
Setelah pulang dari rumah sakit, Zane memilih untuk pergi ke kantor dengan Chelsea yang ikut dengannya. Selain untuk menghindari hal yang tidak di inginkan, Chelsea juga malas berhadapan dengan Ibu dari Sonia. Sekarang, Zane terlihat sangat serius mengerjakan pekerjaannya, sedangkan Chelsea sibuk memandangi luar jendela yang begitu memukau. Tidak pernah Chelsea melihat pemandangan dari atas gedung dari ketinggian.
Chelsea mulai memikirkan tentang misi dari sang Ayah, entah siapa wanita yang di maksud oleh Ayah Robert, membuat Chelsea semakin penasaran bukan main. Bila Chelsea bertanya dengan Zane, pria itu pasti tidak akan mengatakan apapun, begitu juga dengan Ayah Robert. Chelsea hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, karena selama ini wanita itu melihat hubungan sang Ayah dan Ibu tirinya tidak terlihat baik-baik saja.
Wanita itu menghela napas, membuat Zane langsung mengalihkan pandangannya, "Sayang, ada apa?" tanya Zane yang sudah berdiri dan mendekati sang istri. Chelsea menoleh dan menggeleng.
"Tidak ada, aku hanya memikirkan Ayah ku, Zane." jawab Chelsea membuat Zane mengulas senyum tipis.
"Kau merindukan Ayah?" tanya Zane membuat Chelsea langsung menadah. Tinggi badan yang berbeda jauh, membuat Chelsea harus mengangkat bawahnya sedikit tinggi.
"Sangat merindukan, ada beberapa hal yang harus aku tanyakan kepada Ayah." katanya dengan tatapan sendu. Chelsea tidak ingin dirinya mendengar dari orang lain, tentang kenyataan bahwa Ayah Robert seorang pengusaha tersohor ketiga. Wanita itu hanya ingin mendengar langsung dari sang Ayah.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kemari lah," Zane menarik Chelsea dan mendudukkannya di atas meja kerjanya, Chelsea mendelik dan mencoba untuk turun, tetapi Zane menahannya.
"Zane, jangan macam-macam! Kita sedang di kantor!" peringat Chelsea membuat Zane menaikkan alisnya.
"Memangnya apa yang akan aku lakukan, Sayang? Bercinta?"
Chelsea langsung memalingkan wajahnya, rasanya sangat malu karena ketahuan apa yang sedang Ia hindari. Zane semakin gemas dan menarik pipi sang istri, "Tidak ada yang berani masuk sebelum aku mengizinkannya. Bahkan ruangan ini sudah aku lengkapi dengan alat kedap suara," bisik Zane di akhir kalimatnya. Chelsea semakin salah tingkah dan memutuskan kontak mata.
"Jangan terus menggodaku!"
"Baiklah, aku tidak akan menggoda ku. Tapi kau harus mendominasi permainan di ranjang nanti,"
"ZANE! AKU SEDANG SERIUS!" pekik Chelsea kesal dengan memukul pundak pria tersebut. Zane tertawa pelan, hobi terbarunya saat ini adalah menggoda sang istri.
"Ini," Chelsea menerima sebuah berkas yang di berikan oleh Zane. "Identitas lengkap tentang Ayah mu, yang aku cari selama ini, termasuk tentang kecelakaan yang kalian alami dulu." Lanjutnya membuat Chelsea terdiam.
Berkas putih yang di lapisi map, Chelsea membukanya dengan tangan bergetar. Perasaannya begitu campur aduk, dan Zane mencoba untuk menenangkannya, "Bila kau tidak kuat, jangan di baca, Sayang."
"A ... aku bisa, aku bisa."
Zane akhirnya membiarkan Chelsea untuk membaca semua informasi yang tidur sedikit itu.
Chelsea menelisik semua kata-kata di sana, A.M Company adalah perusahaan tersohor ketiga setelah Breg L. Company dan Z.L Company, jajaran perusahaan raksasa yang masih berjalan di dunia bisnis saat ini. A.M Company adalah perusahaan milik Robert Lewandowski Lemos yang sudah di nyatakan meninggal dunia, karena kecelakaan yang di alaminya, bahkan juga menyatakan kematian sang istri dan putri mereka, Chelsea Amora Lemos.
