Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Ajang Balas Dendam


__ADS_3

Lona, wanita berprofesi sebagai bartender di club malam tersebut, tersenyum saat melihat kedatangan wanita yang begitu menarik atensinya. Pakaian yang mencolok dan terbuka, membuat Lona menjadi sakit mata.


"Hello Dear," sapanya dengan santai dengan berpangku tangan di atas meja minuman. Wanita berambut tergerai yang baru saja datang langsung menoleh, dan menatap Lona dengan sinis.


"Kau masih memiliki muka ternyata menyapa ku," sinis nya membuat Lona menyunggingkan senyum miring.


"Tentu saja aku memiliki muka, kau ini sangat lucu." Jawab Lona tak kalah sinis bahkan jauh lebih menohok wanita yang melipat kedua tangan dengan angkuh. "Apakah kau kembali untuk bekerja seperti dulu?" tanyanya dengan menatap kembali penampilan wanita di hadapannya.


"Tentu saja, aku ingin menarik pria incaran ku." Lona mengikuti arah pandang wanita tersebut, yang mengarah kepada salah satu pria yang cukup tampan tengah duduk seorang diri.


Melihatnya, Lona tertawa kecil membuat wanita lain itu menoleh. "Do not laugh!"


"Apakah kau sedang bermimpi, Anggun? Mana mungkin pria tampan itu mau dengan wanita bau tanah seperti mu?"


BRAK ....


Lona terkekeh geli melihat reaksi Anggun yang sesuai ekspektasi nya. Anggun menatap Lona penuh amanah dan bahkan sudah bersiap akan menerkam wanita berpakaian putih di hadapannya. "Kau harusnya berkaca, kau bahkan jauh lebih buruk dari ku! Aku bisa menuntut mu atas dugaan penganiayaan kepada ku!" ancam Anggun membuat Lona mengerutkan keningnya.


Mereka berdua tak sadar, bila semua tamu di club menatap ke arah mereka berdua. Bahkan kedua pria yang bekerja sebagai bartender di belakang Lona, melotot kesal ke arah Anggun. "Hey-"


"Shut up, Julio!" sela Lona membuat satu teman pria lainnya langsung membungkam mulut temannya agar tidak berbicara.


Lona melipat kemeja putihnya hingga sebatas siku dan menatap Anggun dengan tatapan meremehkan. "Lakukan saja, tapi sebelum itu, apakah kau tahu apa saja penganiayaan yang aku lakukan kepada mu? Dan apakah kau memiliki bukti kalau aku ikut dalam penganiayaan mu malam itu?" tanya Lona dengan santai membuat Anggun mengepalkan kedua tangannya dan tak bisa menjawab.


"Tambahan," sahut Julio setelah berhasil menjauhi tangan rekan kerjanya, "malah kau yang bisa di tuntut balik oleh Lona, atas tuduhan pencemaran nama baik!"


Lona tersenyum miring mendengar sahutan sang teman, bahkan wanita itu sudah mengacungkan jempol kepada Julio dengan bangga, "Jadi pilih yang mana? Menuntut ku tanpa bukti atau aku yang menjebloskan mu ke penjara?"


"Kau berani mengancam seorang Anggun Chandraguna Pattinson?!" hardik Anggun membuat Lona seketika teringat dengan nama samaran dari seseorang. Bukannya takut, Lona semakin tertawa terbahak-bahak.


"Astaga, perut ku sungguh sakit. Marga siapa Pattinson? Lalu siapa Chandraguna? Kau ini sedang amnesia atau bagaimana, Anggun?" tanya Lona dengan senyuman tak biasa. Anggun mengeram kesal dan langsung menguyur wajah Lona dengan wine milik seseorang di hadapannya. Julio dan rekan kerja Lona terkejut dengan aksi Anggun.

__ADS_1


Lona mengusap wajahnya dengan kasar dan menatap datar pada Anggun, "Kau telah di buang dan tidak di akui oleh keluarga Chandraguna, kau sudah menjadi janda dan nama marga suami mu adalah Lewandowski Lemos, bukan Pattinson. Identitas mu itu sungguh buruk, Ibu mu adalah wanita malam dan anaknya juga wanita malam, buah tidak jatuh dari-"


"DIAM! JANGAN PERNAH MENGATAKAN APAPUN TENGANG AKU, LONA!"


"Aku sudah mengatakan, kalau aku bukan Lona sahabat mu lagi, aku adalah Lona Hadrey."


...****************...


Ibu Tasya menatap wanita yang berpakaian sexy tengah menyeruput minuman di hadapannya. Dengan langkah lebar, Ibu Tasya langsung mendudukkan dirinya di kursi kosong, membuat wanita di sana langsung menadah, "Ternyata kau Tasya. Lama tidak bertemu,"


Ibu Tasya tersenyum miring melihat penampakan Anggun yang berbeda, "Untuk apa kau menggunakan kacamata seperti itu?" tanya Ibu Tasya membuat Ibu Anggun langsung membentak kacamatanya.


"Jangan banyak bertanya, untuk apa kau ingin menemui ku? Aku sangat sibuk," ujar Ibu Anggun membuat Ibu Tasya berdecak sinis mendengarnya.


"Aku ingin merencanakan sesuatu yang besar, kau harus membantu ku untuk menjalankan rencananya itu!" ungkap Ibu Tasya membuat Ibu Anggun mengangguk setuju.


"Selagi aku tidak di rugikan, maka aku akan membantu mu."


"Robert?" beonya bingung.


"Bertahun-tahun kau di bohongi, kau dinikahi secara siri, hak asuh putra kembar mu jatuh kepada mantan suami mu, kau tidak di berikan harta gono-gini, dan kau di usir secara kasar. Kau tidak ingin balas dendam? Terlebih lagi kepada Robert dan Chelsea," jelas Ibu Tasya yang sengaja menyebutkan nama Chelsea di akhir katanya, wanita itu sengaja pula mengompori Ibu Anggun.


