
Huek ....
Huek ....
Zane, pria itu tengah berada di dalam kamar mandi dengan kebiasaan paginya itu. Pria itu terkadang menggantikan posisi trimester kehamilan sang istri, tetapi terkadang jauh lebih parah dari muntah-muntah.
"Zane," panggil Chelsea yang baru saja datang dengan membawa nampan berisi buah. Wanita itu mengerutkan keningnya, kala tidak melihat keberadaan sang suami.
"Zane," panggilnya kembali. Wanita itu menaruh nampan dan mencari keberadaan sang suami.
Huek ....
Chelsea mengerutkan keningnya dan masuk ke dalam kamar mandi, dan benar saja, pria bertubuh kekar itu tengah sibuk dengan dunianya sendiri.
"Kenapa? Kau mual?" tanya Chelsea yang hendak mendekat. Tetapi Zane langsung menahan Chelsea agar tidak mendekati dirinya.
"Jangan, tetap di sana baby." larangnya dengan suara rendah, membuat Chelsea mendengus kesal.
"Tapi kau-"
"Tidak sayang, aku baik-baik saja. Tetap di-huek." Chelsea kesal sendiri dengan sikap Zane yang akhir-akhir ini keras kepala. Chelsea mendekat dengan cepat dan langsung mengusap punggung sang suami untuk mengurangi rasa mual.
Setelah mengeluarkan isi perut, Zane terheran-heran melihat isi perutnya tidak keluar, hanya cairan bening saja. "Tidak ada yang keluar? Tapi kenapa rasanya sangat mual?" Tanyanya dengan polos.
Chelsea dengan telaten membasuh mulut Zane tanpa mendengarkan pertanyaan dari sang suami, "Sudah tidak mual kan?"
Zane mengangguk dan memeluk tubuh Chelsea yang sedikit berisi karena faktor kehamilannya. Wanita itu ikut membalas pelukan sang suami dan menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. Chelsea terdiam beberapa saat saat melihat pantulan wajah Zane yang benar-benar pucat dari cermin wastafel, "Ayo ke rumah sakit." ajaknya membuat Zane menggeleng sebagai tanda menolak.
"Aku tidak ingin, nanti aku di suntik bagaimana?" tanya Zane dengan membayangkan suntikan tajam menyentuh permukaan kulitnya. Sebenarnya biasa saja sebelum Chelsea hamil atau menikah dengan Chelsea, Zane sering merasakan suntikan menusuk kulitnya. Tapi sekarang? Melihatnya saja sudah takut duluan.
Chelsea tersenyum kecil, "Tidak akan. Kau hanya-"
"Aku tidak suka rumah sakit, aku tidak suka, sayang! Aku di suntik bagaimana, tidak mau!" rengek Zane dengan mengeratkan pelukannya. Chelsea menghela napas dan mengusap punggung pria manja itu.
"Ayo keluar, aku membawa buah potong untuk mu." Chelsea mengusap wajah Zane dan menarik pria itu keluar dari kamar mandi.
"Kau sudah minum susu?" tanya Zane di sela-sela jalannya. Chelsea mendudukkan dirinya dan mengangguk.
"Iya, Mama yang membuatkan. Makan lah, kau belum makan apapun sejak kemarin." bujuk Chelsea dengan menyodorkan sesuap buah potong. Zane menatap buah potong di hadapannya lalu beralih menatap Chelsea.
"Ada apa? Ayo buka mulut mu, Zane." kata Chelsea membuat Zane langsung menjauhkan wajahnya.
"Tidak, aku tidak ingin buah!" tolaknya dengan menutup mulutnya rapat-rapat. Chelsea menatap potongan buah di hadapannya dengan kesal.
"Kemarin kau yang meminta, ini enak! Ayo di coba-"
"Melihatnya saja sudah membuat aku mual," sela Zane dengan menutup mulutnya kembali seperti orang ingin muntah lagi. Reaksi Zane membuat Chelsea menghembuskan napas panjang. Wanita itu menaruh kembali piring buah dan menyodorkan segelas susu.
__ADS_1
"Minum lah,"
"Tidak!"
"Kenapa tidak? Bukankah kau suka?"
