Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Rencana Pesta Pernikahan


__ADS_3

Chelsea termenung di balkon kamar, dengan baju tidur yang cukup seksi dan memperlihatkan lengan putihnya, Chelsea menatap langit malam dengan tatapan sendu. Dengan di temani segelas susu hamil yang masih hangat, Chelsea merasa enggan untuk meminum.


"Aku merindukan Ibu," gumam Chelsea dengan memejamkan matanya. Wanita itu memegangi pembatas balkon dan menikmati semilir angin malam yang menerpa wajahnya.


Chelsea begitu tenang dengan menatap langit yang banyak bintang, bahkan tanpa menyadari bila Zane sudah masuk ke dalam kamar dengan membawa makan malam.


"Sayang," panggil Zane saat tidak melihat adanya Chelsea di kamar mereka. Merasa di panggil, Chelsea menoleh dan membuat rambut panjang yang tidak terikat itu menerpa wajahnya.


"Aku di balkon," sahut Chelsea. Zane mendekat dan terdiam kaku melihat pemandangan yang sungguh luar biasa. Kecantikan Chelsea jauh lebih terasa ribuan kali lipat saat ini, leher jenjang dengan baju yang terbuka membuat Zane rasanya sangat betah di kamar saja.


"Kenapa kau di sini?" tanya Zane dengan meletakkan makan malam. Chelsea tidak ikut makan malam, karena merasa tubuhnya sedikit lelah sejak tadi.


"Aku ingin melihat bintang," jawab Chelsea seadanya. Zane mengulas senyum dan membawa menyelipkan selimut di bahu sang istri.


"Ayo masuk, Ibu hamil tidak boleh terlalu lama dengan angin dingin." bisik Zane membuat bulu kutuk Chelsea terangkat. Chelsea hanya menurut dan masuk ke dalam kamar bersama dengan Zane yang membawa kembali nampan.


Chelsea mendudukkan dirinya di sisi ranjang, dengan tatapan yang tidak lepas dari langit malam. Zane menarik kursi dan mengikuti arah pandang Chelsea. "Kau menatap apa, hmm?" tanyanya.


"Bintang." lirihnya, "kata Ayah, orang yang sudah tiada akan menjadi bintang. Maka dari itu aku suka melihat bintang," tambahnya dengan nada yang begitu rendah. Zane tersenyum dan mengusap pipi Chelsea dengan gemas.


"Kau merindukan Ibu Kimberly?"


Chelsea terdiam sejenak, tidak bisa di bohongi dari tatapan mata sang wanita, bahwa Chelsea begitu merindukan Ibu kandungnya, "Sangat. Aku tidak ingat, kapan aku terakhir kali berpelukan."


Chelsea memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja berdenyut, Zane meletakkan piring makan malam dan mendudukkan dirinya di sebelah Chelsea, "Ada apa? Apakah kepala mu sakit lagi?" tanya Zane dengan cemas.


Chelsea mengangguk kecil, "Setiap kali aku mencoba untuk mengingatnya, kepala ku akan sakit. Kenapa aku tidak ingat sama sekali, Zane?"


Zane terdiam tidak menjawab. Kini pikirannya jatuh pada Ayah Robert, tidak mungkin pria paruh baya itu tidak mengetahui tentang kondisi Chelsea. Sebenarnya masih banyak hal yang belum Zane ketahui tentang masa lalu keluarga Lemos, hanya tentang Ibu Anggun saja yang Ia ketahui, itu pun dengan susah payah karena banyak identitas yang di sembunyikan. Zane semakin yakin, sulitnya mencari identitas dan tentang masa lalu keluarga Lemos, ada sangkut-pautnya dengan Ayah Robert.


"Jangan terlalu di pikirkan, bayi kita akan menangis di sini." ujar Zane dengan mengusap perut sang istri. Chelsea tersenyum di sela rasa sakitnya yang mulai mereda.


"Aku lapar," celetuk Chelsea membuat Zane tertawa kecil.


"Dan aku sudah membawakan makan malam untuk mu," mata Chelsea menjadi terang melihat makan malam yang begitu menggugah seleranya itu. Chelsea membuka mulutnya, dengan senang hati Zane pun menyuapi makan malam tersebut.


