
"Kau yakin meminta bantuan Dragon?"
Kini, di dalam mansion pribadi milik Zane, ketiga pria berbeda usia tengah saling bertatapan. Zane hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari Nicholas, pria itu berjalan cepat menuju ke sebuah ruangan, yang selama ini sangat jarang Ia masukin.
"Yang aku pikirkan adalah keselamatan istri dan anak-anak ku. Aku tidak akan pergi atau berhenti sebelum menemukannya," jawab Zane dengan wajah datar. Tak ada raut apapun, selain khawatir dan panik.
"Pakai,"
Nicholas menangkap sebuah sarung tangan dan beberapa senjata api milik Zane, "Kau masih percaya kepada ku?"
Gerakan Zane seketika berhenti, "Sejak kapan aku tidak percaya kepada mu, Nic. Di saat ini lah, aku sangat membutuhkan mu dan Daniel." jawabnya dengan pelan. Setelah memakai sarung tangan dan pelindung badan anti peluru, Nicholas dan Daniel mendekati Zane yang memang tidak baik-baik saja.
"Kau memang mafia berkedok pengusaha kaya," celetuk Daniel dengan senyuman kecil. Nicholas langsung memukul mulut pria itu dengan kesal seraya mendelik.
"Itu lah yang kami lakukan untuk tidak melibatkan dunia nyata dengan dunia gelap," balas Nicholas dengan senyuman miring. Daniel terkekeh geli dan mengangguk dan mengambil sebuah pelindung badan anti peluru lengkap dengan kelengkapan lainnya.
"Aku akan meminta bantuan Kakek,"
Zane hanya memasang telinga mendengar percakapan kedua sahabatnya. Selama bertahun-tahun, Zane telah berhasil menyembunyikan dunia gelapnya dari orang-orang, termasuk Chelsea. Wanita yang selama berbulan-bulan ini Ia bohongi untuk kepentingan bersama, Zane benar-benar akan memberitahukan wanita itu di saat yang tepat. Bagaimana pun, Zane memang berniat untuk memberitahukan tentang identitas gelapnya kepadanya, hanya saja belum ada waktu yang tepat.
"Kau melacak GPS istri ku?" tanya Zane setelah siap dengan semua kelengkapan melekat di tubuhnya.
"Penculik itu bermain pintar, ponsel Chelsea terakhir berada di sekitar taman dekat Mall." jawab Nicholas dengan memperlihatkan sinyal GPS dari laptopnya.
"Oh ya? Kalau begitu, kau harus meretas ponsel ini, berikan semua isi di dalam ponsel ini kepada ku nanti."
"Ponsel siapa ini?" tanya Daniel memperhatikan ponsel yang Nicholas terima dari Zane.
Zane berbalik dan memasukkan beberapa senjata api dan pelurunya, "Tasya."
"Kenapa Tasya?" tanya Nicholas memancing Zane yang sibuk memasukkan beberapa senjata api miliknya ke dalam tas.
"Cukup kau cek semua panggilan dan pesan masuk, karena aku menaruh curiga kepada wanita itu." kata Zane dengan tatapan yang sangat tajam, menatap pantulan dirinya di cermin dan menyungging senyum miring.
"Dragon sudah menunggu,"
Zane membawa tas hitam berukuran besar dan berjalan keluar dengan Nicholas dan Daniel di belakangnya. Daniel mengaktifkan jam miliknya, bukan jam biasa, jam pemberian dari sang Kakek yang di rancang khusus untuk dirinya.
"Kakek akan menyusul, aku sudah mengaktifkan GPS ku." celetuk Daniel dengan serius. Zane hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobil yang berbeda dengan kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Untuk sementara waktu, kosongkan semua jadwal ku dan tolak kerjasama dari perubahan manapun." Daniel yang hendak ke arah mobilnya, terkejut bukan main.
"Tapi-"
"Karena nyawa istri dan anak-anak ku lebih penting, Niel." potong Zane yang langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, meninggal bangunan mansion itu dengan secepat kilat. Daniel menghela napas panjang dan mengangguk.
"Up to you, Zane."
...****************...
"Kau sudah menghapus rekaman Cctv di sekitar toko perhiasan itu?"
Bayu, Clara, dan Ibu Anggun. Ketiga orang tersebut tengah menikmati minuman beralkohol kadar tinggi, Bayu hanya menghela napas beberapa kali dan tampak tak menikmati semua misinya kali ini. Dulu, Bayu memang antusias menerima perintah dari Tasya, tapi kali ini tidak. Pria itu bahkan sudah melakukan penculikan di mall atas perintah dari Clara di bantu oleh Anggun dan Tasya.
Ibu Anggun melirik Bayu yang sejak tadi hanya diam, "Kau sepertinya tidak menikmati semua tugas mu kali ini, Bayu." Celetuknya membuat Bayu melirik dengan kesal.
"Aku melakukan perintah kalian demi kebebasan Adikku!" Jawabnya ketus. Clara terkekeh geli dan mengeluarkan segepok uang berwarna merah dan melemparnya ke arah Bayu.
"Bukankah kau pertamanya hanya ingin mengambil sisa imbalan mu? Ambillah, imbalan karena kau sudah menculik Chelsea," kata Clara dengan senyum meremehkan.
Bayu menatap segepok uang merah tersebut dengan tatapan tak minat, mana mungkin dirinya membandingkan harga Adiknya dengan uang tersebut. Dulu, situasi mendesak dirinya untuk menerima perintah dari Tasya, tapi kali ini Bayu menyesal karena ulahnya sendiri. Nyawa Adiknya jauh lebih penting dari segepok uang.
