Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Kesalahpahaman


__ADS_3

Chelsea tersenyum melihat banyak tempat wisata di negara Eropa tersebut, Jerman. Walaupun bertahun-tahun tinggal di desa, ternyata Chelsea begitu fasis berbahasa inggris dan beberapa bahasa asing lainnya. Zane bahkan sedikit terkejut, saat sang istri menanggapi para turis lainnya dengan bahasa mereka. Mereka terus berkeliling mengitari dan mengunjungi beberapa tempat wisata lainnya, melihat Chelsea begitu antusias, membuat rasa lelah Zane menghilang dalam sekejap mata.


"Hari sudah sore, kita sebaiknya kembali ke hotel. Bagaimana?"


Chelsea yang sibuk menatap anak-anak kecil yang sedang bermain pun menoleh. "Sebentar lagi, setelah itu kita kembali."


Zane hanya mengulas senyum, dan hal itu membuat Chelsea tidak enak hati. Karena sejak mendarat di Jerman, Chelsea langsung mengajak Zane berkeliling di sekitar hotel dan mengunjungi beberapa tempat wisata. Wajah lelah terlihat, membuat Chelsea memilih untuk mengalah.


"Ayo," ajak Chelsea dengan menarik lengan Zane.


"Kemana?" tanyanya dengan alis mengerut.


"Ke hotel. Aku tidak ingin kau sakit karena aku," jawab Chelsea seadanya, hati mana yang tidak berbunga-bunga mendengar penuturan manis sang istri.


"Kau yakin ingin kembali ke hotel?" tanya Zane memastikan. Hiburan Chelsea akan terganggu, hanya karena ingin Zane istirahat.


"Tentu saja!"


"Baiklah, my wife."


Chelsea berusaha untuk tidak tersenyum karena ulah sang suami. Tak sedikit Chelsea atau Zane melepaskan genggaman tangan mereka, Zane takut bila istrinya pergi jauh dan di culik, begitu juga dengan Chelsea sendiri.


"Bisa aku bertanya sesuatu?" tanya Chelsea setelah berada di dalam mobil. Zane mengangguk dan fokus menyetir, Chelsea dan Zane memilih untuk tidak memakai supir, mengingat mereka ingin menghabiskan waktu berdua.


"Katakan lah,"


Chelsea memainkan jari tangannya di sana, rasanya cukup ragu untuk menanyakan hal yang sedikit mengganggu pikirannya baru-baru ini. "Apakah kau pernah jatuh cinta sebelum bertemu dengan ku?" tanyanya dengan suara pelan.


Alis Zane mengerut sempurna, antara mendengar atau bingung dengan pertanyaan dari Chelsea. "Maksud mu jatuh cinta kepada wanita lain sebelum aku bertemu dengan mu?" tanya Zane dengan memperjelas maksud pertanyaan dari Chelsea. Wanita itu mengangguk samar-samar.


"Apakah kau pernah?"


Zane terdiam sejenak dan tak lama langsung menghembuskan napasnya. "Sudah sangat lama, itu pun masih terbilang cinta monyet." jawab Zane tanpa menatap lawan bicaranya.


"Kalian masih saling berhubungan kontak?" tanya Chelsea yang merasa tidak puas dengan jawaban dari Zane.


Pria itu bergumam sebentar, dan menjawab, "Tidak. Aku memutuskan untuk melupakannya darinya dan mencari kehidupan baru,"


"Tatap mata ku bila menjawab!" Kesal Chelsea membuat Zane melirik sejenak.


"Kau masih ragu dengan ku, Sayang?" tanya Zane yang lebih tepatnya sedang menebak. Chelsea ketar-ketir sendiri katakan ketahuan meragukan sang suami.


"Bu ... bukan seperti itu!" dalih Chelsea dengan melipat kedua tangannya. Zane hanya menyunggingkan senyum dan meraih tangan Chelsea untuk Ia genggam.


"Aku tidak menjalin berhubungan apapun dengan masa lalu ku. Maza lalu biarlah masa lalu, karena sekarang aku memiliki masa depan yang harus aku perjuangkan." bisik Zane dengan memainkan tangan nakalnya di paha Chelsea. Wanita itu mendelik kesal dan menepis sang suami, yang mulai merayap kemana-mana.


"Dasar pria gombal!" cibir Chelsea dengan kesal. Walaupun Ia sudah menepis tangan Zane, tetap saja pria itu gigih untuk mendapatkan apa yang Ia inginkan.


"Aku berbicara manis hanya kepada mu, Sayang. Tidak dengan orang lain," balas Zane seadanya. Chelsea mencubit lengan Zane yang terus-menerus merayap ke anggota tubuhnya yang lain.


