Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Cinta Untuk Wanita ku


__ADS_3

"Apakah kau lelah?" tanya Zane dengan mengusap keringat sang istri. Posisi mereka, di mana Zane masih mengurung tubuh Chelsea.


Ya, mereka berdua baru saja menyelesaikan aktivitas olahraga panas mereka. Seperti tidak memiliki lelah, Zane langsung menggempur sang istri hingga empat jam lamanya. Chelsea rasanya ingin pingsan, tetapi bagusnya Zane langsung melepaskan benihnya di rahim sang istri, sedangkan Chelsea sudah berkali-kali. Mereka berdua mencoba beberapa gaya baru, dan alhasil membuat tubuh Chelsea remuk dan sakit.


"Sangat lelah, kau seperti tidak memiliki rasa lelah, Zane." jawab Chelsea dengan napas tersengal-sengal. Tubuh mereka berdua masih sama-sama polos tanpa pakaian. Zane seperti enggan untuk menarik miliknya dan mengusap wajah Chelsea yang benar-benar sangat cantik di matanya.


"Berbalik badan lah," pintanya membuat Chelsea langsung melayang tatapan yang sangat tajam.


"Aku lelah, Zane. Jangan di lanjutkan dan aku tidak mau lagi!" tolak Chelsea membuat Zane tersenyum tipis.


"Tidak akan, aku hanya ingin melihat lagi luka memar mu." Chelsea bergeming dan memilih untuk menurut. Memutar tubuhnya, hingga punggung putih mulus itu membelakangi Zane. Memar yang cukup membuat Zane hampir saja melayangkan amarahnya, kini hanya menghela napas dan mengusapnya pelan.


"Besok kita ke rumah sakit,"


"Untuk apa? Aku tidak sakit, Zane."


"Untuk memeriksa kulit mu, Sayang. Nanti infeksi dan akan semakin sakit," jawab Zane dengan suara yang begitu lembut di pendengaran Chelsea. Wanita itu memejamkan matanya dan mengangguk patuh.


"Baiklah,"


Zane mengecup punggung itu dan membiarkan Chelsea tertidur. Tetapi tidak dengan Zane yang memilih untuk terjaga dari tidurnya, melepaskan miliknya dan bergegas menggunakan pakaiannya kembali.


Pria itu mendatarkan tatapannya, melirik Chelsea memastikan sang istri tidak terbangun karena dirinya, "Aku tidak akan tinggal diam, bila ada yang menyakiti wanita ku."


Zane berjalan menuju ruang kerjanya, sudah ada Nicholas yang berdiri di depan pintu ruang kerjanya, dengan pakaian santai. "Maaf membuat mu menunggu, Nic." ujarnya dengan tatapan berkilat marah.


Nicholas hanya mengangguk dan memberikan sebuah flashdisk hitam kepada Zane, "Rekaman CCTV yang kau minta. Aku sudah memastikannya secara langsung di ruangan,"


Zane menerimanya dan langsung masuk ke dalam ruangannya, di susul dengan Nicholas. Daniel dan Nicholas sudah mengetahui apa yang terjadi, hingga membuat Zane benar-benar marah tadi, bahkan raut wajahnya tidak bersahabat sama sekali. Daniel memilih untuk melanjutkan tidurnya, karena merasa dirinya tidak berhak untuk ikut campur urusan rumah tangga, tetapi berbeda dengan Nicholas yang memang sudah ikut campur dalam segala hal, yang bersangkutan dengan Zane.


"Kau tidak ingin membalas mereka?" tanya Nicholas dengan menatap seisi ruang Zane dengan datar.


"Chelsea melarang ku,"


Nicholas mengerutkan keningnya, sejak kapan pria berdarah dingin bahkan tidak segan-segan meruntuhkan lawannya, langsung tunduk kepada seorang wanita. Nicholas terkekeh geli, membuat Zane mengerutkan keningnya.


"Apakah ada yang lucu, hingga membuat mu tertawa?" tanya Zane kesal.


Nicholas menggeleng, "Ternyata kau benar-benar sudah jatuh cinta terlalu dalam dengan istri mu, Zane."


Mendengar penuturan sang sahabat, membuat seulas senyuman kembali terukir di sudut bibirnya. Zane juga merasakan bahwa banyak perubahan dalam dirinya, berkat Chelsea. Walaupun tidak besar, tetapi efeknya begitu terasa bagi Zane.