"Jangan naif, Bayu. Kau masih membutuhkan uang untuk pengobatan Adikmu kan? Ambil saja,"
Bayu tersenyum miring dan meletakan gelas minumannya yang belum Ia teguk itu, "Aku bisa menyembuhkan Adikku dengan uang lain. Aku tidak sudi menerima uang kalian itu!"
"Kau lihat," Ibu Anggun melirik Clara. "Dia sangat munafik dan juga-"
TAK ....
Ketiga orang tersebut menoleh cepat ke arah belakang, di mana seorang wanita hamil besar yang tak lain adalah Chelsea, baru saja menendang sebuah balok kayu di dekatnya.
"Lepaskan aku!" teriaknya membuat Ibu Anggun dan Clara sontak mendekati Chelsea.
Ibu Anggun melipat kedua tangannya dengan angkuh dan tersenyum miring, "Lihat, dia sudah terbangun. Apa yang akan kita lakukan kepadanya?" tanya Ibu Anggun membuat pendengaran Chelsea seketika menjadi tajam.
Kedua mata Chelsea di tutup oleh kain hitam, terduduk di kursi dengan keadaan kaki dan tangan terikat. Chelsea merasa sesak karena ikatan di tubuhnya, "SIAPA KALIAN?!"
Clara mendekati Chelsea dan mencengkram erat dagu wanita tersebut, "Aku adalah malaikat pembunuh yang di kirim untuk mu, Chelsea."
__ADS_1
DEG ....
"Siapa kau? Kenapa kau menculik ku?!" teriak Chelsea mencoba untuk melepaskan ikatan di tangannya, tetapi Bayu dengan sigap langsung memegang erat lengan Chelsea.
"LEPASKAN! AKU TIDAK MEMILIKI MASALAH APAPUN DENGAN KALIAN!"
Chelsea tahu, bahwa seorang pria yang memegang lengannya yang terikat di belakang kursi. Chelsea merasa tidak memiliki masalah dengan siapapun selama ini, kecuali terhadap satu orang. "Ibu Anggun?"
Ibu Anggun memiringkan kepalanya, saat Chelsea tiba-tiba saja menyebut namanya tanpa ragu, "Kau ternyata cukup pintar menebak suara ku ini, Chelsea."
DEG .....
Aku tidak bermimpi kan? Kenapa Ibu melakukan ini kepada ku? batin wanita tersebut yang terkejut bukan main dengan kenyataan yang baru saja Ia terima.
"I ... ibu? Bu, kenapa kau melakukan hal ini kepada ku?" tanya Chelsea dengan lirih. Bahkan tak menyangka air mata wanita itu lolos dari pelupuk matanya tanpa permisi. Ibu Anggun tertawa renyah dan mengisyaratkan agar Clara dan Bayu menyingkir.
"Aku melakukan ini karena aku ingin Robert merasakan kehilangan untuk kedua kalinya! Ayah mu dan dirimu mu, adalah masalah bagi ku! Ayah mu telah menipu ku bahkan mempermalukan ku di depan umum! Karena Ayah mu juga, aku harus di jauhi oleh putra kembar ku!" bentak Ibu Anggun membuat Chelsea semakin menangis sesenggukan.
"Bu, aku menyayangi mu seperti Ibu kandung ku. 17 tahun aku kehilangan Ibu ku, dan aku hanya memiliki mu sebagai pelita ku setelah Ayah." Lirih Chelsea mencoba kembali untuk melepaskan ikatan tangannya.
"Kalau kau menyayangiku, kenapa kau tidak mencegah Ayah mu untuk mengirim ku ke rumah bordil!"
PLAK ....
Ibu Anggun benar-benar menatap Chelsea dengan sengit, tidak ada kelembutan atau bahkan kasih sayang dari sorot matanya. Hanya ada sebuah kebencian dan dendam yang begitu besar di setiap kali berucap, "Aku ingin kau mati seperti Ibu mu itu!"
DEG ....
Chelsea sontak menoleh, "A ... apa maksud mu, Bu?" tanyanya takut. Chelsea tidak peduli dengan nyawanya, yang Chelsea pedulikan adalah nyawa kedua bayinya yang belum lahir ini. Pikiran Chelsea mulai menerawang jauh, dan bayangan kecelakaan yang menimpa dirinya kala itu kembali datang.
"Bukan dirimu, Anggun. Tapi aku yang akan membunuh putri tiri mu dan aku akan mendapatkan Robert," sahut Clara yang sejak tadi hanya diam. Sedangkan Bayu hanya diam, menatap nanar pada sosok Chelsea yang hampir saja Ia bunuh kala itu.
Maafkan aku, Chelsea. Aku terpaksa, dan aku pastikan kau selamat. Batin Bayu dengan perasaan bersalah.
"Ayo pergi, tinggalkan saja dia di sini!" Bayu menghela napas panjang dan menyusul kepergian dua wanita tersebut. Dan, hanya ada Chelsea seorang di dalam ruangan itu, sepi tak sunyi. Chelsea tidak akan bisa berhenti untuk menangis karena satu hal yang ia simpulkan adalah benar.
"Hiks, kalian pembunuh." Tangis Chelsea menggema di ruangan ruangan kosong itu. "Zane, tolong aku."
NEXT UPDATE NANTI MALAM YA....
__ADS_1