Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
I Love You, Amora


__ADS_3

Zane, pria itu tengah menatap sebuah benda persegi panjang berwajah biru dengan garis merah yang menyertai di sana. Senyuman itu tak pernah pudar, di kala menatap benda yang sudah hampir empat bulan Ia simpan sebagai kenangan yang tak akan terlupakan. Akan menjadi Ayah di usia kepala tiga, tak menyangka akan bertemu dan langsung menikahi wanita desa yang memiliki kehidupan dengan masa lalu yang kelam. Zane bagaimana mendapatkan kejutan yang tak terhingga, bahkan pria itu tak keberatan bila semua masalah terus-menerus datang, asalkan sang istri tetap bersamanya.


"Enam bulan lagi, maka aku akan resmi menjadi seorang Ayah." Gumamnya sejak tadi tiada tanda henti. Air mata bahkan berkali-kali lolos dari matanya dan berkali-kali pula Zane mengucap ribuan kata puji syukur kepada Tuhan.


"Sayang," panggil Chelsea yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja Zane dengan membawa nampan berisi minuman. Zane bergegas meletakkan alat tes kehamilan milik Chelsea di laci dan mendekati sang istri.


"Aku sudah meminta mu untuk beristirahat, kenapa tidak mendengarkan aku?" Zane mengambil alih nampan tersebut, Chelsea tersebut tipis dan mengikuti Zane hingga duduk di sofa.


"Aku bosan di kamar, Sayang." jawab Chelsea dengan nada manja, bahkan wanita hamil itu bergelayut manja di lengan kekar sang suami. Bau maskulin dari tubuh Zane, membuat wanita hamil itu sangat betah berlama-lama di dekatnya.


Zane tersenyum simpul, "Kau masih merasakan mual?" tanyanya dengan penuh perhatian. Chelsea menggeleng pelan sebagai jawaban.


"Maaf, karena kehamilan ku ini, membuatmu jadi ikut merasakan kehamilan simpatik." kata Chelsea membuat Zane menghembuskan napas pelan.


"Jangan berkata seperti itu, Honey. Aku tidak apa-apa bila aku yang menggantikan mu di masa kehamilan, ini sungguh langka dan aku baru merasakan betapa aku mencintaimu melalui hal ini," ujar Zane dengan sangat tulus seraya mengusap perut buncit yang berisi dua bayi kembar itu dengan pelan.


Chelsea tersenyum dan menyandarkan kepalanya, "Selama pernikahan kita, aku sekalipun tidak pernah mengucapkan tentang cinta. Apakah kau keberatan?" tanyanya dengan lirih. Zane terdiam sejenak dan menggeleng.


"Walaupun kau tidak mengatakannya, tetapi aku tahu bahwa kau sangat mencintai ku dan aku juga mencintaimu, sangat." ungkap Zane dengan memeluk tubuh Chelsea dan membawanya ke dalam dekapan hangatnya. Chelsea dengan senang hati membalas pelukan tersebut dan menghirup aroma tubuh sang suami.


"Jadwal pemeriksaan kandungan ku di majukan, apakah kau akan menemani ku, Zane?"


"Tentu saja, aku akan meminta Daniel dan Nicholas untuk handle jadwal dan semua pertemuan ku," balas pria tersebut dengan sangat yakin. Chelsea semakin di buat senang karena semua jawaban Zane yang begitu memenuhi isi hatinya. Baginya, Zane adalah rumah yang sungguh sempurna setelah Ayah Robert, dan Chelsea begitu bahagia memiliki kedua pria seperti mereka.


"Aku sudah menyiapkan untuk bulan madu kita selama beberapa hari," ucap Zane secara tiba-tiba membuat Chelsea langsung menadah cepat.


"Honeymoon? Kenapa tiba-tiba sekali?"


"Aku baru teringat bahwa setelah menikah, kita tidak memiliki waktu untuk memikirkan honeymoon karena Reno, kau keberatan, Sayang?"


Chelsea terdiam sejenak dan menatap perut buncitnya, "Kata dokter-"


"Kita honeymoon di hotel milikku saja, aku memiliki Private apartment. Kau mau? Kita bisa menyaksikan bintang dan kita bisa bercinta di bawah bintang," goda Zane di akhir kalimat membuat wajah Chelsea bagaikan kepiting rebus. Zane terkekeh geli di kala Chelsea memukul lengannya lantaran kesal.


"Bila membahas tentang ranjang, telinga dan mulut mu begitu satu frekuensi ternyata." kesalnya membuat Zane semakin mengeraskan tawa dan mengeratkan pelukannya.


"Tapi kau senang kan? Kau begitu menikmati permainan-"


"Zane, jangan menggoda ku!" keluh Chelsea dengan mata melotot tajam.


...****************...


Di esok harinya, Chelsea menatap aktivitas sang suami yang tengah sibuk mengancingkan kemeja hitamnya. Wanita hamil itu menelan ludahnya sendiri, karena melihat otot lengan dan perut serta dada Zane yang terpahat sempurna.

