
Sore hari sudah menyapa, Chelsea tampak sedang berjalan-jalan di sebuah jalan berbatu setapak menuju ke suatu tempat. Chelsea hanya berdiam diri di rumah, semenjak sebuah mobil mewah menjemput Zane di rumahnya, hal itu membuat semua warga berbondong-bondong untuk menyaksikan mobil mewah yang sangat jarang mereka lihat.
Banyak gadis-gadis desa lainnya, entah dari SMP, SMA atau anak kuliahan yang terpana melihat ketampanan seorang Zane, yang selama satu Minggu berada di rumah sederhana milik Chelsea. Bahkan tak jarang ada yang datang, hanya sekedar mencari perhatian Zane berkedok berbincang-bincang.
Mengingat hal itu, membuat Chelsea dan kedua Adik kembarnya hanya menghela napas panjang. Tetapi sekarang, keadaan rumah begitu sepi, kedua Adiknya sekolah, Ayah Robert dan Ibu Anggun pergi ke sawah, sedangkan dirinya tidak di izinkan untuk mencari pekerjaan oleh Ayahnya. Entah apa alasannya, Chelsea hanya menurut dan tak jarang ikut membantu ke sawah atau membuka catering.
"Loh? Mbak Chel mau ke mana?" tanya seorang Ibu-ibu yang sudah bersiap-siap akan pulang ke rumah. Chelsea tersenyum tipis.
"Mau jalan-jalan sore aja, Bu. Ibu mau pulang?" tanya Chelsea berbasa-basi dengan wanita paruh baya tersebut.
"Iya, Ibu mau pulang, sudah sore. Hati-hati di jalan loh ya, jangan pulang malam-malam." nasihat Ibu tersebut. Tentunya tanpa sebab Ibu tersebut menasehati Chelsea, mengingat wanita cantik itu masih menjadi incaran para pemuda desa, termasuk Putra bungsu kepala desa, Reno.
"Iya, Bu. Chelsea pamit," Chelsea bergegas pergi dengan langkah santai. Hamparan sawah hijau dengan langit jingga, membuat suasana desa Mentari semakin indah. Terlebih lagi ada sebuah proyek pembangunan pabrik beras yang mulai menguntungkan para petani. Karena para petani tidak harus jauh-jauh menyetor hasil panen mereka ke kota, melainkan bisa di desa langsung, terlebih lagi sudah ada beberapa kendaraan pengangkut beras nantinya yang terlihat sudah berjejer di luar bangunan yang belum selesai itu.
"Wah, bagus ada pabrik beras di desa sekarang. Bisa kerja kayaknya aku di sini," gumam Chelsea yang terpesona dengan pabrik yang belum rampung sepenuhnya itu. Chelsea sangat senang, itu tandanya hasil panen kali ini akan menguntungkan banyak Ayah Robert dan petani lainnya.
"Hai, cewek cantik." sapa seorang pemuda membuat Chelsea langsung menoleh. Wajah Chelsea langsung berubah menjadi masam sekaligus takut. Reno, pria yang sudah membuat keributan beberapa hari yang lalu, kembali datang dengan wajah tengilnya.
"Loh, Bang Reno di sini juga?" tanya Chelsea seolah-olah terkejut dengan kedatangan Reno. Pria itu tersenyum dan menyugar rambutnya, melihatnya saja sudah membuat Chelsea malas untuk menuju bahkan melihat lebih.
"Iya, dong. Gimana Abang hari ini? Ganteng enggak?"
Chelsea menelisik penampilan Reno yang berbeda kali ini, kemeja hitam dengan perpaduan celana jeans hitam, memang Reno terlihat lebih tampan, tapi tidak dengan tingkah pria itu yang sungguh menyebalkan bagi Chelsea. Melihat penampilan Reno, membuat Chelsea teringat dengan Zane.
