
Di lain sisi, Chelsea tengah menikmati melihat bintang dengan Zane, lain hal dengan Ashton dan Ashley yang hanya diam di taman belakang, seraya menatap langit malam.
"I'm scared," cicit Ashley membuat Ashton menoleh cepat.
"What?"
Ashley mengubah posisinya dan menyandarkan tubuhnya di pilar rumah, "Kemarin aku sempat bertelepon dengan Mbah Gunawan, katanya sih Dani pindah ke sekolah karena Ayahnya pindah tugas." ungkap Ashley membuat Ashton mulai mengerti dengan kalimat selanjutnya dari sang kembaran.
"Sudah aku bilang, jangan takut sama anak cepu kayak dia. Dia berani karena dia punya kuasa, kita hanya orang kecil yang tunduk sama raja," jelas Ashton dengan ikut menyandarkan tubuhnya di sebelah sang Adik.
"Tapi sekarang kita sudah memiliki semuanya, tidak bisa kah kita membalasnya?" tanya Ashley dengan ragu-ragu. Ashton terdiam sejenak dan mulai menyunggingkan senyum.
"Aku juga berpikiran sama, tapi ucapan Ayah membuat aku sadar. Harta hanya titipan, kita memiliki harta tapi bukan berarti kita orang besar, untuk apa kita memiliki harta kalau kita tidak bahagia? Aku berkali-kali mendengar Ayah mengatakan hal kepada mendiang istri pertamanya," kata Ashton dengan lirih. Ashley ikut terdiam mendengar ucapan sang Kakak dan menghela napas.
"Aku merasa, kalau Ayah masih berharap kalau mendiang istri pertamanya masih ada." Ashton menoleh dan mengangguk membenarkan.
"Tidak bisakah kita bertanya lebih lanjut tentang kehidupan kita, Kak? Maksud ku, kenapa Ayah menikah dengan Ibu, tetapi malah melakukan hal ini kepada Ibu?" tanya Ashley dengan begitu pelan. Ashton menatap sekitaran dan berharap tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka berdua.
"Untuk apa bertanya lagi, semua fakta sudah ada di harapan kita, Ashley. Ayah menikah dengan Ibu, untuk mencari tahu tentang kecelakaan mendiang istrinya, kehadiran kita juga di inginkan oleh, Ayah. Kau tidak ingat? Jangan berpikir bahwa kita hanyalah pancingan untuk Ayah!" tegas Ashton dengan menepuk pundak sang Adik yang tampak menghela napas untuk sekian kalinya.
"Lupakan itu, mungkin aku akan bertanya di saat usia ku bertambah nanti. Yang aku takutkan, Dani benar-benar pindah ke sekolah kita, Kak."
Diam, Ashton saat ini tak bisa berkutik bahwa dirinya juga merasa takut dengan seorang Dani. Remaja laki-laki yang memiliki status tinggi di desa mentari, putra dari juragan kambing yang begitu manja dan semua keinginannya harus di turuti dengan alasan apapun. Bahkan tak jarang, Dani memamerkan semua barang barunya ke teman-temannya, termasuk kepada Ashton dan Ashley dengan berakhir ejekan dan kata-kata mencela.
"Kita tidak akan di bully kan?" tanya Ashley kembali dengan perasaan kalut. Ashton mengacak rambut belakangnya dengan frustasi.
"Tidak-"
"Siapa yang membully siapa?"
DEG ....
Kedua remaja kembar itu sontak menoleh, terlihat Arthur dan Calvin yang berdiri di belakang mereka, lebih tepatnya di ambang pintu yang mengarah ke taman belakang. Ashton dan Ashley langsung berdiri dan terdiam dengan lidah kelu.
"Ka ... kak Arthur,"
Arthur mendekati kedua Adiknya dengan tatapan serius, "Siapa yang membully siapa? Jawab Kakak!"
Calvin menatap kedua remaja kembar di hadapannya dengan tatapan tak percaya. Awalnya di saat Calvin mengantar jemput Ashton dan Ashley ke sekolah baru, merasa kalau kedua anak kembar tersebut tampak sangat takut, tetapi untuk sekarang tidak.
"Apakah remaja bernama Dani yang membully kalian berdua?" tanya Calvin yang turut bersuara. Ashton melirik Arthur yang juga menatapnya penuh pertanyaan.
"Twin?"
