
Chelsea menatap pantulan dirinya di cermin, terdapat ruam merah di sekitar perut karena kejadian tadi pagi. Chelsea mengoles obat dengan sesekali meringis kecil. Wanita itu bahkan tidak memberitahu apa yang terjadi kepada sang suami atau keluarga Lincoln lainnya. Chelsea juga mengira, bahwa Sonia adalah wanita baik-baik, tetapi ternyata berbanding balik.
Karena terbiasa mengurus para pengganggu di desanya, membuat Chelsea bersikap seperti sekarang. Wanita itu enggan menunjukkan apa yang Ia rasakan, dan tidak ingin membuat orang terdekatnya merasa cemas.
"Mungkin besok aku akan ke rumah sakit, untuk memeriksa luka ini." gumamnya. Wanita itu menurunkan pakaiannya kembali dan keluar dari kamar. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan itu artinya Zane akan segera pulang setelah mengirimkan beberapa pesan, yang membuat Chelsea tersentuh.
Menuruni anak tangga, dengan memakai baju tidur, wanita itu terlihat semakin seksi dan cantik. Mansion megah itu sudah terlihat sepi, Mama Bellamy dan Papa Owen sedang menghadiri undangan perusahaan, dan hanya ada dirinya serta Sonia dan Ibunya.
"Hey, wanita kampungan!"
Langkah kaki Chelsea langsung berhenti tepat di tangga terakhir. Wanita itu menoleh dan mengerutkan keningnya, saat melihat wanita paruh baya menatapnya dengan penuh angkuh.
"Bibi memanggil ku?" tanya Chelsea memastikan. Ibu Sonia, yaitu Tasya Kamila. Wanita itu berjalan mendekati Chelsea dengan tatapan penuh meremehkan.
"Tentu saja aku memanggil mu, siapa lagi." jawabnya seraya menatap penampilan Chelsea yang benar-benar membuatnya menyeringai kecil.
"Kau ternyata memiliki keberanian untuk memakai pakaian seperti ini? Sangat hebat,"
Chelsea melihat pakaiannya, pakaian tidur yang memang Zane belikan kepadanya. "Apakah ada yang salah?" tanya Chelsea tidak mengerti. Wanita itu bahkan mengerutkan keningnya dan benar-benar menatap penampilannya sendiri.
"Tentu saja, karena kau lebih cocok untuk menjadi pembantu di sini, bukan istri dari keponakan ku, Zane! Aku tidak mengerti, kenapa selera Zane begitu murahan, menikah dengan mu sama saja mengundang petaka baginya!" hina Ibu Tasya dengan keji. Chelsea meremas pakaian tidurnya dengan helaan napas panjang.
"Kenapa Bibi berkata seperti itu? Apakah aku memiliki kesalahan, hingga membuat Bibi dan Sonia tidak menyukai ku?" tanya Chelsea membuat Ibu Tasya mendelik tajam.
"Kau memanggil putri apa? Sonia? Hey, wanita udik, panggil putri ku dengan sebutan Nona!" hardik Ibu Tasya membuat Chelsea memalingkan wajahnya. Rasanya cukup jangan melihat drama Ibu dan Anak ini seharian.
"Aku merasa Putri mu tidak perlu aku panggil dengan sebutan Nona. Karena sikapnya sama sekali tidak mencerminkan, bahwa dia pantas menjadi Nona, Bibi Tasya." jawab Chelsea dengan menohok hati Ibu Tasya. Wanita paruh baya itu mengepalkan kedua tangannya dengan kesal dan semakin melangkahkan kakinya mendekati Chelsea.
"Kau hanya wanita baru yang di pungut oleh Zane! Zane menikahi mu karena rasa kasihan, bukan cinta!" Hina Ibu Tasya kembali tanpa melihat Chelsea yang sudah pucat pasi.
"Tidak! Kenapa kau mengatakan hal itu kepada ku, Bi?!" tanya Chelsea dengan suara tinggi. Air mata sudah tergenang di pelupuk mata wanita itu, Ibu Tasya semakin senang melihat Chelsea yang terpojokkan karena ulahnya.
"Karena kau pantas mendapatkan ini!"
BRUK ....
"Shhh," Chelsea memegangi punggungnya yang terasa sakit, karena terkena ujung meja kaca di sana. Ibu Tasya menyunggingkan senyum jahatnya, wanita itu berjongkok dan menelisik wajah Chelsea.
"Yang berhak dan yang pantas menjadi istri Zane, adalah Putri ku Sonia. Bukan dirimu atau wanita lain!"
