
Robert menyesap nikotinnya dan menghembuskan asap tersebut ke udara. Di kamar private kelas yang kedap suara, pria berjas hitam itu senantiasa menunggu sang istri, lebih tepatnya yang akan menjadi mantan istrinya itu terbangun dari pengaruh obat tidur. Di dalam ruangan yang sama, Lona hanya berdiri di belakang Tuan Robert dan sesekali melirik ngeri ke arah bodyguard yang berdiri tegap.
"Bagaimana keadaan Ibu mu, Lona?" tanya Robert membuat Lona tersentak kecil.
"Ja ... jauh lebih baik, Tuan Robert." jawabnya terbata-bata. Lona baru bertemu tiga kali dengan Robert dan tidak pernah berbincang selain ada urusan penting.
"Lalu Kakak laki-laki mu?" tanyanya kembali membuat Lona terdiam sejenak.
"Sudah tiada, Tuan."
Robert langsung menoleh terkejut, tatapan terkejut dari Tuan Robert tak luput dari pengelihatan seorang Lona. Tetapi wanita itu memilih untuk menundukkan kepalanya, dan enggan menatap pria paruh baya itu.
"Kapan?"
"Beberapa bulan setelah kejadian, Tuan. Beliau meninggal karena pendarahan hebat di bagian otak." jawab Lona kembali dengan suara mulai bergetar. Robert menghela napas panjang.
"Duduk lah, dan ceritakan semuanya." kata Robert membuat Lona terkejut setengah mati. Apakah dirinya tidak salah dengar? Seorang Robert Lewandowski Lemos ingin mendengar cerita masyarakat jelata seperti dirinya? Sangat mustahil.
Melihat Lona yang terdiam, membuat Robert menghela napas panjang, "Sebaiknya kita berbicara di luar." Robert berdiri dan menatap semua bodyguard yang ada di sana, "Awasi wanita ular itu. Kalian bebas melakukan apapun, termasuk rekam apa yang kalian lakukan, terkecuali kekerasan." tambah Robert membuat bodyguard sekitar enam orang tersebut mengangguk paham.
"Baik, Tuan Besar!"
Robert pergi setelah melirik Lona yang hanya diam. Lona memilih untuk menyusul dan mengikuti langkah kaki pria paruh baya tersebut ke sebuah tempat, yang ternyata adalah rooftof yang di penuhi oleh tanaman hias serta pemandangan langit malam yang cukup menyejukkan.
"Duduk dan mari kita berbicara santai, Lona." Robert menepuk kursi kosong di sebelahnya. Di rooftof tersebut hanya ada ayunan kayu, dan meja kayu lengkap dengan kursi. Dengan perasaan canggung, akhirnya Lona memilih untuk menurut saja. Robert tersenyum tipis dan mematikan nikotinnya.
"Jangan tegang, aku tidak akan memakan mu." canda Robert membuat Lona hanya menggaruk kepalanya. Rasanya sangat aneh bila duduk berhadapan dengan seseorang yang hanya Ia temui beberapa kali, bahkan tidak terlalu mengenal.
"Saya hanya canggung, Tuan. Karena saya tidak terbiasa duduk bersama orang asing seperti ini," ungkap Lona membuat Robert hanya tersenyum tipis. Sebuah kewajaran bila Lona mengatakan hal itu kepadanya, karena hanya bisa di hitung jari pertemuan mereka berdua selama 17 tahun.
"Aku teringat dengan tingkah mu yang merengek meminta boneka beruang." kata Robert membuat Lona tertegun, "Apakah bonekanya masih kau simpan?" tanyanya membuat Lona menelan ludahnya.
Orang tua Lona adalah pekerjaan di mansion Lemos sebelum kecelakaan menimpa keluarga tersebut. Bahkan Lona beberapa kali sempat di belikan berbagai barang, yang hingga saat ini masih Ia simpan dengan rapi di rumahnya. Ibu Lona adalah ART di mansion besar tersebut, sedangkan Ayah Lona adalah supir pribadi Robert. Tetapi kedua orang tua Lona memilih untuk berhenti bekerja karena sang Tuan telah tiada. Lona bersaudara 1, memiliki Kakak laki-laki yang telah meninggal dunia karena ulah dari Anggun.