"Be ... benar, Kak. Da ... Dani yang membully kamu berdua!" jawab Ashley dengan cepat seraya memejamkan matanya. Calvin tercengang tidak percaya dengan jawaban dari Adik atasannya itu.
Ashton dan Ashley langsung tertunduk dalam diam, tangan Arthur langsung terkepal kuat mendengar jawaban dari sang Adik. "Apa Ayah tahu tentang ini? Sejak kapan kalian di bully? Jawab!" desak Arthur membuat jantung kedua anak kembar di sana merasa ingin lepas.
"Jangan membuat mereka takut, Arthur!" tegur Calvin mencoba untuk menenangkan sahabat sekaligus atasannya itu. Arthur menghela napas panjang dan menarik lengan Ashton menuntut jawaban.
"Sejak kapan?"
__ADS_1
"Sejak SMP, Kak. Ayah belum tahu tentang ini,"
...****************...
"Sudah siap?" tanya Arthur kepada kedua Adiknya yang masih berada di dalam kamar. Kamar Ashton dan Ashley berhadapan dan memang sengaja pintu kamar mereka tidak di tutup atas perintah dari sang Kakak.
"Kakak akan ke mana?" tanya Ashton yang menatap penampilan Arthur yang sangat rapi dengan jas putih, tak lupa dengan Calvin yang juga terlihat tak kalah tampan dengan tubuh bersandar di dinding.
"Tentu saja mengantar kalian ke sekolah, ini perdana untuk Arthur." sahut Calvin dengan senyuman menggoda sang sahabat. Arthur memutar matanya dengan jengah.
"Kak Arthur yang akan mengantar kami? Sebaiknya jangan!" tolak Ashley membuat ketiga pria di saja menoleh ke arahnya.
"Tapi kenapa? Kakak sekalian akan pergi ke kantor," kata Arthur yang memprotes aksi tolakan sang Adik.
"Lebih baik Kakak dan Paman ke kantor saja, yang jadi kalian berdua akan di rayu habis-habisan oleh siswi di sana." ungkap Ashton yang mulai merasa merinding, mengingat saat mereka berdua baru bersekolah dan sudah diserbu oleh banyak siswi.
"Beneran yang dikatakan oleh Ashton, kami saja mati-matian untuk menghindari mereka semua." timpal Ashley membenarkan ucapan sang kembaran.
Calvin mendengus kesal dan menarik Ashley keluar dari kamar, "Kalau aku dirayu tidak apa-apa, tetapi berbeda dengan Arthur yang mungkin langsung dilahap oleh Sonia."
Arthur mendelik tajam ke arah sang sahabat, "Kenapa kau malah membawa-bawa nama Sonia?!" kesal dengan bergegas menarik lengan Ashton untuk bergegas menuju sekolah.
"Kak, tapi tas ku-"
"Cal! Ambil tas Adik ku!" perintah Arthur tanpa menoleh ke belakang. Ashley memilih untuk menyusul sang Kakak dengan menenteng tasnya sendiri, sedangkan Ashton hanya pasrah saat di tarik oleh Arthur.
Keempat pria tersebut menuruni anak tangga dengan beriringan, membuat para pelayan langsung membungkuk hormat, begitu juga dengan Ayah Robert yang mengerutkan keningnya melihat keempat anaknya.
"Kalian ingin ke mana?" tanya sang Ayah, membuat langkah Arthur dan Ashton berhenti.
"Masuk!"
"Wow, aku seperti di culik sugar Daddy saja." protes Ashley membuat Calvin mendelik tajam.
PLAK ....
"ADUH!" Ashley meringis karena Calvin baru saja memukul mulutnya dengan keras.
"Masuk! Jangan banyak tanya,"
Ashley mencibir kesal dan masuk ke dalam mobil, Calvin dan Arthur menyusul dan langsung melajukan mobilnya dengan cepat. Ashton bahkan langsung memegang pegangan dengan gemetar.
"Ini masih pagi, tidak perlu membawa mobil seperti tornado!" protes Ashton dengan raut wajah takut. Arthur dan Calvin seolah-olah menutup telinganya dan malah semakin mempercepat laju mobil. Ashley menggeleng saat Ashton akan melakukan protesnya.
Tak lama, akhirnya mobil mewah tersebut tiba di parkiran sekolah Ashton dan Ashley. Sekolah bergengsi, di mana semua murid begitu memiliki bakat berbeda dan prestasi di bidang tentu. Ashton dan Ashley mulai tegang, membuat kedua pria matang di depan kemudi, menoleh entah mereka.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Calvin membuat Ashley tersadar dan mengangguk.