__ADS_1


Chelsea memalingkan wajahnya dan mencoba untuk menahan nafsu-nya sendiri, Zane seolah-olah sengaja memancing gairah Chelsea yang akhir-akhir ini memang mudah terpancing dengan cepat.


"Pakai ini," Zane mendekati dan langsung memakaikan blazer hitam di pundak sang istri. Chelsea memanyunkan bibirnya, membuat Zane mengerutkan keningnya. "Ada apa?"


"Jangan dekat-dekat aku!" kata Chelsea tiba-tiba dengan menepis lengan Zane dari pundaknya. Pria yang tidak memiliki salah itu, mulai kebingungan sendiri.


"Sayang, ada apa? Apakah aku memiliki kesalahan kepada mu?" tanyanya dengan suara lembut. Chelsea berisi dengan cepat dan berjalan keluar dari kamar dengan menghentakkan kakinya. Zane bergegas menyusul untuk menghentikan aksi sang istri yang membahayakan itu.


"Sayang, jalan dengan benar!" tegur Zane dengan tak suka. Chelsea menoleh sinis dan melipat kedua tangan.


"Jangan terus menggoda ku!" protesnya. Zane menghela napas dan berusaha mengontrol emosi kecilnya.


"Katakan kalau aku berbuat salah, kau membahayakan bayi kita, Amora." kata Zane yang mengulang perkataannya yang sama. Chelsea memanyunkan bibirnya dan mengelus perutnya.


"Menyebalkan sekali!" gerutu Chelsea yang mulai membuat Zane tersenyum, "Bila mereka besar nanti, aku harap tidak seperti sifat mu!"


"Memangnya kenapa dengan sifat ku, Sayang?" tanya Zane dengan nada jahilnya. Chelsea melotot tajam, karena Zane sama sekali tidak memperlihatkan wajah bersalahnya, karena menggoda Chelsea dengan mempamerkan otot tubuhnya.


"Jangan memamerkan otot tubuh mu di depan ku!" ungkap Chelsea membuat Zane semakin mengembangkan senyumannya. Zane mendekati dan memeluk pinggang Chelsea dengan posesif.


"Kita sudah lama tidak bercinta, Amora. Katakan kepada ku, gaya apa yang ingin kau coba?" tanya Zane dengan berbisik-bisik. Bahkan pria itu dengan nakalnya menggigit kecil daun telinga Chelsea.


"Zane!" Chelsea mendorong tubuh sang suami dan memilih untuk bergegas turun menuju mobil.


"Mereka romantis sekali," gumamnya dengan senang. Wanita itu bahkan tidak lagi merasakan cemburu karena melihat keromantisan kedua pasangan suami-isteri tersebut.


Sonia semakin mengembangkan senyumannya, kala mengingat tentang Arthur. "Aku akan pastikan kalau Arthur menjadi bucin sempet Zane kepada Chelsea! Lihat saja, kita bertarung, Tuan Arthur."


Sonia bersenandung ria dan langsung menghentikan aksinya saat melihat kedatangan Ibu Tasya dari arah tangga. "Drama di mulai, Sonia. Rubah licik ini harus di beri pelajaran," gumam Sonia menatap bengis wanita yang menjadi Ibu tirinya itu dan bergegas membalikkan badannya.


"Sonia? Kau sedang apa di sini, Nak?" tanya Ibu Tasya membuat Sonia menoleh dan tersenyum menyapa Ibunya.


"Ibu? Sejak kapan Ibu pulang ke sini?" tanya Sonia membuat Ibu Tasya terdiam sejenak, "Bukannya Ibu harus mengurus Ayah yang sedang sakit?" tanyanya kembali membuat Ibu Tasya tersenyum.


"Ada sesuatu yang harus Ibu ambil. Katakan, apakah kau masih mencintai Zane?" tanya Ibu Tasya dengan menuntut jawaban. Sonia tersenyum dan melipat kedua tangannya.


"Menurut Ibu? Mana mungkin aku dengan mudah memberikan pria yang seharusnya menjadi milikku sepenuhnya, tujuan ku saat ini adalah menyingkirkan Chelsea dari kehidupan Zane untuk selama-lamanya." jawab Sonia dengan frontal membuat Ibu Tasya semakin percaya bila putri tirinya masih begitu mencintai Zane.


"Bagus, kita harus menyusun rencana untuk membuat Chelsea pergi dari kehidupan Zane!" ucap Ibu Tasya dengan semangat. Sonia tentu saja tersenyum senang, lebih tepatnya tersenyum senang karena kebodohan dari Ibu tirinya.


"Of course, Bu." Sonia melanjutkan jalannya tanpa mengatakan apapun kembali. Ibu Tasya melipat kedua tangannya dan tersenyum remeh.


"Kehancuran kalian sudah semakin dekat, dan semua harus Lincoln akan menjadi milikku. Keluarga ****,"

__ADS_1


Di lain sisi, mobil mewah Zane sudah tiba di teras lobby rumah sakit. Dengan sigap, Zane membantu Chelsea untuk keluar dan menuntun sang istri ke tempat tujuan, dokter kandungan.


