Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Kencan Pertama Arthur


__ADS_3

Arthur, pria itu tengah berjalan kesana-kemari dengan gelisah, wajahnya tampak serius seraya memainkan pemantik api dengan lihai.


"Bisakah kau duduk sebentar, kepala ku pusing melihat mu terus seperti ini!" tegur Calvin yang sejak tadi hanya diam, memperhatikan gerak-gerik Arthur yang tidak seperti biasanya.


Arthur menoleh dan menghela napas panjang, "Aku bingung, Cal." jawabnya dengan lesu. Calvin tertawa renyah mendengar keluhan dari sang sahabat. "Aku serius! Kenapa kau malah tertawa?!"


Calvin menghentikan tawanya dan menggelengkan kepalanya, "Tidak seperti biasanya kau pusing. Apa yang menganggu mu? Apakah tentang perasaan mu kepada Adik angkat mu itu?" tanya Calvin membuat Arthur langsung menoleh sinis.


"Itu salah satunya!"


Calvin sudah menduga hal itu, pria dengan pakaian baju tidur tersebut berdiri dan menepuk pundak Arthur. "Bila Ayah mengetahui tentang perasaan mu kepada Chelsea, coba bayangkan apa yang akan terjadi."


Arthur mulai menerawang perkataan Calvin. Bayangan bertahun-tahun yang lalu mulai menghantui dirinya, walaupun Ashton dan Ashley mengatakan kalau hukuman dirinya dulu hanya sebuah rekayasa, tetap saja bagi Arthur itu semua adalah hal nyata. Bertahun-tahun tidak ada kabar dari sang Ayah, dan hanya di temani oleh Tuan Arjuna dan satu orang kepercayaan Ayah Robert, membuat Arthur mulai trauma akan hal itu. Ketakutan terbesarnya adalah kejadian yang sama, di tinggal oleh orang tersayangnya.


"Ayah tidak akan meninggalkan aku lagi kan, Cal? Tidak akan kan?" tanya Arthur dengan gelisah membuat Calvin panik.


"Bu ... bukan!" tampik Calvin panik sendiri saat melihat reaksi Arthur. Calvin langsung memberikan segelas air dan juga obat-obatan milik pria tersebut. "Minumlah!"


"Ayah tidak akan meninggalkan aku!"


Calvin menaruh gelas air dan obat tersebut dan memapah Arthur yang mulai meracau ke tempat tidur, "Tunggu sebentar, aku akan memanggil Ayah."


Calvin langsung bergegas keluar dari kamar dan tak peduli dengan pakaian tidurnya. Dan tepat waktu juga, ternyata Ayah Robert berada di dekat kamar Arthur dengan membawa segelas kopi. "Ayah!"


Ayah Robert mengerutkan keningnya, "Cal? Ada apa?" tanyanya bingung dan menelisik penampilan Calvin yang masih memakai piyama tidur.


Calvin menjadi malu sendiri, saat Ayah Robert menelisik penampilannya. "Ayah, Arthur kambuh lagi!"


DEG .....


"Kambuh?"


Calvin mengangguk dan menarik lengan pria paruh baya tersebut menuju kamar Arthur. Ayah Robert terkejut melihat Arthur yang meracau dan wajahnya pucat, "Arthur!"


"Ayah tidak akan meninggalkan aku lagi kan? Tidak akan kan?" racau nya dengan menahan lengan Ayah Robert dengan erat. Ayah Robert terdiam dan menatap Calvin tidak mengerti.


"Minumlah, jangan seperti ini, Arthur!" kata Calvin cemas bukan main. Arthur akhirnya meraih gelas dan obat penenang yang di berikan oleh Calvin.


"Obat apa itu, Cal?" tanya Ayah Robert tidak mengerti. Calvin menghela napas dan mendudukkan dirinya di lantai dingin.


"Arthur memiliki riwayat panik attack, Ayah" ungkap Calvin para akhirnya. Ayah Robert terdiam sejenak dan melirik ke arah Arthur yang mulai tenang dan tertidur dengan masih menggenggam erat tangannya. Ayah Robert tidak mengerti, sejak kapan Putra sulungnya memiliki riwayat panic attack. Karena selama ini, Ayah Robert sangat yakin kalau putra sulungnya tidak memiliki riwayat penyakit tersebut.


