
"Tentang pelukan terakhir yang di katakan oleh Chelsea, adalah pelukan terakhir setelah kecelakaan. Kimberly memeluk erat tubuh Chelsea kecil dengan bersimbah darah, kami bertiga benar-benar tidak bisa bergerak dan berharap bahwa ada yang menolong kami. Kimberly mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan putri kesayangan ku, tapi Kimberly melupakan tentang bayi yang dia kandung. Katakan, apa yang harus Ayah lakukan, Zane?"
Masih di ruangan yang sama, suasana tegang masih menyertai di ruangan tersebut. Zane hanya bisa menghela napas berkali-kali, mendengar penuturan sang Ayah. Dirinya juga mulai di buat bingung, kenapa ada orang yang tega melakukan hal serendah dengan memainkan nyawa kecil harmonis.
"Chelsea mengalami hilang ingatan karena benturan di kepalanya, kepingan memori yang hilang sebelum dan sesudah kecelakaan itu, Zane. Aku terpaksa harus membawa Chelsea ke desa mentari dan meminta Arthur untuk membuat berita palsu tentang kematian ku, aku di sana berdalih karena tidak ingin Arthur ikut terseret dalam permasalahan itu. Karena Arthur masih dalam tahap belajar bisnis, dan aku tidak ingin menganggu konsentrasi putra sulung ku," jelas Ayah Robert dengan senyuman getir. Pria paruh baya itu menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya.
"Kimberly selalu mengajak Chelsea melihat bintang saat akan tidur, tanpa melihat bintang maka Chelsea tidak bisa tidur. Tapi semenjak di desa mentari, Chelsea seperti bukan putri yang aku kenal, Chelsea menjadi pendiam dan jarang berinteraksi sosial dengan warga lainnya, tak jarang ada pemuda kampung yang datang hanya untuk berkenalan. Dokter Gerland mengatakan, bahwa ingatan Chelsea bisa saja kembali secara sengaja atau tidak sengaja dan tentang traumanya bisa membekas sampai kapanpun." jelas Ayah Robert dengan sekali tarikan napas.
Bayangan kejadian mengerikan 17 tahun mulai berputar kembali, teriakan dan rintihan Anak dan istrinya begitu masih nyata di pendengarannya. Tanpa sadar, Ayah Robert menangis tersedu-sedu membuat Zane tertegun melihatnya. Apakah sangat mengerikan kejadian itu, hingga membuat orang tersohor ketiga, menangis dan terlihat begitu trauma?
"Ayah baik-baik saja?" tanya Zane dengan tatapan cemas. Pria itu bergegas beranjak dan berdiri tepat di samping sang Ayah Robert.
"Sampai waktunya tiba, jangan membiarkan Chelsea mengetahui ini. Mereka terlalu bermain-main dengan diam ku, termasuk Reno dan Anggun. Dua manusia sampah itu, harus di urus secepatnya." kata Ayah Robert dengan kilatan mata penuh kebencian yang begitu nyata. Zane menatap pria tersebut dengan sendu dan merasa bersalah karena telah mengungkit kenangan lama.
"Apakah Ayah begitu mencintai Ibu Kimberly?"
Ayah Robert terkekeh geli, "Sangat, sampai Ayah tidak bisa mendeskripsikan bagaimana cinta itu kepada istri ku. Semakin hari, Minggu, bulan, hingga bertahun-tahun cinta itu semakin tumbuh sangat besar, hingga tidak ada hal yang bisa mengukurnya selain kesetiaan." ungkap Ayah Robert dengan nada lirih. Zane tersenyum tipis dan mengurungkan niatnya untuk menyatakan pernyataannya.
"Aku sangat kagum dengan Ayah," puji Zane membuat alis Ayah Robert mengerut. "Sangat kagum karena Ayah begitu mencintai Ibu Kimberly hingga detik ini juga, aku memang tidak mengetahui bagaimana pertemuan kalian berdua, tapi aku sangat yakin bahwa Ibu Kimberly sangat bahagia karena di cintai dengan tulus tanpa pamrih oleh laki-laki sejati nan setia seperti Ayah," tambahnya dengan senyuman yang begitu tulus.
