
Restoran cepat saji, terlihat seorang pria memakai jaket hitam, di sertai dengan masker dan kupluk jaket yang berada di wajahnya. Pria itu terlihat sedang menunggu seseorang, sesuai janji temu. Tak lama terdengar suara pintu restoran terbuka, menampilkan wanita paruh baya dengan pakaian yang cukup kurang pantas untuk usianya.
"You're five minutes late for your appointment," kata pria tersebut saat wanita yang Ia kenal baru duduk di hadapannya.
"Ops, maaf." jawab wanita paruh baya tersebut dengan tampang yang sungguh tidak ada rasa bersalahnya. Pria tersebut sampai memutar matanya jengah dan melipat kedua tangannya.
"What do you want to talk to me?" tanya pria tersebut membuat wanita yang tak lain adalah Ibu Tasya, kini menyeringai kecil.
"Kau sungguh tidak sabaran ternyata, apakah kau penasaran?" alih-alih menjawab, Ibu Tasya malah membuat pria di hadapannya begitu jengah dengan sikapnya sendiri.
"Very childish," ejek pria tersebut membuat Ibu Tasya tertawa senang. "Aku tidak memiliki banyak waktu untuk wanita yang suka berbasa-basi," tambah pria tersebut dengan tatapan yang sungguh mengerikan. Ibu Tasya terbatuk kecil dan menatap seisi restoran cepat saji yang cukup sepi.
"Apakah kau mengenal gadis ini?" tanya Ibu Tasya dengan memberikan selembar foto kepada pria di hadapannya. Pria tersebut mengerutkan keningnya dan kembali menatap Ibu Tasya.
"Putri Robert?" Tebak pria tersebut membuat Ibu Tasya langsung menutup mulutnya terkejut.
"It seems you still remember it! Tapi sayangnya, Chelsea sudah menikah dan saat ini sedang mengandung pewaris dari Zane," ungkap Ibu Tasya dengan meniup kuku jarinya dengan angkuh.
Alis pria tersebut mengerut bingung, "Zane? Putra sulung dari Owen Gervinho Lincoln?" tanya pria tersebut memastikan. Ibu Tasya mengangguk sebagai jawabannya. Pria tersebut sangat mengenal Zane dan Chelsea, kedua anak dari pengusaha tersohor pertama dan ketiga. Pasti akan menjadi berita mengejutkan bila para media menayangkan tentang mereka berdua.
"Aku ingin kau membantu ku," kata Ibu Tasya membuat pria di hadapannya itu terdiam sejenak. Sebenarnya pria tersebut sangat ragu untuk membantu wanita rubah di hadapannya, tetapi karena ada hal yang jauh lebih penting, maka jawabannya adalah pria tersebut mengangguk.
"Katakan!" desak pria tersebut dengan tatapan yang sungguh tidak bisa di artikan. Ibu Tasya tersenyum miring dan mencondongkan tubuhnya sedikit.
"Lusa adalah pesta pernikahan mereka berdua, aku ingin kau melakukan sesuatu yang mengejutkan. Katakan, apa yang bisa kau lakukan untuk, mungkin seperti meracuni? Menembak? Menusuk? Atau ...."
"Menembak," jawab pria tersebut tanpa pikir panjang. Ibu Tasya mengangguk seraya tersenyum lebar dan memberikan sebuah kunci.
"Acara mereka akan dilaksanakan di Gervinho Hotel's, kunci ini adalah kunci pintu belakang dekat basement, kau bisa masuk melalui sana dan aku akan mengurus sisanya." Jelas Ibu Tasya membuat pria itu menatap kunci di hadapannya. Jantungnya ikut berdebat karena rencana ini benar-benar akan mengejutkan.
"Ada apa? Apakah kau ragu untuk membantu ku?" tanya Ibu Tasya membuat pria itu menadah dan melipat kedua tangannya.
