
"Ibu mau kemana?" tanya seorang remaja laki-laki. Ibu Anggun tampak sedang mengemasi beberapa pakaiannya ke dalam tas berukurang sedang dan menoleh ke arah sang putra, Ashton.
"Ibu mau ke kota, Nak." jawab Ibu Anggun membuat Ashton mengerutkan keningnya.
"Ibu enggak mau ngajak Bapak, sama kita berdua?" Ashton di kejutkan dengan kedatangan adik kembarnya, Ashley. Di belakang sana juga ada Papa Robert yang tidak kalah terkejut dengan perkataan sang Istri.
"Kamu mau pergi ke kota?" tanya Ayah Robert membuat Ibu Anggun berdecak sinis dan mengabaikan pertanyaan sang suami.
Ashton dan Ashley saling berpandangan satu sama lain, "Ibu mau ke rumah Kak Chelsea?" tebak Ashley membuat aktivitas Ibu Anggun terhenti.
Ayah Robert mengepalkan kedua tangannya dan mendekati sang istri yang seperti enggan untuk menjawab, "Anggun! Katakan kepada ku, apakah benar kau akan pergi menemui putri ku?!" tanya Ayah Robert dengan emosi tertahan. Mana mungkin Ayah Robert berbicara dengan nada tinggi di depan si kembar.
"Bukan urusan mu, Mas! Aku muak hidup miskin seperti ini terus! Kau bahkan banyak memiliki hutang di sana dan di sini, aku lelah karena terus-menerus di cemooh oleh warga!" Kata Ibu Anggun dengan menatap kesal kepada sang suami serta kedua putranya.
Ashton berdecak mendengarnya, "Kalau Ibu tidak ingin hidup miskin, kenapa Ibu menikah dengan Ayah?"
"Seharusnya Ibu bisa menyerahkan kami berdua kepada Ayah, dan Ibu bisa bebas untuk menikah atau bisa menjadi wanita-"
"Jangan berbicara seperti itu tentang Ibu kalian!" tegur Ayah Robert membuat Ashton dan Ashley langsung terdiam. "Kembali ke kamar!"
"Tapi Ayah, Ibu-"
"Ibu kalian akan menjadi urusan Ayah, kalian kembali ke kamar." potong Ayah Robert membuat si kembar akhirnya menurut. Mereka berdua sudah sangat muak dengan jawaban Ibu Anggun, yang seakan-akan menyalahkan kehadiran mereka berdua di kehidupannya.
Sepeninggalan kedua putranya, Ayah Robert menatap sang istri dengan tidak biasa. "Kau ingin menganggu rumah tangga putri mu?" tanya Ayah Robert membuat Ibu Anggun terkekeh sinis.
"Putri? Aku tidak memiliki putri yang tidak berbakti kepada Ibu nya!" sahutnya dengan lantang. Ayah Robert menegakkan tubuhnya dan menghela napas.
"Kau tidak bisa menghargai orang lain, bagaimana caranya orang lain bisa menghargai dirimu? Mungkin itu yang di lakukan oleh putri ku, aku tahu dan sangat mengetahui bagaimana watak serta sifat ketiga anak ku!" bentak Ayah Robert pada akhirnya.
Selama ini, Ayah Robert mencoba untuk bersikap biasa saja, tapi hari ini semua emosinya benar-benar sudah berada di atas kepalanya. Tatapan Ayah Robert sudah berubah menjadi jengah dan muak dengan sikap istri keduanya. Ayah Robert terpaksa menikahi wanita muda yang mengandung benihnya karena kejadian yang tidak terduga, mereka menikah tanpa adanya ikatan cinta atau sebagai. Ayah Robert sangat mengetahui bagaimana sifat dan watak dari istri keduanya, Anggun.
"Terserah kau ingin mengatakan apa! Intinya aku tetap akan menikahkan Chelsea dengan Reno!" ujar Ibu Anggun membuat Ayah Robert menyunggingkan senyum tak biasa.
"Dan aku tidak mengizinkan rencana mu itu berjalan mulus, Anggun!"
Alis Ibu Anggun langsung menyatu, "Apakah kau ada hak untuk melarang ku? Tidak ada!"
"Tentu saja, karena aku adalah wali dari pernikahan Chelsea dan aku adalah Ayah kandung dari Chelsea. Kau tidak berhak untuk merusak atau menikahkan Chelsea dengan pria yang tidak tahu tata krama, seperti Reno!" ketus Ayah Robert dengan sinis. Ibu Anggun mengepalkan kedua tangannya dan menatap sang suami dengan penuh rasa kesal.
"Kau tidak bisa melarang ku untuk pergi ke kota!"
