Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Zane Hilang Kontrol


__ADS_3

Zane memeluk Mama Bellamy yang masih menangis karena tidak dapat menemukan Chelsea di manapun, bahkan para bodyguard Zane sudah berpencar di beberapa titik untuk mencari Chelsea, tetapi hasilnya nihil.


"Sudah aku katakan, jangan keluar tanpa izin ku, Ma." lirih Zane untuk menekan amarahnya, agar tidak lepas kendali dengan sang Mama. Mama Bellamy yang mendengar penuturan sang Putra, semakin menangis karena merasa bersalah.


"Zane, Mama sudah meminta Chelsea untuk tetap di kursi tunggu, tapi karena kecerobohan Mama, Chelsea-"


"Aku yang akan mencari Chelsea hingga menemukannya. Jangan khawatir," bisik Zane mencoba untuk menenangkan sang Mama. Tapi bohong bila dirinya tidak khawatir dengan keadaan istrinya yang saat ini tengah mengandung besar, Zane sadar bahwa setelah dirinya menikah dengan Chelsea banyak sekali masalah yang menghampiri mereka. Mulai dari Sonia, Ibu Tasya, Ibu Anggun, Reno, dan juga penembakan di ballroom hotel.


Daniel dan Nicholas langsung turun tangan untuk memeriksa kamera pengawas di sekitar toko perhiasan, yang saat ini di penuhi oleh pengunjung mall. Ya, mereka sempet terkejut karena melihat kedatangan orang tersohor kaya-raya ketiga, Zane.


Pria itu membawa lebih dari 10 bodyguard, termasuk Ricky untuk mencari istrinya, bahkan Nicholas dan Daniel juga memerintahkan anak buah mereka untuk membantu.


"Ba ... bagaimana kalau Robert mengetahui ini, Zane? Di ... dia pasti akan membenci ku!" ungkap Mama Bellamy yang mulai memikirkan sahabat lamanya yang begitu menjaga Chelsea sejak dulu, bahkan setelah kepergian Kimberly, sikap Robert semakin posesif kepada putri semata wayangnya.


Mendengar nama Ayah mertuanya di sebutkan, seketika Zane terdiam. "Ayah, bagaimana kalau Ayah mendengar kabar ini dari orang lain?" gumamnya bingung.


Di sisi lain, dirinya tidak ingin membuat pria paruh baya itu khawatir, tetapi di sisi lain mengatakan bahwa pria paruh baya tersebut berhak untuk mengetahui tentang kabar penculikan Chelsea.


"Sayang!"


"Owen!" Mama Bellamy langsung memeluk sang suami, yang masih mengatur napasnya. Pria itu langsung bergegas pergi dari kantor, setelah Daniel menghubungi dirinya tentang hilangnya Chelsea.


"Bagaimana ini terjadi, Bell? Bagaimana bisa Chelsea menghilang?!" tanya pria itu dengan raut wajah panik. Tatapan pria itu beralih kepada sang putra yang tampak sangat kacau.


"Zane, bagaimana bisa ini terjadi?" tanyanya dengan penuh selidik. Zane hanya diam dengan tatapan kosong, "JAWAB AYAH!"


"AKU LALAI!" hardik Zane dengan menatap penuh emosi kearah sang Ayah. "Aku ceroboh untuk menjaga istri ku! Seharusnya aku menemaninya pergi keluar! Andai saja aku tidak mementingkan rapat, semua ini tidak akan terjadi, Pa!" tambah Zane dengan air mata yang sudah lolos membanjiri wajah tampannya.


Pria itu terlihat sangat emosi dan di kuasai oleh amarah tiada tara, "BRENGSEK!"


BRAK ....


"ZANE!"


Mama Bellamy terkejut dengan aksi Zane yang baru saja menendang kursi di hadapannya hingga terbalik. "Nak, semua ini salah Mama. Jangan menyalahkan-"


"Siapa yang menyuruh Mama dan Amora keluar tanpa sepengetahuan ku? Jawab, Ma!"


Mama Bellamy melirik ke arah Ibu Tasya yang terduduk diam dengan air mata, air mata buaya. "Tasya,"


DEG ....


