
Dengan keadaan kacau dan berantakan, Zane tetap berjalan menyusuri sebuah gudang tua tak berpenghuni itu. Tatapannya tajam dan ada beberapa luka di bagian telapak tangan.
"Selamat datang, Tuan Zane."
Hening.
Tak ada sahutan yang keluar dari Zane, pria itu hanya tetap pada pendiriannya, datar dan tak mengeluarkan suara. Bahkan pria yang menjadi sahabat dekatnya di sana hanya tersenyum tipis melihat sifat Zane yang kembali seperti awal.
"Lama tidak bertemu, Zane." sapa pria bertubuh kekar dengan kumis tipis. Zane menatap uluran tangan tersebut dengan tidak minat.
"Aku tidak ingin berbasa-basi, Dragon."
Dragon Nychol Obert, seorang mafia berdarah dingin yang begitu di takuti oleh dunia gelap. Dragon adalah nama samarannya yang tersembunyi, hingga tak ada satupun yang mengenal atau mengetahui nama aslinya hingga saat ini. Dragon adalah pria perawatan tua yang tak terlalu muda, pria yang masih lajang dan belum memiliki status pernikahan.
Dragon menarik uluran tangannya dan menggaruk tengkuknya. "Baiklah, katakan kenapa kau ingin bertemu dengan ku? Apakah ada hal yang tidak bisa kau selesaikan, sobat?" tanya Dragon dengan menyesap nikotin miliknya.
Zane menghela napas panjang dan berusaha untuk tidak terbawa emosi mengingat penculik yang di alami oleh Istrinya. "Istrinya di culik oleh seseorang saat berada di pusat perbelanjaan," ungkap Zane membuat Dragon menoleh dan tertawa kecil.
"Bukan masalah besar, kenapa tidak kamu tangkap sendiri saja penculik tengil itu?"
Zane terdiam sejenak, banyak alasan mengapa dirinya tak banyak bertindak seperti yang di katakan oleh Dragon. Sebenarnya bisa saja Zane bertindak tanpa melibatkan seorang mafia berdarah dingin seperti Dragon. Kekuatan dan kekuasaan yang di miliki oleh Zane, benar-benar sebanding dengan apa yang dimiliki oleh Dragon, bahkan tak jarang Dragon kerap membantu Zane begitu pula sebaliknya.
"Aku tidak ingin membongkar rahasia ini kepada istri ku," kata Zane dengan tatapan nanar. Zane merindukan istrinya sekarang, suami mana yang akan tenang bila istri atau wanita yang sangat dicintainya pergi begitu saja. Terlebih lagi kondisi Chelsea yang mengandung buah hatinya, tak dapat Zane bayangan bagaimana reaksi Chelsea bisa mengetahui tentang identitasnya.
"Jadi istri mu belum mengetahui rahasia ini?" tanya Dragon memastikan.
"Belum waktunya. Aku akan fokus membebaskan istriku, dan kamu hanya fokus pada tujuan yang aku perintahkan. Kau mampu?"
Dragon menangkap sesuatu yang Zane berikan kepadanya, Sebuah pisau dan pistol. "Ya, tentu saja. Aku akan membantu sahabat ku ini,"
Zane tersenyum menyeringai dan membenarkan jasnya. "Target pertama yang harus kau incar adalah ...."
Dragon mendekatkan diri dan sedikit terkejut dengan apa yang bisikkan oleh Zane, "Tasya?"
"Kecil kemungkinan bila wanita itu tidak ikut terlibat. Istri ku di culik saat ada Tasya dan Ibu tirinya. Kau harus mengerahkan anak buah untuk mencari tahu tentang siapa dalang penculikan istrinya, termasuk Tasya dan Anggun." jelas Zane dengan tatapan yang begitu buas. Rasanya sungguh tidak akan tenang bila pelaku utama tidak tertangkap oleh tangannya sendiri.
"Kenapa kau bisa yakin bila Bibimu lah yang melakukan penculikan ini?" tanya Dragon tak mengerti.
"Banyak hal yang mendasari kecurigaan ku ini, Dragon. Salah satunya adalah pemaksaan Tasya yang ingin mengajak istriku keluar,"
Dragon terdiam sejenak, Zane sudah memberitahu tentang hal itu kepadanya saat di telepon. Dragon mulai menaruh rasa curiga yang sama kepada Tasya yang terlihat masih tak menyukai kehadiran dari Chelsea. Dragon menyimpan benda yang di berikan oleh Zane kepadanya dan melempar sesuatu kepada pria tersebut.
"Ambil,"
"Untuk apa ini?" tanya Zane seraya menatap benda aneh yang ada di tangannya.
