Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Pembalasan Dendam


__ADS_3

"A ... apakah kau baik-baik?"


Di sebuah ruangan putih, di mana dua orang berlawanan jenis tengah saling bertatapan. Mereka berdua saling menjaga jarak sejak tadi dan canggung.


"I ... iya," jawab seorang wanita dengan terbata-bata. Setiap hari bahkan sudah menjadi minggu, pria yang mengabdikan diri sebagai bodyguard dari Robert itu datang untuk menjaga dirinya.


Samuel, pria bertubuh kekar dan cukup tinggi itu menatap waspada pada setiap langkah kaki wanita di hadapannya. "Sebaiknya kau duduk saja, aku ngeri!" ungkap Samuel.


Giselle mengernyit bingung. "Ngeri? Memangnya aku kenapa?" tanyanya keheranan melihat raut wajah Samuel yang sudah tegang sejak tadi.


"Ya ... ya, karena kaki mu belum baik-baik saja. Sebaiknya kau duduk saja!" jelas Samuel yang mulai mendekati Giselle yang masih memegang pinggiran ranjang.


"Daripada kau berbicara terus, sebaiknya bantu aku!"


Samuel berdecih kesal dan membantu Giselle untuk duduk di atas ranjang. "Dasar, sepertinya aku menyesal karena setuju untuk merawat mu di sini,"


Giselle mendelik dan langsung memukul perut pria di hadapannya. Samuel meringis kecil dan terkekeh geli, "I'm just kidding."


Hening.


Samuel melipat kedua tangannya dan menatap seisi ruangan yang selalu ia datangi selama satu bulan terakhir ini. "Tuan Robert sering kemari?"


"Benar,"


"Aku masih penasaran, sepertinya kau dan Tuan Robert cukup dekat." kata Samuel yang masih menatap seisi ruangan tersebut.


"Kau ingin mengetahui satu hal?"


Samuel sontak menatap wanita di hadapannya. "Sebaiknya jangan katakan, karena kita-"


"Bukankah kita harus menjadi teman? Tuan Robert yang meminta," sela Giselle dengan senyuman jahat. Samuel memutar matanya malas dan memilih untuk diam. Bila sudah ada sangkut-pautnya dengan Tuannya, maka Samuel akan diam.


"Katakan saja!"


"Kakakku di tertabrak saat akan menyelamatkan Anggun,"


DEG ....


Samuel melirik Giselle kembali dan tertunduk. Luka lama yang telah Ia simpan bertahun-tahun itu, akhirnya kembali di ungkitnya untuk sekalian kalinya.


"Anggun?" beonya. "Istri kedua Tuan Robert?"


"Lebih tepatnya mantan istri, mereka menikah siri dan bodohnya Anggun tidak menyadari statusnya. Anggun di ceraikan karena menjadi dugaan dalang pembunuhan dari istri sah Tuan Robert dulu dan satu hal penyebab yang tidak aku ketahui. Nona Chelsea mengalami trauma mental karena kejadian yang menimpa keluarga mereka, dan satu fakta yang baru aku ketahui, bahwa pelaku utama kecelakaan 17 tahun yang lalu, adalah Adik dirinya."


Samuel terbengong-bengong dengan penjelasan dari Giselle, "Tunggu-tunggu, maksud mu itu Tuan Robert memiliki Adik tiri? Lalu Adik tirinya menyukai Tuan Robert?" tanya Samuel dengan raut wajah serius.


"Menurut mu?"


"Oh my god!" Samuel benar-benar tak habis pikir dengan kisah di balik pembalasan Robert selama ini. Sekarang Samuel semakin yakin untuk membantu Robert menangkap mereka semua, termasuk Anggun. Giselle yang melihat reaksi dari Samuel, terkekeh geli.


"Anggun juga yang menabrak ku hingga seperti ini," ungkap Giselle kembali dengan wajah bengis. Kebencian dan rasa dengan kembali menyeruak di dalam dirinya, tatapan wanita itu begitu sangat tajam dan kedua tangannya terkepal kuat.