"Kau tahu aku bagaimana sejak dulu, Nic. Sekali aku jatuh cinta kepada seorang wanita-"


"Maka kau tidak akan melepaskannya," sela Nicholas yang sudah sangat hapal dengan kata-kata tersebut. Nicholas sudah bersama, saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Hubungan keduanya cukup baik, bahkan semakin baik saat mereka sudah dewasa. Tidak ada rasa sungkan, canggung di antara keduanya. Membuat mereka berdua terkadang selalu di sebut sebagai kakak-beradik.


"Kau ternyata masih mengingatnya," kata Zane yang kembali fokus pada laptop di hadapannya.

__ADS_1


"Ya, seperti itu lah."


Tok ... tok ....


Zane dan Nicholas sontak menoleh ke arah pintu ruangan. "Siapa yang datang di larut malam?" tanya Zane membuat Nicholas mengangkat bahunya tidak tahu.


"Kak Zane!" panggil seseorang dari luar sana. Zane bergegas mendekati pintu dan membuka benda besar itu.


"Alex?"


Alex, pria kecil itu tersenyum dan merentangkan kedua tangannya, meminta untuk di gendong. Zane tanpa ragu, langsung mengangkat tubuh sang Adik dan membawanya ke dalam ruangan.


"Kau belum tidur? Ini sudah malam, Alex." kata Nicholas yang keheranan dengan Adik Kembar dari Zane. Mata sayu sudah terlihat, bahkan sesekali menguap.


"Aku terbangun dan aku teringat untuk memberikan ini kepada Kakak," Alex memberikan sebuah ponsel miliknya kepada Zane.


"Ponsel?"


Alex mengangguk, pria kecil yang sudah memakai baju tidur Spiderman itu menidurkan kepalanya, rasa kantuknya mulai menyerang kembali. "Bibi Tasya tadi menampar Kak Chelsea juga, aku mendengar pembicaraan mereka." ungkap Alex membuat Zane terkejut.


"Dia mendengarnya," Nicholas menatap Alex yang sudah tertidur kembali. Zane mengelus kepala sang Adik dan menatap Nicholas.


"Bawa Alex ke kamarnya," Nicholas mengangguk dan mengambil alih pria kecil yang tertidur pulas dari gendongan Zane.


"Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Membalas mereka?" tanya Nicholas sebelum pergi. Zane hanya diam dan menatap ponsel milik Alex dengan intens.


...****************...


"Alex, ini sarapan untuk mu." Kata Chelsea dengan memberikan sepiring sandwich untuk pria kecil tersebut.


"Wah, terima kasih, Kakak cantik!"


Zane yang tengah sibuk sarapan pagi, langsung menoleh kesal ke arah Adik laki-lakinya itu. Mama Bellamy dan Papa Owen tertawa kecil melihat tatapan tajam dari Putra sulung mereka untuk Putra kecil mereka.


"Berhenti memanggil istri ku dengan sebutan itu!" kesal Zane membuat Chelsea ikut menoleh. Wanita cantik yang memakai dress putih, rambut yang diikat rapi, membuat Zane rasanya ingin mengurung sang istri di dalam kamar dan dirinya tidak berangkat ke kantor.


"Kenapa Kakak yang marah? Apakah Kakak juga ingin aku panggil dengan sebutan Kakak cantik?" tanya Alex dengan alis mengerut bingung. Alexia tertawa kecil mendengar penuturan kembarannya itu.


"Bila Kakak ingin juga, biar aku yang manggil nanti, bagaimana?" celetuk Alexia dengan penuh semangat. Tatapan tajam itu berubah menjadi semangat, tentu saja Zane akan setuju bila bersangkutan dengan Alexia.


"Tentu saja, Kakak ingin!"


Melihat interaksi kecil antara Zane dengan kedua Adiknya, membuat Chelsea merasa iri di hatinya. Di saat keluarga Lincoln begitu terbuka akan kedatangannya, tapi berbeda dengan Ibu Anggun yang terkesan tidak peduli.


Mengingat hal itu, membuat Chelsea hanya bisa menghela napas panjang. "Ayo habiskan sarapan kalian berdua, okay." Alex dan Alexia mengangguk semangat.


Melihat raut wajah Chelsea yang sudah berubah, Zane menyusul sang istri ke dapur, "Kau baik-baik saja, Sayang?" tanyanya dengan memegang kedua pundak sang istri.

