Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Flashback #1


__ADS_3

Sonia, wanita itu tengah terdiam diri dengan menatap layar laptop nya yang sejak tadi menyala. Dengan mengetuk-ngetuk keyboard dengan asal, Sonia hanya menatap benda itu dengan tatapan tak minat.


Bayang-bayang malam penembakan itu benar-benar membekas di ingatannya, Sonia bahkan tidak menyangka bahwa Ibunya begitu nekat untuk melakukan hal itu, demi dirinya. Sebenarnya Sonia memang sangat ingin memiliki Zane, tetapi melihat Zane yang begitu mencintai Chelsea membuatnya kembali berpikir.


Drttt ....


Benda persegi panjang bergetar membuat Sonia langsung tersadar dari lamunannya. Wanita itu mengerutkan keningnya, "nomor siapa ini?" gumamnya penuh tanya.


Sonia memilih untuk menolak panggilan tersebut dan kembali di kejutkan dengan panggilan telepon dari nomor yang sama, "Halo? Siapa ini?" tanya Sonia dengan kesal saat mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan saat ini, Sonia."


DEG ....


Sonia terkejut mendengar suara pria asing dari seberang sana. Wanita itu menatap ponselnya kembali dan mulai menerawang siapa yang menelpon dirinya, "Tidak mungkin Daniel kan?"


"Bukan Daniel, bukan Arthur, bukan Calvin, bukan si kembar Ash, bukan Reno juga." jawab pria dari seberang sana membuat tangan Sonia langsung bergetar.


"A ... apa mau mu?" tanya Sonia dengan terbata-bata. Pria tersebut tertawa ringan.


"Biarkan aku menebak, pasti kau sedang membayangkan kejadian penembakan itu bukan?"


GLEK ....


Sonia semakin di buat ketar-ketir dengan suara berat itu. Sungguh menakutkan bila di dengar. Sonia ingin menutup panggilan tersebut, tetapi ucapan pria asing itu membuatnya menjadi takut.


"Ibu mu adalah seorang pembunuhan yang kurang handal."


Sonia mengepalkan kedua tangannya dan menatap seisi kamarnya, termasuk ke arah luar jendela yang tertutup tirai kain, "Jangan bermain-main dengan ku! Siapa sebenarnya kau?" tanya Sonia dengan berjalan mendekati balkon kamar.


Sonia menatap sekitar mansion dari balkon kamar, dan tatapannya jatuh pada seorang pria yang tengah menatapnya dari kejauhan. Pria tersebut menggunakan pakaian serba hitam di bawah penerangan lampu di taman. Sonia memicingkan matanya curiga dan menatap sekitaran mansion, sepi dan sunyi, bahkan tidak ada tanda-tanda ada bodyguard yang berjaga-jaga.


"Aku sedang tidak bermain-main. Aku hanya ingin mengingatkan mu saja, Sonia. Perbuatan mu begitu rendah, bahkan kau tega ingin membunuh wanita yang tengah mengandung, yang tidak mengetahui apa-apa tentang dirimu atau permasalahan mu. Apakah Ibu mu itu begitu berkorban, hingga berani memerintah orang untuk melakukan aksi penembakan itu? Sungguh hebat," ujar pria tersebut dengan menyeringai tipis.


Mata Sonia membulat tajam, saat melihat pria asing yang Ia lihat memegang sebuah senjata api di tangannya, "Berani sekali kau menyusup masuk ke dalam mansion Lincoln! Aku akan memanggil bodyguard untuk-"


"Lakukan saja, karena kau hanya penumpang tidak tahu diri di mansion itu. Aku juga tahu, apa yang Ibu mu lakukan sebelum kejadian penembakan itu, hanya saja aku tidak ingin memberitahukan siapa-siapa dulu,"


"Karena aku adalah orang yang akan melenyapkan kalian berdua nanti." tambahnya kembali, membuat Sonia merasa lemas seketika.


TUT ....


Tubuh Sonia merosot ke lantai dengan ponsel yang sudah terjatuh di sampingnya. Bahkan pria asing yang berdiri di bawah lampu taman pun sudah menghilang seperti di bawa angin. Sekarang Sonia mulai tidak tahu harus bersikap bagaimana dengan Ibunya sendiri.

__ADS_1


"Apa yang Ibu lakukan sebelum penembakan? Dan siapa pria itu?"


Ting ....


Terdapat sebuah notifikasi pesan yang masuk, Sonia seketika di buat bungkam dengan pesan tersebut.


08xxxxxxxxxx


Beritahu kepada Zane, bahwa Ibu mu lah yang menjadi dalang penembakan di bantu dengan Bayu Artamana. Bila kau ingin mengetahui semua kebusukannya Ibu mu selama ini, maka lakukan apa yang aku inginkan.


