Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Gagal Total


__ADS_3

"Bu," panggil Chelsea kepada Ibu Anggun yang tengah sibuk menelpon seseorang. Wanita paruh baya itu menoleh dan mengerutkan keningnya.


"Ada apa, Nak?" tanya Ibu Anggun. Chelsea bergerak gelisah dan mengusap lehernya dengan tidak nyaman. Melihat reaksi dari obat yang telah Ibu Anggun berikan, membuat wanita itu tersenyum tipis.


"Kenapa tubuhnya terasa panas?" tanya Chelsea dengan napas memburu. Wanita itu bergegas mengikat rambutnya dengan asal dan berharap-harap mengurasi rasa panas yang Ia alami.


"Kata cleaning service, AC di kamar ini belum di perbaiki. Ibu akan memanggil petugas untuk segara memperbaiki nya," kata Ibu Anggun membuat Chelsea hanya diam dan membiarkan wanita itu keluar dari kamar, tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun.


Chelsea berdiri dan menuju balkon untuk mencari angin, tetapi harapannya pupus saat panas di tubuhnya semakin menjadi. "Kenapa dengan ku. Panas," keluh Chelsea dengan bergegas masuk kembali ke kamar.


Wanita itu langsung mengambil ponsel dan mencari tahu apa yang Ia alami. Setelah mencari-cari, mata wanita itu sontak membulat terkejut. "Obat perangsang? I ... ibu ...."


Chelsea sangat ingat, sebelum keluar dirinya tidak memakan apapun, dan hanya meminum air putih pemberian dari Ibu Anggun. Chelsea yang menyadari niat tidak baik dari Ibu Anggun pun mengepalkan kedua tangannya.


"Kenapa Ibu melakukan ini kepada ku-ahhhh!"


Dengan tangan bergetar, Chelsea mencoba untuk menghubungi Zane. Persetan dengan menganggu pekerjaan pria itu, Chelsea hanya tidak ingin terjadi hal yang tidak seharusnya terjadi. Pantas saja dirinya gelisah sejak kemarin, ternyata ada sesuatu yang akan terjadi. Entah apa yang sebenarnya Ibu Anggun rencanakan, hingga harus memberikan Chelsea obat perangsang tersebut dengan teganya.


"Ke ... kenapa tidak di angkat," lirih Chelsea dengan air mata yang sudah lolos. Wanita itu berjalan menuju pintu dan semakin terkejut, ternyata pintu kamar hotel juga telah di kunci dari luar.


"Ibu! Buka pintunya!"


DUG ....


DUG ....


Chelsea menggedor pintu kamar tersebut dengan menggebu-gebu, sedangkan Ibu Anggun tersenyum miring di depan pintu dengan memainkan kunci kamar di tangannya.


"Saatnya menunggu Reno datang dan aku mendapatkan uang ku. Kau sungguh hebat, Anggun!" pujinya pada diri sendiri. Ibu Anggun melipat kedua tangan dan bergegas menuju lift untuk menyambut kedatangan Reno, yang sedang dalam perjalanan.


DUG ....


"IBU BUKA! AKU BILANG BUKA!"


Emosi Chelsea sudah di ubun-ubun, wajah wanita itu semakin memerah bersamaan dengan obat perangsang yang mulai bereaksi pada tubuhnya.


"Zane, angkat telpon ku, please!" gumam Chelsea yang terus-menerus mencoba untuk menghubungi nomor sang suami.


Chelsea yang sudah tidak tahan dan tidak tahu bagaimana cara menghilangkan rasa panasnya pun, langsung melepaskan semua pakaiannya dengan cepat dan hanya menyisakan pakaian dalam saja. Wanita itu berjalan sempoyongan menuju kamar mandi.


"Zane, hiks ...."


Sedangkan di tempat lain, Zane sedang melaksanakan rapat penting dengan beberapa ketus direksi di perusahaannya. Ponsel pria itu sengaja di silent agar tidak ada yang menganggu dirinya.


