Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Cerita Masa Lalu


__ADS_3

Chelsea celingak-celinguk di sekitar taman, wanita hamil itu membuat para bodyguard yang berjaga di sekitar taman juga ikut keheranan dengan tingkah istri dari Tuan mereka.


"Nyonya," panggil salah satu bodyguard yang memberanikan diri untuk memanggil. Mereka semua bisa saja terkena amukan dari Zane, karena tidak melarang, atau melakukan sesuatu untuk menjaga istrinya.


Chelsea menoleh dan tersenyum tipis, "Apakah kalian melihat kucing ku?" tanya Chelsea membuat semua bodyguard di sana saling bertatapan.


"Kucing?" beo Ricky, salah satu bodyguard yang sempat menggendong kucing putih milik Chelsea kala itu.


"Iya, kucing putih berkalung. A ... aku tidak bisa menemukannya sejak tadi, biasanya dia di taman belakang," kata Chelsea dengan raut wajah sedih. Kucing pertama dari Arthur yang begitu menggemaskan, Chelsea rasanya ingin menangis karena tidak bisa menemukan kucing bertubuh mungil itu.


"Mungkin saja kucing Anda, ada di outdoor cat house nya, Nyonya." jawab Ricky membuat Chelsea menggeleng.


"Aku sudah kesana, tapi tetap tidak ada. Tolong carikan dia untuk ku, Ric."


Ricky menatap para bodyguard lainnya yang mengangguk sebagai tanda setuju, lagipula mereka tidak berani untuk menolak perintah dari Chelsea. "Sebaiknya Nyonya duduk saja, kami akan mencari di sekitar mansion." balas Ricky, Chelsea menghembuskan napas panjang dan mengangguk.


"Baiklah. Beritahu aku bila kucing putih ku ketemu," Ricky mengangguk dan langsung memancar bersama bodyguard lainnya. Chelsea mulai gelisah dan mendudukkan dirinya di sofa yang ada di teras rumah.


Kali ini, Zane tidak bersamanya. Pria itu pergi ke kantor karena Daniel menelpon, dan mengatakan ada hal yang mendesak dan juga Zane harus menghadiri rapat dengan para klien. Di mansion besar itu, hanya ada Chelsea, Mama Bellamy, si kembar dan kedua wanita yang membuat Chelsea tidak habis pikir, Sonia dan Ibunya.


"Chelsea,"


Wanita berbadan dua itu menoleh dan tersenyum tipis saat Mama Bellamy datang dengan diikuti satu pelayan di belakang sana. "Sedang apa kau di sini? Kau harus istirahat, Nak. Zane akan marah kepada mu nanti," kata Mama Bellamy yang ikut bergabung di sebelah sang menantu.


"Taruh di sini, kau pergi lah." titah Mama Bellamy kepada sang pelayan. Kini di meja kaca di hadapan mereka, ada nampan berisi piring buah-buahan dan susu coklat. Mama Bellamy sengaja memberikan nutrisi lebih yang jauh lebih sehat kepada Chelsea.


"Ma, aku tidak bisa menemukan kucing ku. Sejak pagi aku tidak melihatnya," jawab Chelsea dengan cemas. Mama Bellamy mengerutkan keningnya.


"Kucing putih dari Arthur?" tanya Chelsea memastikan. Chelsea mengangguk sebagai jawaban. Mama Bellamy juga tidak melihat kucing berbulu putih yang di maksud oleh Chelsea sejak kemarin, biasanya Alex atau para pekerja mansion menggendong kucing itu dan mengajaknya bermain di taman belakang.


"Pasti Kak Arthur akan sedih bila kucing pemberiannya tidak bisa aku jaga," lirih Chelsea. Mama Bellamy tersenyum dan mengusap rambut wanita itu.


"Jangan terlalu di pikirkan, kau sedang hamil, Nak. Makan lah, setelah itu minum susu hamil mu." Chelsea mengangguk kecil dan memasukkan bongkahan buah ke mulutnya. Sifat sensitifnya mulai kembali, walaupun hanya perkara kucing hilang tidak terlalu di pikirkan, tapi berbeda untuk Chelsea.


"Aku merasa kalau ada perbedaan dalam diri ku, Ma." celetuk Chelsea membuat wanita paruh baya tersebut menoleh. Sebuah senyuman terbit begitu saja di sudut bibirnya.