"Aku menerima imbalan terlebih dahulu, tanpa imbalan aku tidak bisa melakukan rencana ini dengan sempurna." balas pria tersebut dengan datar. Ibu Tasya mengangguk dan memberikan sebuah cek dan menuliskan nominal serta memberikan tanda tangan.
"Aku memberi setengah dulu, sisanya akan aku berikan apabila rencana ini berhasil." jawab Ibu Tasya, pria tersebut hendak mengambil cek, tetapi Ibu Tasya menariknya kembali. "Tapi bila kau gagal, maka aku yang akan menghabisi mu!" lanjut Ibu Tasya dengan penuh ancaman.
"Kau mengancam ku? Aku bahkan bisa membunuh Kimberly, kenapa aku tidak bisa membunuh mu? Kau hanya wanita yang mengandalkan kekayaan, jadi?"
__ADS_1
GLEK .....
Ibu Tasya menjadi tegang karena ucapannya di putar balikkan, wanita itu merasa bahwa ada yang bergerak-gerak di betisnya, sebuah benda tajam yang begitu nyata. Pria tersebut menyeringai saat melihat wanita di hadapannya mulai banjir keringat.
...****************...
Di saat orang-orang sibuk dengan kegiatan mereka, di saat itu pula Chelsea tetap kekeh ingin membantu. Ya, rencana Pesta Pernikahan sudah di depan mata, para tamu undangan sudah di undang, dekorasi sudah siap, hanya tinggal waktu saja. Bukan hanya keluarga Lincoln saja, tetapi Keluarga Lemos juga turut ikut membantu, terlebih lagi si kembar empat, Ashton, Ashley, Alex, dan Alexia. Keenam anak kembar berbeda usia itu tampak kompak membantu walaupun lebih banyak Ashton dan Ashley yang bergerak di bandingkan di kembar Alex dan Alexia.
Di tempat yang sama pula, di kamar hotel hanya ada dua orang yang sibuk dengan kegiatan mereka, Chelsea yang sibuk merengek dan Zane yang sibuk menolak.
"Zane, aku ingin membantu Mama!" pinta Chelsea untuk sekian kalinya. Zane yang tengah menikmati buah segar, karena gejala ngidam yang Ia alami selama satu Minggu belakangan ini.
"No, baby. Duduk dan makan buah ini bersama ku!" Zane menarik lengan Chelsea agar duduk di sofa bersamanya. Chelsea mendengus kesal melihatnya.
"Zane, ini sudah piring kelima kau memakan buah yang sama!" ketus Chelsea membuat Zane hanya melirik sekilas.
"Ini gejala simpatik, kau yang hamil dan aku yang mengidam. Itu adil namanya," jawab Zane dengan lugas. Chelsea semakin di buat kesal karena jawaban lugas itu terus saja keluar.
Chelsea memilih untuk ke balkon dengan menghentakkan kakinya. "Sayang, perhatikan langkah mu!' Tegur Zane dengan meletakkan piring buahnya. Rasanya belum puas untuk menikmati buah-buah segar yang Daniel belikan untuknya.
Hingga sebuah tangan kekar, melingkar di perut ratanya, "Sedang apa?" tanya Zane dengan mencium tengkuk sang istri.
"Zane, geli!" protes Chelsea membuat Zane terkekeh geli. Zane begitu gemar sekarang mencium tengkuk leher Chelsea tanpa alasan yang jelas.
"Aku ingin menjenguk bayi kita," pinta Zane dengan suara yang mulai serak, tangan pria itu mulai mengusap-usap perut Chelsea.
"Kau tidak lelah? Kau baru saja sampai di hotel,"
Zane hanya menggelengkan kepalanya, dan semakin mencium tengkuk leher sang istri. "Aku merindukan mu,"
"Shhh," Chelsea merintih kala Zane mengigit leher jenjang Chelsea yang sedikit terekspos itu. Chelsea mendengus dan memukul pelan lengannya.
"Ayo kita berolahraga sebentar," ajak Zane yang begitu menggoda. Zane bahkan sudah menarik pinggang Chelsea agar menempel pada tubuhnya, di tatapnya dua gundukan yang begitu menggoda mata, Zane hanya bisa menelan ludahnya.