"Kau benar," Ibu Anggun menatap Ibu Tasya dengan datar, "Mereka berdua yang membuat ku harus kembali ke dunia gelap ku. Bukankah aku harus melakukan balas dendam atas penderitaan yang aku alami? Apakah kau ingin balas dendam juga?" tanya Ibu Anggun membuat Ibu Tasya tanpa ragu langsung mengangguk antusias.


"Tentu saja, karena Chelsea juga aku harus mendapatkan kemarahan dari Zane dan keluarga Lincoln!" ujarnya dengan menggebu-gebu. Ibu Anggun kembali menyesap minumannya hingga tandas dan tersenyum tipis.


"Katakan, apa rencana mu untuk balas dendam kepada Ayah dan Anak itu? Ingin menembak seperti di ballroom hotel itu? Aku tidak setuju, karena rencana mu itu sungguh berantakan." Kata Ibu Anggun dengan sarkas, Ibu Tasya mendelik kesal mendengarnya.


"Aku sudah menyusunnya dengan matang, hanya saja si pria payah itu yang memalukan kesalahan!" tampik Ibu Tasya dengan kesal, wanita itu melipat kedua tangannya dengan angkuh dan tak lupa melipat salah satu kakinya hingga saling menumpu.


"Bagaimana kalau kita yang membunuh Chelsea dan bayinya dengan cara menabraknya? Efeknya bisa sangat luar biasa, bisa mati atau koma, dan Zane akan kehilangan kedua calon bayi kembarnya." Usul Ibu Anggun dengan semangat tak lupa dengan nada berbisik. Ibu Tasya terdiam sejenak dan seolah-olah sedang berpikir.

__ADS_1


"Tidak akan membuat kita tertangkap kan?"


"Pemikiran mu terlalu kolot, kita bisa memanipulasi kecelakaan itu seperti Robert kan. Atau kita minta bantuan Clara saja?"


Alis Ibu Tasya langsung terangkat bingung, "Siapa Clara?" tanyanya.


Ibu Anggun tersenyum mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh wanita di hadapannya, "Kau akan tahu nanti. Intinya kita harus meminta bantuannya, untuk membalaskan dendam kepada Robert dan Chelsea, terlebih lagi dia juga terobsesi dengan Robert. Posisi kita saling di untungkan," kata Ibu Anggun dengan panjang lebar.


"Kau yakin dia tidak akan berkhianat?"


"Aku berani jamin. Clara masih ada hubungan keluarga dengan Robert, hanya saja Clara di adopsi dan membuat mereka berdua bisa saja menikah karena tidak ada hubungan darah yang mengikat keduanya. Tapi sayangnya, Robert tidak menyukai Clara dan memilih untuk menikahi Kimberly, wanita kampungan yang sangat persis seperti Chelsea." Cemooh Ibu Anggun dengan raut wajah yang begitu senang. Ibu Tasya mengangguk setuju dan menyesap minuman miliknya yang sempat Ibu Anggun pesankan untuknya.


"Baiklah, aku setuju. Kita akan memulai rencana kita dengan sempurna,"


"Aku harus pergi, ada pekerjaan yang menunggu ku." Ibu Anggun bergegas pergi begitu saja tanpa melihat ke arah Ibu Tasya yang tercengang dengan kepergian wanita tersebut. Ibu Anggun menatap seorang wanita yang begitu Ia kenali, yang tengah berdiri di ujung jalan seorang diri.


"Ini waktu yang tepat untuk membuat mu mati," Ibu Anggun bergegas masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Wanita itu seperti orang kesetanan karena terlalu fokus pada target yang ingin Ia inginkan. Bahkan banyak pengendara yang berteriak kepada nya karena membawa mobil dengan kecepatan tinggi.


Tetapi, Ibu Tasya tidak peduli dengan mereka semua. Wanita itu mengeratkan genggaman tangannya pada stir mobil dan langsung membanting stir tersebut dengan kuat ke arah kiri.


BRUK .....


Tak sampai di sana, bahkan mobil hitam itu juga semakin mempercepat lajunya dengan menyeret seorang wanita yang sudah berlumuran darah di depan mobilnya. "Kau harus menerima ganjarannya!" gumam Ibu Anggun dengan senyuman menyeramkan.


"CEPAT HUBUNGI POLISI! MOBIL ITU TERUS MENYERET WANITA HINGGA PULUHAN METER!" teriak seorang wanita dengan histeris, karena jalanan yang seharusnya Ia lewati bersama wanita tadi, sudah berlumuran darah bahkan tertinggal satu potong tangan milik wanita yang tidak Ia kenal.


Di sisi lain sedang heboh dan histeris, berbeda dengan Ibu Anggun yang semakin di buat bersemangat karena ulahnya sendiri. Wanita itu menghentikan mobilnya di jalanan yang cukup sepi dan segera turun untuk melihat wanita yang sengaja Ia tabrak.


"Kau akhirnya mati tepat di tangan ku, kau terlalu meremehkan aku, Lona." ujarnya dengan senyuman miring, saya melihat hanya ada beberapa helai kain dan beberapa potong tubuh yang masih tersisa di depan mobilnya. Ibu Anggun bergegas membersihkan jejak jarinya dari stir mobil dan pintu mobil, menghapus rekaman di dalam mobil, dan pergi meninggalkan mobil miliknya begitu saja dengan cepat.


"Satu orang sudah terselesaikan, sekarang orang lain yang harus segara aku habisi. Chelsea dan Robert, aku akan membuat kalian tiada di tangan ku cepat atau lambat."

__ADS_1


__ADS_2