Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Rencana Perjodohan


__ADS_3

MANSION LINCOLN .....


Mansion megah itu terlihat begitu sibuk, setelah Nyonya rumah itu menyambut kedatangan sang menantu dan sang putra yang beberapa hari yang lalu, kembali ke negara asal mereka karena sebuah pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan oleh Zane.


"Ma, biarkan aku saja yang melakukannya." Kata Chelsea dengan mencegah aktivitas berlebihan dari Mama Bellamy, wanita muda itu tampak cemas tentang kesehatan yang nantinya bisa di terima oleh wanita paruh baya tersebut.


"No! Mama bisa melakukannya, Sayang." tolak Mama Bellamy membuat Chelsea hanya menghela napas panjang dan menatap beberapa maid yang berjajar di belakangnya. Wanita beranak satu itu cukup keras kepala, bahkan tak jarang Papa Owen juga ikut memarahi sang istri, karena sulit untuk di berikan nasehati seperti sekarang.


Zane dan Chelsea memilih untuk menghabiskan waktu satu Minggu dan bergegas pulang, setelah mendengar kabar bahwa Mama Bellamy jatuh sakit karena aktivitas yang berlebihan. Sebenarnya jatah liburan bulan madu mereka berdua adalah satu bulan, tetapi Chelsea tetap bersikeras untuk pulang, sedangkan Zane hanya pasrah saja. Padahal Papa Owen dan Mama Bellamy sudah menelpon untuk tetap melanjutkan bulan madu, tetapi Chelsea enggan untuk menerima.


"Ma," panggil Chelsea membuat Mama Bellamy berdecak kesal dan menoleh seraya berkacak pinggang. Chelsea menelan ludahnya sendiri.


"Jangan banyak bicara, kamu harus istirahat agar progam hamil yang kalian lakukan itu berjalan mulus, bukankah begitu?"


Para maid saling berpandangan dan langsung mengangguk setuju sebagai jawaban. Chelsea langsung di dorong hingga terduduk di sofa, sedangkan Mama Bellamy kembali sibuk dengan aktivitas membersihkan rak-rak dimana koleksi tas, sepatu dan barang-barang mahalnya tersimpan. Melihat bagaimana Mama Bellamy memperlakukannya dengan sangat baik, membuat Chelsea merasa tersentuh.


Chelsea semakin merindukan Ibu kandungnya yang sudah tiada, hanya lima tahun waktunya untuk bersama dengan sang Ibu, dan sisanya Ia habiskan dengan Ibu tirinya, Ibu Anggun.


"Apakah Mama sudah lama berteman dengan Mama Kimberly?" tanya Chelsea membuat gerakan Mama Bellamy sontak terhenti.


Mama Bellamy menoleh dan menatap manik mata Chelsea, sangat cantik seperti mata seorang wanita yang selama bertahun-tahun menjadi sahabatnya, "Sangat lama." jawab Mama Bellamy dengan pelan.


Chelsea tersenyum dan menatap jari-jari tangannya dengan sendu, "Aku tidak tahu bagaimana kisah persahabatan kalian. Bila tidak keberatan, apakah Mama bisa menceritakannya kepada ku?"


Mama Bellamy melirik para maid, "Kalian keluar lah." para maid langsung pergi dan meninggalkan Mama Bellamy dengan menantu perempuannya. Mama Bellamy mendudukkan dirinya, "Kau sangat mirip dengan Ibu mu, Nak."


Chelsea menadah, "Tapi banyak yang mengatakan, bahwa aku mirip dengan Ayah." celetuk Chelsea membuat Mama Bellamy semakin tersenyum.


"Mata, hidung, bibir, dan watak mu ini mirip sekali seperti Robert, keras kepala. Lalu mata, sifat mu sangat mirip dengan Kimberly. Ibu dan Ayah mu sangat saling mencintai, Mama adalah saksi kehidupan orang tua mu, Sayang." jelas Mama Bellamy membuat Chelsea langsung meneteskan air matanya.


"Jangan menangis. Bila Kimberly melihat mu menangis, dia akan berusaha menenangkan mu, tapi tidak dengan ku. Aku akan memarahi mu hingga berhenti menangis!" sambung Mama Bellamy membuat Chelsea terkekeh geli. Chelsea menghapus air matanya dan tersenyum tipis.


