bersangkutan dengan pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
Ibu Tasya terdiam sejenak dan mendudukkan dirinya di sisi tempat tidur. "Apakah Sonia sudah tidak mencintai Zane lagi? Aku juga memperhatikan kalau Sonia sudah tidak mengejar-ngejar Zane?" Banyak pertanyaan yang masih Ia pertanyaan hingga saat ini. Setelah mendapatkan ancaman dari pria yang Ia perintahkan untuk melakukan penembakan di ballroom hotel, Ibu Tasya sudah tidak pernah mendapatkan telepon lagi dari pria tersebut.
"Bahkan Bayu menghilang secara tiba-tiba, membawa semua uang ku tanpa melakukan pekerjaannya dengan benar! Sial sekali aku!" umpat nya kembali dengan tatapan penuh kesal. Rencananya gagal untuk membuat Chelsea celaka, dan berakhir Daniel yang terkena tembakan di lengannya, lalu tentang dorongannya pun tidak mempan untuk membuat Chelsea pergi dari kehidupan Zane.
Drttt ....
Ibu Tasya menatap layar ponselnya yang menampilkan semua nomor, "Apa ini Bayu? Tapi kenapa menggunakan nomor baru?" gumamnya penuh bingung.
"Halo, Tasya."
DEG ....
Anggun? Batin Ibu Tasya dengan tubuh yang menjadi kaku.
"Ha ... halo, A ... anggun." Jawab Ibu Tasya dengan terbata-bata. Sudah lama sejak kejadian Ibu tiri dari Chelsea menjebak Chelsea dengan obat perangsang di kamar hotel, sejak saat itu juga dirinya tidak bertemu dengan Anggun lagi.
"Kau mengingat ku ternyata. Bagaimana dengan Chelsea? Wanita itu sudah mati?" tanya Ibu Anggun yang langsung pada inti pembicaraannya. Ibu Tasya seketika menjadi diam karena pertanyaan dari Ibu tiri dari Chelsea itu.
"Aku belum berhasil membuatnya mati di tangan ku. Katakan, kau kemana saja?!" tanya Ibu Tasya. Terdengar suara tawa ringan di seberang sana, membuat Ibu Tasya menjauhkan ponselnya dan menatap layar.
__ADS_1
"Kau pasti sudah melihat konferensi pers yang di buat oleh mantan suami ku, Robert. Karena ulahnya, aku sekarang berada di tempat ku yang dulu," kata Ibu Anggun membuat Ibu Tasya mengerutkan keningnya.
"Apa maksud ucapan mu, Anggun?"
"Kau tidak perlu tahu, sekarang aku minta kau untuk membunuh Chelsea bagaimanapun caranya. Kau ingin Zane menikah dengan Sonia, agar kau mendapatkan harta wanita janda itu kan?"
Ibu Tasya lidahnya mulai terasa Kelu untuk menjawab. Karena tak mendapatkan menjawabnya, Ibu Anggun kembali berkata.
"Ternyata dugaan ku benar, kau wanita serakah dan tamak!" cibir Ibu Anggun membuat Ibu Tasya menjadi murka bukan main.
"TUTUP MULUT MU SIALAN!" hardiknya dengan kesal dan langsung menutup telponnya dengan cepat. Ibu Tasya membanting ponselnya ke ranjang dengan napas menggebu-gebu.
"Wanita itu berani sekali kepada ku. Dasar ja la ng, dia belum mengenal siapa Tasya Kamila sebenarnya."
...****************...
Sonia, wanita yang baru saja turun dari mobilnya, bergegas masuk ke dalam rumah dengan cepat. Sonia memilih untuk kembali ke kediamannya atas keinginan dirinya sendiri, Chelsea sempat menahannya dan meminta untuk tetap tinggal, tetapi saat melihat raut wajah Zane yang terlihat tidak suka dengan permintaan sang istri, membuat Sonia menolak dan kembali ke rumahnya. Dan sekarang, di sini lah dirinya berapa. Rumah besar bernuansa putih dan abu-abu, halaman yang luas di bagian belakang dan juga ada ayunan yang menyertai di pohon besar.
Sonia tersenyum senang dan memasuki sebuah kamar milik sang Ayah yang pintunya sedikit terkunci. Tetapi langkah wanita itu terhenti saat menyadari bahwa di dalam kamar sang Ayah, ada seseorang.
