Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Penculikan #2


__ADS_3

Ibu Tasya menatap tak suka dengan keikutsertaan Mama Bellamy di antara rencananya. Rencananya bisa saja berantakan karena Mama Bellamy memiliki seribu satu cara untuk menggagalkan setiap kejahatan seseorang, termasuk dirinya mungkin. Wanita paruh baya itu terus memaksa untuk ikut, dan Chelsea juga menginginkan hal itu, sedangkan Ibu Tasya hanya menghela napas dan memilih untuk membawa wanita itu.


"Apakah pemeriksaan mu kala itu, sudah melihat jenis kelamin, Sayang?" tanya Mama Bellamy di sela-sela jalannya. Ketiga wanita berbeda usia itu menyusuri setiap toko ke toko lainnya untuk sekedar melihat-lihat dan mencari barang yang Ia inginkan, yang antusias hanya Chelsea dan Mama Bellamy.


"Aku dan Zane sepakat untuk tidak ingin melihatnya, Ma. Biarkan itu menjadi rahasia," jawab Chelsea seadanya seraya tersenyum tipis. Mama Bellamy tersenyum dan melirik Ibu Tasya yang sejak tadi menekuk wajahnya, dan tidak memiliki semangat seperti tadi.


"Sepertinya kau keberatan bila aku ikut berbelanja, Tasya." Celetuk Mama Bellamy membuat Ibu Tasya tersadar dan tersenyum.


"Mana mungkin, Kak." bantahnya membuat Chelsea ikut menatap Ibu Tasya yang berada di sebelah kanan Mama Bellamy.


"Apakah Bibi ingin mencari sesuatu? Karena kita sudah memasuki beberapa toko, dan Bibi belum membeli barang yang ingin di cari untuk Paman." sahut Chelsea yang mulai memicingkan matanya curiga. Ibu Tasya mencoba untuk menghilangkan rasa gugupnya, karena Ia melupakan tujuan awalnya.


"Bukan di toko tadi, tapi di toko langganan ku dengan suami ku, Chelsea." balasnya dengan lugas. Chelsea mengangguk dan memilih untuk mengikuti langkah Ibu Tasya yang memasuki sebuah toko yang cukup besar.


"Toko perhiasan?" gumam Mama Bellamy dengan melirik Ibu Tasya yang tersenyum lebar ke arahnya.


"Aku ingin melihat beberapa perhiasan, bila Kakak tidak keberatan."


Mama Bellamy melirik Chelsea yang tampak berkeringat dengan napas sedikit tersengal-sengal, "Duduk lah, jangan membuat mu lelah dengan keadaan mu yang sedang hamil, Chelsea." ucap Mama Bellamy penuh perhatian dengan membantu Chelsea duduk di kursi tunggu.


"Mungkin aku terlalu antusias karena berbelanja, Ma." jawabnya di sertai tawa kecil. Mama Bellamy hanya mengelus rambut panjang sang menantu dan menatap punggung Ibu Tasya yang tampak sibuk memilih beberapa perhiasan.


Aku merasa, bila Tasya sangat keberatan bila aku ikut berbelanja. batin Mama Bellamy yang masih terus memikirkan raut wajah tidak suka dari wanita tersebut.


"Mama ingin membeli perhiasan?" tanya Chelsea membuyarkan lamunan Mama Bellamy.


"Iya, tunggu sebentar ya, Nak. Jangan pergi kemana-mana tanpa sepengetahuan Mama," nasihatnya dengan lembut. Chelsea mengangguk sebagai jawaban dan membiarkan kedua wanita paruh baya tersebut menikmati memilih perhiasan dengan dirinya yang sedikit beristirahat.


Di saat dirinya sedang menikmati istirahatnya, tatapan Chelsea tertuju pada seseorang yang sedang mengintip di pojok toko perhiasan. Chelsea menyipitkan matanya melihat pantulan orang tersebut di cermin kaca etalase.


"Apakah dia pencuri?" gumamnya penuh tanda tanya. Chelsea langsung menoleh dan bergegas untuk keluar dari toko, untuk memastikan dugaannya.


"Di mana orang itu?"