...****************...


Ibu Tasya tampak sedang menyesap minuman beralkohol miliknya berkali-kali, minum dengan kadar alkohol tinggi adalah hobinya sejak muda, jauh sebelum menikah dengan suami duda nya, Ibu Tasya memang sudah menjadi pecandu minuman dan rokok akut.


"Lihat, aku sangat bahagia melihat Chelsea kesakitan, kenapa juga Daniel harus menyelamatkan wanita kampungan itu. Membuang tenaga saja," gerutu Ibu Tasya dengan senyuman miring. Wanita tak lagi muda itu tengah menatap layar ponsel miliknya, di mana rekaman CCTV kejadian di ballroom hotel sedang Ia tonton.


"Seharusnya aku juga turut membantu melenyapkan kalian,"


Ibu Tasya menaruh gelas minumannya dan menatap lurus ke depan, wajah tidak merasa bersalah sama sekali sudah Ia tunjukkan lebih dahulu. "Sonia harus menjadi boneka ku, harus menurut dan patuh dengan semua perintah ku." katanya kembali dengan tertawa kecil.


Ibu Tasya mengelus permukaan sebuah pajangan foto yang cukup besar di dalam kamarnya, "Kenapa kau belum mati juga, seharusnya obat itu terus-menerus menggerogoti tubuh mu, apa aku harus menambahkan kadar obatnya?"


Ibu Tasya menarik laci dan mengeluarkan sebuah obat yang tersimpan dalam botol, menatap dengan penuh menyeringai remeh. "Bila obat ini di tambahkan, maka dia pasti akan mati, tapi kenapa dia tidak mati-mati?" gumamnya penuh tanda tanya. Ibu Tasya menatap pajangan foto tersebut kembali dan tersenyum tipis layaknya wanita gila.


Drttt ....


Ponsel Ibu Tasya bergetar, wanita itu mengangkatnya tanpa pikir panjang, "Akhirnya kau menelpon ku. Apakah ada-"


"Kau! Gara-gara ulah mu yang ceroboh, aku harus menjadi buronan polisi!" sela pria di seberang sana dengan amarah meledak-ledak. Ibu Tasya tertawa kecil dan memainkan lubang yang sudah Ia buat pada pajangan tersebut.


"Aku tidak bodoh, tapi kau yang bodoh. Kau yang ceroboh karena ketahuan oleh Daniel payah itu, kau juga meninggalkan tas ransel mu, dan barang mu itu sudah ada di pihak kepolisian, kau bahkan tidak menggunakan sarung tangan saat menyentuh handle pintu!" Jawab Ibu Tasya dengan santai. Bagusnya, tidak ada sidik jarinya di handle pintu atau di manapun.


"Oh ya, bagaimana kalau aku mengatakan bahwa kau juga ikut terlibat dalam penembakan itu, Tasya." kata pria di seberang sana membuat Ibu Tasya langsung mengepalkan tangannya dengan kesal.


"Jangan pernah berani mengancam Tasya Kamila! Kau akan menyesal!" jawab Ibu Tasya dengan nada cukup tinggi. Terdengar suara tawa di seberang sana, membuat Ibu Tasya semakin emosi.


"Sebelum itu, aku yang lebih dulu membuat mu masuk ke jurang yang sama. Entah bagaimana reaksi keluarga Lincoln bahwa kau mencampurkan racun ke dalam-"


"HENTIKAN!"


"Jangan berteriak kepada ku Ja la ng!"


"Aku bukan Ja la ng. Apakah kau ingin berakhir seperti Suami ku yang bodoh dengan racun yang selalu aku campurkan?! Kau mau!"

__ADS_1


Prang ....


Ponsel tersebut langsung hancur menghantam vas bunga dengan kuat. Pecahan vas bunga berhamburan, hingga tak sengaja mengenai kaki wanita itu. Napas Ibu Tasya begitu menggebu-gebu dan mulai bergerak gelisah, "Berani sekali dia mengancam ku! Aku tidak boleh membiarkannya menggagalkan rencana ku!" Gumam Ibu Tasya.


Sedang di luar kamar, terlihat Sonia yang mematung di depan pintu kamar. Wanita janda itu berniat untuk menemui Ibunya, tetapi tak sengaja mendengar percakapan Ibunya sendiri dengan seseorang dari seberang telepon. Wajah wanita itu tampak syok berat dan tak menyangka kalau Ibunya melakukan hal itu.