__ADS_1


"Selama 9 bulan lamanya, kita akan mengalami sisi yang cukup berbeda dari sebelumnya, Nak. Ada yang sensitif di bagian penciuman, tingkah, dan rasa ngidam. Semua hal itu adalah bagian yang begitu harus kita nikmati, Nak." jelas Mama Bellamy membuat Chelsea mengangguk mengerti. Tidak lama dari itu, Ricky datang dengan tergesa-gesa.


"Nyonya," Ricky langsung membungkuk hormat.


"Bagaimana, Ric? Kau menemukan kucing ku?" tanya Chelsea dengan menatap Ricky penuh rasa harap. Ricky menelan ludahnya sendiri, bagaimana caranya mengatakan bahwa kucing milik Chelsea sudah meninggal di taman belakang dekat pohon, karena keracunan sesuatu.


...****************...


Di ruangan kerja, terlihat kedua orang pria saling bertatapan selama beberapa menit. Ruangan yang sama, yang sempat Zane masuki saat berkunjung bersama Chelsea. Ayah Robert mengerutkan keningnya, kala melihat sesuatu yang aneh dari menantunya.


"Ada apa, Zane? Kau datang tiba-tiba, apakah ada sesuatu kepada Chelsea?" tanya Ayah Robert yang mulai terlihat khawatir. Zane menghela napas dan mengeluarkan sebuah map coklat yang sempat, Nicholas berikan kepadanya beberapa hari yang lalu.


"Aku ingin menanyakan tentang ini, Ayah." Jawab Zane dengan menyodorkan kembali map coklat yang masih membuatnya menjadi penasaran hingga sekarang. Ayah Robert mengambil dan membuka map tersebut, terdapat beberapa lembar foto, flashdisk, dan juga lembaran putih di sana. Melihat hal tersebut, kedua mata Ayah Robert rasanya ingin terlepas dari tempatnya.


Bagaimana bisa Zane mendapatkan informasi ini? batin Ayah Robert tidak mengerti.


Melihat tatapan dari sang Ayah mertua, Zane menyunggingkan senyum tipis. "Melihat raut wajah Ayah, aku merasa bahwa Ayah mengetahuinya." celetuk Zane membuat Ayah Robert menghela napas dan menaruh kembali map tersebut.


"Sebenarnya apa yang ingin kau tanyakan, Zane?"


"Apa benar Ibu Anggun mantan dari wanita malam di rumah bordil?" tanya Zane membuat Ayah Robert terdiam sejenak. Melihat bagaimana rasa penasaran dari pria dihadapannya, dan rasa penasaran juga dalam dirinya membuat Ayah Robert bergerak di arah salah satu buku yang selama ini tertata rapi dengan buku lain.


Zane menyipitkan matanya saat melihat Ayah Robert mengambil buku yang cukup tebal dan berjalan mendekatinya, "Selama 17 tahun lamanya, aku menyembunyikan tentang identitas asli dari Anggun. Mungkin kau orang pertama yang harus mengetahuinya,"


Ayah Robert membuka buku tersebut dan Zane hanya berekspresi datar saat melihat buku di tangan Ayah Robert, sangat berbeda dari buku lainnya, "Ini sebuah kotak yang sengaja aku pesan dalam menyerupai buku dulu." ungkap Ayah Robert membuat Zane hanya terdiam kembali.


"Anggun adalah wanita bordil yang sengaja menjebak Ayah saat itu, lebih tepatnya Ayah yang menjebak nya agar tidur dengan Ayah. Wanita itu terlalu bermain-main dengan ku, Ayah juga merasa bahwa Anggun mengetahui tentang kecelakaan tunggal yang keluarga kecil ku alami," jelas Ayah Robert dengan menatap sebuah beberapa lembar foto yang sangat Ia benci hingga saat ini.


"Tapi Ayah merasa bahwa pelaku dari kecelakaan itu bukanlah Anggun." tambahnya dengan menatap satu buah foto dirinya dan Anggun saat selesai bercinta. Ayah Robert memotretnya diam-diam dan menyimpannya dengan sangat rapi.


"Apakah Ayah juga mengetahui tentang kasus suap kepada tiga oknum polisi?" tanya Zane kembali membuat Ayah Robert terdiam.


"Ayah mengetahuinya, dan sekarang Ayah harus menuntut perbuatan tidak terpuji mereka. Hanya haus akan uang, mereka bertiga dengan teganya menghentikan penyelidikan kasus kecelakaan itu. Mereka harus mendapatkan ganjaran yang setimpal," tatapan Ayah Robert begitu berkilat marah, suami dan Ayah mana yang tidak akan marah saat oknum yang seharusnya menolong masyarakat malah menjadi sampah masyarakat.


