Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Gangguan Dari Janda Pirang


__ADS_3

Di dalam mobil, Zane menyetir dengan penuh keseriusan, sedangkan Chelsea sibuk dengan pikirannya sendiri. Wanita itu hanya diam dan tidak menyahut saat Zane bertanya atau berbicara kepadanya.


"Sayang?" panggil Zane membuat Chelsea langsung menoleh setelan melamun.


"Iya? Ada apa, Zane?" tanya Chelsea membuat Zane menghela napas. Pria itu langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan, dan menatap Chelsea yang juga menatapnya.


"Ada yang menganggu mu? Kenapa diam saja?"


Chelsea diam sejenak, "Tidak ada yang menganggu ku. Hanya saja perut ku tidak seperti biasanya," jawab Chelsea dengan mengusap perutnya yang sejak tadi terasa nyeri. Zane mendekatkan tubuhnya dan mengusap perut Chelsea dengan lembut.


"Ayo periksa," ajak Zane. Pria itu terus-menerus mengajak Chelsea untuk periksa keadaan wanitanya. Chelsea tidak menolak bahkan mengangguk setuju dengan ajakan Zane.


"Kau sudah berulang-ulang kali mengatakan itu, Zane." kata Chelsea membuat Zane menjauhkan wajahnya dan terkekeh geli.


"Tahan sebentar lagi, aku akan membuat janji temu dengan dokter."


"Bukankah kau sudah membuat janji temu dengan dokter Billy?" tanya Chelsea kebingungan. Zane mengusap wajahnya dengan kasar.


"Aku membatalkannya dan membuat janji temu dengan Dokter wanita," mendengar jawaban sang suami, membuat Chelsea mendelik kesal. Kenapa harus dokter wanita? Pikirnya.


"Aku tidak mau dokter wanita yang memeriksa ku!" tolak Chelsea membuat Zane menoleh cepat.


"Kenapa?"


"Karena pasti kau akan terpesona dengan dokter wanita itu nanti!" sindir Chelsea membuat Zane menatap wanita di sampingnya itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Chelsea bergidik ngeri melihat tatapan Zane.


"Ke ... kenapa kau menatap ku seperti itu?" Chelsea gugup bukan main, bahkan wanita itu sudah melipat kedua tangannya di depan dada untuk berjaga-jaga. Melihat reaksi sang istri, membuat Zane semakin tersenyum senang.


"Kau cemburu?"


Chelsea terdiam sejenak, detak jantungnya sudah tidak normal karena ulah Zane. Pria itu terang-terangan menatapnya dengan berbeda, bahkan tidak mengalihkan tatapannya dari dada Chelsea yang sudah sedikit membesar karena ulahnya sendiri.


Chelsea kesal sendiri katakan Zane yang tersenyum tipis terus-menerus, "Zane! Jangan menatap ku seperti itu!" tegur Chelsea dengan memukul pelan dada bidang Zane.


"Baiklah, baiklah. Ayo melanjutkan perjalanan!"


Akhirnya mobil hitam itu kembali jalan, Zane menggenggam erat lengan sang suami, membuat Zane tidak bisa fokus untuk menyetir. "Sayang jangan memeluk ku seperti itu, aku tidak fokus," kata Zane dengan melirik Chelsea yang sudah kembali kesal.

__ADS_1


"Jadi kau tidak suka bila aku memeluk mu, begitu?" tanya Chelsea dengan wajah galak. Zane menelan ludahnya dan memilih untuk diam, pria itu sangat senang bila wanita yang Ia cintai begitu posesif kepadanya, hanya saja sikap Chelsea berbeda sejak kemarin, sangat sensitif.


"Bukan seperti itu, hanya saja kau sedikit berbeda dari sebelumnya. Kau sangat sensitif," beber Zane dengan takut-takut. Takut akan Chelsea yang tersinggung, dan takut dirinya tidak mendapatkan jatah hariannya lagi. Chelsea bergeming mendengarnya.


"Minggu ini seharusnya aku datang bulan,"


DEG ....


Zane sontak menoleh terkejut, apa yang Ia pikirkan ternyata sedikit tepat sasaran. "Ka ... kau tidak berbohong kan?"


"Untuk apa aku berbohong? Memang hari ini, pantas saja perut ku merasa nyeri sejak tadi." kata Chelsea dengan mengusap perutnya yang sedikit nyeri.


Zane merasa lemas seketika, itu artinya dirinya tidak akan mendapatkan jatah malam harinya. Melihat wajah lesu sang suami, membuat Chelsea terkekeh geli dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Kenapa tidak bersemangat seperti tadi? Apakah ada yang salah?" tanya Chelsea dengan senyuman tak biasa. Wanita itu berniat untuk mengerjai sang suami untuk sementara waktu.


"Tidak ada, itu artinya aku tidak mendapatkan jatah malam ku,"


Tebakan Chelsea tepat sasaran, yang di pikirkan oleh suaminya adalah jatah malamnya yang pasti tidak Ia dapatkan, dalam waktu dekat. Tapi melihat wajah lesu sang suami, membuat Chelsea sedikit tidak tega, "Masih banyak cara lainnya."


Senyuman Zane langsung merekah dan menatap Chelsea yang bingung kepadanya, "Aku pastikan ada."


...****************...


Setelah memeriksa Chelsea, sekaligus memeriksa kesehatan mereka berdua, Chelsea tersenyum ke arah Zane yang hanya memasang wajah datarnya, kacamata hitam sudah di kenakan dan seperti enggan untuk melepaskannya.


