Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Aku Masih Hidup


__ADS_3

Arthur benar-benar di buat gila bukan main saat mendengar dari Daniel, bahwa adiknya—Chelsea di culik oleh seseorang saat berada di mall. Pria itu bergerak gusar dan tak menentu, membuat Calvin yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja Arthur, kebingungan.


"What happened to you?"


Arthur menoleh dan menghembuskan napas, "Apakah kau mendapatkan kabar dari Daniel?" tanyanya mengabaikan pertanyaan Calvin.


"Tidak," jawab Calvin singkat. "Apakah kau sudah memberitahu Ayah Robert tentang ini?"


Arthur seketika terdiam di tempat, suasana ruang kerjanya begitu pengap, membuat Arthur seperti cacing kepanasan. Rasa takutnya belum hilang, dan saat ini di tambah dengan Chelsea di culik. "Apakah harus?"


Calvin meletakan dokumen kerjanya di meja dan menyodorkan bolpoin kepada Arthur, "Tanda tangan lah. Ini dokumen proyek kita selanjutnya," papar Calvin dengan raut wajah datar.


Sebenarnya Calvin juga terkejut mendengar berita dari Daniel, bahwa Chelsea di culik oleh seseorang. Tetapi Calvin mencoba untuk tetap tenang, karena bisa saja Arthur terpancing dan penyakitnya kembali kambuh.


"Proyek apa?"


"Proyek pembangunan di kota sebelah, bulan depan kita harus turun ke lapangan untuk peninjauan secara langsung," jelas Calvin membuat Arthur hanya menghela napas panjang.


"Berikan aku laporan keuangan bulan kemarin,"


Calvin memberikan map berwarna biru, "Ada yang ingin aku katakan kepada mu. Ini cukup penting untuk perusahaan kita,"


Arthur menadah dengan raut bingung. Melihat keseriusan dari Calvin, Arthur memilih untuk tidak menyela. "Katakan saja,"


"Dana perusahaan kita di gelapkan,"


BRAK .....


"APA?!"


Calvin mengelus dadanya—terkejut, "Tenang dulu, aku-"


"KAU BILANG TENANG!" hardik Arthur dengan urat-urat leher sudah terlihat. Pria itu langsung mengambil dokumen keuangan dan mengepalkan tangannya. "Siapa yang melakukan penggelapan dana sebanyak ini, Calvin?!"


Sebenarnya Arthur adalah orang yang begitu tenang dan santai, dirinya tidak akan bertindak atau melakukan sesuatu yang menyakitkan bila bukan orang lain yang membuat masalah dengannya. Kerugian katakan penggelapan dana sampai jutaan juta, adalah hal kecil baginya. Hanya saja uang tersebut adalah milik perusahaannya, maka Arthur benar-benar di buat marah bukan main.


"Pengelola keuangan perusahan yang baru adalah Rico!"


BRAK ....


Calvin hanya menatap datar saat dokumen yang ia bawa, di banting kuat-kuat di atas meja. Sudah Calvin duga, bawa Arthur akan marah besar dan dirinya sudah mengetahui tentang penggelapan dana sejak seminggu yang lalu, tetapi kondisi untuk memberitahu tentang hal tersebut, tidak menemukan yang tepat dan Calvin memilih untuk menyimpan serta menyelidiki semuanya sendiri.


"Brengsek!" Arthur bergegas keluar, Calvin juga menyusul dengan cepat-cepat. "Apa alasan Riko melakukan ini semua?!" tanyanya dengan wajah begitu merah.


"Menurut informasi yang aku dapatkan, Rico meminjam uang perusahaan untuk kepentingan perobatan Ayahnya," balas Calvin semakin membuat raut wajah Arthur tak sedap untuk di pandang. Banyak karyawan yang berlalu-lalang, langsung terdiam tertunduk ketakutan.

__ADS_1


"Kau berani menipu ku ternyata. Kau mengira aku tidak mengetahui semuanya?" gumam Arthur dengan menyeriangi, Calvin mengerutkan keningnya dengan wajah terkejut.


"Kau sudah-"


TAK ....