"I ... iya, hanya saja aku merasa tidak enak badan secara tiba-tiba." Ashley meraba lehernya dengan pelan seraya memijat pelan.
"Alasan saja," gerutu Arthur yang terdengar sampai ke telinga si kembar.
__ADS_1
"Turun! Tidak ada alasan untuk tidak sekolah, dan sekalian Kakak ingin tahu, yang mana yang bernama Dani."
DEG ....
"U ... untuk apa?" tanya Ashton gugup. Arthur mengusap rambutnya dengan frustasi.
"Aku seorang Kakak, dan sudah menjadi tugas seorang Kakak untuk menjaga adik-adiknya. Dulu aku gagal menjaga Chelsea, tapi tidak untuk sekarang."
Melihat bagaimana raut wajah datar dan penuh keseriusan dalam mengatakan semua kalimat tersebut, membuat Ashton ataupun Ashley tidak memiliki keberanian untuk menolak atau melarang kedua pria di depan mereka.
"Okay, but please wear a mask."
Calvin sontak menoleh, "Kau ingin aku seperti kura-kura ninja, hah?!" pekik pria tersebut saking kesalnya.
"Sudah aku bilang, di sekolah kami siswi dan gurunya sangat genit!" sahut Ashley tak kalah sengit. Bahkan remaja itu sudah menyodorkan sebuah masker kepada Calvin dan Arthur, membuat kedua pria tersebut saling berpandangan.
"Hurry up and get it!"
"Dasar bocah ini!"
Setelah menggunakan masker, akhirnya Ashton dan Ashley keluar bersamaan dengan Arthur dan Calvin yang menyusul. "Bersikap seperti biasa saja," bisik Ashton kepada sang Adik.
Baru saja beberapa langkah menjauhi mobil, terlihat sekumpulan anak remaja mendekati Ashton dan Ashley dengan tatapan sengit. Arthur dan Calvin memilih untuk sedikit menjauh untuk melihat apa yang akan terjadi.
"Hey, anak dari wanita malam!"
DEG ....
Calvin dan Arthur di buat terkejut dengan julukan yang di sambut dengan wajah malas dari Ashton dan Ashley itu. Sekumpulan anak remaja tersebut, terkekeh geli dan menggoyangkan sebuah kertas berisi berita konferensi pers tentang Ibu mereka.
"Ternyata ibu mu seorang wanita malam, pantas saja mu ra han!" ejek seorang siswi dengan lantang.
"Apa yang kalian inginkan dari kami?" tanya Ashley dengan melipat kedua tangannya. Tatapan pria itu seolah-olah menantang sekumpulan anak remaja di hadapannya. Ashton dan Ashley memang terlihat penakut, tetapi rasa takut mereka hanya di tujukan kepada keluarga mereka.
Mendengar ucapan Ashton, satu remaja laki-laki tertawa kecil, "Jangan sombong dulu, kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?"
Ashley menyunggingkan senyum miring, "Anak setan seperti mu tidak pantas kami kenal!" cemooh nya.
DUG .....
"Akhh!" Ashley meringis kala tulang keringnya baru saja di tendang oleh remaja tersebut. Ashton mengepalkan kedua tangannya dan mendorong tubuh remaja yang sudah menendang kaki Adiknya.
"Lawan mu adalah aku, Chiko!" hardik Ashton membuat sekumpulan remaja tersebut langsung terdiam, termasuk remaja bernama Chiko.
"Kau! Berani sekali kau menantang ku, dasar anak haram!"
"Siapa yang kau sebut anak haram, bocah?" seru Arthur membuat sekumpulan anak remaja tersebut langsung menoleh. Calvin tersenyum miring mengejek dengan menunjuk ponselnya yang tengah merekam aksi mereka semua.
"Kalian bisa kami tuntut atas kasus pembullyan,"
"Sial! Matikan kamera nya!" teriak Chiko tak terima. Tetapi Calvin semakin menyorot wajah-wajah sekumpulan remaja di hadapannya dengan tawa ringan.
__ADS_1
Ashton bergegas membantu Ashley untuk bangun dan menatap bengis pada sekumpulan remaja yang sudah pergi dengan kalang kabut. "Aku berjanji akan membalas kalian!"
"Ini hari yang paling terburuk di daftar sejarah kehidupan ku!" lirih Ashley dengan berjalan terpincang-pincang menuju mobil.