Bahkan perusahaan besar itu sekarang di ambil alih untuk sementara waktu, oleh orang kepercayaan Robert Lewandowski Lemos, yaitu Arthur Gavin Lemos. Pria kepercayaan sekaligus pria yang sudah Robert anggap sebagai keluarganya, dan tanpa ragu memberikan nama belakangnya untuk pria tersebut. Arthur hanya menjalankan tugas untuk menyembunyikan identitas sang atasan selama ini, berita kematian Robert dan Chelsea, sengaja Arthur karang untuk mencari sesuatu yang selama ini mereka incar.
__ADS_1
Kematian Robert dan Chelsea, hanyalah manipulasi, sedangkan kematian istrinya adalah kebenaran. Yang semakin membuat Chelsea terkejut adalah tentang kecelakaan yang menimpa mereka beberapa tahun lalu, hanya Ayah Robert yang mengetahui kebenaran tentang kecelakaan tersebut. Chelsea melirik ke arah Zane.
"Ja ... jadi Ibu Anggun ...."
Chelsea menutup mulutnya tidak percaya, Zane mengangguk membenarkan. "Ayah mu dan Ibu tiri mu tidak menikah secara sah, mereka nikah siri dan Ayah Robert sengaja mengakui bahwa pernikahan mereka adalah sah."
"Kenapa Ayah melakukan itu, Zane?" tanya Chelsea dengan air mata yang sudah lolos. Zane mengunci tubuh Chelsea, kedua tangan kekar pria itu berada di kedua sisi sang istri.
"Karena watak Ibu tiri mu begitu tamak akan harga, kau lihatlah bagaimana gigihnya Ibu Anggun untuk menikahkan mu dengan bocah ingusan itu." mengingat tentang Reno kembali, membuat kepala Zane ingin meledak.
...****************...
"Jadi bagaimana?" tanya Papa Owen dengan menatap Zane dan yang duduk bersampingan di hadapannya.
"Maksud Papa?" tanya Zane tidak mengerti. Pria itu melirik sang istri dan mengusap sudut bibir wanita di sampingnya. Chelsea mendelik dan memukul punggung tangan Zane. Malu? Tentu saja, karena di meja makan terdapat keluarga Lincoln lainnya. Bahkan Mama Bellamy sudah menutupi mata kedua anak kembarnya.
"Kalian bila ingin bermesraan jangan di harapan si kembar!" tegur Mama Bellamy dengan menatap Zane yang tersenyum tanpa dosa.
"Ma, mereka itu pengantin baru, biarkan saja!" sahut Papa Owen, "twins, kembalilah ke kamar bila sudah selesai makan malam ya." Lanjutnya dengan menatap kedua anak kembarnya. Alex dan Alexia mengangguk dan bergegas ke kamar mereka masing-masing.
"Kalian sudah melakukan progam hamil?" tanya Papa Owen membuat Chelsea tersedak air liurnya sendiri.
"Ma, kami masih ingin menikmati masa berdua kami. Bukankah begitu, Sayang?"
Mendengar panggilan Zane yang begitu mesra, ternyata membuat dua wanita yang diam itu merasa kesal. Ibu Tasya dan Sonia. Sebenarnya mereka datang hanya untuk menyapa keluarga Lincoln, tetapi ternyata tidak menyangka bahwa keluarga Lincoln lainnya menyambut kedatangan pasangan pengantin baru. Sonia sudah menyukai Zane sejak lama, bahkan sebelum dirinya menikah dengan mantan suaminya. Menurunnya, Zane adalah pria yang sangat pantas menjadi suaminya. Niatnya datang dari Australia ke Indonesia, adalah untuk bermesraan dengan sepupunya itu, tetapi malah gagal total.
"Yang di katakan oleh Zane ada benarnya, Ma. Kami sepakat untuk tidak memikirkan kehamilan, kami ingin mengenal lebih jauh," jelas Chelsea membuat raut wajah Mama Bellamy dan Papa Owen yang semula murung, kini kembali seperti sebelumnya.
"Benarkah? Kau sudah mencintai putra ku?" tanya Mam Bellamy dengan antusias. Chelsea mendadak canggung mendengarnya. Perasaannya memang sudah berubah, wanita itu juga teringat dengan pembicaraan singkatnya dengan kepala pelayan.
Zane menatap Chelsea, tatapan itu penuh harap. "Aku mencintai Zane, mungkin belum sebesar Zane mencintai ku, aku akan berusaha, Ma."
DEG ....