"Masih tersimpan, Tuan." jawab Lona dengan sendu.
"Jadi bisakah kau katakan tentang keluarga mu selama aku tidak di kota?" tanya Robert dengan perlahan. Pria itu tidak ingin memaksa, tetapi setelah mendengar berita tentang kematian Kakak laki-laki Lona secara mendadak, rasanya ada yang janggal.
"Kak Juan meninggal karena ulah Anggun, Tuan." beber Lona membuat Robert terdiam, "Saat itu seperti biasa Kak Juan mengantar ku dan menemani ku di tempat ini. Kak Juan begitu tergila-gila dengan Anggun saat itu, bahkan sampai rela melakukan apapun, bahkan hal bodoh pun Ia lakukan demi Anggun. Kak Juan tidak terlalu bercerita banyak dan aku juga tidak mengetahui banyak, hanya satu kejadian yang aku lihat dengan mata ku sendiri, dalam kondisi mabuk, Anggun menabrak Kak Juan yang hendak mencegah dan membantu Anggun untuk pulang." jelas Lona dengan air mata yang sudah luruh.
Robert mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, "Hapus air mata mu, Nak." Lona terkejut saat Robert memberikan sebuah saputangan miliknya.
Lona menerimanya dengan senang hati, "Kak Juan mengalami koma karena benturan keras di bagian kepalanya, sempat harus di operasi dan operasi itu berhasil. Kak Juan jatuh koma setelah sesat Anggun berkunjung, entah apa yang wanita itu lakukan kepada Kakak, aku tidak tahu dan tidak ada CCTV. Berselang beberapa bulan, Kak Juan tiba-tiba saja mengalami pendarahan hebat di otak, dan karena kejadian itu membuat Kak Juan harus meregang nyawa." jelas Lona kembali dengan tubuh yang benar-benar bergetar hebat. Bayangkanlah, Kakak laki-laki yang selama ini menjaganya bahkan harus meregang nyawa di tangan wanita seperti Anggun.
Lona terselimuti dendam karena kejadian itu, membuat Lona menerima tawaran kerjasama dengan Robert untuk menjebak Anggun. Tepat berselang beberapa Minggu setelah kematian Kakak laki-laki Lona, wanita bartender itu menjalankan tugas dari Robert untuk mencampurkan obat perangsang pada minuman Anggun, dan ternyata Anggun juga mencampurkan obat perangsang di minuman miliknya sendiri.
__ADS_1
Hal itu terekam di mata Lona, memutar gelas agar target Anggun jatuh pada dirinya sendiri. Dan ya, benar, Anggun meminum wine berisi obat perangsang, sedangkan Robert melakukannya dengan sadar dan berpura-pura juga terkena pengaruh obat perangsang. Sungguh perfect.
"Aku ucapkan banyak terima kasih, karena dirimu, aku akhirnya bisa melakukan rencana ini, Lona." ucap Robert dengan tulus membuat Lona menggeleng.
"Apa yang Tuan katakan, seharusnya saya yang mengucapkan banyak terima kasih, karena telah menolong saya selama 17 tahun ini." Senyuman Lona mulai mengembang dan membungkuk hormat tangan terima kasihnya.
...****************...
Zane menatap semua pelayan dan bodyguard secara tajam, tidak ada yang berbicara dari pihak keluarga Lincoln, termasuk Chelsea yang tidak mengetahui apa-apa. Dengan di temani oleh Mama Bellamy, Chelsea hanya duduk di kursi dengan penuh kebingungan, bahkan Papa Owen dan Mama Bellamy tidak memberitahu apapun.
"Ma," panggil Chelsea membuat Mama Bellamy yang sejak tadi ikut terdiam, kini menoleh seraya tersenyum.
"Sabar ya, Ayah mu akan datang sebentar lagi." jawab Mama Bellamy membuat Chelsea semakin tidak mengerti. Apakah ada hal serius, hingga Ayah Robert harus datang ke mansion Lincoln di tengah malam seperti ini?