Ibu Tasya langsung menoleh cepat, "Kakak menuduh ku menculik Chelsea?! Aku sejak tadi berada di samping Kakak!" bantah Ibu Tasya yang tidak terima karena Mama Bellamy menyebut namanya.


"Bantahan mu tidak berlaku, Bi! Sekarang jawab aku, kenapa kau ingin Chelsea ikut dengan mu keluar dari mansion?!" tanya Zane dengan tatapan yang sangat tajam. Ibu Tasya sampai tak berkutik melihat tatapan pria itu, sangat tajam dan seperti akan melahapnya tanpa sisa.


"A ... aku, aku hanya mengajak Chelsea untuk healing dengan berbelanja! Chelsea juga menginginkan es krim, jadi apa salahnya aku mengajak-"


"SALAHNYA ADALAH KAU TIDAK MEMINTA IZIN!" sela Zane dengan membentak Ibu Tasya dengan suara tinggi, "Memangnya siapa dirimu yang berani mengajak istri ku yang tengah mengandung, keluar tanpa sepengetahuan ku! MEMANGNYA KAU SIAPA!"

__ADS_1


"Zane, turunkan nada bicara mu!" tegur Papa Owen yang tidak suka dengan sikap putra sulungnya. Zane tak menghiraukan dan semakin menatap tajam kepada wanita di hadapannya.


"Apakah kau bekerjasama dengan penculik itu?"


"JANGAN BERANINYA KAU MENUDUH KU TANPA BUKTI!"


...****************...


Mansion Lincoln ....


"Benar-benar gila, kalau wanita rubah itu tidak ikut serta, lalu siapa yang menculik Chelsea? Hantu? Hantu mana yang mau menculik wanita secantik Chelsea," Daniel mulai kebingungan dengan pernyataannya sendiri. Nicholas melirik malas dan menatap layar di hadapannya, yang menampilkan beberapa rekaman yang telah Ia minta dari ruang CCTV di mall tadi.


"Sudah aku katakan, pasti Anggun." ujarnya dengan penuh keyakinan.


"Jangan menyebut namanya lagi, memangnya kau tahu kalau Anggun-"


"Anggun adalah wanita yang memiliki komitmen yang tinggi, apa yang Ia inginkan harus dia dapatkan, contohnya ada di depan mata." Tasya menggelengkan matanya saat melihat Daniel mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Siapa?"


"Tasya,"


"Ck, jangan membahasnya juga! Sekarang kita fokus pada Chelsea dulu," cibir pria itu dengan menatap kembali ponselnya dengan raut wajah serius.


"Di mana Zane?" tanya Nicholas setelah memperhatikan sekitaran, dimana tidak ada Zane yang terlihat sejak tadi.


"Bagaimana-"


PRANG ....


"Suara apa itu?" gumam Nicholas yang langsung menutup laptopnya dengan cepat dan bergegas menuju lantai atas, bahkan keluarga Lincoln lainnya juga sama-sama menaiki anak tangga.


"Suara apa itu, Nic?" tanya Sonia dengan raut wajah cemas. Nicholas mengangkat bahunya tidak tahu dan bergegas menyusul keluarga Lincoln yang lain.


Sonia yang awalnya ingin pergi untuk menenangkan diri karena ulah Arthur, malah mengurungkan niatnya dan langsung ikut menyusul ke atas.


"ZANE! BUKA PINTUNYA, NAK!" teriak Mama Bellamy yang panik bukan main, karena mendengar suara bantingan benda dari dalam kamar sang Putra.


Tok ... tok ....


"Zane, buka! Jangan seperti ini, Nak!" Kini giliran Papa Owen yang mengetuk pintu kamar sang Putra sulung dengan cemas.


"Pa, bagaimana kalau Zane melakukan yang tidak benar?" tanya Mama Bellamy yang tersirat ketakutan dari manik matanya. Tak lama, Nicholas, Daniel, dan Sonia datang dan Nicholas langsung menuju pintu.