"Itu adalah racun. Bawahanku memberikan data jual-beli racun kapsul atas nama Clara. Mungkin saja wanita ini ada sangkut-pautnya dengan penculikan istri mu. Kau simpan dan aku juga simpan, racun ini sangat mematikan, kita bisa memberikannya kepada musuh nanti. Kau paham maksud ku?"
__ADS_1
Tangan Zane terkepal kuat dan rahangnya mengeras, "Clara."
...****************...
Sedangkan di sebuah rumah terbengkalai di pelosok desa, tepatnya di tengah-tengah hutan. Rumah usang yang menjadi tempat berlindung seorang penculik dari jangkauan polisi. Terdapat 2 orang berlawanan jenis tengah saling bertatapan.
"Apa yang kamu masukkan ke dalam kapsul itu?"
"Racun,"
GLEK ....
Wanita berpakaian berantakan itu menadah menyeringai. "Kau takut?"
"Mau kau apakan racun itu, Clara?" tanya pria yang tak lain adalah Bayu itu dengan tangan bergetar. Walaupun dirinya seorang pembunuh, tetapi dalam seumur hidup dirinya tak pernah berani memegang yang namanya racun.
"Menurut mu?"
Bayu mengerutkan keningnya saat Clara melemparkan pertanyaan kepadanya. Clara merapihkan alat-alatnya dan menatap Bayu dengan senyuman jahat, "Bila racun ini masuk ke tubuh mu, maka kau aka ...."
Bayu menjadi tegang saat Clara memperagakan tangannya di depan leher, "mati." Imbuhnya.
Tak lama dari itu, Clara tertawa renyah melihat wajah ketakutan dari pria tersebut. Clara mendekati sebuah kursi kayu, di mana Chelsea masih betah memejamkan matanya karena pengaruh obat tidur. "Kau adalah penghalang bagi ku untuk mendapatkan Robert, Chelsea. Kau harus mati seperti Ibu mu yang payah itu!" gumamnya menyeringai seraya mengelus pipi Chelsea dengan jahat.
Tok ... tok ....
Clara dan Bayu menoleh saat pintu kayu usang tersebut terbuka, ternyata Anggun dan Tasya. "Apakah ada pembahasan spesial?" tanya Anggun dengan wajah angkuhnya.
"Makan siang untuk kalian berdua," katanya dengan menatap Chelsea. "Bagaimana dengan wanita ini? Apakah dia sudah mati?"
"Belum, aku tidak mungkin membunuhnya dengan cepat."
Anggun dan Tasya saling bertatapan, "Apa rencana mu, Clara?" tanya Anggun yang tak mengerti dengan jalan permainan yang di lakukan oleh Clara.
Perempuan tersebut bangkit dan menatap kedua wanita di belakang sana dengan senyum tak biasa, "Mana mungkin aku membunuhnya dengan tanpa aku mendapatkan keuntungan. Setidaknya setelah Robert menjadi milikku, maka aku langsung menghabisinya." jelas Clara membuat Tasya menelan ludahnya dan melirik Bayu yang sudah tak baik-baik saja.
"Kau yakin?"
"Tentu saja. Aku tidak seperti mu yang begitu gegabah," sindir Clara dengan memainkan kuku panjangnya dengan tanpa menatap Anggun.
"Ck, bila kau dalam waktu dekat belum juga membunuh Chelsea, maka aku dengan senang hati-"
"Sebaiknya kau diam, Anggun!" tegur Tasya yang begitu muak dengan sikap Anggun yang begitu angkuh melebihi dirinya. "Bila kau membunuhnya, maka kau tidak akan pernah mendapatkan harta dari keluarga Lemos," tambahnya dengan melipat kedua tangannya.
"Bahkan mendapat 1 batang emas saja dia tidak pantas," ketus Clara yang langsung menatap sengit ke arah Anggun. Clara sengaja menyenggol bahu Anggun dengan kuat dan penuh permusuhan. Bukan tanpa alasan dirinya bersikap demikian, Clara sudah mengetahui apa yang di lakukan oleh Anggun hingga melibatkan seseorang tewas mengenaskan dengan tubuh tak terbentuk lagi.
"Hey, Do you have a problem with me?!"
__ADS_1
"Yes!" jawab Clara dengan lantang, "Kalau saja diriku tidak gegabah membunuh seseorang, tidak mungkin kau dan kita terlibat dengan kepolosan. Termasuk Tasya dan kau," Clara menunjuk ke arah Bayu dan Tasya secara bergantian.
"Memangnya apa yang aku lakukan! Kau sudah tahu apa-apa!" kesal Tasya yang sudah di ubun-ubun. Bayu hanya menyimak perdebatan ketiga wanita tersebut dengan malas.