"Ada apa? Kenapa kau memasang wajah datar sejak tadi?" tanya Chelsea membuat Zane menoleh dan merangkul posesif wanita itu. Terlihat banyak perawat pria dan pasien pria yang menatap secara terang-terangan ke arah Chelsea, memang Chelsea hanya menggunakan dress tanpa lengan yang membuat kulit putih susu itu terlihat jelas. Dan Zane membuat karena tidak menjawab blazer untuk Chelsea.


"Aku tidak suka melihat mu di tatap oleh pria lain!" ketus Zane membuat Chelsea mendengus kesal.


"Lalu bagaimana dengan ku? Bahkan banyak wanita cantik yang terang-terangan menatap mu! Tidak adil bagi ku, Zane!" jawab Chelsea dengan melipat kedua tangannya. Zane semakin gemas dan mempercepat langkahnya keluar dari rumah sakit tersebut.


"Oh, kalian berdua di sini?"


Langkah Zane dan Chelsea langsung berhenti, terlihat Sonia yang berdiri di hadapan meraka dengan tatapan mengejek kepada Chelsea.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Zane dengan jengah. Pria itu masih terlihat berusaha untuk meredakan emosinya, perilaku Sonia dan Ibunya masih teringat jelas di ingatannya.

__ADS_1


"Tentu saja untuk memeriksa diri, aku tidak menyangka bertemu dengan mu, Zane. Apakah kita benar-benar berjodoh?" kata Sonia dengan girang. Chelsea rasanya ingin muntah karena perkataan Sonia, yang begitu menggelikan.


"Ucapan mu benar-benar membuat ku malas," ketus Zane membuat senyuman Sonia langsung lenyap.


"Minggir!"


Chelsea tersentak kala wanita itu mendorong tubuhnya dan langsung bergelayut manja di lengan Zane. "Aku tidak suka wanita kampungan ini memeluk mu seperti tadi!"


"Apa yang kau lakukan! Lepas!" hardik Zane dengan menyetak tangan Sonia dan beralih mendekati Chelsea.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Zane, Chelsea hanya mengangguk dan menatap kesal pada Sonia yang bertindak seenaknya.


"Lihat, berani sekali kau mengangkat mata mu kepada ku!!" teriak Sonia penuh rasa kesal, membuat atensi para pengunjung rumah sakit kearah mereka.


"Memangnya kenapa? Kau lebih tua, bukan berarti kau berhak bertindak seenaknya kepada ku!" jawab Chelsea dengan rasa kesal yang sudah di ujung kepala.


"Heh, tentu saja aku berhak. Karena aku-"


"Kau hanya wanita yang suka mencari gara-gara, pantas saja suami mu meninggalkan mu karena sikap mu yang benar-benar rendahan!" sela Chelsea mencemooh wanita rambut pirang itu.


Tangan Sonia terkepal kuat dan hendak menyerang Chelsea, tetapi Zane sudah memasang badan lebih dulu. "Bila kau berani mengangkat tangan mu kepada istri ku, jangan menyalahkan aku bila bertindak lebih kasar!" ancam Zane membuat Chelsea tersenyum di belakang sana. Sonia semakin merasa geram dengan pembelaan Zane kepada Chelsea.


"Zane! Aku ini sepupu mu, seharusnya kau membela ku!" kata Sonia dengan air mata yang sudah siap menetes. Chelsea mendengus kesal, wanita dengan air mata buaya sungguh membuat Chelsea kesal setengah mati.


"Sepupu atau tidak, terikat akan darah atau tidak, itu semua tidak penting. Karena bila ada yang menyentuh keluarga ku, maka aku akan membuat lawan ku musnah dalam sekejap mata," balas Zane dengan menunjuk wajah Sonia dengan rasa marahnya.


Sonia terdiam kaku, tidak pernah Ia melihat Zane bertindak kasar atau berteriak kepada dirinya, hal itu semakin membuat Sonia membenci Chelsea. Karena menurutnya, Chelsea lah yang sudah membuat Zane berubah kepadanya.


"Kau benar-benar jahat! Aku akan mengatakan semua ini kepada Bibi Bellamy dan Paman Owen!" adu Sonia dengan mengusap air matanya. Zane menyunggingkan senyum liciknya dan merangkul mesra Chelsea yang hanya diam.


"Adu kan saja, tapi aku yang lebih dulu yang akan mengadukan mu dan Ibu mu itu ke pihak berwajib atas kasus penganiayaan terhadap istri ku!" balas balik Zane membuat Sonia langsung kehabisan kata-katanya. Zane menggenggam erat tangan sang istri dan bergegas pergi.


"Wanita seperti mu sama saja seperti lalat sampah, terus menganggu pria yang sudah beristri dan tidak sadar bila dirimu sudah menjadi janda!" kata Chelsea sebelum Zane benar-benar mengajaknya pergi dari sana.


Entah sengaja atau tidak mereka bertemu dengan Sonia, membuat mereka bertiga harus terjerat dalam perdebatan. Sonia yang melihat kepergian Zane dan Chelsea, semakin mengeram marah dan membanting tas tangannya.


"Aku tidak akan membiarkan kalian terus bersama. Aku harus mencari cara untuk memisahkan kalian berdua!" gumam Sonia penuh tekad. Wanita itu menatak sekeliling, di mana dirinya masih di tatap oleh orang-orang di sana.

__ADS_1


"KENAPA KALIAN MENATAP KU SEPERTI ITU, DASAR ORANG-ORANG *****!"


__ADS_2