"Apa itu Ibu Tasya?" gumamnya penuh tanya. Sonia memilih untuk menguping dan mendengarkan secara seksama.
"Minum racun ini, kenapa kau tidak mati-matian hah?!"
DEG ....
Sonia langsung membulat matanya, "Ternyata aku tidak salah mendengar kemarin. Wanita ini memang wanita rubah," lirihnya dengan tangan terkepal kuat.
"Ka ... kau tidak bisa me ... membunuh ku, Ta ... Tasya!" jawab Ayah dari Sonia dengan bersusah payah. Tubuhnya sudah kaku dan tidak bisa di gerakkan, seharusnya Ayah dari Sonia sudah bisa berjalan, tetapi Ibu Tasya sengaja memberikan racun untuk mematikan semua syaraf tubuh dari suaminya untuk kepentingannya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa aku tidak bisa? Aku bahkan bisa membuat Reno tiada di tangan Nicholas dan membuang Anggun dari kehidupan Robert. Kau ingat Robert? Pria menyebalkan yang selalu ada di samping Kakak mu itu!" ujar Ibu Tasya dengan mencengkeram kuat dagu suaminya sendiri. Sonia tak menyangka dan hanya bisa menutup mulutnya agar tidak bersuara.
"Aku berharap kau cepat mati, agar aku bisa menguasai semua harta mu, dan menendang putri mu yang tidak berguna itu!" tambah Ibu Tasya dengan lantang dan hal itu membuat Sonia semakin marah besar dan sudah tidak tahan, tetapi langkahnya terhenti saat mendengar kembali percakapan Ibu Tasya dan Ayahnya.
"Ta ... tapi sebelum itu, a ... aku ya ... yang akan me ... menendang mu,"
PLAK ....
"Kau bahkan tidak bisa menggerakkan tubuh mu itu, dulu aku memang mencintai mu, tapi sekarang aku hanya mencintai harta dan semua kekayaan yang kau miliki. Aku bisa membuat Sonia bertekuk lutut di hadapan ku, dan-"
"Dan apa, Nyonya Tasya yang terhormat?"
DEG ....
Ibu Tasya langsung menoleh cepat ke arah pintu, di mana Calvin sudah berada di ambang pintu dengan raut wajah serius. Ibu Tasya terkejut dan sontak berdiri seraya menjauhkan cengkraman tangannya dari dagu suaminya.
"Ca ... calvin, se ... sejak kapan kau berada di ... di sini?" tanya Ibu Tasya dengan tergugup. Calvin memiringkan kepalanya dan melirik Ayah dari Sonia yang sudah terdiam dengan cairan bening di ujung pelupuk matanya.
Tamat riwayatnya ku. Jangan sampai pria bo**** ini mendengar perkataan ku! Batin Ibu Tasya yang terlihat cemas.
"Apa yang kalian berdua bicarakan, sampai kau mencengkeram dagu suami mu sendiri, Nyonya Tasya?" tanya Calvin dengan serius. Ibu Tasya menelan ludahnya sendiri dan mulai bergerak gelisah.
"I .. Itu," Ibu Tasya mengumpat dalam hati karena Calvin datang di waktu yang tidak tepat, "Aku membersihkan sisa-sisa makanan yang menempel di sana, Calvin." jawab Ibu Tasya setelah beberapa detik terdiam.
"Oh ya? Tapi kenapa aku mendeteksi adanya kebohongan di sini?"
"Kau menuduh ku berbicaralah bohong hah?!" tanya Ibu Tasya dengan kemarahan yang mulai terpancing. Calvin menyunggingkan senyum yang sangat tipis dan melipat kedua tangannya di depan dada
"Aku tidak menuduh, aku hanya bertanya. Kau mengatakan bahwa membersihkan sisa-sisa makanan, lalu di mana kau meletakkan piring makanan itu?" Calvin menatap seisi kamar Ayah dari Sonia dengan seksama. Megah dan besar, ada beberapa alat medis dan obat-obatan milik pria tersebut dan tidak terlihat piring berisi makanan apapun.
__ADS_1
"Tentu saja, aku sudah membawanya keluar dan suami ku baru saja selesai minum obatnya. Dia harus sembuh, karena Sonia sudah sangat merindukannya. Aku dan Sonia merindukan mu," Ibu Tasya memeluk tubuh sang suami dengan air mata buayanya.
Kau wanita licik dan tamak yang pernah aku temui, Tasya. Kau harus menerima ganjarannya suatu hari nanti.