Zane menggeleng sebagai jawabannya, bahkan pria itu jauh lebih rempong dan rewel dari Alex dan Alexia. Bahkan kedua bocah kembar itu terheran-heran dengan perubahan sikap Kakak mereka, tak jarang juga Daniel dan Nicholas menjadi bahan uji coba dari Zane hingga saat ini, bukan hanya dua pria itu, tetapi Arthur, Calvin, Ashton, Ashley, sampai Papa Owen juga ikut merasakan menjadi uji coba.
"Aku tidak mau itu! Aku mau yang lain saja!" ujar Zane dengan frontal.
"Apa?"
"Susu yang ini," ungkap Zane dengan menyentuh buah dada Chelsea dan sedikit meremasnya. Chelsea menaruh gelas susu tersebut dengan kesal dan melirik sinis ke arah sang suami.
"Jangan harap!" Ketusnya dengan menepis tangan Zane. Tetapi jiwa tidak menyerah dari Zane tidak pernah pudar, bahkan pria itu berusaha untuk membujuk rayu sang istri.
"Sayang, aku ingin-"
"Kenapa sikap mu kekanakan sekali, Zane?" tanya Chelsea membuat Zane langsung terdiam setelah itu. Wanita hamil itu membawa nampannya kembali, "sekalian saja tidak perlu makan hingga esok!" tambahnya dengan gerutu kecil.
"Sayang," rengek Zane dengan menyusul Chelsea keluar dari kamar. Chelsea menepis tangan Zane yang hendak menahannya, dia kesal karena sikap Zane yang mengalahkan sikap manjanya. Zane menatap tangannya yang baru saja di tepis oleh Chelsea, menatap punggung sang istri yang mulai menjauh dari pandangannya.
"Hiks, Baby!"
...****************...
"Di mana dia?" gumam Chelsea yang mulai mencari keberadaan sang suami. Chelsea merasa devaju seperti kejadian di pagi hari, Chelsea yang mencari keberadaan Zane dan sekarang kembali mencari pria itu.
"Mungkin saja Daniel tahu sesuatu,"
Tok ... tok ....
Chelsea menoleh saat pintu kamar nya di ketuk, Daniel. Pria itu tersenyum canggung saat Chelsea mendekatinya, "Chelsea, apakah kau sibuk?" tanyanya dengan canggung.
"Tidak untuk sekarang. Ada apa?" tanya Chelsea dengan alis mengerut bingung. Daniel mengusap tengkuknya sendiri dengan gugup.
"Ada yang ingin aku bicarakan, ini cukup penting." kata Daniel membuat Chelsea tersenyum sejenak. Wanita itu mengangguk dan membiarkan Daniel untuk masuk ke kamarnya.
"Katakan lah,"
"Ini tentang kejadian di ballroom, tidak ... maksud ku tentang kejadian racun tikus itu, apakah kau ingat?" tanya Daniel dengan ragu-ragu. Wanita hamil itu memiringkan kepalanya bingung, tetapi tidak di pungkiri kalau Chelsea mengangguk sebagai jawaban.
"Kenapa membahasnya lagi? Bukankah sudah-"
"Belum. Kejadian racun tikus itu ada sangkut pautnya dengan keluarga Lincoln,"
DEG ....
__ADS_1
"A ... apa?" gumam Chelsea dengan terbata-bata. Daniel mengusap wajahnya dan memukul mulutnya sendiri.
"Bukan Lincoln maksud ku, ta ... tapi i ... itu, aduh bagaimana caranya aku menjelaskannya." Daniel mengacak rambut belakangnya, tentu saja dia bingung untuk memberitahu tentang siapa pelaku di balik racun tikus tersebut.
"Apakah pelaku nya Sonia?" tebak Chelsea membuat Daniel menoleh terkejut.
"Bukan dia. Saat kejadian itu, dia berada di luar negeri sedang ada pemotretan, Chelsea." jawabnya dengan logis. Tentu saja, Daniel bahkan memasang GPS secara diam-diam di ponsel wanita janda itu, sedangkan Nicholas yang mengawasi gerak-gerik Sonia melalui anak buahnya.
Bahkan Nicholas dengan gampangnya langsung mendapatkan salinan tujuan penerbangan Sonia setelah kejadian Chelsea di tampar oleh Ibu Tasya. Bukan hanya salinan tujuan, pria itu bahkan tak segan-segan mengancam Sonia dengan tajam dan tak main-main. Daniel menyaksikannya sendiri, maka dari itu Daniel berada di kamar Chelsea juga karena ulah Nicholas.