Seluruh karyawan di sebuah ruangan di sana terkejut karena pintu tiba-tiba terbuka dengan kuat. "Selamat siang, Tuan-"


"Di mana Rico?!" tanya Arthur dengan wajah memerah padam. Seluruh karyawan laki-laki dan perempuan yang menjadi partner kerja Rico kebingungan.


"Tuan, Rico sedang berada di-"


"Selamat siang, Tuan Arthur dan Tuan Calvin." sapa seseorang membuat mereka semua menoleh ke arah pintu. Rico.


Arthur menatap menghunus tajam ke arah Rico yang tampak bingung dengan ketegangan di dalam ruang kerjanya.


"Tuan, kenapa-"


"Saya memecat mu dan mem-blacklist nama Anda dari seluruh perusahaan yang ada!"


DEG .....


Bukan hanya Rico yang terkejut dengan penuturan sang atasan, Calvin bahkan ikut terkejut tetapi apa yang bisa Ia lakukan, tidak ada. Perbuatan Rico sudah di luar batas pemikiran karyawan yang lain.


Rico terkejut mendengar bahwa dirinya di pecat secara tiba-tiba, "Tuan, apakah saya memiliki kesalahan hingga di pecat?" tanyanya dengan raut wajah bertanya-tanya. Arthur menyungging senyum miring dan melipat tangannya dengan angkuh.


DEG .....


Jantung Rico begitu berdetak kencang karena perbuatan jahatnya ternyata telah tercium oleh atasannya sendiri, "Tuan, sa ... saya meminjam uang untuk pengobatan Ayah saya!" tampik Rico yang tak terima di pecat secara sepihak.


"Really? Bukankah Ayah dan Ibu Anda sudah tiada 2 tahun yang lalu, dan siapa yang Anda lakukan pengobatan itu?"


SKAKMAT dari Arthur. Rico tampak tak bisa berkutik dengan ucapan atasannya sendiri. Rico langsung menjatuhkan tubuhnya, bersimpuh. "Tuan, maafkan saya, Tuan! Saya tidak bermaksud untuk melakukan penggeledahan dana perusahaan, Tuan!"


Arthur berdecak marah, "Saya sudah mencium penghianatan mu sebulan yang lalu. Anda datang membawa dokumen untuk proyek dan saya menandatangani, kau mengira saya bodoh?"


...****************...


"Aku siap membantu mu, Tuan."


Seorang pria dan wanita saling bertatapan. Di sebuah ruangan tertutup, pria paruh baya mengelus rambut seorang wanita dengan penuh kasihan.


"Kau yakin?"


"Very confident, Sir."

__ADS_1


Mendengar jawaban yang begitu tegas, membuat pria paruh baya tersebut hanya menyungging senyum tipis, "Putri ku di culik dan keluarga Lincoln sedang berusaha untuk menangkap pelaku nya." gumam Pria tersebut yang tak lain adalah Robert.


Dengan pakaian formal, Robert menatap wanita yang tidak terlalu tua di hadapannya yang hanya diam, dengan sebuah perban melilit di kepalanya.


"Jadi apa rencana mu, Tuan?" tanya wanita tersebut dengan meringis pelan memegangi kepalanya yang berputar-putar.


"Tujuan ku sejak awal adalah membalaskan dendam atas kematian dan penderita Putri ku, Chelsea. Terlebih lagi Clara sudah muncul, setelah apa yang Ia lakukan kepada keluarga kecilku." jawab Robert dengan tatapan yang begitu datar. Wanita tersebut menghela napas dan sangat mengerti mengapa Robert begitu ingin membalaskan dendam atas kematian istrinya, Kimberly.


"Aku akan membantu, aku berhutang nyawa dengan mu, Tuan." kata wanita tersebut dengan pasti. Robert melirik dan menggeleng sebagai tolakan.


"Tidak, kau sedang pemulihan. Mana mungkin aku melibatkan mu," tolak Robert dengan halus, walaupun wanita tersebut tetap kekeuh untuk membantu.


