
Robert, pria itu tampak bergeming dengan membolak-balik lembaran koran miliknya. Pria itu berada di taman depan mansion, untuk menghirup udara segar di pagi hari.
"Ayah,"
Robert menoleh dan menatap kedatangan Putra sulungnya, Arthur. Pria muda itu berjalan dengan gelisah mendekati Ayahnya, "Ada yang ingin aku katakan, ini penting!"
"Apakah tentang menikah dengan Sonia?" tanya Ayah Robert dengan mata membinar. Keseriusan dari Arthur, langsung hilang ketika mendengar nama Sonia.
"Kenapa membahas wanita itu? Tidak ada sangkut-pautnya dengan pembahasan ku!" jawab Arthur dengan kesal. Ayah Robert menaruh korannya dan menghela napas.
"Padahal Ayah sudah menginginkan cucu dari mu,"
Arthur membulatkan matanya, "Aku bisa mencari wanita tipikal ku!"
Ayah Robert menggelengkan kepalanya sendiri, "Kau itu sudah tua, jangan terlalu keras dengan hidup mu, Nak." nasihat Ayah Robert membuat Arthur terdiam sejenak.
"Tua? Aku tidak setua Zane!"
"Kenapa kau membawa-bawa nama ku?"
DEG .....
Kedua pria berbeda generasi tersebut sontak menoleh ke arah depan, ternyata ada Zane yang datang seorang diri tanpa ada chelsea. Ayah Robert tersenyum dan meminta Zane untuk mendekati mereka berdua, "Kau sudah lama datang, Nak?"
"Baru saja. Kata Calvin, Ayah meminta ku datang bersama Nicholas. Apakah ada yang penting?" tanyanya dengan bingung. Tak lama, Nicholas datang dengan santai seraya menatap kepada siapapun di depan matanya.
"Selamat siang, Tuan Robert." sapa Nicholas dengan formal. Arthur sudah memutar matanya malas, sedangkan Ayah Robert menatap Nicholas dengan penuh selidik. Merasa di perhatikan, Nicholas akhirnya mengangkat kepala dan menatap ke arah Ayah Robert, yang masih menatapnya dengan tatapan berbeda.
"Ya, aku memiliki urusan dengan kalian berdua, lebih tepatnya hanya kepada Nicholas." kata Ayah Robert tanpa mengalihkan tatapannya dari Nicholas yang mulai mengerutkan keningnya.
"Lupakan itu, sekarang dengarkan aku dulu, Ayah!" ujar Arthur yang terdengar seperti orang rengek. Zane bergidik ngeri mendengar nada dari Kakak iparnya itu.
"Menggelikan," cibir Zane yang langsung mendudukkan dirinya di sebelah Ayah mertua. Arthur juga ikut mendudukkan dirinya dan menatap Ayah Robert serius.
"Katakan saja, Nak."
"Apakah Ayah sudah mengetahui tentang si kembar?" tanya Arthur dengan serius. Ayah Robert memiringkan kepalanya bingung.
"Maksudmu?" bukan Ayah Robert yang bertanya, melainkan Zane yang bertanya.
"Tentang-"
"Ayah mengetahuinya,"
"A ... apa?" beo Arthur terbata-bata. Pria itu sedikit syok dengan jawaban dari Ayahnya sendiri, melihat keterkejutan sang putra, Ayah Robert hanya tersenyum miring.
"Ayah Dani bekerja di pabrik desa, dan keluarga Dani tidak mengetahui tentang bahwa pabrik itu milik Ayah." Ayah Robert melipat kedua tangannya dengan wajah terlihat marah, "Ayah sengaja meminta manajer untuk memindahkan tugas kerja Ayah Dani, dan Ayah yang akan mengurus keluarga itu." tambah pria paruh baya tersebut dengan serius. Arthur merasa lidahnya kelu untuk bertanya lebih lanjut tentang pembahasannya sendiri.
"Ayah Dani? Si kembar? Apa maksudnya?" tanya Zane kebingungan. Nicholas membusungkan dadanya dan mulai mengerti dengan maksud pembahasan dari Arthur.
"Ashton dan Ashley di rundung oleh orang yang bernama Dani, lalu keluarga Dani juga ikut merundung Tuan Robert serta si kembar, mungkin termasuk istri mu, Zane." sahut Nicholas yang tanpa sadar mengatakan apa yang Ia ketahui, Zane dan Arthur bahkan terdiam seraya menatap ke arah pria berwajah datar tersebut. Berbeda dari reaksi terkejut Zane dan Arthur, Ayah Robert bahkan menyungging senyum miring.