Si kembar, Alex dan Alexia sudah tertidur pulas, dan membuat para orang dewasa merasa leluasa untuk melakukan aktivitas. Sebenarnya Zane sudah meminta Chelsea untuk beristirahat, tetapi wanita itu menolak dan ingin ikut ke bawah. Alhasil Zane hanya menghela napas dan bersikap was-was pada istrinya itu.
Para bodyguard dan pelayan saling bertatapan dengan kepala tertunduk. Mereka hanya di minta untuk berkumpul di halaman depan tanpa ada yang tahu apapun. Zane mengepalkan kedua tangannya, mata pria itu benar-benar sangat tajam dan datar. Zane sungguh di buat geram dengan pelayan yang lancang memberikan racun tikus yang di campur ke dalam susu hamil istrinya.
"Siapa yang masuk ke kamar saya, dua hari yang lalu?" tanya Zane membuat mereka semua mulai mengangkat wajah. Chelsea mengerutkan keningnya dan hendak berdiri, namun Mama Bellamy menahannya.
"Tetap di sini, jangan kemana-mana, Nak." tutur Mama Bellamy dengan berbisik. Chelsea menatap Zane dengan mata menyipit, apa yang membuat Zane begitu terlihat marah?
"Tidak ada yang mengaku? Siapa yang membuatkan istri saya susu strawberry dua hari yang lalu?" tanya Zane kembali dengan suara begitu tinggi.
Mereka semua tetap diam tidak menjawab, tatapan Zane jatuh pada sosok pelayan yang cukup muda yang tampak bereaksi begitu gelisah. Senyuman miring mulai terpatri di wajah pria itu dan memundurkan langkahnya, "Sayang."
Zane hanya tersenyum dan menggenggam erat tangan sang istri. "Apakah pelayan itu yang membawa susu strawberry kepada mu?" tanya Zane dengan menunjuk salah satu pelayan wanita yang mulai ketar-ketir saat Zane menunjuk ke arahnya.
Sontak saja, tatapan para pekerja lain mengarah kepadanya dan terkejut. Mereka tidak habis pikir dengan tingkah gila teman mereka, bahkan para bodyguard yang sempat membantu mencari kucing peliharaan Chelsea, mulai menaruh curiga kepada pelayan wanita tersebut.
"Apa ini ada sangkut-pautnya dengan matinya kucing milik Nyonya?" gumam Ricky yang begitu tertangkap jelas di pendengaran tajam Zane.
"Kau benar," sahut Zane membuat Ricky jantungan. "Kucing peliharaan Amora mati, karena ada sangkut-pautnya dengan susu strawberry." tambahnya membuat Chelsea terkejut bukan main. Itu artinya kucing peliharaannya mati karena ada campuran di dalam susu hamilnya.
Nicholas dan Daniel juga turut ada di mansion. Kedua pria itu juga turut membantu mencari tahu, siapa yang sengaja memasukkan racun tikus di susu hamil Chelsea. Tidak membutuhkan waktu 24 jam, pelaku akhirnya di ketahui oleh mereka. Nicholas yang sejak tadi hanya diam dengan rasa kesalnya, kini mulai mendekati pelayan wanita tersebut dan menarik lengannya dengan cukup kasar.
"Tu ... tuan-"
BRUK .....
Pelayan wanita tersebut langsung terjatuh di tanah dengan luka di lutut. Zane bahkan sudah sigap menutup mata sang istri, membuat Chelsea tidak melihat apa yang terjadi barusan.
"Wanita licik seperti mu tidak bisa di maafkan!" kata Daniel dengan amarah berapi-api. Nicholas memasukkan tangannya dan menunjukkan bukti-bukti foto berisi pelayan tersebut yang tengah membuat susu dan aktivitas mencampurkan racun tikus tersebut.
"Kau bermain rapi, tapi kami jauh lebih rapi." bisik Nicholas membuat tubuh pelayan tersebut bergetar. Zane memeluk tubuh Chelsea yang menjadi tegang itu. Pelayan yang sama saat memberikannya susu hamil.