Suasana makan malam langsung hening, Sonia yang tercengang dan Ibu Tasya yang juga tak kalah terkejut. Zane menatap Chelsea tidak percaya, "Sa ... sayang, kau-"
"Aku mencintai, maaf aku terlambat menyadari cinta ini, Zane." sela Chelsea dengan mengelus punggung tangan Zane dengan lembut. Papa Owen melirik Mama Bellamy yang juga tersenyum senang.
__ADS_1
"Akhirnya, jadi kalian harus pergi honeymoon untuk merayakan!" seru Mama Bellamy dengan semangat. Papa Owen mengangguk setuju, dan pemutusan sang Mama membuat Zane dan Chelsea saling berpandangan.
"Bagaimana? Apakah kalian tidak keberatan? Anggap saja ini hadiah dari Mama dan Papa, atas pernikahan kalian." ucap Papa Owen membuat Zane tersenyum tipis. Sangat jarang Zane tersenyum kepada orang lain, terkecuali keluarganya. Sonia dan Ibunya mengeram kesal, Zane kepada orang lain termasuk mereka berdua begitu datar, sedangkan kepada Orang tua dan istrinya begitu senang tersenyum.
"Kami-"
BRAK ....
Zane menatap kesal ke arah Sonia yang baru saja memukul meja makan, "AKU TIDAK SETUJU!"
"Kenapa? Apakah kau memiliki alasannya, Sonia?" tanya Mama Bellamy yang keheranan dengan tingkah keponakannya.
Sonia mengangguk, "Tentu saja aku memiliki alasan, karena aku tidak ingin mereka menikah! Aku mencintai Zane, Bi!"
"Tapi Zane sudah menikah, kau ingin menjadi perusak rumah tangga Kakak sepupu mu?" sahut Papa Owen bertanya. Ibu Tasnya menggenggam tangan sang putri dan menggelengkan kepalanya pertanda tidak.
"Ten-"
"Aku menikah atas kemauan ku sendiri, dan kau tidak berhak mengatur ku, Sonia. Semakin kau gigih mendapatkan ku, semakin gigih pula aku membuat mu tersiksa!"
"Zane! Apa yang kau katakan!" hardik Ibu Tasya yang tidak terima dengan ucapan Zane kepada putri kesayangannya.
"Bi, kau terlalu memanjakan putri mu ini, di mata agama dan hukum, tidak memperbolehkan keluarga yang masih memiliki hubungan darah untuk menikah. Bila Sonia adalah anak angkat atau anak tiri mu, mungkin aku bisa menikahi nya, tapi sekarang status kita berbeda. Aku dan Sonia adalah sepupu, kau adalah istri dari Adik Ayah ku." Jelas Zane membuat Mama Bellamy dan Papa Owen tersenyum puas.
Sonia mengeraskan rahangnya, menatap penuh kebencian kepada Chelsea yang memilih untuk bungkam. "Karena wanita ini, kau berubah kepada ku!" pekik Sonia membuat Zane mengerutkan keningnya.
"Apakah aku tidak salah dengar? Kita memang tidak dekat, aku memang seperti ini, jangan menyalakan istri ku atas hubungan kita." sahut Zane membuat Chelsea tersenyum tipis ke arah sang suami. Selain pengertian, ternyata Zane begitu sangat peka.
"Zane, tapi-"
"SUDAH DIAM!" teriak Papa Owen yang mulai jengah dengan tingkah Sonia dan Ibunya. "Bila kalian tidak ingin aku usir dari sini, sebaiknya kalian jaga sikap!" tegasnya membuat Sonia menelan ludahnya. Sonia memilih duduk kembali dengan perasaan kesalnya.
"Jadi kalian mau kan honeymoon? Persiapan biar kami yang mengurus," kata Mama Bellamy mencairkan suasana yang begitu tegang. Chelsea mengangguk setuju.
"Apapun yang membuat Mama dan Papa senang, kami akan melakukannya. Bukankah begitu, Sayang?"
Jantung Zane begitu berdetak kencang kala Chelsea memanggil dirinya dengan begitu tulus. "Benar, Sayang."
__ADS_1
Zane mendekatkan wajahnya, "Aku mencintai mu, aku adalah pria masa depan mu, Baby." Bisiknya membuat Chelsea tersenyum malu-malu.
"I love you more, hubby!" balas Chelsea dengan malu-malu.