Ayah Robert tersenyum kembali dan mengusap air matanya yang luruh, "Nak, semua orang memiliki tabiat mereka masing-masing, Ayah tidak berbeda dengan manusia penuh pendosa, manusia seperti Ayah justru tidak sempurna dan setulus yang kau bayangkan." jawab Ayah Robert membuat Zane hanya mengangguk dan menepuk-nepuk pundak pria paruh baya tersebut.
"Ayah benar, manusia tidak ada yang sempurna dan penuh akan kesalahan. Aku berharap bahwa aku bisa seperti Ayah, setia dengan satu wanita hingga akhir napas ini." lirih Zane membuat Ayah Robert menadah. Ayah Robert berdiri dan langsung merentangkan kedua tangannya, Zane dengan senang hati menerima pelukan hangat tersebut.
"Jaga putri ku sebagaimana aku menjaganya dengan tulus dan penuh cinta. Bila kau menyakiti putri ku, maka peluru ini akan tembus di kepala mu!" kata Ayah Robert dengan sedikit ancaman di akhir kalimat. Zane mengangguk tanpa menjawab dan bersyukur bahwa Zane bergerak cepat untuk menikahi Chelsea, dan bagusnya pula adalah Chelsea tidak menerima tawaran konyol Reno untuk menikah.
...****************...
__ADS_1
Sampainya di mansion, Zane berjalan dengan raut wajah yang begitu lelah, melonggarkan dasinya dengan kasar, dan melepaskan beberapa kancing kemejanya. Raut wajah kelelahan itu tak luput dari Papa Owen dan Mama Bellamy yang sedari tadi berada di ruang tamu.
"Zane," panggil Papa Owen membuat Zane mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamar. Pria itu menoleh dan mendekati kedua orang tuanya.
"Papa dan Mama sedang apa di sini? Ini sudah sangat larut," kata Zane membuat Papa Owen dan Mama Bellamy menghela napas panjang.
"Duduk lah, ada hal yang ingin Papa katakan kepada mu."
Zane menurut dan melepaskan jas dan dasinya, hari yang benar-benar melelahkan, bahkan banyak rapat yang membuat dirinya kelelahan tiada tara. Rasanya ingin segara ke kamar dan melepas penat nya untuk sementara waktu. "Amora sudah minum susu?" tanya Zane dengan melirik Mama Bellamy yang sibuk dengan buku majalahnya.
Merasa di tatap dan di tanya, Mama Bellamy menutup buku majalahnya. "Istri mu sejak tadi menangis," beber Mama Bellamy membuat Zane membulatkan kedua matanya.
"Kenapa tidak menelpon ku! Pasti Amora kesakitan-"
"Bukan karena sakit di kepalanya, Zane." sela Mama Bellamy yang merasa jengkel dengan tingkah putranya yang mulai kembali. Zane mengerutkan keningnya tidak paham dengan jalan bicara kedua orang tuannya.
"Iya, susu hamil strawberry milik Amora." jawab Zane yang kembali mendudukkan dirinya. Sepertinya pembahasan kali ini jauh lebih serius, terlihat dari tatapan mata Papa Owen yang terlihat berbeda dari sebelumnya.
"Bukankah kau kemarin juga membawa susu hamil milik Chelsea? Apakah Chelsea tidak ingin meminumnya?" tanya Mama Bellamy dengan banyak pertanyaan. Zane semakin di buat kebingungan dengan pertanyaan dan pernyataan kedua orang tuanya yang sedikit rasa nyambung.
"Amora meminum susu buatan ku, ada pelayan yang memberinya susu strawberry dan tidak di minum oleh Amora. Apakah ada-"
"Kucing putih pemberian Arthur untuk Chelsea sudah mati, setelah minum susu strawberry yang kau berikan." ungkap Papa Owen secara tiba-tiba membuat jantung Zane berdetak kencang.