Chelsea menepis tangan Ibu Tasya dengan perasaan campur aduk, "Putri mu memang pantas menjadi istri dari Zane Abraham Lincoln," kata Chelsea membuat Ibu Tasya tersenyum.
"Tentu saja-"
"Tapi sayangnya, suami ku tidak memiliki selera rendahan dengan wanita berstatus janda, seperti wanita mu itu!"
"BERANI SEKALI KAU!"
PLAK ....
__ADS_1
...****************...
"Ada apa, Kak?" tanya Daniel setelah melihat raut wajah Zane yang tidak seperti biasanya. Sejak rapat di mulai, tidak ada komentar atau kata-kata yang keluar seperti biasanya. Bahkan terkesan rapat tadi hanyalah seperti kuburan, tegang dan canggung.
Daniel dan Nicholas bahkan tidak banyak berkomentar, karena selain takut terkena marah, mereka juga enggan membuat masalah baru dengan sang atasan. Zane, Nicholas, dan Daniel udah berada di dalam mobil.
"Entah lah, perasaan ku tidak enak sejak tadi." Jawab Zane dengan raut wajah datarnya. Setelah rapat selesai, Zane langsung pulang untuk memastikan bahwa istrinya baik-baik saja.
"Coba hubungi Chelsea, aku tahu kau mengkhawatirkan istri mu." celetuk Nicholas yang sedang fokus menyetir. Zane sejak tadi terus menegang ponselnya, berharap-harap bahwa sang istri menelpon kembali atau mengangkat telepon darinya.
"Pesan dan telpon ku sama sekali tidak ada jawaban. Mama dan Papa sedang ke hotel, dan aku khawatir bila Sonia macam-macam dengan istri ku." kata Zane membuat Daniel mendengus kesal. Pria itu masih terlihat kesal karena ulah wanita pirang, yang menguras setengah tensi darahnya.
"Membayangkan Sonia memeluk mu kembali saja, sudah membuat ku naik pitam." gerutu Daniel membuat sudut Nicholas terangkat.
"Bukankah dulu kau memuji Sonia? Kenapa sekarang memusuhinya?" tanya Nicholas membuat Daniel semakin kesal karena pria dewasa tersebut.
"Oh ayo lah, pesonanya saat masih menjadi istri sangat cantik, berbeda saat menjadi janda tanpa anak. Membuat ku muak, sebaiknya kau jangan terlalu dekat dengan janda pirang itu, Kak Zane!" peringat Daniel membuat Zane mengangguk tanpa menoleh. Pria itu sibuk mengirim pesan kepada kepala pelayan.
"Sial! Kenapa kau lamban sekali membawa mobil ini, Nic!" kesal Zane dengan memukul kursi kemudi, Nicholas memutar matanya malas.
"Jarak mansion utama dengan kantor cukup jauh, Zane. Bersabarlah!" balas Nicholas dengan santai tanpa menghiraukan tatapan mematikan sang atasan. Zane melipat kedua tangannya dan mendengus kesal.
Hingga beberapa menit kemudian, akhirnya mobil hitam yang di tumpangi tiga pria tampan itu tiba di mansion utama. Dengan gerak cepat, Zane masuk ke dalam mansion, dengan kepala pelayan yang sudah ada di ambang pintu.
"Selamat malam, Tuan Zane." sapa wanita paruh baya yang menjadi kepala pelayan di sana. Zane mengangguk tanpa menoleh.
"Di mana istri ku?"
"Kemana para wanita menyebalkan itu?" tanya Daniel kepada seorang pelayan yang berada di dekatnya. Wanita yang cukup muda itu menoleh.
"Siapa, Tuan?" tanya sang pelayan tidak mengerti. Daniel melonggarkan dasinya dan melepaskan jas miliknya.
"Sonia dan Ibunya. Siapa lagi,"
"Nona Sonia dan Ibunya sedang berada di kamar, Tuan. Sepertinya sudah tidur," jawab sang pelayan dengan sopan. Sedangkan Nicholas, pria itu sibuk mencari makanan di kulkas dan melihat sebuah makanan yang tidak asing.
"Sepertinya lezat, aku akan memakannya." Nicholas mengambil makan malam, yang sudah Chelsea sisihkan untuk Daniel dan Nicholas, bila sewaktu-waktu kedua pria itu datang.
"Kau sedang apa? Dan apa itu?" tanya Daniel dengan menunjuk ke arah tangan Nicholas. Pelayan yang mengikuti Daniel ikut menoleh dan tersenyum.
