Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Setting Belaka


__ADS_3

"Ayo, kalian ikut dengan Ayah!" ajak Ayah Robert kepada kedua putranya.


"Kemana, Ayah?" tanya Ashton. Kedua putra kembar dari Ayah Robert tersebut, sudah mulai ada perubahan dari segi pakaian, walaupun masih sedikit risih karena harus menggunakan kemeja, Ashton dan Ashley begitu mirip dengan Ayah Robert saat masih muda.


"Ke rumah kepala desa," jawab Ayah Robert yang sudah siap dengan jas formalnya. Ashley menatap penampilan Ayah Robert yang begitu berbeda dari biasanya, mata mereka sedikit sakit saat mengetahui harga dari sebuah blazer hitam, kemeja, sepatu pantofel, dan juga jas yang di kenakan oleh Ayah Robert.


Ashley hanya menganggukkan kepalanya, "Ayah, apakah Ayah bisa mengganti pakaian? Mata ku sakit melihatnya," celetuk Ashley membuat Ashton menoleh.


Tidak banyak yang berubah, hanya saja mereka berdua belum terbiasa dengan namanya kemewahan. Karena selama 17 tahun, mereka hidup tentram damai sejahtera tanpa adanya kemewahan. Ashton ataupun Ashley lebih menyukai kesederhanaan, tetapi setelah mengetahui identitas asli Ayah Robert, walaupun hanya sedikit saja, mereka mau tidak mau harus menyesuaikan diri.


"Twist, dengarkan Ayah." Ayah Robert berbalik badan. "Kita berpakaian seperti ini hanya untuk formalitas, Ayah tahu kalian belum terbiasa dengan kemeja dan tentunya nanti lebih dari kemeja. Sudah cukup selama 17 tahun ini, kita harus di cemooh." Jelas Ayah Robert membuat Ashton seketika mengingat sesuatu.


"Tapi-"


"Aku setuju dengan Ayah!" sahut Ashton membuat sang Adik menoleh terkejut. Ashton ikut menoleh dan mengangguk.


"Kau tidak ingat dengan remaja seusia kita yang bernama Dani? Bocah ingusan kesayangan Mama?" tanya Ashton dengan raut wajah yang sudah berubah menjadi sangat datar. Kedua tangan remaja itu bahkan sudah mengepal kuat karena mengingat kenangan yang belum lama terjadi itu.


"Iya, aku ingat bocah itu." jawab Ashley lesu. Ayah Robert menghela napas panjang dan mengusap pundak Ashley dan Ashton secara bergantian.


"Walaupun kalian sudah mengetahui tentang identitas Ayah, bukan berarti kalian bisa melakukan ajang balas dendam. Kita bisa melakukan sesuatu agar warga desa bungkam, tapi tidak untuk balas dendam kepada mereka." tutur kata dari Ayah Robert.


Walaupun Ashton dan Ashley adalah Putra yang terlahir karena one night stand, bukan berarti Ayah Robert tidak menyayangi kedua remaja, yang tidak mengetahui apapun tentang masalahnya. "Maafkan, Ayah."


"Kenapa Ayah meminta maaf?" tanya Ashton tidak mengerti. Ayah Robert menghapus air mata di sudut mata dan menggeleng.


"Berjanji kepada Ayah," Ayah Robert menadahkan tangannya. Ashton dan Ashley bergeming, "bahwa kalian tidak akan melakukan hal yang semena-mena kepada orang lain. Ayah memiliki harta, tujuannya bukan untuk di jadikan ajang pameran dan balas dendam, tetapi untuk membantu sesama. Apakah kalian mau berjanji kepada Ayah?" tanya Ayah Robert menatap kedua putra kembarnya secara bergantian.


"Kak Chelsea selalu mengatakan, bahwa harta yang kita miliki, tidak akan tetap tinggal saat kita pergi. Harta hanyalah titipan sementara, jadi kita tidak perlu besar kepala." kata Ashton yang tanpa ragu langsung meletakkan tangannya di atas tangan sang Ayah. "Aku berjanji kepada Ayah, aku tidak akan mengecewakan Ayah dalam segala hal apapun. Aku mohon, mulai hari ini bimbing lah aku menjadi pria seperti Kak Arthur nantinya,"


Ayah Robert tersenyum dan melirik Ashley yang hanya diam, "Ashley?"