"Zane!" tegur Chelsea dengan napas yang mulai memburu karena kesal.


"Kau sudah selesai datang tamu, jadi aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan." Tubuh Chelsea langsung menegang bukan main, tatapan mata nakal Zane membuat sang wanita bergidik ngeri bukan main. Satu Minggu datang bulan, satu Minggu pula Zane berpuasa untuk sementara waktu.

__ADS_1


"Apa maksud mu?"


"Bukankah kau yang akan mendominasi permainan kita? Kita harus membuat adonan donat menjadi donat matang, Sayang." goda Zane dengan mencolek dagu wanita yang Ia cintai.


Rasanya Chelsea ingin menenggelamkan dirinya karena perkataan Zane yang begitu ambigu. Hampir satu bulan bersama Zane, membuat otak Chelsea tidak bekerja dengan baik seperti sebelumnya. Wanita itu berubah menjadi sedikit liar saat sedang di ranjang panas, bersama sang suami. Bahkan Chelsea sudah di katakan cukup mahir mengimbangi permainan panas mereka selama ini.


"Kapan aku mengatakan setuju?!" protes Chelsea membuat Zane menaikkan alisnya kembali.


"Memang belum, tapi aku yang akan membuat mu setuju dalam beberapa menit."


Dasar pria mesum! Batin Chelsea kesal.


...****************...


"Daniel!" Panggil Nicholas membuat pria yang baru saja menyeruput kopi miliknya, langsung menyemburkannya.


"Ah sial, panas!" Daniel meniup mulutnya yang terasa panas karena terkena kopi. Nicholas menghembuskan napas panjangnya dan menatap Daniel yang masih sibuk meredamkan rasa panasnya.


"Aku mencari mu kemana-mana, cepat kita harus mencegahnya!" kata Nicholas membuat Daniel mendengus kesal.


"Aku baru saja bisa bersantai!" gerutu Daniel. "Ada apa?!" tanyanya galak.


"Cepat!" Nicholas yang sudah terdesak, tanpa pikir panjang pun langsung menarik lengan sang sahabat. Dengan langkah malas, Daniel hanya mengikuti langkah panjang Nicholas yang terkesan terburu-buru.


"Sebenarnya kita harus mencegah siapa? Katakan!" tanya Daniel tidak mengerti. Nicholas melirik malas dan terus berjalan tanpa menghiraukan pertanyaan dari Daniel.


"Sonia sedang dalam perjalanan ke hotel! Kita harus mencegahnya!" jawab Nicholas membuat Daniel terkejut bukan main.


"BO***! KENAPA TIDAK MENGATAKANNYA SEJAK TADI!" hardik Daniel yang langsung mempercepat langkahnya, keluar dari lobby. Daniel masuk ke dalam mobil, dan langsung memasang walkie talkie headset miliknya.


"Menuju Hans Mall's, Tuan!"


Daniel langsung melirik Nicholas yang sudah siap. "Hans Mall's! Aku gemas dengan wanita kepala ular itu!"


"Cepat! Aku tidak ingin Sonia menganggu bulan madu Zane!" tutur Nicholas yang sudah siap seraya mengaktifkan beberapa alat miliknya.


Daniel langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ini lah gunanya Zane mengajak kedua sahabatnya berlibur, Daniel dan Nicholas begitu bertekad untuk menjaga Zane dari orang-orang parasit.


"Kenapa Sonia bisa di Jerman? Tidak seharusnya dia kemari!" gumam Daniel dengan tatapan yang sangat fokus mengemudi.


"Tidak aku biarkan wanita gila itu menggagalkan bulan madu, Zane!" sahut Nicholas dengan emosi menggebu-gebu. Walaupun dirinya pendiam, tapi dirinya bertindak tanpa di perintahkan.


"Hubungi Zane! Tanya di sedang di mana!"


Di lain sisi ....


"Aku tidak turun, Zane." kata Chelsea menolak ajakan Zane yang berniat mengajaknya keluar dari mobil. Mereka berdua sedang berada di area parkir sebuah mall besar saat ini, Hans Mall's.


"Kau yakin? Akan banyak penjahat yang mengintai diri mu nanti," kata Zane membuat Chelsea memutar matanya malas. Wanita itu melipat kedua tangannya dan melirik sinis ke arah sang suami.


"Aku tidak takut!" jawab Chelsea membuat Zane menghela napas panjang.


"Baiklah, tetap di sini. Aku tidak akan lama," Chelsea mengangguk dan membiarkan Zane pergi meninggalkan dirinya. Mereka berdua tidak tahu, bahwa Sonia juga berada negara yang sama dengan mereka, bahkan Sonia juga berada di mall tempat Zane dan Chelsea berada saat ini.