__ADS_1
"Ka ... kau melakukan hal itu? Kenapa?" tanya Chelsea dengan memegangi perut ratanya dengan perasaan cemas. Zane semakin mengeratkan pelukannya dan menutup kedua telinga Chelsea.
"Jangan di dengarkan, jangan, Amora." bisik Zane membuat tangisan Chelsea mulai terdengar di indera pendengarannya.
"I ... ini semua salah, Tuan! Saya tidak melakukan semua ini kepada Nyonya Muda!" tampik pelayan tersebut membuat alis Nicholas mengerut, tapi tidak dengan kedua sudut bibirnya yang menyunggingkan senyum miring.
"Setelah apa yang kau lakukan dan semua bukti sudah ada di depan mata, kau masih berbohong?!" hardik Nicholas dengan segala emosinya. Nicholas menarik lengan sang pelayan.
"Siapa yang menyuruhmu? Katakan!" desak Nicholas membuat Pelayan tersebut menggeleng ketakutan.
"Ini tidak benar, saya tidak-"
PLAK .....
"NICHOLAS!" pekik Daniel dan Mama Bellamy terkejut. Papa Owen hanya menghela napas panjang dan mendekati pria yang tengah berapi-api. Nicholas baru saja melayangkan tamparan keras di pipi pelayan tersebut, membuat Daniel dan Mama Bellamy tak habis pikir.
Zane menjauhkan Chelsea dari sana dan mencoba untuk menenangkan wanita itu, "Jangan menangis. Aku di sini, Amora." kata Zane dengan begitu lembutnya. Chelsea mengeratkan pelukannya dan semakin menangis ketakutan.
"Nic, jangan seperti ini, Nak." tegur Papa Owen membuat Nicholas berdecak kesal. Pria itu berdiri dan langsung melempar borgol kepada Ricky.
"Borgol dia! Wanita ini pantas untuk di penjara!"
DEG .....
Pelayan wanita itu terkejut dengan penuturan dari Nicholas, ucapan yang terdengar tidak main-main, tegas dan juga penuh ancaman. Pelayan tersebut menggeleng dan langsung bersujud di bawah kaki Nicholas.
"Tidak! Maafkan saya, Tuan. Maafkan saya! Saya melakukan itu karena saya di perintahkan!" ungkap Pelayan tersebut membuat Zane sontak menoleh. Di perintahkan? Zane mengepalkan kedua tangannya, rasanya ingin membuat pelayan itu jera, tetapi Chelsea saat ini jauh lebih penting.
"Siapa yang memerintah mu? Katakan!" sahut Daniel yang mulai penasaran.
"Tu ... tuan, sa ... saya-"
"Kenapa kau ingin membunuh Chelsea dengan racun tikus itu?! KATAKAN!" bentak Nicholas membuat wajah pelayan tersebut menjadi pucat pasi dan tubuhnya bergetar hebat.
"Ada seseorang yang mengancam saya melalui telepon, bila sa ... saya tidak mematuhi maka orang tua saya akan di bunuh!" jawab pelayan tersebut membuat tawa Nicholas menggema. Suasana begitu tegang bukan main.
"Dan dengan teganya kau ingin membunuh Chelsea dan janinnya? Wow, kau sangat-"
"Akhhh!" pekik Chelsea membuat semua orang di saja sontak mengarah kepadanya. Zane panik bukan main saat Chelsea merintih kesakitan seraya memegangi perut ratanya.
"Zane, ada apa dengan Chelsea?!" tanya Mama Bellamy cemas. Chelsea meringis kesakitan dan tubuhnya mulai luruh bila Zane tidak menahannya dengan cemas.
Zane langsung menggendong tubuh sang istri menuju kamar, Daniel langsung menghubungi dokter, sedangkan Nicholas sama sekali titah berpindah posisi, tatapan Nicholas masih sama yaitu tajam dan dingin.
"Zane, sakit sekali." keluh Chelsea membuat Zane semakin panik. Rintihan terus saja keluar di setiap langkah Zane menuju kamar.
__ADS_1
"Bertahanlah!"