__ADS_1


"Jangan katakan, Anggun juga yang menjadi dalang penculikan dari Nona Chelsea,"


DEG ....


Kini giliran Giselle yang terkejut dengan penuturan dari Samuel. "Nona Chelsea di culik?!"


Samuel langsung membekap mulut Giselle, "Jangan keras-keras. Bagaimana kalau ada yang mendengar!" kesal Samuel yang langsung membuat Giselle terdiam.


Ternyata Samuel sangat tampan. batinnya dengan pikiran yang mulai menerawang jauh.


Samuel bahkan ikut terdiam saat melihat Giselle yang menatapnya dengan wajah manis. Mereka berdua terhanyut dalam tatapan yang terkunci, hingga Samuel menjauhkan tangannya tanpa memalingkan tatapannya.


Kau ternyata cukup cantik, Giselle.


Samuel merasakan degup jantungnya mulai tidak aman, begitu juga Giselle yang langsung memalingkan wajahnya dan terbatuk-batuk kecil.


"Ma ... maaf,"


Samuel tersadar dan langsung mendorong tubuh Giselle hingga terjungkal ke ranjang, "Hey! Apa yang kau lakukan, Sam!" teriak Giselle yang benar-benar terkejut dengan dorongan Samuel.


...****************...


"Cari mereka semua hingga tertangkap!"


"Baik, Tuan!"


Para bodyguard yang telah berkumpul sejak tadi, langsung bergegas untuk mengambil senjata setelah semua, mereka harus mencari seseorang di minta toleh sang Tuan. Tatapan seorang pria paruh baya begitu sangat tajam ke arah gerbang mansion, tatapan yang jarang Ia perlihatkan.


Robert merogoh kantong dan langsung menghubungi seseorang yang mungkin bisa memberikannya info terkait keberadaan Adik tirinya itu. Mungkin Robert terlalu bertele-tele kepada saudara tirinya, sehingga membuat sikap wanita itu begitu meremehkan dan menyepelekan dirinya.


"Halo?"


"Di mana Putri kesayangan mu itu, hah?!" tanya Robert tanpa basa-basi. Pria itu tak ingin membuang-buang waktu untuk menangkap Clara yang masih berkeliaran di luar sana, terlebih lagi dengan menculik putrinya yang saat ini tengah berbadan dua.


"Robert? Ini kau, Nak?"


Robert tertawa kecil mendengar pertanyaan dari seseorang di seberang telepon.


"Kau sungguh pintar mengalihkan pembicaraan, Pria tua! Jangan membuat kesabaran ku habis dengan pertanyaan mu itu!" kata Robert dengan perasaan benar-benar kesal.


"Apa maksud-"


"Apakah kau sengaja menyembunyikan Putri kesayangan mu kan? Di mana kau menyembunyikannya?!" tanya Robert kembali.


"Aku tidak mengerti apa yang tanyakan ini, Nak. Ayah tidak tahu di mana Clara," jawab pria di seberang sana. Ayah kandung Robert, Gerland Lemos.


"Perlu kamu ketahui, Nak. Ayah sudah mengusir Clara dan menarik semua warisan yang Ayah berikan kepadanya. Kamu tahu kenapa? Karena dia telah mengonsumsi obat terlarang-"


"Aku tidak ingin mendengar semua itu, karena aku mengetahui semuanya!" sela Robert dengan nada ketus.


"Ka ... kau mengetahui semuanya?"

__ADS_1


"Benar, termasuk Putri kesayangan mu itu yang telah menculik Putri ku, Chelsea."


Hening.


Robert kembali terkekeh geli saat terjadi keheningan di antara mereka. Setelah bertahun-tahun lamanya, Robert kembali menghubungi keluarganya yang berada di luar negeri kincir angin, karena Robert memilih untuk hidup mandiri dengan usaha besar yang Ia pegang sampai detik ini juga.