"Kau mengetahuinya secara rinci, dari mana kau mengetahuinya?"
__ADS_1
DEG ....
Pergerakan tangan Nicholas langsung terhenti karena hal tersebut, pria itu menadah dan menatap ketiga pria di hadapannya dengan bergantian, salah satunya tatapannya jatuh kepada Ayah Robert yang tersenyum aneh kepadanya.
"Ayah, apa itu benar? Ashton dan Ashley di rundung?!" tanya Zane dengan terkejut. Ayah Robert melipat kedua tangannya dan menggunakan.
"Lalu, Ayah tidak akan melakukan sesuatu kepada mereka?" tanya Arthur tanpa menghiraukan tatapan Nicholas yang berada di sampingnya.
"Ya, tapi biarkan itu semua menjadi urusan Ayah. Kalian tidak perlu turun tangan, karena mereka harus menerima ganjaran setimpal dari ku. Kalian cukup berwaspada dengan Anggun dan-"
"Dan siapa?" sela Arthur. Ayah Robert langsung terdiam dan memilih untuk tersenyum daripada untuk menjawab.
"Anggun adalah orang yang licik dan nekat, dia bisa melakukan apapun untuk mencapai tujuannya. Zane, tolong jaga Chelsea untuk Ayah, Anggun mungkin akan terus mengincar Putri ku untuk membalas dendam nya." kata Ayah Robert dengan menepuk pundak menantu nya. Zane yang mendengar ucapan sang Ayah, membuatnya mulai cemas dan gelisah, terlebih lagi mendengar nama Ibu Anggun.
"Wanita itu melakukan apa lagi?" tanya Nicholas yang akhirnya memutuskan untuk bertanya setalah beberapa menit menatap Ayah Robert.
"Aku tahu, kau bukan orang bodoh yang tidak mengerti maksud ku, Nicholas."
DEG ....
...****************...
Demi menghindari perjodohan yang di rencana oleh sang Ayah, membuat Arthur mulai frustasi karena tidak mendapatkan teman kencan untuk membantu menggagalkan rencana sang Ayah. Bahkan untuk sekedar kencan buta lagi, tidak bisa Ia lakukan karena bisa saja wanita yang sama kembali Ia temui, Sonia.
Sosok Sonia mulai mengisi hari-hari seorang Arthur, tak jarang wanita berstatus janda tanpa anak itu menelpon dirinya atau tiba-tiba datang ke kantor. Bahkan Calvin di buat tercengang dengan kedatangan Sonia yang secara tiba-tiba itu, tanpa ada perjanjian temu sedikitpun. Contohnya saja hari ini, Arthur menatap layar ponselnya dengan gusar.
"Oh ayolah, kau benar-benar tidak menemukan wanita untukku, Cal?" tanya Arthur membuat Calvin yang sedang menikmati minumannya, langsung menadah.
"Kau bisa mengambil salah satu dari mereka," Calvin menunjuk ke arah sekumpulan wanita yang sejak tadi menatap ke arah mereka berdua. Arthur melirik kecil dan bergidik ngeri melihat penampilan para wanita berbadan Sexy dengan bagian dada yang begitu menonjol dan terbuka.
Uhuk .....
"Oh my God, kenapa kau begitu yakin mengatakan hal itu?!" kesal Calvin dengan mengelap bibirnya dengan tissue. Arthur memutar matanya malas dan melipat kedua tangannya.
"Aku ingin wanita yang bisa di ajak kerjasama, mana mungkin aku mau di nikahkan oleh Sonia. Wanita licik itu bisa membuat ku gila!" kata Arthur dengan raut wajah tak bersahabat. Calvin menggaruk kepalanya sendiri dan mulai dibuat bingung dengan ucapan atasannya sendiri.
"Tapi aku merasa, kalau Sonia bukan Sonia yang dulu."
"Maksud mu, Sonia ada dua?"
PLAK ....
"SIAL! KENAPA MEMUKUL KU BODOH!" hardik Arthur dengan mengusap punggung tangannya. Calvin tersenyum miring dan menjauhkan gelas minumnya dari jangkauan Arthur.
"Sesuai informasi yang aku cari, dan aku juga baru tahu kalau Sonia tidak ada ikatan darah dengan Ibu Tasya. Jadi bisa di pastikan, kalau Ibu Tasya hanya Ibu tiri. Tapi aku juga merasa, kalau wanita tua itu mengincar sesuatu dari keluarga Lincoln dengan memanfaatkan Sonia. Kau tidak merasakannya?" tanya Calvin berhasil mendapatkan gelengan kepala dari Arthur, bahkan pria itu tak berekspresi sedikitpun saat membahas Sonia.