Chelsea mengerutkan keningnya dan menatap sekitaran toko yang di penuhi oleh para pengunjung Mall. Tetapi saat hendak kembali, tiba-tiba saja segerombolan orang berada di sekitar sisinya, Chelsea terkejut saat orang-orang yang tidak Ia kenal itu seperti menggiringnya agar menjauh dari pusat toko perhiasan.


Setelah sedikit jauh, segerombolan orang tersebut berpencar entah ke mana. Chelsea menghela napas panjang dan mengedarkan pandangannya, "A .. apa? Tempat apa ini?" tanyanya penuh bingung.


Chelsea mengelus perutnya, tiba-tiba saja pergerakan kedua bayinya menjadi kencang, membuat Chelsea meringis kecil. Perasaannya tiba-tiba saja tidak enak, seperti akan terjadi sesuatu dan Chelsea takut Mama Bellamy dan Ibu Tasya mencari dirinya.


"Ma ... mphhh!"


...****************...

__ADS_1


Mama Bellamy dan Ibu Tasya tampak kebingungan sekaligus panik setalah menyadari bahwa Chelsea tidak berada di tempatnya. Kedua wanita itu terus berkeliling sekitar toko perhiasan dengan raut wajah khawatir.


"Tasya, kemana perginya Chelsea?" tanya Mama Bellamy yang sudah menangis karena mencemaskan menantunya. Tasya yang sejak tadi hanya berjalan malas-malasan langsung menggeleng tidak tahu.


"Kak, bisa saja Chelsea pergi ke kamar mandi." kata Ibu Tasya langsung mendapatkan lirikan tajam dari Mama Bellamy.


"Kalaupun dia ke kamar mandi, dia bisa izin dan tidak perlu ke toilet luar!" balasnya dengan kesal. Ibu Tasya langsung berpura-pura menghubungi Zane untuk berbasa-basi. Tentu saja, agar Mama Bellamy percaya kepadanya kalau hilangnya Chelsea tidak ada sangkut-pautnya dengannya.


"Cepat hubungi Zane!"


"Tunggu, Kak! Zane belum mengangkat ponselnya!"


Di lain sisi ....


Zane yang tengah melakukan rapat dengan kolega, langsung melirik ke arah ponselnya yang terus berbunyi menampilkan nama Ibu Tasya sejak tadi. Pria itu terus mengabaikan dan berpikir bahwa wanita yang menjadi istri dari Pamannya hanya ingin mencari gara-gara. Daniel dan Nicholas saling berpandangan melihat respon Zane.


Drttt ....


Zane menghela napas dan kembali mematikan ponselnya dan tersenyum canggung kepada kolega yang menatapnya, "Maafkan saya karena menganggu rapat."


"Tuan, alangkah baiknya bila Anda mengangkat panggilan tersebut. Bisa saja itu penting," ujar salah satu pria di sana dengan santai. Zane menghela napas panjang dan menatap layar ponselnya kembali, ada lima panggilan telepon dari Ibu Tasya yang tidak Ia angkat satupun.


Melihat raut wajah kesal dari sang atasan, Daniel sedikit mencondongkan tubuhnya, "Ada apa?" tanyanya dengan nada berbisik.


"Angkat-"


Drtttt ....


Kini alis Zane mulai mengerut bingung melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Nama Mama Bellamy.


"Angkat saja, Tuan. Rapat bisa di lanjutkan," kata kolega lainnya membuat Zane menghela napas panjang.


"Permisi, saya harus mengangkat panggilan telpon. Silahkan di lanjutkan,"


Setalah keluar dari ruang rapat, Zane menghela napas panjang. "Halo, ada apa-"


"Kemana saja kau! Kenapa tidak mengangkat telpon Bibi mu hah?!" hardik Mama Bellamy membuat Zane semakin kebingungan. Terdengarlah bila wanita berstatus Ibunya itu sedang khawatir akan satu hal. Zane sangat yakin bila ada sesuatu yang beres dengan Mama Bellamy menelpon dirinya.


"Ma, aku sedang rapat. Kenapa Mama menelpon ku?" tanyanya dengan bingung. Samar-samar pendengarannya mengengar suara Isak tangis, membuat Zane semakin di buat bertanya-tanya.