"Saat aku, Ibu, dan Ayah ingin pulang ke rumah, Ibu berkata ingin sekali Mama Bellamy mengelus perutnya dan juga menggendong bayinya bila lahir nanti," kata Chelsea membuat Mama Bellamy seketika menjadi terdiam.


"Lalu apa yang terjadi?"


"Aku tidak ingat apapun lagi setelah itu, Ma. Tapi yang aku dengar, ada seseorang di balik kecelakaan kami, dan sekarang Ayah masih memantaunya." jawab Chelsea dengan tatapan yang sulit di artikan.


Siapa orang yang akan Robert tangkap itu? batin Mama Bellamy.


...****************...


"Pa, Mama memiliki rencana bagus untuk salah satu putra kita."

__ADS_1


Papa Owen yang sedang membaca koran di temani oleh Zane yang sibuk dengan laptop, berbeda dengan Chelsea yang sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri seraya bermanja-manja dengan sang suami. Ketiga orang tersebut langsung menoleh bingung ke arah Mama Bellamy yang sudah tersenyum aneh.


"Putra? Mama mau menikahkan aku kembali?!" tanya Zane dengan tatapan tajam, pria itu langsung menggenggam erat lengan sang istri dengan posesif, mana mungkin dirinya menikah lagi, sedangkan hatinya saja sudah di rebut tanpa sisa oleh wanita itu.


Mama Bellamy mendengus, "Putra ku ada banyak, ada Daniel, Nicholas, dan Alex. Mana mungkin Mama menikahi Alex di usia dini," ketus nya membuat Papa Owen akhirnya menoleh.


"Rencana apa, Ma?" tanya pria paruh baya tersebut dengan lembut. Zane mendengus kesal dan menutup laptopnya begitu saja.


"Kau sudah selesai bekerja?" bisik Chelsea bertanya. Zane tersenyum dan mencubit pipi Chelsea dengan gemas.


"Mana mungkin aku mau di kalahkan dengan pria mesum di sebelah kita ini, Sayang. Kita harus lebih romantis!" kata Zane membuat Papa Owen mendelik kesal. Menggulung koran dan langsung memukul kepala sang putra sulung.


"Anak muda jaman sekarang bisanya hanya mencibir, kau akan merasakan apa yang Papa dan Mama rasakan! Apa lagi istri mu masih muda, mungkin setelah kau tua nanti, Chelsea akan aku jodohkan lagi dengan pria lain!" sahut Papa Owen membuat Zane mendelik kesal. Mama Bellamy dan Chelsea tertawa mendengar perdebatan antara Ayah dan Putra itu.


"Mama!" adu Zane membuat Mama Bellamy semakin tertawa lepas. Chelsea mencubit lengan sang suami dan menggeleng pelan.


"Sudah-sudah, kalian ini! Mama hanya ingin memberitahu saja, kalau Mama akan merencanakan perjodohan Daniel dan Nicholas dengan beberapa wanita terbaik!"


"WHAT!"


Keempat orang tersebut langsung menoleh terkejut ke arah pintu taman samping. Ya, Mereka sedang berada di taman belakang, di mana ada pintu samping yang tembus dari lapangan golf milik Papa Owen. Mama Bellamy tersenyum senang dan menyambut kedatangan kedua pria yang sudah Ia anggap sebagai Putra nya.


Daniel dan Nicholas tercengang mendengar penuturan dari wanita paruh baya yang sudah berada di hadapan mereka. "Akhirnya kalian datang juga! Bagaimana? Apakah kalian sudah-"


Mama Bellamy mendelik, "Kalian ini sudah tua! Seharusnya kalian itu menikah dan memberikan Papa dan Mama itu cucu!" Sahut Mama Bellamy dengan melirik Papa Owen yang terkejut karena namanya di ikut sertakan.


"Benar kan, Pa? Jadinya kita tidak akan memiliki satu cucu nanti,"


Wajah Chelsea langsung memerah karena ucapan Mama Bellamy yang terang-terangan menatap ke arahnya. Zane menyunggingkan senyum dan mengacungkan jempol, "Adonan donat akan segera matang, bukankah begitu, Sayang?"


"Zane!"


Nicholas memijat keningnya sendiri, sedangkan Daniel menggaru kepalanya yang tidak gatal. "Ma, aku masih muda! Aku bisa mencari wanita ku sendiri," kata Daniel dengan begitu lembut. Papa Owen tersenyum dan ikut berdiri di samping sang istri.