"Kalian-"
"Sudahlah. Tidak perlu berdebat lebih jauh! Kalian memiliki tujuan yang sama, yaitu menghancurkan keluarga Lemos, mendapatkan harta, dan kedudukan, sedangkan tujuan ku adalah Adikku!" sela Bayu yang mulai kesal dengan tingkah ketiga perempuan di hadapannya. Otot leher Bayu sudah terlihat sejak tadi, hanya saja ia memilih untuk diam untuk menahan rasa kesalnya.
"Sebaiknya kita memikirkan cara, bagaimana agar Zane tidak menemukan posisi kita sekarang!"
Ketiga wanita di sana terdiam saat melihat Bayu mendekati Chelsea, "Secepatnya kita harus membunuhnya bila ingin tujuan kita tercapai secara bersama-sama." gumamnya yang masih terdengar jelas di pendengaran ketiga wanita tersebut.
Bayu menatap wajah Chelsea yang kedua matanya di tutupi oleh kain hitam, kedua tangan serta kakinya yang terikat hingga membuat wanita hamil itu pasti susah untuk bergerak dan kesakitan. Bayu menghela napas pelan dan mencoba untuk mengontrol emosi dalam dirinya.
Suara rintihan dan teriakan Chelsea sejak kemarin begitu membuatnya iba, ada rasa penyesalan karena telah membuat masalah dan terikat dengan ketiga wanita gila. Bahkan karena kecerobohannya, Adiknya ikut terjerat dan sekarang sebagai alat ancam baginya.
Aku pasti akan membantu mu untuk bebas dari mereka. Aku berjanji.
"Bagaimana kalau kita berpindah posisi?" usul Bayu secara tiba-tiba membuat ketiga wanita yang tengah berperang dingin di sana menoleh cepat.
"Apa maksud mu, pria bodoh?!"
Bayu berbalik badan dan memasukkan kedua tangannya ke saku. "Aku merasa tempat ini sedang di intai dan di awasi dari kejauhan," ucapnya dengan penuh kebohongan. Setidaknya dengan memberikan usul untuk berpindah tempat lagi, bisa membuat Zane mengetahui posisi mereka.
Anggun melipat kedua tangannya. "Mau pindah ke mana lagi? Kita sudah tiga kali berpindah tempat!"
Bayu terdiam dan berpikir untuk menjawab perkataan dari janda beranak dua itu. "Aku memiliki tempat yang cukup baik dari gubuk tua usang ini. Tempatnya cukup aman untuk kita dan juga Chelsea," jelas Bayu yang langsung melirik ke arah Clara, karena merasa wanita itu menatapnya tajam dan tak bicara.
"Ada apa menatap ku seperti itu?" tanya Bayu dengan alis mengerut. Pria itu berusaha untuk menyembunyikan apa yang tengah ia rencanakan walaupun belum sepenuhnya berjalan sempurna.
Clara berjalan mendekati Bayu dan sedikit mencondongkan tubuhnya. "Kau mengira, kau bisa mengelabui ku?"
GLEK ....
"Mengelabui bagaimana? Bukankah usul dari Bayu itu bagus!" sahut Tasya dengan sengit. Clara menoleh tajam dan meminta wanita itu untuk diam.
"Dengan kau memberikan usul yang begitu buruk, kau bisa mengelabui ku? Kau pasti akan menghubungi Zane untuk menyelamatkan Chelsea kan! Jawab aku!" desak Clara dengan urat menonjol begitu jelas. Bayu menatap datar wanita tersebut dan menatap angkuh.
"Kau pikir, aku berani melakukan hal itu, di saat Adikku masih kau sandera? Pemikiran mu begitu dangkal, Clara." ketus Bayu, "aku menjadi seperti ini karena uang dan kehidupan yang layak untuk Adikku." tambahnya yang langsung menatap Tasya yang sudah menjadi tegang.
"Kalau bukan karena wanita udik yang sok memerintah tapi tidak mau membayar, aku bahkan siap membunuhnya saat ini juga."
DEG ....
Anggun melirik Tasya dan Bayu secara bergantian dan terkekeh sins. "Aku mengira kau wanita banyak uang, tapi ternyata pemikiran ku salah."
"Kau tidak melakukan pekerjaan dengan benar, tapi kau meminta imbalan? Hey, kau pikir-"
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan mu? Seharusnya kau juga mengawasi Daniel dan Nicholas! Karena kelalaian mu, semua barang ku harus tertinggal dan kau ...," Bayu menunjukkan Tasya dengan penuh emosi. "Kau sebaiknya diam atau aku akan membuat peluru pistol ini bersarang di kepala mu!" ancam Bayu dengan memperlihatkan pistol miliknya. Tasya bergerak mundur karena terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Bayu, pria itu menodongkan pistol miliknya ke arah Tasya sebagai bentuk pembelaan diri.
Kalian belum mengenal aku siapa.