"Hmm, lumayan, Bang." jawab Chelsea dengan ragu-ragu. Daripada menjawab tidak ganteng, lebih baik jawab seadanya saja pikirnya.
Reno tersenyum senang saat Chelsea memuji dirinya. "Oh ya, gimana sama tawaran Abang?"
Chelsea terdiam sejenak, "tawaran yang mana ya, Bang?" Alih-alih menjawab, malah Chelsea melupakan akan tawaran nikah yang di ajukan oleh Ayah Reno tempo hari.
"Tawaran nikah lah, kan hutang Ayah kamu banyak banget sampai menggunung di Bapak ku! Mau enggak mau, ya kamu harus mau menikah dengan ku, jadi hutang Bapak kamu langsung lunas!" kata Reno dengan percaya diri yang tinggi, Chelsea meringis mendengar perkataan Reno yang begitu frontal kepadanya.
"A ... aku belum memutuskan, Bang."
"Loh, kok belum sih, Chel! Jangan sampai aku maksa kamu buat nikah loh!"
__ADS_1
"Tapi, Bang-"
"Siapa yang mau kau paksa untuk menikah dengan pria bodoh seperti mu?"
Chelsea dan Reno sontak menoleh terkejut. Seorang pria berpakaian jas lengkap dengan kacamata hitam, berdiri dengan menatap ke arah mereka berdua, dengan tatapan yang sangat tajam. Chelsea menelan ludahnya sendiri, penampilan pria itu sangat Chelsea kenali, siapa lagi kalau bukan Zane.
"Kau lagi, kau lagi. Apakah kau tidak bisa membiarkan aku berduaan sebentar dengan cewek ku!"
Alis Zane terangkat tinggi-tinggi dan melirik ke arah Chelsea yang menggeleng tidak mengerti. "Berhentilah mengejar wanita yang bahkan sudah berulang-ulang kali menolak mu! Karena Chelsea hanya milik saya!"
...****************...
Di sebuah hamparan luasnya sawah hijau, di sebuah gubuk kecil di dekat sebuah kali kecil, terlihat sepasang manusia berbeda gender itu saling duduk berhadapan, lebih tepatnya seorang pria yang terus-menerus menatap wanita cantik yang sudah memenuhi hatinya itu. Di teliti menatap pakaian wanita, tetap sederhana dengan wajah tanpa polesan make-up pun sudah terlihat bagaikan menggunakan make-up tipis.
Seulas senyuman terbit melihat mata lentik itu mulai terangkat dan menatapnya, "Kenapa kau berjalan-jalan saat menjelang sore?" tanya Zane dengan tatapan yang tidak bisa Chelsea artikan. Tersirat sesuatu yang begitu mendalam di sana, tetapi Chelsea hanya menghela napas.
"Hanya ingin saja, Tuan."
"Aku meminta mu untuk memanggilku dengan sebutan Zane. Lakukanlah," tegur Zane dengan gemas. Chelsea meringis mendengar teguran dari Zane untuk sekian kalinya, perihal sebutan yang Ia berikan kepada pria itu.
"Apakah kau benar-benar akan menerima tawaran dari bocah ingusan itu?" tanya Zane kembali. Hatinya geram karena tingkah Reno yang begitu terang-terangan menarik perhatian wanita yang akan Ia nikahi sebentar lagi, walaupun sudah jelas bahwa Chelsea menolak, tetap saja ada hati yang kurang puas.
Chelsea mengangguk, kali ini dirinya begitu yakin dengan keputusannya sendiri. "Aku sudah memutuskan keputusan ku untuk menolak menikah dengan Reno, dan menerima tawaran mu dengan sepenuh hati."
Hati mana yang tidak berbunga-bunga dengan jawaban sederhana yang di berikan oleh Chelsea. Zane rasanya begitu senang dan ingin memeluk wanita itu, tetapi mana mungkin Zane melakukannya di tempat terbuka seperti di sawah. Zane betah berlama-lama di desa indah tersebut, karena Chelsea. "Benarkah? Apakah aku tidak salah mendengar?"