Daniel sudah mengatur jadwal temu dengan dokter kandungan untuk Chelsea atas perintah Zane. Di saat melihat banyak orang yang mengantri di tempat yang sama, Zane dan Chelsea dengan santainya langsung menerobos para antrian.


"Hey! Apakah kalian tidak bisa mengantri?!" tanya seorang Ibu-ibu kepada Zane dan Chelsea. Tentu kedua pasangan itu menoleh cepat.


"Kami mengantri, tapi kami sudah mengambil jadwal antrian lebih dulu, Nyonya." Jawab Zane dengan wajah datar, Chelsea menjadi diam dan merasa tidak enak dengan para antrian di belakang sana.


"Kami sudah sejak pagi mengantri, tapi seenaknya kalian menerobos! Memangnya kalian ini pemilik dari rumah sakit ini!" cecar Ibu-ibu satunya dengan kesal seraya menatap ke arah Chelsea. Zane menggenggam erat tangan sang istri dan tersenyum miring.


"Benar, saya adalah pemilik rumah sakit ini, Zane Abraham Lincoln. Saya sudah membuat janji temu dengan dokter kandungan, jadi apa salahnya bila saya menerobos?" jawab Zane dengan lantang dengan menyebutkan nama lengkapnya. Chelsea menghela napas panjang dan melirik sang suami.


"Zane, sebaiknya kita mengantri." bisik Chelsea yang merasa tidak enak dengan hawa sekitar.


"Tidak!" tolak Zane dengan tegas, "ayo, dokter sudah menunggu kita!" ajaknya tanpa menoleh ke arah Ibu-ibu hamil yang menjengkelkan baginya. Chelsea hanya pasrah dan mengikuti keinginan Zane. Tibanya di dalam ruangan, Chelsea langsung menutup rapat-rapat penciumannya karena bau obat-obatan yang begitu menyengat itu.


"Zan, aku rasanya ingin muntah." Keluh Chelsea membuat Zane sontak menoleh. Dokter wanita di sana hanya tersenyum tipis melihat reaksi dari wanita hamil di hadapannya itu.


"Selamat siang, Tuan dan Nyonya Lincoln." sapanya dengan sangat ramah. Chelsea tersenyum dan melirik Zane yang hanya memasang wajah datar.


"Selamat siang kembali, Dok." Jawab Chelsea dengan canggung. Dokter wanita tersebut semakin di buat tersenyum.


"Apakah ada keluhan selama kehamilan ini? Seperti mual-mual? Atau ada keluhan selain itu?"tanyanya dengan serius. Chelsea mengangguk dan langsung menyenggol Zane agar berbicara.


"Untuk sementara waktu, semuanya masih aman, dan wajar saja. Tapi kenapa bau obat-obatan di sini semakin menyengat penciuman saja!"


Zane mengelus punggung tangan Chelsea, "Bukankah itu wajar, selama hamil penciuman ku atau kau akan semakin tajam. Bukankah begitu Dokter?"


"Benar, Tuan. Mari kita lanjutkan untuk USG," Zane membantu Chelsea menuju ranjang USG dengan perlahan. Dokter mulai menaikkan baju Chelsea hingga sebatas payudara, Zane menatap cemas pada Chelsea yang masih menutup hidungnya.


"Apakah sudah bisa melihat jenis kelamin di usia 3 bulan?" tanya Chelsea membuat Zane menoleh dan menggeleng.


"Kalaupun bisa, aku ingin itu kejutan saja, Sayang." ucap Zane dengan mantap. Apapun jenis kelamin anak kembarnya nanti, Zane tentu saja menerimanya, entah keduanya laki-laki, atau perempuan. Zane tidak mempermasalahkan hal itu, melihat respon Zane yang begitu positif, Chelsea tersenyum seraya mengangguk.


"Semuanya sangat baik, organ-organ bayi sudah mulai terbentuk berjalannya usia, keduanya bayinya juga sehat dan detak jantungnya sudah mulai terdengar. Tuan dan Nyonya ingin mendengarnya?" tawar sang Dokter membuat Zane dan Chelsea sontak mengangguk.


Dokter mulai memutar layar USG dan hal tersebut membuat air mata Chelsea tidak bisa tertahan lagi, "Bayi-bayi ku. Zane, bayi kita." lirihnya semakin membuat Zane tertegun melihat layar USG di depan matanya.


"A ... Aku," Lidah pria itu menjadi kelu untuk berbicara. Zane menutup matanya mencoba untuk menahan air matanya, ini yang Ia nantikan selama ini, mendengar dan melihat kedua anak kembarnya yang sudah berkembang. Zane sontak menunduk dan mengecup kening Chelsea.


"I love you, Amora." bisiknya dengan lirih, "aku akan menjaga kalian dengan nyawa ku, aku berjanji."


"I love you more, my husband."

__ADS_1


__ADS_2