"Kau lebih mementingkan rapat mu, daripada istri mu yang menghilang?!"


DEG ....

__ADS_1


"A .. apa?!"


"Istri mu menghilang! Mama dan Bibi mu-"


Tangan Zane langsung mengepal kuat dan kembali memasuki ruang rapat dengan amarah yang menggebu-gebu, "Berhenti!"


Seketika ruangan menjadi senyap saat suara bariton dari Zane menggema, "Rapat di lanjutkan di lain waktu! Maaf atas ketidaknyamanan kalian, karena ada hal mendesak yang tidak bisa saya tinggalkan!" ucap Zane dengan melirik kedua sahabatnya yang mengerutkan keningnya.


Tanpa banyak bicara lagi, Zane langsung bergegas pergi dengan langkah lebar. Perasaannya kalut mendengar bahwa istrinya— Chelsea, menghilang dari pandangan mata Mama Bellamy dan Bibi Tasya.


"Zane! Kenapa kau menunda rapat? Apa yang terjadi?" tanya Daniel kebingungan. Nicholas memperhatikan raut wajah Zane yang berbeda dari sebelumnya.


Apakah ada sesuatu yang terjadi? Tapi apa? batinnya penuh pertanyaan.


"Lacak GPS di ponsel istri ku, Nic!" Nicholas tanpa banyak bertanya langsung menjalankan perintah dari sang sahabat. Kemanapun dia pergi, Nicholas pasti selalu menjawab laptop khusus miliknya untuk keperluannya sendiri.


Ribuan karyawan mereka lewati dengan langkah tergesa-gesa, tanpa sapaan dan tanpa senyuman. Saat mereka bertiga masuk ke dalam mobil yang sama, Nicholas langsung mengambil posisi siap dengan laptop dan beberapa alat pelacak miliknya .


Pikiran Daniel mulai kalut, mendengar pernyataan Zane tentang Chelsea yang menghilang. "Bukankah Chelsea ada di mansion tadi? Kenapa bisa menghilang secara tiba-tiba?!"


Zane mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi dan menerobos keramaian di pusat kota. Yang ada di pikirannya saat ini adalah keselamatan istri dan dua calon anaknya. Sudah cukup 2 kali, Zane hampir kehilangan Chelsea dan calon bayinya, sekarang tidak akan Zane maafkan yang berani menyentuh istrinya.


"Pasti ada yang menculiknya, aku melacak keberadaan Mama Bellamy berada di salah satu mall di dekat sini. Pasti Mama Bellamy menemani Chelsea untuk berbelanja, dan kesempatan itu mereka gunakan untuk menculik Chelsea," jelasnya tanpa menatap kedua sahabatnya.


"Mereka mencari masalah dengan ku." kecepatan mobil tersebut semakin cepat, Daniel bergerak cepat untuk menghubungi Ricky agar segara datang ke mall bersama orang yang mungkin bisa membantu.


"Apakah aku perlu memberitahu Tuan-"


"JANGAN MEMBERITAHU AYAH MERTUA KU!" hardik Zane dengan penuh amarah. Amarahnya tidak akan mereda, sebelum menemukan sang istri yang saat ini tengah terancam.


Diam-diam, Nicholas mengirim pesan kepada para sahabatnya untuk segara datang ke lokasi yang Ia minta, "Aku curiga pasti Anggun ikut dalam penculikan ini."


Daniel sontak menoleh, "Kau yakin?"


"Siapa lagi yang bisa melakukan hal senekat ini, kalau bukan Anggun dan satu pria yang sama dalam penembakan di ballroom hotel." jelas Nicholas dengan wajah tenangnya. Pria itu menatap layar laptopnya dengan mengerutkan kening, "Tapi aku rasa ada yang membantu mereka."


"Persiapkan semuanya, aku yang akan membunuh mereka bila berani menyentuh istriku!"


BRAK ....


"ZANE!" pekik Daniel terkejut saat mobil mereka baru saja menyenggol sebuah mobil yang berada di depan mereka, membuat mobil mereka sedikit berputar dan Zane kembali mengambil alih kemudi.


"SIAL!"

__ADS_1


__ADS_2