"Aku lebih menyukai kesederhanaan di Desa Walaupun Ayah dan Kak Arthur memiliki kerajaan bisnis, aku mohon jangan menghalangi aku untuk mencapai cita-cita ku nanti." Ashley meletakkan tangannya dengan tersenyum tipis.


"Kau ingin menjadi Dokter atau pengacara? Secara kau mengatakan ingin menjadi pengacara, tetapi kepada teman-teman, kau mengatakan dokter. Jadi yang mana yang benar?" tanya Ashton yang kebingungan. Ashley menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Itu hal yang wajar, Ashton." sahut Ayah Robert yang terkekeh geli dengan ucapan kedua putranya. "Ayo, kita harus segera ke rumah kepala desa," ajaknya kembali. Ashton dan Ashley mengangguk dan mengikuti langkah sang Ayah keluar dari rumah.

__ADS_1


"Selamat siang, Tuan Besar."


DEG ....


Ashton dan Ashley langsung berpandangan. Terdapat banyak mobil mewah yang terparkir di halaman rumah sederhana mereka. Banyak juga orang bertubuh kekar, dengan memakai seragam hitam, kacamata serta sebuah headset HT di telinga mereka.


"Mereka kenapa seram sekali?" gumam Ashley yang merasa aneh di perlakukan sangat formal. Bahkan banyak warga yang tak sengaja berlalu lalang di depan rumah, secara terang-terangan melihat siapa yang datang ke rumah tetangga mereka.


Ashton menggaruk tengkuknya, seharusnya hari ini mereka berdua sekolah, tetapi Ayah Robert meminta mereka untuk cuti selama beberapa hari untuk mengurus sesuatu yang cukup penting. Ayah Robert merangkul kedua putranya.


"Kalian lihat wajah kedua remaja ini secara baik-baik," para bodyguard yang jumlah tak sedikit itu menatap Ashton dan Ashley. "Mereka berdua adalah putra kembar ku, kalian harus memperlakukan mereka sama dengan kalian memperlakukan Arthur,"


"Baik, Tuan!"


"Dan satu lagi. Aku memiliki seorang putri, namanya Chelsea Amora Lemos. Putri ku sudah menikah dengan Putra sulung dari keluarga Lincoln, Zane Abraham Lincoln. Kalian ingat nama itu!"


Ayah kenapa seram sekali. Menakutkan, batin Ashton.


...****************...


Di sebuah rumah yang cukup besar, terlihat seorang pria yang memakai peci dan tak lupa sarung kotak-kotak yang menyertai. Ashton dan Ashley sudah tegang saat di jalan, tak berbicara atau menjawab pertanyaan dari sang supir.


"Di saat yang genting pun kau sakit perut. Ini!" Ashton menyodorkan sebuah minyak angin kepada sang Adik.


Sedangkan di luar mobil, Ayah Robert berjabat tangan pria yang jauh lebih tua dari dirinya, pria itu adalah kepala desa di Desa Mentari, atau Bapak dari Reno.


"Selamat siang, Pak Gunawan." sapa ramah Ayah Robert. Pak Gunawan hanya mengangguk dan mempersilahkan Ayah Robert untuk masuk. Pria berusia jauh lebih tua 10 tahun dari Ayah Robert itu, kebingungan saat melihat penampilan yang sungguh mencolok dari salah satu warganya, Ayah Robert.


"Silahkan duduk," Ayah Robert mengangguk. "Bu! Buatkan kopi dua!"


"Iya, Pak." sahut sang istri dari arah dapur. Ayah Robert hanya tersenyum dan melirik ke arah Pak Gunawan yang terdiam. Pria itu menatap bangunan rumah yang begitu sederhana di luar, tapi megah di dalam.


"Ada yang ingin saya katakan kepada, Bapak." kata Ayah Robert membuat Pak Gunawan menghela napas panjang.


"Saya sudah mengetahui niat kedatangan kamu, Robert." jawab Pak Gunawan membuat Ayah Robert hanya menyunggingkan senyum tipis.


"Saya akan kembali ke kota dengan identitas asli saya, dan saya juga akan mengajak kedua putra kembar saya. Jadi dengan begitu, saya mohon bantuan Bapak untuk menggusur rumah yang saya miliki di sini,"

__ADS_1


DEG ....