"Memangnya aku harus merasakannya juga? Seperti tidak ada kerjaan saja," cibir Arthur yang mendapatkan mata tajam dari Calvin.
"Hey-"
"Hai,"
Calvin dan Arthur sontak menoleh ke arah wanita yang cukup cantik, yang tiba-tiba saja menyapa mereka dengan gaya khas wanita. Calvin menatap penampilan wanita cantik di hadapannya dengan teliti, "lumayan."
__ADS_1
Dasar mata keranjang! batin Arthur yang mengumpat ke arah Calvin yang menaikturunkan alisnya kepada dirinya.
"Boleh aku duduk di sini bersama kalian?" tanya wanita tersebut menatap penuh permohonan.
"Masih banyak tempat, di sini-"
"Duduk lah! Kursi ini kosong untuk mu, Nona." Potong Calvin dengan menggeser dirinya agar berjarak dengan Arthur. Pria itu mendelik saat wanita asing mengambil posisi duduk samping kanannya.
"Perkenalan aku Bella, nama kalian siapa?" tanya wanita bernama Bella. Calvin pun langsung mengulurkan tangannya dengan senang hati.
"Aku Calvin, kalau mau di panggil Sayang juga boleh." jawab Calvin dengan mata genit. Bella tersenyum dan langsung memukul lengan pria tersebut dengan manja.
Arthur bergidik ngeri melihat reaksi kedua orang di hadapannya, "Lebih baik jangan terlalu akrab dengan kami, kau hanya wanita asing yang tiba-tiba muncul entah dari mana." ujar Arthur begitu menohok hati seorang Bella. Wanita itu langsung diam dan tak melanjutkan untuk memukul Calvin.
"Vin, ayo kita pulang. Mata mu harus aku lepas agar-"
"Oh, selama aku tidak di samping mu, kau berani mencari wanita lain, Arthur?"
DEG ....
Arthur, Calvin dan Bella langsung menoleh ke arah lain, ternyata ada Sonia yang sudah menatap galak ke arah mereka, lebih tepatnya hanya kepada Arthur. Pria tersebut sontak berdiri dengan keadaan masih terkejut dengan kedatangan Sonia.
"Sonia? Sedang apa kau di sini?" tanya Arthur membuat Sonia berdecak kesal.
"Dasar, semua pria sama saja. Aku yang seharusnya bertanya kepada mu, sedang apa kau di cafe bersama seorang wanita?!" tanya Sonia dengan tampang galak. Arthur menelan ludahnya sendiri dan melirik Calvin yang malah asik mengobrol dengan Bella.
"A ... aku-"
"Jadi nama mu Arthur? Nama yang sangat macho, seperti orangnya!" sahut Bella secara tiba-tiba dengan menggoyangkan lengan Arthur.
Sonia mendelik tajam melihat wanita di sana bergelayut manja di lengan Arthur, "Dasar pelakor!" hardiknya yang langsung menghempaskan lengan Bella dari lengan Arthur.
"Kenapa kau kasar sekali? Memangnya kau siapa?" tanya Bella dengan kesal. Calvin hanya diam menyaksikan, berbeda dengan Arthur yang masih tercengang dengan situasi sekarang.
"Aku? Aku adalah calon istri Arthur, kau siapa hah?!"
Arthur sontak tersadar dengan ucapan Sonia yang begitu menggema di pendengarannya, "Hey, jangan berbicara keras-keras. Nanti-"
"Kau diam atau aset mu aku pukul!" ancam Sonia yang sudah mengambil ancang-ancang memukul. Arthur dan Calvin langsung memegangi aset pribadi mereka dari Sonia yang seperti singa.
Bella tersenyum miring, "Mungkin Arthur tidak betah memiliki calon istri yang galak, makanya dia mengizinkan aku duduk di sini."
"Tutup mulut mu!" tampik Arthur yang merasa tidak terima akan tuduhan dari Bella. Sonia melirik Arthur dengan mata berkaca-kaca sekaligus kesal yang membara di dalam dirinya.
"Kenapa? Biarkan aku berbicara-AKHHH!"
"DASAR PELAKOR! PANTAS SAJA AKU DARI JAUH MEMILIKI FEELING MENCIUM BAU-BAU PELAKOR!" hardik Sonia yang sudah menarik rambut Bella dengan kuat. Calvin terkejut dan mencoba untuk memisahkan antara Sonia dan Bella.
"Hey! Jangan bertengkar, kalian-"
"KAU DIAM!
GLEK ....
__ADS_1
Mati aku! Ini tidak sesuatu ekspektasi ku yang tinggi!