"Zane, buka pintunya! Jangan menyakiti dirimu sendiri!"


Di dalam kamar, Zane menatap vas bunga yang baru saja Ia lemparkan ke arah dinding kamar, dan membuat benda itu pecah berkeping-keping, bahkan mengenai beberapa titik tubuhnya.


"Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa hidup tanpa Chelsea," lirih Zane dengan meremas rambutnya dengan penuh putus asa.

__ADS_1


"Aku hanya menginginkan Chelsea ku kembali, hanya Chelsea!" imbuhnya dengan isak tangis kecil. Zane menjatuhkan tubuhnya yang masih berbalut kemeja kerja ke lantai, darah segar terlihat mengalir, karena Zane tak sengaja mengepalkan tangannya tepat di atas pecahan kaca.


Bahkan suara ketukan pintu dan panggilan dari semua anggota keluarga Lincoln, tak Ia hiraukan. Ini yang Ia takutkan di saat banyak yang menginginkan Chelsea tiada, sedangkan dirinya malah mementingkan sebuah rapat dan pergi meninggalkan Chelsea seorang diri. Bahkan Zane tidak meminta bantuan bodyguard untuk menjaga Chelsea kemanapun wanita hamil itu pergi.


"Aku bodoh!"


PLAK ....


PLAK ....


PLAK ....


"KAU BODOH, ZANE!" pekik Zane setelah menampar dirinya sendiri cukup kuat, hingga mengakibatkan ujung bibirnya terluka dan mengeluarkan darah.


"ZANE! BILA CHELSEA MELIHATMU SEPERTI INI, AKU PASTIKAN DIA AKAN MENINGGALKAN MU!"


DEG ....


Zane berubah menjadi tegang mendengar teriakan seseorang yang begitu menggema. Itu suara Arthur. Zane menoleh dan menatap pintu kamar, yang Ia kunci rapat-rapat.


"KAU INGIN CHELSEA MENINGGALKAN MU HAH?!" teriak Arthur kembali dengan suara sungguh lantang. Pikiran Zane seketika berubah menjadi hitam dan sulit untuk berpikir lagi, di pikirannya hanya ada Chelsea seorang.


"Chelsea tidak akan pernah meninggalkan ku. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, tidak akan pernah!"


Kedua tangan Zane mengepal kuat dan berdiri dari posisinya secara perlahan, "Kalian bermain-main dengan ku, kalian yang berani menyakiti Istri dan anak-anak ku, bukanlah tandingan seorang Zane Abraham Lincoln."


BRAK .....


PRANG ....


Meja kayu yang berisi guci mahal pun tak lepas dari amukan seorang Zane. Tak peduli bila Mama Bellamy akan memarahinya karena guci.


Zane mendekati meja rias Chelsea dan mengambil sebuah kain kasa, melilit luka di lengannya dengan asal dan tatapannya sangat tajam. Aura dalam diri Zane benar-benar berubah, hanya ada aura dingin menyeruak tajam. "Kalian harus mati,"


Zane meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang, "Halo, Dragon!"


"Halo kembali sahabat ku, ada yang bisa aku-"


"Aku tidak ingin berbasa-basi, lakukan perintah ku ini."


"Oh ya? Apa itu sobat?" tanya pria di seberang sana dengan tawa kecil, entah antara merasa senang atau bagaimana.


Langkah kaki Zane membawanya ke sebuah balkon kamar, balkon kamar yang begitu disukai oleh Chelsea, bahkan saking sukanya dengan suasana balkon, Zane rela membelikan sofa dan keinginan Chelsea walaupun hanya sekadar mengisi balkon besar itu.


"Kau memiliki misi bersama ku, temui aku di tempat biasa. Kita memiliki mainan baru," ujar Zane dengan menyeringai tajam. Pria itu melepaskan kancing jas dan memasukkan tangannya ke saku celana.


"Baiklah, aku akan menunggu mu di sana, Sobat."


AKU UPDATE SETIAP HARI YA. AKU USAHAKAN 1 HARI UPDATE 2 BAB. HAPPY READING BESTIE.

__ADS_1


__ADS_2