"Sejak kapan? Dan apa penyebabnya?" tanya Ayah Robert membuat lidah Calvin menjadi kelu sendiri. Di sisi lain, Arthur melarang dirinya untuk memberitahu tentang riwayat penyakitnya kepada siapapun, termasuk kepada Ayah Robert. Tetapi di sisi lain, pikiran dan hatinya berkerjasama untuk memberitahu tentang hal itu.

__ADS_1


"Kau tidak berniat untuk membohongi, Ayah kan?"


DEG ....


"Ma ... mana mungkin, Ayah!" jawab Calvin gugup.


...****************...


"Aku akan kencan buta,"


Uhuk ....


Calvin dan kedua si kembar yang tengah bersantai di teras belakang, tersedak secara bersamaan karena perkataan Arthur yang secara tiba-tiba.


Ashley terbengong-bengong, "Paman, teman mu ini mengatakan apa?" tanyanya dengan menyenggol lengan Calvin yang masih terbengong. Calvin menoleh kesal dan mencubit lengan remaja laki-laki tersebut.


"Panggil aku Kakak! Usia ku masih 26!" protes Calvin dengan mata mendelik. Ashley mendengus kesal dan melirik Ashton yang bergeming dengan memainkan yo-yo.


"Kau tidak terkejut?"


"Untuk apa? Not important,"


Arthur langsung tertampar dengan ucapan dari Adik laki-laki nya itu. "A ... apa?"


"Ucapan mu sungguh sangat benar, Kak!" sahut Ashley dengan menepuk pundak sang kembaran dengan senang.


"Hey! I'm being serious! Berikan Kakak dukungan," kata Arthur yang tak habis pikir dengan ketiga pria berbeda usia di hadapannya. Calvin dan si kembar saling bertatapan dan Calvin menyunggingkan senyum miring.


"Memangnya kau punya wanita?" tanya Calvin membuat Arthur mendengus kesal dan langsung menendang betis pria tersebut.


"Kau mengira aku seburuk apa hingga tidak bisa menarik perhatian wanita?!" jawab Arthur dengan galak. Calon menggaruk kepalanya sendiri dan melirik kedua remaja kembar yang sudah diam.


"Memangnya Paman memiliki wanita juga?" tanya Ashley membuat Calvin langsung terdiam dan menggaruk tengkuknya sendiri.


"Of course! Mana ada wanita yang tidak terpana dengan ketampanan ku!" balas Calvin dengan percaya diri. Ashley bergidik ngeri melihatnya dan memilih untuk sedikit menjauh dari Calvin.


"Kenapa tiba-tiba? Bukan karena kakak patah hati kan?" tanya Ashton dengan menyimpan yo-yo miliknya. Arthur menggeleng dengan ragu dan melirik Calvin meminta bantuan.


"Kau masih kecil, jangan berbicara tentang cinta dan patah hati, sekolah saja kau belum lulus!" ucap Calvin dengan menjitak kepala Ashton dan Ashley dengan pelan.


Ashley bangun dari posisinya, kondisi dengan penuh peluh, tetapi remaja itu sudah memeluk tubuh kekar Arthur tanpa ragu. "Siapapun wanita itu, aku harap dia jauh lebih baik dari Ibu ku, Kak. Kalau perlu, aku, Paman Calvin, Ayah, Kak Chelsea dan lainnya akan mengatakan perjodohan."


GLEK ....

__ADS_1


Perjodohan? Mana mungkin Ayah tega menjodohkan aku dengan wanita jadi-jadian! batin Arthur kesal dengan ucapan Adiknya sendiri.


"Baiklah, akan Kakak nilai wanita itu nanti. Kakak harus siap-siap dulu," Arthur langsung bergegas masuk ke dalam mansion dan menuju kamarnya. Arthur memang sudah sangat lama merencanakan akan melakukan kencan buta, tetapi baru kali ini niat dan tekad menyertai dirinya.