Chelsea menutup mulutnya terkejut. Entahlah, semua pemikiran jahatnya secara tiba-tiba saja jatuh kepada wanita yang menaruh hati kepada suaminya. "Katakan yang jelas!" desak Chelsea dengan perasaan kesal.
"Kejadian racun tikus ini sebenarnya ada sangkut-pautnya juga dengan kejadian di ballroom hotel. Dan pelakunya adalah-"
"CHELSEA!"
Chelsea dan Daniel terkejut dan sontak menoleh ke arah pintu. Terlihat Sonia yang berada di ambang pintu dengan napas tersengal-sengal.
"Sonia? Ada apa?" tanya Daniel dengan dahi mengerut. Sonia menadah dan menunjuk ke arah belakang.
"Zane," Sonia menarik napas panjangnya. "Zane, naik ke atas pohon!"
"WHAT?!" Pekik Daniel tak habis pikir. Chelsea dan Daniel bergegas keluar dari kamar, menuju taman belakang, dengan Sonia yang mengikuti di belakang. Sedangkan di taman belakang, para pelayan dan bodyguard sudah sangat was-was saat melihat aksi memanjat dari Zane.
"Tuan! Jangan, segara lah turun!" Teriak Ricky dengan syok. Bagaimana dirinya tidak syok, selama bekerja di mansion Lincoln, baru kali ini dirinya melihat Tuannya sendiri memanjat dengan luwes ke atas pohon rindang dengan banyak buah mangga yang bergelantungan.
Mama Bellamy bahkan tak kalah syok, tapi yang lebih syok nya adalah Papa Owen yang datang dengan membawa keranjang besar. "Papa! Untuk apa bawa keranjang sebesar ini?!" tanya Mama Bellamy dengan amarah tertahan.
"Lumayan, Ma. Untung Zane lagi cosplay jadi monyet kan," sahutnya dengan senyuman manis. "Zane, yang di kanan, Nak!"
Mama Bellamy menepuk dahinya, ternyata Anak dan Ayah sama saja. Sama-sama membuat Mama Bellamy naik tensi. Tak lama, Chelsea datang bersama Daniel dan Sonia, ketiga orang tersebut terkejut melihat Zane yang sudah memanjat hingga di atas.
"Zane!" pekik Chelsea terkaget-kaget, sejak kapan suaminya memiliki bakat terpendam? Daniel mengelus dadanya, sepertinya jiwa memanjat Zane sudah meronta-ronta sejak tadi, pantas saja memintanya untuk mengambil kayu besar dan panjang.
"Nak, suruh suami kamu itu turun! Itu bahaya!" kata Mama Bellamy heboh. Chelsea menatap waspada dengan setiap langkah suaminya itu, bahkan memetik buah mangga yang masih muda dan tepat masuk ke dalam keranjang milik Papa Owen.
"Sejak kapan Zane bisa memanjat?" tanya Chelsea kepada Mama Bellamy. Wanita paruh baya itu menghela napas panjang dan menatap Anak dan suaminya itu.
"Sejak sekolah dasar, hanya saja Papa selalu melarang Zane untuk memanjat, karena anak itu sempat terjatuh dan harus di rawat di rumah sakit. Tapi lihat sekarang, mereka ... astaga, membuat Mama pusing saja!" keluh Mama Bellamy dengan memijat keningnya sendiri. Chelsea mendekati pohon, tetapi Nicholas lebih dahulu menarik lengannya.
"Jangan terlalu dekat, bahaya." larang Nicholas. Chelsea hanya menatap sang suami yang begitu lincah menaiki dahan pohon dengan mengantongi beberapa buah mangga yang begitu menggugah selera itu.
"PAPA, TANGKAP!"
"ZANE!"
Dan aksi heboh Zane semakin membuat mereka semua tak habis pikir. Ricky bahkan sudah menadah ke tangannya, cemas bila Tuannya terjatuh dari atas.
__ADS_1
"DAPAT!" seru Papa Owen senang dengan mangga tangkapannya tepat jatuh di dalam keranjang.