"Aku tidak melarang mu ke kota, hanya saja aku akan menjadi garba terdepan melindungi Anak-anak ku. Dan ..." Ayah Robert mendekati sang istri, "kau pasti akan menyesal."
"Menyesal? Aku tidak akan pernah menyesal!" kata Ibu Anggun dengan penuh keyakinan. Ayah Robert semakin menyunggingkan senyum sinis dan mengangguk.
"Baiklah, aku akan mengirimkan surat cerai dari pengadilan untuk mu, dan kau harus menandatangani nya!"
__ADS_1
DEG ....
Cerai? Itu artinya aku akan menjadi janda dan aku bebas dari kemiskinan! Batin Ibu Anggun dengan senang.
"Aku dengan senang hati menandatangani surat cerai! Karena aku sungguh tidak tahan hidup dengan kemiskinan!" cemooh Ibu Anggun dengan membawa tas berisi pakaiannya dan langsung keluar begitu saja.
"Aku akan mengambil hak asuh putra ku!"
Langkah dari Ibu Anggun langsung terhenti di ambang pintu, wanita itu menoleh dan melipat kedua tangannya di depan dada, "Silahkan! Aku tidak membutuhkan mereka berdua!"
Ibu benar-benar keterlaluan! Kau akan menyesal karena sudah mengatakan hal itu. Batin Ashton yang ternyata mendengar semua perdebatan kedua orang tuanya.
Ashley hanya diam merenung di dalam kamar yang sama, pria itu jauh sedikit cerewet setelah Chelsea menikah dan pergi ke kota. "Aku tidak sudi hidup dengan wanita yang tidak tahu malu sepertinya," ucap Ashley membuat Ashton menoleh terkejut.
"Apa maksud mu?"
"Aku ingin bersama Ayah saja, kau bebas ingin bersama siapa. Karena aku bahagia bersama Ayah, dengan begini aku bisa merasakan bagaimana rasa syukur," jelasnya membuat Ashton terdiam. Remaja laki-laki tampan itu mendekati adik kembarnya dan menepuk pundaknya.
"Aku menyayangi Ayah juga,"
...****************...
Sesampainya di kota, Ibu Anggun tanpa basa-basi langsung menuju ke alamat yang sempat di berikan oleh keluarga Lincoln saat berkunjung. Ibu Anggun menatap kagum pada bangunan megah yang benar-benar besar di hadapannya. Mansion utama dari keluarga Lincoln yang begitu besar, megah, dan bergaya barat.
"I ... ini benar alamatnya," gumam Ibu Anggun dengan menatap kartu alamat yang di genggamannya.
"Maaf, Ibu ini mencari siapa ya?" tanya satpam kepada Ibu Anggun. Curiga karena melihat wanita asing, yang berdiri sejak tadi di dekat gerbang.
"Benar ini kediaman dari keluarganya Lincoln?" tanya Ibu Anggun membuat satpam tersebut menatap penampilan wanita asing di hadapannya.
Pasti wanita ini dari kampung. Batin sang satpam.
"Iya benar, apakah Ibu ingin melamar menjadi pembantu? Karena Nyonya besar mengatakan, bahwa pembantu dari kampung akan datang hari ini juga," kata Satpam tersebut membuat Ibu Anggun mendelik kesal.
"Dasar kurang ajar! Aku bukan pembantu, aku adalah Ibu dari Chelsea!" jawab Ibu Anggun dengan penuh kesal pada satpam di hadapannya. Sang satpam mengerutkan keningnya dan kembali menelisik penampilan wanita di hadapannya.
"Apakah Ibu memiliki bukti, kalau Ibu ini benar-benar orang tua dari Nona Chelsea?" tanya Satpam tersebut membuat Ibu Anggun mengepalkan kedua tangannya.
"Aku akan membuat mu terbungkam!" Ibu Anggun langsung merogoh tasnya, untuk mencari sesuatu, tetapi yang Ia cari tidak Ia temukan.
Di mana foto itu? Batin Ibu Anggun dengan kembali mencari-cari foto dirinya dan Chelsea.
Sombong sekali wanita ini, batin Sang satpam.
Banyak sekali wanita dari berbagai kalangan muda, hingga tua yang mengaku-ngaku menjadi keluarga dekat atau saudara jauh dari istri Zane, tetapi semua itu langsung di tepis oleh Chelsea sendiri.
"Mana? Apa jangan-jangan Ibu ini mau nipu saya, ya?!"
__ADS_1
"JANGAN SEMBARANG BERBICARA KAMU! DASAR SATPAM *****!" umpat Ibu Anggun membuat Satpam tersebut mendengus kesal.