Pria itu masuk ke kamar dan langsung menuju almari yang penuh dengan jas dan kemeja formal, terdapat rak kaca yang penuh dengan sepatu pantofel bermerek, kacamata, dasi, hingga jam tangan bermerek. Setelah memilah, Arthur bergegas berganti pakaian.


"Aku harus bisa menemukan wanita yang bisa mengisi hati ku," gumam Arthur dengan lirih. Pria itu tidak ingin banyak pihak yang mengetahui tentang perasaannya kepada Chelsea. Cukup Nicholas dan Calvin saja yang mengetahui tentang perasaannya.


Arthur menatap penampilan dirinya di cermin dan menata rambutnya sedemikian rupa. Setelah bersiap-siap, Arthur bergegas keluar seraya sibuk memasang jam tangannya. Ashley dan Ashton yang baru saja tiba di lantai atas, langsung terpana melihat ketampanan Kakak mereka.


"Wow, Brother is very handsome!" puji mereka berdua membuat Arthur semakin memiliki percaya diri yang besar.


"Kakak pergi, katakan kepada Ayah kalau Kakak ada urusan!"


Ashley dan Ashton langsung mengacungkan jempol ke udara. Arthur mempercepat langkah dan memasuki mobil mewah miliknya. "Restoran Will's, semoga dia sesuai ekspektasi ku."


Memutar kemudi dengan lancar, Arthur langsung bergerak menuju restoran yang terbilang cukup mewah dan berada di dekat kantor miliknya, tidak jauh. Bahkan dalam beberapa menit saja, mobil mewah tersebut sudah tiba di basement restoran yang cukup sepi. Arthur langsung keluar dan bergegas menuju restoran yang sudah ada di depan mata.


BRUK ....


"Sial! Why did you hit me!" protes seorang wanita yang tampak membersihkan gaun hitamnya yang terkena tumpahan kopinya sendiri.


"Seharusnya kau yang berjalan hati-hati, Nona! Kemeja ku jadi kotor karena kopi mu itu!" sahut Arthur tidak terima. Bahkan kemejanya sudah kotor karena terkena cipratan kopi juga.


Wanita cantik tersebut mengerutkan keningnya dan menadah cepat, "Arthur?"


Arthur langsung menatap wanita di hadapannya dan menghela napas, "Ternyata kau. Sedang apa kau di sini, Sonia?" tanya Arthur yang merasa kemarahannya hilang entah kemana. Sonia menatap penampilan Arthur yang cukup tampan dengan kemeja hitam dan hal itu membuat Sonia merasa terpana.


"Aku ingin bertemu dengan pria yang mengajak ku kencan buta. Lalu kau sendiri sedang apa di sini?" tanya Sonia kembali dengan sibuk membersihkan gaunnya dengan tissue.


"Kau tidak apa-apa? Apakah panas?" tanya Arthur tanpa menjawab pertanyaan Sonia sebelumnya. Sonia menggeleng pelan.


"Tidak apa-apa, kopinya tidak terlalu panas. Lalu kemeja mu? Maaf, aku yang salah." kata Sonia yang menjadi salah tingkah karena sikap perhatian Arthur kepadanya. Arthur menatap kemejanya yang tidak terlalu basah.


"Tunggu sebentar,"


Sonia menatap kepergian Arthur dan kembali dengan membawa blazer hitam, "Pakai lah. Gaun mu cukup terbuka, bagaimana kalau ada pria mata keranjang di sini, itu sangat bahaya."


Sonia mematung melihat sikap hangat Arthur, bahkan pria itu menyelipkan blazer di kedua pundaknya. "Te ... terima kasih, Arthur."


Arthur hanya tersenyum kecil, "Aku harus pergi. Tidak apa-apa?" Sonia mengangguk dan membiarkan Arthur pergi begitu saja. Sonia merasa jantungnya berdetak kencang dan tangannya terasa dingin.


"Kenapa dia sangat tampan hari ini! Membuat jantung ku tidak baik-baik saja!" Gerutu Sonia dengan bergegas menuju restoran tujuannya.

__ADS_1


__ADS_2