Pak Gunawan tak habis pikir dengan ucapan pria di hadapannya. Tatapan datar dan tidak ada rasa beban sedikitpun dalam mengucapkan kalimat terakhirnya. Ya, Ayah Robert memiliki dua rumah yang sama persis seperti rumah milik Kepala desa. Cukup megah dan besar, Ayah Robert menyembunyikan dua aset rumahnya dengan dalih ada orang kaya yang datang ke desa dan ingin menetap di desa sementara waktu.


"Kau yakin ingin menggusur dua rumah itu, Robert?" tanya Pak Gunawan memastikan. Ayah Robert mengangguk dan melipat kedua tangannya.


"Saya tidak akan kembali ke desa, mungkin hanya sesekali saja. Saya juga akan menyewa alat berat untuk merobohkan rumah tersebut, dan untuk rumah sederhana yang selama ini saya tinggali, mohon bantuannya untuk menjaga rumah tersebut." jelas Ayah Robert membuat Pak Gunawan menggelengkan kepalanya tak habis pikir.


"Bapak tidak bisa melarang mu. Terserah kamu saja, Robert." jawab Pak Gunawan. Tak lama, datanglah istri dari Pak Gunawan, Ibu Asih. Wanita muslimah dengan kebaikan hati.


"Ini kopinya. Kamu sendiri ke sini, Nak?" tanya Ibu Asih membuat Robert menggeleng.


"Ashton dan Ashley di mobil, Bu." jawab Ayah Robert seadanya. Ibu Asih mendudukkan diri di sebelah sang suami.


"Ibu dan Bapak, saya minta bantuan untuk mengakhiri drama ini," kata Ayah Robert membuat Ibu Asih dan Pak Gunawan saling berpandangan. Mungkin mereka melupakan tentang drama yang selama ini mereka jalani bersama.


"Drama?" beo Ibu Asih.


"Ibu ingat dengan permintaan saya beberapa tahun lalu mengenai hutang piutang? Kita sepakat untuk melakukan setting belaka mengenai Saya memiliki hutang besar kepada kalian,"


Pak Gunawan dan Ibu Asih akhirnya mengingat mengenai kesepakatan mereka. Di mana saat Ayah Robert datang setelah kematian istrinya, tujuan awal Ayah Robert adalah menenangkan diri dan menjauhkan sang putri dari trauma pasca kecelakaan. Ibu Asih dan Pak Gunawan benar-benar berhutang budi atas bantuan yang di berikan oleh pria bule itu, karena tanpa bantuannya mungkin Reno sudah tiada karena penyakit yang menyerang putra bungsu mereka.


"Ibu setuju, terlebih lagi sudah saatnya kamu kembali ke kota, Nak." kata Ibu Asih dengan senyuman tipis. Terlihat wanita itu tulus sekali kepada Ayah Robert.


"Baiklah, kita akhiri semua ini. Tapi walaupun sudah berakhir, apakah itu artinya hubungan saudara kita akan terputus?" tanya Pak Gunawan. Ayah Robert menggeleng dan mendekati kedua paruh baya tersebut.


"Saya dan keluarga saya tidak akan melupakan jasa kalian kepada kami. Saya akan sering datang ke desa untuk menjenguk kalian, dan tentang Chelsea ..."


"Apakah kalian bisa memberitahu kepada Reno untuk tidak terus-menerus menganggu rumah tangga anak saya?" Ayah Robert sudah mengetahui tentang apa yang menimpa sang putri, salah satunya adalah rencana licik dari sang istri yang mencoba untuk menjebak Chelsea dengan obat perangsang.


"Menganggu?"


"Saat di desa, saya masih memakluminya, Pak. Tapi sekarang sudah berbeda, Reno dan istri saya merencanakan sesuatu, yang bisa membuat putri saya mengalami ke hancuran!" terang Ayah Robert dengan tegas. Tatapan pria itu sangat tegas dan berwibawa.


Ibu Asih menutup mulutnya, terkejut. "A ... apa? Pak, Reno kenapa bisa seperti sekarang sih?!"


Pak Gunawan yang tak kalah terkejut, hanya menghembuskan napas panjang, "Bapak akan mengurus anak itu. Kau tidak perlu khawatir Robert, kembalilah ke kota dan jangan pernah melupakan kami."

__ADS_1


"Terima kasih, Pak dan Ibu."


__ADS_2