"Itu makan malam yang Nyonya Chelsea sisihkan untuk kalian berdua. Bila diizinkan, saya akan memanaskan nya,"
Kedua sudut bibir Daniel dan Nicholas terukir. Sangat jarang mereka mendapatkan hadiah seperti ini. "Panaskan, kami akan menginap di sini."
"Baik, Tuan."
Di lain sisi ....
Zane menatap Chelsea yang tangan tertidur dengan wajah lelah, banyak tidak terusik sedikitpun saat Zane mengelus wajah wanita itu dengan penuh cinta.
__ADS_1
"Apakah terjadi sesuatu, sebelum aku datang?" tanya Zane membuat kepala pelayan langsung terdiam. Masalahnya, para pelayan dan pekerja mansion sedang berkumpul di halaman depan.
"Maaf, Tuan. Saya dan kepala bodyguard sedang mengumpulkan para pekerja di halaman depan, jadi kami tidak melihat apakah terjadi-"
"Keluar!" usir Zane yang mulai kesal. Kepala pelayan tertunduk dan bergegas keluar.
Zane menghela napas panjang, "Sayang?" panggilnya dengan mengelus pipi Chelsea. Menarik selimut dan mengerutkan keningnya, saya melihat sesuatu yang sedang Chelsea genggam.
"Obat?"
Pikiran Zane mulai kacau, pria itu langsung menjauhkan selimut dan terkejut saat melihat sesuatu yang tidak asing. Baju bagian perut Chelsea sedikit terangkat, membuat luka karena siraman teh terlihat jelas di mata Zane.
"Sayang?" panggil Zane dengan rasa khawatir. Chelsea mengerutkan keningnya dan mulai membuka matanya.
"Zane? Kau sudah pulang-"
GREP ....
Chelsea terkejut saat tiba-tiba Zane mengangkat bajunya. Zane menelisik luka ruam di sana, "Apa yang terjadi? Kenapa bisa kau terluka?" tanya Zane membuat Chelsea langsung tersadar dan bergegas menurunkan pakaiannya, tetapi Zane dengan sigap menahannya.
"Zane-"
"Jawab aku, Amora. Siapa yang melakukan ini?" tanya Zane dengan tatapan penuh akan emosi. Chelsea menelan ludahnya sendiri dan seperti enggan untuk menjawab.
"A ... aku terkena air panas,"
Zane menaikkan alisnya, ada perasaan curiga seraya menatap manik mata sang istri. "Tatap mata ku, dan jawab aku!"
"Shhh ...."
Zane semakin khawatir saya Chelsea meringis, kala Zane tidak sengaja menekan lukanya di punggung. "Zane, aku tidak-"
"Apa Sonia yang melakukannya?!"
Chelsea menggelengkan pelan. Dengan segala kemarahannya, Zane langsung membuka pakaian Chelsea dan semakin terkejut melihat punggung Chelsea yang sedikit memar. Kedua tangan Zane mengepal kuat dan hal itu membuat Chelsea semakin takut.
"Mereka benar-benar keterlaluan, aku akan menemui mereka!" geram Zane membuat Chelsea langsung bergegas menahan sang suami.
"Sayang, jangan!" Chelsea langsung menahan Zane. "Ja ... jangan! Mereka-"
"Meraka sudah keterlaluan kepada mu, Sayang! Kenapa kau menutup mulut dan tidak mengatakan perlakuan mereka kepada ku atau orang rumah! Aku benar-benar benci dengan kebohongan!" hardik Zane dengan penuh berapi-api. Chelsea menundukkan kepalanya dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Maaf, a ... aku tidak ingin kalian berdebat karena aku,"
DEG ....
Zane terpaku melihat Chelsea yang menangis karena dirinya, tubuh wanita itu bergetar menahan tangis dan juga ketakutan karena sikap Zane. "Sayang, maaf! Aku tidak bermaksud membentak mu." pinta Zane dengan tatapan yang sudah mulai luluh. Pria itu mengurungkan niatnya untuk datang ke kamar Sonia dan Ibunya, karena Chelsea lebih membutuhkannya.
"Jangan di teruskan, aku tidak ingin kalian berdebat." kata Chelsea dengan tangisan yang mulai menggema. Zane langsung memeluk tubuh sah istri dan mengusap punggung polos wanita itu.
__ADS_1
Aku tidak akan melepaskan kalian. Batin Zane dengan tatapan bengis.