"Jangan menatap ku seperti itu!" ketus Chelsea dengan tatapan tajam. Zane tersenyum tipis dan mencondongkan tubuhnya.
"Aku semakin mencintai mu, bahkan cinta itu semakin besar setiap harinya." ujar Zane yang ternyata berhasil membuat pipi Chelsea merona merah. Chelsea bahkan membuang wajahnya agar tidak memperlihatkan senyuman.
__ADS_1
"Tapi aku lelah," jawab Chelsea apa adanya. Zane menatap manik mata sang istri yang begitu menyejukkan hati.
"Aku saja yang bergerak, kau diam."
Chelsea berdecak kesal mendengarnya. Niatnya adalah mengurungkan niat Zane untuk berolahraga, tetapi jawaban pria itu begitu menyebalkan di telinga Chelsea. "Tidak!" tolaknya mentah-mentah.
"Why? Kita sudah mencoba banyak gaya." ucap Zane dengan alis mengerut, "katakan, kau ingin gaya yang mana? Kita akan mempraktekkan lagi, tapi kali ini dengan posisi aman." tambahnya dengan menaikturunkan alis.
"Zane! Aku tidak sedang bercanda!" kesal Chelsea dengan menggelengkan kepalanya. Zane menghela napas panjang dan terpaksa harus bermain sendiri. Melihat wajah murung Zane, membuat Chelsea mengigit bibirnya.
Apa aku keterlaluan? Batinnya penuh tanda tanya.
"Zane," panggil Chelsea dengan lembut. Zane hanya menadah dan menatap Chelsea penuh tanda tanya. Chelsea mulai menyesali ucapannya sendiri.
"Baiklah kita olahraga,"
Wajah murung itu mulai kembali, Zane tersenyum senang mendengarnya. "BENAR-"
"Tapi sebelum itu, aku ingin sesuatu." sela Chelsea dengan mengetuk-ngetuk dagunya sendiri.
"Kau ngidam? Katakan, apa yang kau inginkan?" tanya Zane sedikit mendesak. Pria itu seperti tidak sabaran untuk berolahraga malam.
"Aku ingin sesuatu yang manis, tapi tidak manis-manis sekali." ungkap Chelsea membuat Zane melongo mendengarnya. Seketika otaknya mulai bekerja untuk mencerna ucapan sang istri.
"Buah?"
"Tidak tahu, pokoknya aku ingin yang manis tapi tidak manis-manis sekali." jawab Chelsea dengan acuh. Zane masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponsel. Chelsea terkekeh geli melihat aksi antusias dari sang suami, wanita itu memilih untuk menatap taman di belakang hotel yang di terangi oleh lampu.
Tetapi tatapannya jatuh pada pria yang menatapnya dengan sangat tajam, Chelsea bahkan harus menyipitkan matanya. Kamarnya ada di lantai empat, dan kamarnya pula berhadapan langsung dengan taman belakang hotel yang cukup luas.
"Siapa itu?" gumam Chelsea penuh tanda tanya. Chelsea mulai khawatir dengan tatapan pria yang tidak Ia kenal itu, bahkan wanita hamil itu sontak memegangi perutnya dan memilih untuk masuk, menyusul Zane. Chelsea tentu saja mulai merasa takut bila orang yang tidak Ia kenal itu macam-macam. Keringat dingin mulai keluar dan langsung mendudukkan dirinya di sofa dekat ranjang.
"Kenapa pria itu sangat mencurigakan sekali?" Gumam Chelsea dengan menatap cemas ke arah balkon. Tak lama, Zane datang dengan alis mengerut bingung.
"Sayang, ada apa?" tanya Zane yang langsung menundukkan dirinya di sebelah sang istri. Chelsea menoleh dan langsung memeluk tubuh pria kekar itu.
"Tidak apa-apa,"
__ADS_1