"Sepertinya kita harus lebih memahami gejala kehamilan, Zane." kata Chelsea di sela makannya. Zane mengangguk dan fokus kembali dengan menyuapi Chelsea.


"Aku akan membeli buku Ibu hamil untuk mu. Kata Mama, kau harus mulai ikut senam Ibu hamil di usia kandungan 22 minggu." ujar Zane membuat Chelsea mengangguk antusias. Chelsea mengira, bahwa menikah adalah suatu hal yang membuatnya begitu bosan dan tidak menarik, namun setelah merasa di cintai oleh seorang Zane, Chelsea semakin yakin dengan keputusannya untuk menikah.

__ADS_1


Setelah makan malam tersebut habis, Zane memberikan segelas susu hangat kepada Chelsea. "Minumlah dengan perlahan,"


Chelsea meneguknya hingga tandas dan memberikannya kembali kepada Zane, "Pelayan juga memberikan susu hamil kepada ku tadi."


"Susu hamil?" beo Zane dengan alis mengerut bingung.


"Sebentar," Chelsea berjalan menuju balkon dan mengambil susu yang Ia maksud. "Sudah mulai dingin,"


Zane berdiri dan mengambil susu rasa strawberry tersebut, "Kau sudah meminumnya?" tanya Zane membuat Chelsea menggeleng sebagai jawabannya.


Pria itu menatap gelas di genggamannya dengan teliti, "Aku akan memberikan susu ini kepada kucing mu nanti, okay?"


Chelsea mengangguk, "Berikan dia makan juga!" tambah Chelsea membuat wajah masam mulai terlihat di wajah pria itu.


Chelsea terkekeh geli melihatnya. Seorang Zane Abraham Lincoln cemburu hanya kepada seekor kucing manis pemberian dari Arthur? Sangat menggelikan bagi Chelsea.


...****************...


Keluarga Lincoln kembali bersama di meja makan yang besar, dentingan alat makan menggema bersamaan suara tawa mereka semua. Berbanding balik dengan Sonia yang tampak memasang wajah yang sangat masam kepada Chelsea, yang begitu di perhatikan oleh Mama Bellamy dan Papa Owen, bahkan Ibu Tasya juga turut memperhatikan kondisi wanita hamil itu.


"Bagaimana kondisi mu hari ini, Nak? Apakah jauh lebih baik?" tanya Ibu Tasya dengan mulut manisnya. Chelsea tersenyum canggung.


"Kalian menatap apa?" tanya Alexia membuat semua orang langsung menoleh kearah gadis manis itu.


"Hanya menatap lalat yang sedang mendekati buah manis," jawab Alex acuh dan memasukkan sesuap nasi ke mulutnya. Alexia melirik Zane yang menaikkan alisnya.


"Ada apa, princess?" tanya Zane tidak mengerti dengan tatapan menelisik dari Adiknya itu.


"Kakak menatap apa sih?" tanya Alexia penasaran. Zane tersenyum simpul.


"Hanya menatap lebah yang sedang melancarkan aksinya," jawab Zane membuat Alexia mengerutkan keningnya. Papa Owen dan Mama Bellamy bahkan mulai saling berpandangan, kenapa kedua putra mereka begitu kompak.


"Di mana lebah dan lalat nya?" tanya Sonia dengan menatap semua hidangan makanan yang sungguh menggoda di depannya. Alex berdecak kesal dan memilih untuk tidak peduli.


"Kau tidak melihatnya, Sonia?" tanya Zane membuat alis Sonia mengerut bingung, "lalat dan lebah bahkan sudah menyatu di depan kita." tambahnya yang secara terang-terangan menyindir Ibu Tasya dan Sonia.


Ibu Tasya mengepalkan kedua tangannya, tentu saja wanita itu tahu arti maksud kenapa Zane dan Alex menyindir dirinya dan Sonia dengan sebuah istilah lalat dan lebah. Sonia melirik ke arah sang Ibu yang tampak sangat marah.


Chelsea hanya diam dan tidak mengerti dengan jalan bicara kedua pria berbeda generasi di hadapannya, "Zane!" tegur wanita tersebut membuat Zane tersenyum lebar.

__ADS_1


Setelah sarapan pagi selesai, mereka semua memastikan bahwa Chelsea benar-benar menghabiskan susu hamilnya. Wanita itu mulai keras kepala, membuat Zane hanya memijat pangkal hidungnya.