"Ibu ini lucu, datang-datang langsung marah-marah tidak jelas. Lebih baik Ibu pergi! Menganggu saja!" sahut Satpam tersebut dengan menohok dan menutup gerbang, tetapi Ibu Anggun langsung menahan gerbang tersebut, membuat satpam itu mendelik kaget.
"Ibu jangan macam-macam ya! Saya bisa-LOH IBU!"
Ibu Anggun dengan tidak sopannya langsung masuk begitu saja, setelah berhasil mendorong sang satpam. Langkah wanita itu sangat cepat, membuat sang satpam langsung memanggil para bodyguard.
"Ada apa, Pak?"
"Itu ada wanita gila, cepat kalian tahan dia, sebelum Nyonya dan Tuan dengar!" kata sang satpam membuat beberapa bodyguard tersebut terkejut dan bergegas menyusul Ibu Anggun.
"Seenaknya aku di bilang pembantu! Chelsea juga, kenapa enggak mengakui kalau aku ini Ibu nya! Dasar anak tidak tahu di untung!" gerutunya dengan cepat kembali melangkah.
Saat akan menyentuh pintu besar tersebut, sebuah tangan lentik terlebih dahulu menahannya dari samping. Ibu Anggun menoleh cepat dan tersenyum melihat Chelsea.
"Sayang!" Chelsea hanya diam saat Ibu Anggun memeluknya. Ayah Robert sudah mengatakan tentang kepergian Ibu Anggun ke kota dan juga tentang perceraian mereka berdua. Ayah Robert sengaja tidak memberitahu tentang rencana licik dari Ibu Anggun, dan itu akan menjadi urusannya nanti.
"Ibu sedang apa di sini?" tanya Chelsea dengan melepaskan pelukannya. Selama bertahun-tahun, bahkan sejak Ibu Anggun menikah dengan Ayahnya, wanita itu enggan untuk memeluk atau bahkan merawat dirinya. Jadi Chelsea sangat kaku dan aneh melihatnya.
"Kamu ini gimana sih! Ibu datang bukannya di sambut! Kamu sengaja ya, enggak mengakui Ibu sebagai Ibu kamu?!" kata Ibu Anggun dengan suara lantang. Chelsea menghela napas panjang dan menggeleng keras.
"Enggak kaya biasanya Ibu begini. Aku aja terkejut kenapa Ibu tiba-tiba aja langsung ke rumah, tanpa ngasih kabar." kata Chelsea meralat ucapannya sendiri. Ibu Anggun memutar matanya malas.
"Alah, alasan aja kamu! Emang salah, Ibu datang ke sini buat berkunjung?!"
Chelsea menggelengkan kepalanya, melihat serta mendengar ucapan dari Ibu tirinya. "Enggak ada salahnya untuk berkunjung, hanya saja seharusnya Ibu melihat waktu dan memberikan kabar. Kalau tahu Ibu akan ke sini, aku dengan senang hati menyambut kok," jelas Chelsea membuat Ibu Anggun dengan tidak tahu dirinya melipat tangan di depan dada, dan menatap sinis ke arah Putri tirinya itu.
"Ibu capek! Kasih Ibu masuk, terus bawakan Ibu makan malam yang enak ya! Ibu mau istirahat, di mana kamar Ibu?" tanya Ibu Anggun membuat Chelsea terdiam.
"Ibu-"
"Kau datang tanpa memberi kabar, marah-marah, dan dengan tidak tahu dirinya memerintah menantu ku?!" hardik Mama Bellamy dari arah belakang Chelsea. Wanita itu ternyata tidak datang sendirian, ada beberapa maid dan bodyguard yang mengikutinya, tidak lupa juga ada Papa Owen dan Zane di sana.
Chelsea mendekati sang suami dan mengangguk mengatakan dirinya baik-baik saja, Zane tersenyum hangat dan beralih menatap Ibu tiri sang istri. "Bu, bersikaplah selayaknya tamu, bukan seperti pemilik rumah." peringat Zane begitu menohok membuat Ibu Anggun terkekeh geli.
"Bukankah rumah dari anak perempuannya, adalah rumah bagi orang tuanya juga?"
"Tapi pepatah itu tidak berlaku untuk mu, Nyonya munafik." sahut Daniel yang tiba-tiba saja datang dengan membawa minuman wine di tangannya.
"Nak, kau dengar! Pria ini menghina Ibu mu!" adu Ibu Anggun kepada Chelsea yang sejak tadi hanya diam, "kenapa kau diam saja, hah?!"
"Aku tidak bisa membela, karena Ibu bukanlah Ibu ku. Aku hanya memiliki satu wanita hebat yang mempertaruhkan nyawanya demi aku, yaitu Mama Kimberly!"
DEG ....
"Ki ... Kimberly?"
__ADS_1