__ADS_1


Chelsea berbalik badan dan menatap manik mata sang suami. "Maafkan aku, Zane."


"Untuk apa kau meminta maaf? Ada apa, Sayang?" tanya Zane dengan memeluk mesra pinggang ramping sang istri. Chelsea melotot dan berusaha untuk melepaskan pelukannya.


"Zane, lepaskan. Nanti ada yang-"


CUP ....


Zane langsung membungkam bibir ranum itu dengan bibirnya. Zane merapatkan tubuh mereka berdua, hingga membuat Chelsea mulai terbuai dan memejamkan kedua matanya, wanita itu mulai membalas ciuman dari Zane.


Zane tersenyum senang saat mendapatkan balasan Chelsea, yang tidak lagi kaku dan sudah mulai mengimbangi dirinya. Chelsea mengikuti permainan kepala Zane, sedangkan pria itu semakin menekan tengkuk sang istri, untuk memperdalam ******* mereka berdua. Permainan itu mulai semakin liar, hingga Zane langsung mengangkat tubuh Chelsea ke atas pantry dapur.


Mengacak rambut belakang sang istri, mereka seperti tidak memperdulikan apakah akan ada yang melihat aktivitas pagi mereka, atau tidak. Yang mereka peduli hanyalah aktivitas mereka berdua. Suara-suara indah mulai terdengar di pendengaran Zane, kala pria itu memainkan dua bulatan sang istri dengan gemas.


"Mhhhh, Za ...."


Seakan-akan tidak ingin Chelsea mengakhiri permainan mereka, Zane semakin memperdalam ******* mereka dan bahkan sudah ****** sedikit dress putih itu, tangan kekar itu menyusup masuk.


Zane atau Chelsea, tidak menyadari bahkan Sonia melihat aktivitas panas mereka dari arah berlawanan. Wanita itu mengepalkan kedua tangannya dengan penuh amarah, dan mengurungkan niatnya untuk mengambil segelas air atas permintaan Mama Bellamy. Wanita berstatus janda itu malah melihat kegiatan ***** pasangan suami istri, yang telah sah beberapa Minggu yang lalu.


"Mereka benar-benar manusia menyebalkan! Aku tidak akan membiarkan Chelsea menang dari ku!" gumam Sonia dengan amarah yang meletup-letup. Wanita itu bergegas pergi, tetapi Chelsea menyadari bila ada yang memperhatikan mereka berdua.


Zane langsung menyelesaikan permainan saat Chelsea memukul dadanya, "Kenapa berhenti?" tanya Zane dengan mata sayu terselimuti hasrat.


"Sonia melihat kita, Zane." kata Chelsea membuat Zane menoleh dan mengembangkan senyuman jahatnya.


"Lalu kenapa? Bukankah itu bagus?"


Chelsea mendengus kesal dan mencubit dada bidang sang suami, "Tapi aku malu!"


"Untuk apa malu, kan kita sudah menikah. Lain hal dengan wanita atau pria yang belum menikah, tapi sudah berhubungan. Jadi dimana kesalahan kita?" tanya Zane dengan menaikturunkan alisnya, pria itu mencoba untuk menggoda sang istri.


"Zane!"


Chelsea malu setengah mati karena ulah sang suami. Zane terkekeh geli, dan mengusap bibir Chelsea yang basah karena aktivitas mereka. "Apakah kau sudah mencintai ku?"


DEG ....


Chelsea langsung terdiam mendengar pertanyaan Zane. Sudah hampir dua Minggu usia pernikahan mereka, masih seumuran jagung. Chelsea sangat nyaman berada di sisi Zane, sikap Zane yang sungguh manis, peka, dan lembut. Membuat Chelsea sangat-sangat nyaman dan merasa di cintai olah pria itu. Bukankah dirinya sangat beruntung?


"A ... aku-"


"Sttt," Zane menggelengkan kepalanya. "Aku sudah mengatakannya, kalau akan membuat mu jatuh cinta kepada ku, dengan cara ku sendiri. Biarkan aku melakukannya,"


"Apakah kau tidak keberatan menunggu ku?" tanya Chelsea dengan ragu-ragu.


Zane menggeleng, "Tidak akan pernah keberatan. Aku sangat mencintaimu, aku akan memberikan cinta untuk wanita ku ini."

__ADS_1


BLUSH ....


__ADS_2