DEG ....
"Ma ... mati? Bagaimana bisa?!" Raut wajah gelisah dan khawatir mulai terpatri di wajah pria yang akan menjadi Ayah itu. Mama Bellamy menghela napas panjang dan memberikan sebuah botol yang begitu mencurigakan, yang di temukan di tong sampai depan gerbang oleh satpam.
__ADS_1
"Ini racun tikus, sepertinya dugaan Mama ada yang ingin meracuni Chelsea melalui susu hamilnya." jelas Mama Bellamy dengan memberikan botol yang masih berisi sedikit cairan putih tersebut. Zane mengambil dan menatap sempel yang tertera, lagi dan lagi Zane begitu beruntung karena Chelsea tidak meminum susu hamilnya secara sembarangan.
"Sial! Aku hampir saja kecolongan lagi!" geram Zane dengan menatap botol tersebut berapi-api. Papa Owen terbatuk kecil, membuat fokus Zane teralihkan kembali.
"Ada yang bermain keji di mansion ini, karena CCTV di mansion semuanya di non aktifkan. Jadi tidak terekam sama sekali," tutur Papa Owen membuat Zane semakin di buat marah bukan main, tangan pria itu terkepal kuat dengan urat-urat mulai menonjol.
BRAK .....
"Zane!" tegur Mama Bellamy yang terkejut karena Zane tiba-tiba saja menendang sofa dengan keras. Papa Owen menahan sang istri untuk tidak mencegah sang putra.
"Biarkan Zane tenang dulu, Ma." nasihat Papa Owen membuat Mama Bellamy begitu khawatir saat melihat sang putra menaiki anak tangga menuju kamar.
"Mama tidak habis pikir dengan orang yang tega, yang akan membunuh Chelsea. Sebenarnya ada masalah apa?" Mama Bellamy memijat keningnya. Papa Owen juga turut memijat pelipisnya yang tiba-tiba saja berdenyut nyeri.
"Papa akan menyelidiki racun tikus itu, Mama tenang saja." jawab Papa Owen membuat Mama Bellamy tersenyum lega.
Sedangkan di sisi lain, Zane menghidupkan lampu kamar dan menatap wanita yang tangan tertidur pulas di bawah selimut tebal. Perasaan marah, rasa letih nya langsung hilang dan tergantikan oleh senyuman lega. Berjalan mendekati ranjang dan berjongkok di hadapan sang istri.
"Maafkan aku, aku hampir saja kecolongan lagi." Bisik Zane dengan membelai wajah cantik yang istri. Chelsea menggeliat nyaman dan mengerutkan keningnya kala merasa ada seseorang di hadapannya.
"Zane?" racau Chelsea yang enggan untuk membuka mata. Zane tersenyum samar, jejak air mata di bantal menjadi saksi bisu bahwa Chelsea benar-benar menangis perihal kucingnya meninggal karena racun tikus.
"Aku disini," bisiknya sebagai jawaban. Chelsea tersenyum dan menggenggam erat jari-jari kekar itu. Zane mengeratkan genggaman tangannya dan tangan lainnya mengusap perut rata sang istri.
"Maafkan Daddy, Nak." lirih Zane dengan mengecup sekilas perut tersebut dengan perasaan khawatir. Bersyukur dan sangat bersyukur kalau Chelsea tidak minum susu pemberian pelayan kemarin, bila Chelsea meminumnya tidak bisa di bayangkan apa yang akan terjadi.
Zane bahkan tidak sanggup untuk membayangkan tentang hal itu, melihat Chelsea menangis saja sudah membuat Zane sakit hati dan merasa gagal menjaga, apalagi nantinya benar-benar kehilangan bayi dan Chelsea sekaligus. Zane tidak ingin itu semua terjadi.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus bertindak kali ini, akan aku balas dengan tangan ke tangan." Gumam Zane dengan tatapan yang benar-benar tajam dan penuh dengan misterius. Zane enggan untuk menarik tangannya dan memilih untuk ikut bergabung dalam alam mimpi.