"Ja ... jadi Ayah sakit karena racun yang di berikan oleh Ibu? Tapi kenapa Ibu melakukan ini semua?" Gumam Sonia penuh tanda tanya. Wanita itu mengurungkan niatnya untuk menemui Ibunya dan memilih untuk menemui Chelsea, sepertinya yang di katakan oleh pria yang sempat menelponnya ada benarnya.


Sonia berjalan tergesa-gesa pergi menuju kamar Chelsea yang berada di lantai yang sama dengan kamarnya, hingga tatapan Sonia jatuh pada Chelsea yang hendak menyusul Zane turun dari tangga, Sonia bergerak dan langsung menahan lengan Chelsea yang hendak berbelok. Chelsea sontak membuatnya mau tidak mau harus menoleh dan mengerutkan keningnya.


"Sonia? Ada apa?" tanya Chelsea. Wanita itu melepaskan tangan Sonia dari lengannya dan melirik Zane yang sudah menghilang dari pandangannya.


"Aku ingin bicara, jangan di sini, nanti kau terjatuh!" ketus Sonia yang langsung pergi meninggalkan Chelsea yang terbengong-bengong. Tatapan curiga mulai terlihat dari Chelsea, wanita itu memilih untuk mengikuti Sonia yang berada di sofa di dekat ruang perpustakaan, jauh dari tangga.


"Duduk,"


Chelsea menggeleng menolak, "Apa yang ingin kau katakan? Apakah perihal kejadian beberapa hari lalu? Atau berita serta konferensi pers dari keluarga Lemos?" tebak Chelsea dengan melipat kedua tangannya. Sonia tersenyum tipis dan menyesap segelas jus miliknya, yang sempat Ia bawa itu.


"Mungkin keduanya, atau salah satunya." jawab Sonia dengan memainkan gelas jusnya. "Oh ya, bagaimana dengan kandungan mu? Baik-baik saja atau ...."


"Mereka sangat baik, bahkan sangat baik bila kau tidak bertele-tele yang membuat mereka tidak berselera memandang mu!" sinis Chelsea yang langsung membuat Sonia tersedak minumannya sendiri. Chelsea mulai tidak mood karena ulah Sonia dan memilih untuk pergi.


"Hey-"


"APA?!" Sahut Chelsea dengan galak membuat Sonia menelan ludahnya sendiri. Chelsea mengibaskan rambut panjangnya dan meninggalkan Sonia yang termenung.


"Dasar bocah, padahal aku ingin mengatakan perihal kejadian di ballroom hotel!" gerutu Sonia dengan kesal dengan menatap kepergian Chelsea. Tetapi tak lama, Sonia tersenyum tipis dan mengusap air mata di ujung katanya.


"Bagaimana bisa aku sejahat ini kepada wanita polos kepada Chelsea? Wanita itu bahkan tidak mengetahui semua permasalahan dan tidak pernah berbuat masalah sekalipun dengan ku. Kenapa aku bodoh sekali," lirihnya dengan menatap kedua kaki jenjangnya.


"Kau akhirnya sadar juga, Sonia."


DEG ....


Sonia langsung menoleh dan menelan ludahnya sendiri saat melihat Papa Owen yang berdiri tak jauh dari tempatnya, "Paman? Ka ... kapan Paman ada di sana?" Tanyanya gugup.


Papa Owen tersenyum tipis dan mendekati keponakannya itu, "Sejak kalian duduk di sini dan Paman mendengar semuanya. Apakah kau ingin mengatakan tentang penembakan itu?" tanya Papa Owen membuat Sonia terdiam sejenak. Papa Owen tersenyum kembali dan menepuk pundak wanita itu.


"Pahami situasi kali ini, Sonia. Paman tahu, bahwa kau tidak sejahat seperti perlakuan mu selama ini, itu bukan sifat asli mu, Paman sangat mengenal keponakan cantik ku ini." Paman Owen mengangkat dagu Sonia dan kembali mengacak rambutnya.


"Nak, Zane sudah memiliki wanita yang begitu dia cintai, dan kau berhak mendapatkan hal yang lebih, buka lah hati mu untuk pria lain, jangan mengejar cinta pria yang bahkan tidak mencintai mu. Jangan membuat hati mu sakit karena ulah dengki iri mu itu, Nak. Ayah mu menitipkan mu kepada Paman, karena satu hal yang tidak Paman ketahui hingga saat ini. Jangan pernah mengecewakan Paman karena hal itu," Tambah Papa Owen dengan suara yang begitu lembut, Sonia memejamkan matanya menikmati usapan pada rambutnya.


Paman benar, aku jahat seperti bukan diriku. Aku seperti tidak mengenali diri ku yang sekarang.

__ADS_1


__ADS_2