Daniel dan Nicholas yang sejak tadi serius, tiba-tiba saja menatap ponsel mereka.


Chelsea mengirim pesan? batin Daniel.

__ADS_1


Nicholas juga mengerutkan keningnya dan melirik Daniel yang ternyata juga sudah meliriknya. Mereka berdua langsung menoleh ke arah Zane yang sungguh serius akan dapat penting hari ini.


"Tuan," panggil Daniel dengan berbisik. Zane tidak menghiraukan, membuat Nicholas tanpa pikir panjang, langsung membuka ponselnya.


Pria itu terdiam sejenak, Chelsea hanya mengirimkan sebuah foto dari internet tentang obat perangsang dan juga mengirimkan lokasi. Tiba-tiba saja otaknya langsung paham akan pesan itu dan menoleh terkejut kepada Zane dan Daniel yang berusaha untuk mengalihkan perhatian sang atasan.


"Hentikan!" seru Nicholas membuat semua orang di dalam ruang rapat menjadi hening.


"Nic! Apa yang kau lakukan! Kita-"


"Istri mu sedang di jebak oleh Ibu Anggun!"


"WHAT!"


...****************...


Reno menyeringai saat melihat Ibu Anggun dari kejauhan, tampak wanita itu terlihat senang dan sepertinya dugaan Reno benar. Bahwa rencana pertamanya berhasil, tidak sia-sia Reno membeli obat perangsang dari seseorang, walaupun dengan harga mahal tentunya.


"Sepertinya berhasil," gumam Reno setelah keluar dari mobil miliknya. Ibu Anggun semakin melebarkan senyumannya dan mendekati Reno.


"Akhirnya kau-"


"Apakah dia sudah meminum obatnya?" tanya Reno menyela. Ibu Anggun mengangguk penuh rasa bangga dan memperlihatkan kunci kamar yang ada di tangannya.


"Kamar sudah Ibu kunci, mustahil Chelsea bisa keluar." kata Ibu Anggun tanpa adanya rasa khawatir atau kasihan. Di saat Ibu lain mati-matian menjaga anak mereka, tetapi lain hal dengan Ibu Anggun yang begitu tidak peduli dengan darah dagingnya sendiri, yaitu kedua putra kembarnya.


Reno langsung berjalan masuk ke lobby dengan tenang, tetapi Ibu Anggun langsung menahan lengannya, membuat Reno mau tidak mau membalikkan badannya. "Apa?!"


"Kau sudah menyiapkan bayaran untuk ku?"


Reno kembali menyeringai dan menatap remeh pada wanita di hadapannya, "Kita belum tahu, apakah rencana mu ini berhasil atau tidak. Jadi jangan harap meminta imbalan kepada ku bila belum berhasil,"


"Baiklah, kalau berhasil kau harus menambahkan jumlah uangnya!" ketus Ibu Anggun membuat Reno tidak menghiraukannya.


Pria itu langsung masuk ke dalam lift, tetapi lebih dulu di tahan oleh security hotel di sana. Reno mengerutkan dan menepis tangan security tersebut, "ADA APA INI?!" tanya Reno dengan emosi di ubun-ubun.


"Maaf, Tuan. Seluruh sistem di hotel AT.L sedang di hentikan sementara. Untuk itu, silahkan Tuan menunggu di ruang tunggu," jelas sang security membuat Reno langsung menoleh ke arah Ibu Anggun yang menggeleng tidak tahu.


Karena terhalang, Reno dengan kesal lanjut menuju ke arah ruang tunggu bersama Ibu Anggun. "Ibu ini gimana?! Bagaimana bisa ada pemberhentian sistem di sini?!" tanya Reno dengan emosi menggebu-gebu.


"Kok kamu malah nanya itu. Ibu aja enggak tahu apa-apa," jawab Ibu Anggun dengan ketus. Wanita itu tidak terima di salahkan atas apa yang tidak Ia lakukan.


Beberapa security dan para staff hotel langsung bergegas menuju teras, di mana terlihat banyaknya mobil yang terparkir, salah satunya adalah mobil yang paling mencolok di sana. Reno melihat mobil impiannya di depan mata, langsung tersedak air ludahnya sendiri.