__ADS_1


"Zane?!" panggil Sonia saat melihat Zane yang baru saja masuk ke dalam mall seorang diri. Wanita itu tersenyum jahat dan memperbaiki penampilannya, baju yang sangat seksi, rambut yang sudah di cat menjadi hitam legam, riasan wajah yang benar-benar mencolok, membuat siapapun terkagum-kagum sekaligus merinding melihatnya.


Sonia berjalan bagaikan model terkenal. Tas jinjing nya bahkan sudah Ia keluarkan untuk lebih mencolok, melihat Zane juga yang datang ke mall tanpa Chelsea, membuat Sonia merasa sangat senang.


"Hari ini Zane menjadi milikku, Chelsea." gumam Sonia yang semakin mendekati Zane yang baru saja memasuki sebuah pusat perbelanjaan di sana, toko mewah yang barang-barang jutaan dollar, yang membuat Sonia terkejut.


"Selama aku masih ada, jangan harap kalian akan bisa berbulan madu." Sonia semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tas miliknya.


Sedangkan Zane, sedang sibuk memilih beberapa pakaian seksi untuk Chelsea, pria itu tak henti-hentinya tersenyum membayangkan Chelsea memakai lingerie hitam yang begitu tipis.


"Chelsea akan sangat-"


"ZANE!" panggil Sonia membuat Zane sontak menoleh. Pria itu mendengus dan mengurungkan niatnya untuk mengambil beberapa lingerie.


"Hai, tidak menyangka bahwa kita bertemu di mall!" katanya dengan sangat senang. Zane menelisik penampilan Sonia yang membuatnya begitu sakit mata. Bila di bandingkan dengan Sonia atau Chelsea, tentu saja lebih cantik sang istri.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Zane dengan tatapan curiga. Bertahun-tahun memiliki ikatan darah, membuat Zane begitu mengenal seorang Sonia. Wanita janda yang membuat Zane tidak bisa bernapas lega setiap detiknya. Wanita itu terkesan mengejar-ngejar dirinya, bahkan saat sudah berstatus memiliki suami saja, tetap mengikuti Zane kemanapun.


"Aku ada pemotretan di negara ini! Kau sendiri? Di mana istri kampungan mu itu?" tanya Sonia dengan menghina Chelsea, telinga Zane begitu panas mendengar hinaan yang di lontarkan oleh Sonia.


"Sebaiknya kau berkaca di sana," Zane menunjuk sebuah ruang ganti dengan kaca besar. "Kau akan melihat siapa wanita kampungan yang sebenarnya." lanjutnya dengan raut wajah datar. Sonia tersenyum seperti tidak tersinggung dengan ucapan Zane.


"Zane, apakah kau tidak merindukan ku?" tanya Sonia dengan mencoba untuk mendekati Zane. Tetapi pria itu seakan-akan tidak tersentuh sedikitpun.


"JANGAN MENYENTUH KU!" hardik Zane membuat Sonia terkejut mendengarnya. "SEBAIKNYA KAU PERGI SEBELUM AKU-"


DUG ....


BRUK ....


"Shhh!"


Tubuh Sonia yang tidak sengaja di tabrak oleh seseorang, langsung terhuyung ke arah Zane dan akhirnya Zane ikut terjatuh dan merintih kesakitan kala Sonia terjatuh tepat di atas tubuhnya.


"Minggir!" sentak Zane dengan mencoba mendorong tubuh Sonia dari atas tubuhnya. Tetapi Sonia seperti sengaja mengeratkan pelukannya.


Kejadian di mana Zane dan Sonia terjatuh dengan posisi menguntungkan bagi Sonia, membuat seorang wanita yang tengah membawa ponsel milik Zane, menatap nanar keduanya.


"ZANE!"


Zane terkejut melihat Chelsea yang sudah berdiri di ambang pintu toko, dengan air mata yang sudah siap untuk lolos.


"Wanita sialan kau!"


BRUK ....


"Zane! Apa yang kau-"


"DIAM! WANITA SIALAN TIDAK TAHU MALU!" hardik Zane dengan tatapan berapi-api. Tetapi tak lama, Zane menatap kearah pintu toko yang sudah tidak ada Chelsea.


Zane berlari menyusul sang istri yang pergi entah kemana. Sudah di pastikan bahwa Chelsea salah paham dengan kejadian tadi, Zane mengusap wajahnya dengan kasar dan benar-benar tidak akan tinggal diam dengan tindakan Sonia yang keterlaluan.


...****************...

__ADS_1


NOTE : Maaf semuanya, saya tidak update untuk sementara waktu ya. Akan next lanjut bab setelah tanggal 22 Juni karena sedang ada acara nikahan di rumah🤩


__ADS_2