"Apakah perlu aku bantu?" tawar Zane membuat Ayah Robert melirik pria 30 tahun itu. "Aku melakukan ini agar Amora tidak harus memikirkan kejadian mengerikan itu, Ayah."

__ADS_1


"Chelsea? Ada apa dengan putri ku?" tanya Ayah Robert. Perasaannya mulai tidak enak sejak kemarin, mungkin itu di sebabkan karena terus memikirkan kondisi Chelsea.


"Kemarin, Amora mengatakan bahwa kapan terakhir Ibu Kimberly memeluknya, Chelsea langsung mengeluh kesakitan di bagian kepala. Ayah, apakah Amora memiliki trauma pasca kecelakaan itu?" tanya Zane dengan raut wajah serius.


"Iya dan kata dokter sewaktu-waktu bisa kembali datang," jawabnya dengan lirih. Ayah Robert menutup wajahnya yang begitu membuat Zane tidak bisa berpikir jernih. Chelsea masih mengalami trauma dan rasa traumanya sewaktu-waktu bisa kembali.


"Ayah, tolong ceritakan kepada ku semuanya tentang kalian. A ... aku tidak ingin Amora tertekan dengan kondisinya yang tengah mengandung,"


DEG ....


Pernyataan dari Zane membuat tubuh Ayah Robert menjadi kaku dan sontak menatap pria di hadapannya, "Mengandung?"


Zane menghela napas dan melupakan tentang memberi tahu kabar kehamilan Chelsea, "Amora saat ini tengah mengandung 7 minggu, janinnya kembar. Aku dah Amora sepakat untuk membuat resepsi pernikahan, apakah Ayah keberatan dengan keputusan kami?" tanya Zane kepada sang Ayah mertua.


Seulas senyuman mulai terpatri di wajah pria yang masih tampak tampan di usia nya, "Tentu saja. Dan aku memiliki kejutan besar untuk dunia, kau harus mengadakan konferensi pers untuk ku, bagaimana?"


Zane melipat kedua tangannya dan mengangguk setuju. Tanpa Ia tanya, Zane sudah mengetahui tujuan di konferensi pers yang di maksud oleh Ayah Robert, "Aku akan mengaturnya."


"Ayah akan memberitahu semuanya tentang masa lalu hingga terjadinya kecelakaan itu. Ayah berharap kau mampu menjaga putri semata wayang ku dari mereka," harap Ayah Robert membuat Zane mengulas senyuman tipis. Chelsea adalah dunianya, mana mungkin Zane akan membiarkan orang idiot di luaran sana menyentuh keluarganya.


"Ayah tenang saja, mereka belum mengetahui siapa Zane Abraham Lincoln yang sebenarnya." sanggah Zane dengan memainkan jari-jarinya di bawah sana. Suasana ruangan kembali menjadi hening beberapa saat, Zane sibuk menatap map coklat pemberian dari Nicholas, sedangkan Ayah Robert khawatir dengan kondisi sang putri.


"Kenapa Ayah menutupi semua informasi tentang Ibu Anggun?" tanya Zane setelah beberapa lama terdiam. Ayah Robert mengangkat pandangannya.


"Ayah hanya ingin bermain-main sebentar, lagipula hingga saat ini Anggun belum mengetahui tentang identitas ku, karena hanya Ayah yang boleh bermain-main dengan wanita ja la ng itu." jelas Ayah Robert dengan raut wajah datarnya.


"Itu artinya kecelakaan 17 tahun lalu, Ayah juga menutupinya dari awak media?" tebak Zane membuat Ayah Robert terkekeh geli.


"Menurut mu siapa?"


Zane tak habis pikir dengan Ayah dari Chelsea ini, walaupun sudah di makan usia, tetap saja pemikirannya begitu sangat tajam tentang kejadian masa lalu. Zane tidak tahu seberapa mengerikannya kejadian 17 tahun lalu, hingga membuat Ayah Robert begitu menaruh dendam dan Chelsea yang mengalami trauma serta hilang ingatan tentang kecelakaan itu.


"Lalu bagaimana dengan Reno? Apakah Ayah mengetahui tentang bocah ingusan itu?" Zane merasa tidak sudi untuk memanggil Reno dengan nama. Menyebut dengan nama 'bocah ingusan' saja sudah membuat Zane merasa jengkel sekarang.


"Ayah akan mengurus nya, lagipula Pak Gunawan dan Ibu Asih pasti akan menghukum putra bungsu mereka."

__ADS_1


__ADS_2