"Tuan, aku masih hidup karena pertolongan mu. Andai saja, Anda terlambat satu detik saja, mungkin aku akan terseret dan tewas di tempat karena kegilaan Anggun." papar wanita tersebut dengan raut wajah serius. Ya, wanita itu adalah Lona. Wanita berprofesi sebagai bartender itu memilih untuk mengundurkan diri dan mengabdi kepada Robert sebagai tanda terima kasih.


"Nak, kau masih bernapas saat ini, karena Tuhan masih menginginkan kau menghirup udara." Kilah Robert, Lona hanya tersenyum tipis dan memberikan sepucuk bunga mawar kepada Robert.


"Untuk mu, Tuan."


Robert terkekeh geli dan menerima bunga mawar merah tersebut, "Thank you very much, Lona."


Lona mengangguk dan raut wajahnya seketika menjadi sendu, "Saat Kakakku meninggal dunia, Tuan memberikan sepucuk bunga mawar merah kepada saya. Anda masih ingat?"


Robert tampak berpikir dan mengingat tentang kenangan lama, "Kau masih mengingatnya ternyata." Robert semakin tertawa seraya mengingat kenangan lama kala itu bersama Lona muda. Lona tampak tersenyum malu dan menggaruk tengkuknya.


"Entah seberapa banyak hutang ku kepada Anda, Tuan. Tapi saya memantapkan diri untuk mengabdi kepada Anda," Kata Lona yang kembali mengulang perkataannya. Robert akhirnya menghela napas dan merasa percuma bila menolak wanita di hadapannya.


"Baiklah. Untuk saat ini, fokus pada kesehatan mu dulu. Aku akan meminta Samuel untuk berjaga-jaga di dekat sini, kau harus akrab dengan pria itu." Lona mengerutkan keningnya mendengar kalimat terakhir Lona.


"A ... apa? Maksud ku, kenapa harus akrab dengan Samuel, Tuan?" tanya Lona tak mengerti. Robert mendekatkan wajahnya dengan penuh menggoda wanita tersebut.


"Ya mungkin saja kalian bisa berjodoh dan berakhir ke pelaminan."


DEG .....


Menikah tidak ada di dalam pikiran ku, sedikitpun. Batin Lona berkecamuk.


"Aku harus pergi, aku akan menemui mu kembali nanti." Lona mengangguk dan membiarkan Robert untuk pergi dari hadapannya. Setelah Robert pergi, dan hal itu membuat raut wajah Lona seketika berubah drastis.


"Kau benar-benar membangunkan singa janda dari kandangan, Anggun." gumamnya penuh akan kebencian. Lona mengepalkan tangannya dengan erat dan melepaskan selang infus dari punggung tangannya dengan kasar.


"Aku kembali untuk menjadi bayangan pembunuh mu, Anggun. Aku masih hidup dan ...," Lona menatap pantulan dirinya di cermin, "Aku bukan Lona lagi, tapi orang-orang akan mengenal ku dengan nama Giselle."


Lona bisa bernapas saat ini karena aksi sigap dari Samuel yang menolongnya sesaat sebelum mobil hitam menerjang tubuhnya. Memang benar adanya, bahwa Lona sempat berdiri di lampu merah untuk menyebrang, tetapi aksi licik Anggun ternyata tercium oleh Samuel dan bodyguard Robert itu, dengan sigap menarik lengan Lona dan meminta orang lain untuk berpenampilan seperti Lona.


Tetapi siapa sangka, Anggun benar-benar melakukan hal nekat dan wanita itu kini menjadi buronan, hanya saja kepolisian belum berhasil melacak siapa dalang tabrak lari itu. Lona benar-benar merutuki kebodohan dari Anggun, yang begitu nekat. Samuel sudah beberapa kali mengunjungi dirinya, entah saat berada di club atau di rumah kecil yang memang Robert siapkan untuknya. Sejak bekerjasama untuk memasukkan Anggun ke dalam kamar di club, Samuel dan Lona tampak mulai akrab tetapi tetap saja masih ada rasa kecanggungan.

__ADS_1


"Penjara menunggu mu, Anggun."


LUNAS UPDATE 2 BAB YA BESTIS. TUNGGU UPDATE 2 BAB BERTAHAP WKWKWK.


__ADS_2