"I ... itu mobil termahal dan hanya beberapa saja yang di jual belikan di dunia!" pekik Reno tak percaya.


"Selamat datang, Tuan Arthur!" sapa mereka semua dengan membungkuk.

__ADS_1


Arthur, pria yang memiliki status sebagai pemilik atau CEO dari hotel berbintang dan tersebar di seluruh dunia, yaitu hotel AT.L. Hotel yang memiliki interior mewah dan megah, fasilitas kamar yang juga tak kalah luxury juga, tentu saja harganya tak main-main.


Pria itu bergegas berjalan memasuki lift dengan wajah datar. Para staff di buat tidak bisa bernapas, setiap kali sang atasan datang secara tiba-tiba tanpa memberi kabar.


"Di mana kamarnya?" tanya Arthur kepada sang resepsionis yang sudah berada di belakangnya. Calvin mengerutkan keningnya saat tidak sengaja melihat seseorang yang tidak asing.


Ibu Anggun dengan siapa? batin Calvin penuh tanda tanya.


Ya, Calvin melihat Ibu Anggun yang sedang berada di ruang tunggu bersama pria yang tidak Ia kenal. Calvin pun menatap punggung Arthur yang terlihat sangat jelas, pasalnya mereka di beritahu oleh resepsionis bila ada seorang wanita bernama Chelsea Amora Lemos yang memesan nama.


"Lantai 7, nomor 560, Tuan!" jawab sang resepsionis yang tak kalah serius. Arthur semakin di buat tidak tenang mendengarnya.


"Apakah dia datang bersama seorang wanita?" tanya Calvin membuat resepsionis pria itu menoleh dan akhirnya mengangguk.


"Benar, Tuan."


Dugaan ku memang benar! Batin Calvin.


Hingga akhirnya mereka tiba di lantai yang mereka tuju, beberapa bodyguard Arthur langsung mengamankan lantai tersebut dengan sangat ketat. Arthur menatap pintu coklat di hadapannya dengan nomor 560, di sata Arthur memutar kenop pintu, alis pria itu mengerut.


"Sial! Di kunci!" umpat Arthur.


"Kau membawa kunci cadangan kamar ini?" tanya Calvin kepada resepsionis pria itu.


"Ini," sang resepsionis langsung memberikan kunci cadangan kepada Calvin dan langsung membuka pintu dengan perasaan tidak menentu.


CEKLEK ....


Arthur langsung masuk bersama Calvin, dan di kejutkan saat melihat pakaian Chelsea yang berada di lantai. Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.


"Periksa kamar ini," perintah Arthur membuat Calvin dan sang resepsionis yang baru saja masuk, langsung mengangguk paham.


Arthur memutar kenop pintu dan di kejutkan dengan seorang wanita berada di dalam bathtub dengan air mengucur keluar.


DEG .....


"CHELSEA?!"


Sedangkan di luar sana, Zane dan kedua sahabatnya baru saja tiba di lantai yang ternyata sudah penuh dengan bodyguard. Melihat semua simbol yang melekat pada pakaian bodyguard tersebut, membuat Zane bergegas masuk.


"Tuan-"


"Tuan Zane adalah suami dari Nona Muda Chelsea!" sela Nicholas membuat bodyguard Arthur langsung mengangguk. Mereka tahu siapa Zane. Pria itu langsung masuk dan di kejutkan dengan Chelsea yang berada di dalam pelukan Arthur dengan pucat pasi.


Calvin menoleh dan membulatkan matanya melihat kedatangan pria yang sungguh tidak asing lagi, "Tuan Zane?!"


Zane tidak menghiraukan dan bergegas mendekati Chelsea yang memejamkan matanya. Perasaan menyesal dan bersalah kembali menyeruak, Zane yang terlalu fokus pada ramai hingga tidak memerhatikan panggilan telepon dari sang istri.

__ADS_1


"AMORA?!"


__ADS_2