"Nak, usia kalian berdua sudah sangat matang. Sampai kapan kalian akan terus melajang? Sedangkan kalian itu sangat butuh pendamping hidup," ujar Papa Owen membuat Daniel dan Nicholas langsung terdiam. Menikah, sama sekali belum ada list rencana mereka berdua, kedua pria tersebut hanya ingin mengabdikan diri kepada keluarga Lincoln dan setelahnya lalu menikah.


"Tapi-"


"Atau Mama harus mengirim kalian dulu ke desa, agar kalian bertemu dengan gadis cantik di sana atau mungkin sekalian saja waria!" sela Mama Bellamy dengan galak.


GLEK ....


"Nicho bukan pria mesum, Ma!" sambar Nicholas pada akhirnya. Pria datar bagaikan pintu tanpa bentuk itu benar-benar baru mengeluarkan suara bila di perlukan saja, seperti sekarang. Daniel mengangguk setuju dengan ucapan sang sahabat.

__ADS_1


"Aku juga, Ma! Zane yang mengajarkan aku untuk berbuat mesum beberapa kali!" sahut Daniel membuat Zane tersedak ludahnya sendiri.


"Kurang ajar kau, Daniel!" hardik Zane penuh kesal. Pria itu sudah melipat lengan kemeja hingga memperlihatkan otot lengannya.


"Se ... sebaiknya kami pergi,"


"EITS!"


"AKHH!" pekik Nicholas dan Daniel secara bersamaan, kala Mama Bellamy langsung menarik telinga mereka secara bersamaan pula. Wanita itu pantang menyerah sebelum mendapatkan apa yang Ia mau, seperti sekarang.


"Ma, sakit!" Keluh Nicholas membuat Zane terkekeh geli.


Baru kali ini aku melihat, Nicholas mengeluh. Mama memang terbaik! Batin Zane dengan mengacungi jempol nya kepada Mama Bellamy.


"Pokoknya kalian harus menerima rencana perjodohan ini! Titik!"


"Ma, Daniel tidak mau. Nicholas saja ya,"


"Dasar bocah sialan! I don't want to get married now. You're the only one who got married there!" sahut Nicholas dengan mata mendelik tajam.


"You are old, you should be the one who married me!" jawab Daniel tak kalah kesal. Mama Bellamy mendengus kesal dan semakin menarik telinga kedua pria tersebut.


"MAMA!"


"Kenapa kalian berdua malah bertengkar! Pokoknya kalian harus menerima, kalau tidak Mama akan marah!" sungut Mama Bellamy membuat Daniel dan Nicholas hanya bisa menghela napas.


"Ma, lepaskan dulu. Kasihan mereka," kata Chelsea di belakang sana. Mama Bellamy akhirnya melepaskan tarikan telinga dan menatap Daniel serta Nicholas secara bergantian.


"Mama tidak suka penolakan!"


Daniel langsung menelan ucapannya yang belum keluar. Papa Owen hanya tersenyum tipis, "Papa tahu kalian masih belum ingin menikah. Tapi setidaknya pikirkan tentang kehidupan kalian, Papa dan Mama hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua, termasuk dalam urusan keluarga." ujar Papa Owen.


"Papa setuju dengan perjodohan yang di katakan oleh Mama." lanjutnya membuat Mama Bellamy tersenyum bangga.


"Ma, perjodohan itu buruk sekali!"


Papa Owen menggelengkan kepalanya, "Darimana kau tahu dan bisa menyimpulkan bahwa perjodohan yang bahkan belum kalian jalankan saja sudah di katakan buruk? Perjodohan tidak semua buruk atau baik, Nak. Bisa saja kalian mencintai wanita itu, tidak perlu sekarang." jelas Papa Owen. Zane dan Chelsea mendekat dan mereka pun tersenyum.


"Yang di katakan oleh Papa benar. Kalian tidak perlu menekankan diri kalian kepada kepentingan ku atau perusahaan, I can take care of it myself for a while."


"Ma, jangan bertanya dulu apakah mereka menerima atau tidak. Cari dulu wanitanya, aku akan membantu."


Nasib ku benar-benar sial! Seharusnya aku tidak ikut kemari dengan Nicho! batin Daniel dengan melirik kesal ke arah Nicho.

__ADS_1


__ADS_2