"Apakah kalian berdua tidak ingin melaksanakan pesta pernikahan?" tanya Papa Owen membuat Chelsea dan Zane sontak menoleh.


Mendengar kata resepsi pernikahan, terlintas pikiran untuk mengumumkan pernikahannya dengan sang pujaan hati, yang tidak di ketahui oleh khalayak ramai, bahkan klien dan para pebisnis saja tidak tahu tentang pernikahan Zane.


"Aku terserah kepada istri ku." Semua mata langsung tertuju kepada Chelsea yang tampak tegang. Sonia mencabik kesal melihat sisi romantis Zane yang di tunjuk kepada Chelsea seorang.


"Aku ikut persetujuan kalian saja. Ta ... tapi bagaimana kalau mereka berdua datang?" tanya Chelsea cemas. Zane langsung mengusap punggung sang istri.


"Aku akan memperketat penjagaan di acara kita nanti. Jadi kau setuju untuk melakukan pesta pernikahan?" tanya Zane memastikan. Pria itu seakan-akan tahu apa yang membuat Chelsea menjadi khawatir saat ini. Semua mengenai Reno dan Ibu Anggun.


Perbuatan mereka berdua, begitu melekat di ingatan Chelsea. Wanita itu mengira bahwa sikap manis sang Ibu mulai di tunjuk kepadanya, tanpa ada niat apapun. Tetapi semua dugaannya salah besar, tega mencampurkan obat perangsang pada air minum Chelsea, menguncinya di kamar hotel, dan menghubungi Reno untuk segera tayang. Tetapi mereka berdua kalah cepat dengan Arthur dan Zane.


"Aku harap mereka tidak membuat masalah." lirih Chelsea membuat Zane tersenyum getir. Setelah kejadian di hotel, Zane langsung memberikan pelajaran kepada Ibu Anggun dan langsung PHK Reno dari kantor serta black list nama pria itu dari seluruh perubahan.


"Okay, setelah Chelsea dan Zane sepakat, bagaimana kalau resepsi pernikahan akan di adakan minggu depan saja? Sekaligus merayakan kehamilan anak pertama mereka?" tanya Mama Bellamy dengan begitu antusiasnya.


Chelsea dan Zane saling berpandangan, "Kami setuju, Ma!"


Mama Bellamy tersenyum senang, begitupun dengan Papa Owen. "Kita harus mempersiapkan semuanya, Pa! Ayo!"


"Ma, bersabarlah!" kata Papa Owen yang hanya menggelengkan kepalanya. Ibu Tasya menatap tidak suka kepada Chelsea yang jauh lebih unggul dari putrinya dan Ibu Tasya tidak menyukai hal itu. Putrinya harus lebih unggul dari Chelsea dari segi manapun.


"Apakah kalian tidak meminta persetujuan kami berdua?" tanya Ibu Tasya tanpa rasa malu sedikitpun. Sonia sejak tadi mengaduk-aduk makanannya dengan tidak minat, kini menatap ke arah Ibunya.


"Kan yang melakukan resepsi mereka berdua, bukan kalian berdua." ketus Alex tiba-tiba dengan Alexia yang mengangguk setuju, walaupun sebenarnya dirinya tidak paham apa-apa. Zane tersenyum bangga kepada Adik laki-lakinya itu.


Sonia menatap kesal kepada Alex, "Kau masih kecil dan tidak mengerti dengan pembicaraan orang dewasa!" cibir Sonia membuat Chelsea mendelik.


"Justru aku berbicara karena aku mengerti! Aku juga tahu tentang Kak Sonia kenapa datang ke Eropa dengan alasan pekerjaan,"


Sonia menjadi pusat pasi mendengarnya. Zane dan Chelsea sontak menatap Alex dengan bingung, "Apa?"


"Iya, Kak. Kak Sonia datang ke Eropa karena-"


BRAK ....


"Dasar anak kecil ini!" geram Sonia dengan memukul meja makan, hingga piringnya sedikit bergetar. Melihat tingkah Sonia yang kelewatan, membuat Mama Bellamy menjadi kesal.

__ADS_1


"TURUNKAN NADA BICARA MU KEPADA PUTRA KU, SONIA!"


__ADS_2