Robert meninggalkan keluarga besarnya, bukan tanpa alasan. Salah satunya adalah sebagai penolakan atas keputusan sang Ayah, yang mengadopsi seorang Putri dari panti asuhan tanpa meminta persetujuan dari anak-anaknya. Hal tersebut membuat Robert sama sekali tidak menyesal untuk mengambil keputusan pergi meninggalkan negara kincir angin tersebut.


"Chelsea adalah cucuku?" tanya Gerland dengan nada pelan.


Benar, Robert memang tidak pernah memberitahu tentang dirinya yang telah memiliki Putri dan juga menjalin hubungan kerabat dengan keluarga tersohor nomor 3 di dunia, keluarga Lincoln.


"Chelsea adalah cucu ku? Katakan, Robert!" desak Gerland.


"Benar, Putri ku yang sekarang di culik oleh Clara! Karena Clara juga, aku harus kehilangan Istri dan calon anak ku 17 tahun yang lalu, karena Clara juga yang telah membuat Anak asuh ku harus kehilangan Ibunya!" hardik Robert yang langsung memutuskan telepon tersebut.


Robert menggenggam ponselnya dengan kuat dan langsung masuk ke dalam mansion. Entah mengapa keluarga Linchol tak memberitahukan dirinya tentang penculikan yang di alami oleh Chelsea. Robert benar-benar telah muak dengan semua drama kehidupan yang membuatnya harus lagi dan lagi mengeluarkan senjata yang tak pernah lagi Ia pegang. Terakhir kali Ia pegang, saat Kimberly masih ada di kehidupannya.


Robert masuk ke dalam kamar dan menatap pajangan foto besar Kimberly. "Aku mengangkat senjata ini untuk kebaikan Putri kita, Kim. Aku melakukan ini untuk melindungi Putri kita dari orang seperti Clara. Jangan menghukum ku lebih jauh lagi, Kim."


Robert mengambil sebuah pisau dan juga pistol. Ada debaran kuat di dalam hatinya, senjata yang tak pernah Ia pegang lagi, kini terangkat kembali. Pistol dan pisau kecil yang masih tersimpan rapi dan sering Ia rawat dengan bantuan Samuel, pisau kecil yang menyilaukan mata.


"Kau harus mati, Clara."


Robert langsung meraih beberapa benda yang tersimpan rapi di dalam almari miliknya. Setelah itu, Robert bergegas keluar untuk menemui Zane dan meminta penjelasan atau memilih untuk rencana seorang diri apabila Zane tidak bertindak untuk Putrinya. Dengan langkah tergesa-gesa menuruni anak tangga, beberapa pelayan dan pekerja mansion hanya membungkuk hormat saat melihat kedatangan Tuan mereka.


"Harley!"


"Iya, Tuan besar!" Datanglah seorang pria paruh baya seusia dengan Robert, "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"


"Ambil ini," Pria yang menjadi kepala pelayan itu menatap bingung pada revolver yang di berikan oleh Robert.


"Jangan banyak tanya, kau harus menjaga mansion dan hubungi aku segera bila ada yang kau curigai! Mengerti?"


"Ba ... baik, Tuan besar!"


Robert tak menjawab dan kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil yang telah siap, sudah ada Samuel yang baru datang dan langsung mengambil alih supir untuk Robert, "Selamat siang, Tuan." sapanya dengan kaku.


Samuel menjadi kikuk karena tak mendapatkan jawaban dari sang Tuan. Samuel sudah mengetahui, bahwa Robert telah menguping dan mengintip pembicaraan dirinya dengan Giselle tadi pagi. Samuel memang melakukan itu atas perintah seseorang.


Karena ulahnya, aku harus di diamkan oleh Tuan. Dasar. batin Samuel.


"Jalan!"


Samuel lamba menjalankan mobil dan sempat terkejut karena tiba-tiba Robert bersuara ketus kepadanya. "Ki ... kita akan pergi ke mana-"


"Kenapa kau tidak mengatakan kepada saya yang sebenarnya, Sam."


DEG ....


Waduh, gawat.

__ADS_1


__ADS_2