Chelsea menadah dan melihat betapa senangnya Zane saat mendengar jawabannya. Apakah segitu pentingnya jawabannya, hingga membuat seseorang begitu senang dan berbunga-bunga? Pikir Chelsea.
"Aku yakin, sangat yakin. Lagipula Ayah sudah memilih mu untuk menjadi suami ku, bila Ayah senang dan bahagia, aku tidak bisa menolak dan lari lagi." jawab Chelsea dengan penuh keyakinan. Hatinya cukup berkecamuk, mengingat Zane dan dirinya hanya di pertemukan dalam tragedi yang begitu membuat tercengang dan hanya kenal dalam kurun waktu 1 Minggu saja.
"YES!"
Chelsea terperanjat melihat tingkah Zane yang berteriak kencang dengan mengangkat kedua tangannya ke atas. Chelsea mengulas senyuman, Ia merasa bahwa Zane adalah pria baik-baik. Zane yang begitu senang, reflek memeluk tubuh Chelsea yang sedikit berisi itu.
"Terima kasih, aku ucapkan banyak terima kasih, Amora. Aku senang, aku bahagia akhirnya aku bisa menikah dengan wanita yang aku cintai!"
__ADS_1
DEG ....
Cinta? Apakah aku bisa mencintai Zane nantinya? Batin Chelsea yang mulai resah.
Pasalnya ada di dalam dirinya, 23 tahun tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang pria, membuat Chelsea kebingungan untuk membalas pelukan dan sebagainya. Alhasil, Chelsea sekarang hanya tersenyum dan menepuk-nepuk pundak pria itu.
"Besar harapan Ayah kepada mu, Zane. Aku akan mencoba belajar mencintai mu, apakah bisa kita mengenal diri lebih lama lagi?" Zane tersenyum dan mengangguk penuh semangat.
"Aku tidak masalah, aku akan membuat mu langsung jatuh cinta kepada ku dengan cara ku sendiri." balasnya dengan penuh semangat. Chelsea terkekeh geli.
"Baiklah, sekarang menjauh sedikit, aku merasa sesak."
Zane kembali duduk seperti semula, tangan pria itu menggenggam erat tangan Chelsea yang begitu putih bagaikan salju. Kembang desa yang akan menjadi istri seorang Zane, pria itu belum berniat untuk membongkar identitas aslinya sebagai The King of Business two di kota. Pasti Chelsea akan merasa minder, dan Zane tidak ingin hal itu terjadi, walaupun sebenarnya Chelsea adalah putri dari seorang pengusaha tersohor ketiga setelah Zane.
"Aku akan segara melamar mu Minggu ini," kata Zane membuat Chelsea menoleh terkejut.
"Minggu ini?" tanya Chelsea memastikan.
"Iya, lebih cepat lebih baik. Aku juga tidak ingin bocah ingusan itu terus-menerus mengganggu mu!" balasnya dengan kesal. Mengingat nama Reno saja sudah membuat Zane emosi setengah mati.
"Ta ... tapi-"
"Aku akan menghubungi orang tua ku, untuk melamar mu secara sah." sela Zane membuat Chelsea hanya diam.
"Baiklah, aku serahkan semuanya kepada mu, Zane." jawab Chelsea dengan pasrah. Zane terkekeh geli menarik pipi wanita itu dengan gemas.
"Aku ingin PDKT bersama mu dulu, sebelum kita menikah."
Alis Chelsea mengerut bingung, "PDKT? Untuk apa?"
"Tentu saja masa pendekatan. Aku harus memahami calon istri ku ini luar dan dalam," jawab Zane dengan menaikturunkan alisnya. Wajah Chelsea merona karena ulah pria itu dan sontak memukul kecil lengannya.
"Memangnya kau bisa?"
"Tentu saja. Aku akan melakukan tahap PDKT ala Zane."
__ADS_1