Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Hanya Kambing Hitam


__ADS_3

Di sebuah jalanan yang terlihat sepi, pohon rindang menutupi setiap jalan tersebut, hanya ada beberapa lampu penerangan di jalan. Ayah Robert menatap sendu lokasi di mana menjadi saksi bisu keluarga bahagianya lenyap dalam sekian detik. Mobil hitam, Tuan Arjun menatap pria yang berbeda 2 tahun dengannya itu.


"Tuan baik-baik saja?" tanya Tuan Arjun membuat Ayah Robert menoleh dan terdiam. Dengan kemeja putih, ternyata cukup membuat pria itu menjadi terlihat muda dari umurnya.


"17 tahun yang lalu, aku masih ingat bagaimana Kimberly memeluk tubuh putri kami dengan erat. Membiarkan tubuhnya kesakitan, demi melindungi Chelsea ku." kata Ayah Robert dengan kembali menatap ke arah depan sana. Tidak ada kendaraan yang lewat, hanya beberapa saja dan hal itu membuat kondisi jalan menjadi horor.


"Tapi Kimberly melupakan bahwa dia juga tengah mengandung anak kedua kami yang berusia 5 bulan," tambah Ayah Robert dengan suara yang semakin parau. Tuan Arjun hanya mengangguk sebagai tanggapan dan memberikan sebotol air.


"Tuan sungguh hebat," sahut Tuan Arjun membuat Ayah Robert melirik. "Karena sampai detik ini Tuan tidak pernah memperlihatkan kesedihan Anda," lanjutnya membuat Ayah Robert terkekeh kecil.


Hampir 18 tahun lamanya, dan ini sudah beberapa kalinya Ayah Robert mendatangi tempat kejadian perkara, tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk anak-anaknya. Ayah Robert tidak ingin mereka khawatir dan kembali teringat dengan kecelakaan yang menimpa keluarga harmonis tersebut, termasuk Chelsea. Sejak kecelakaan tersebut, Ayah Robert hanya bisa menerima bahwa putrinya mengalami trauma berat pasca kecelakaan.


Sempat mengalami kelumpuhan dan ketakutan, membuat Ayah Robert tidak tega dengan putri kecilnya. Kata orang, cinta pertama seorang Ayah adalah putrinya, itu yang Ayah Robert rasakan di saat Chelsea ketakutan saat teringat kejadian mengerikan itu.


"Dokter Gerland mengatakan, bahwa trauma yang di alami Chelsea sewaktu-waktu bisa kembali, maka dari itu aku memintanya untuk menjadi dokter psikiater untuk Chelsea." ungkap Ayah Robert membuat Tuan Arjun mengangguk. Siapa pun pasti mengenal Dokter Gerland, dokter spesialis bedah di salah satu rumah sakit bergengsi milik keluarga Lemos. Selain dokter spesialis, Dokter Gerland adalah seorang psikiater.


"Jadi di saat usia Chelsea sudah akan masuk 24 tahun, dia masih mengalami trauma?" tanya Tuan Arjun pelan. Ayah Robert menghela napas dan mengangguk.


"Iya, dan aku takut rasa takut dan traumanya tiba-tiba saja datang. Aku tidak ingin hal itu terjadi lagi,"


Terlihat jelas ketakutan dari setiap kata dari pria di sebelahnya. Rasa bangga, dan terima kasihnya membuat Tuan Arjun turun tangga untuk menjadi pengacara pribadi keluarga Lemos, sebenarnya Ayah Robert menolak akan hal itu, tetapi melihat bagaimana bersikeras Tuan Arjun, membuatnya akhirnya menerima. Tuan Arjun sendiri adalah anak seorang supir yang bekerja dan mengabdikan diri di keluarga Lemos, Ayah Robert. Ayah Robert tanpa pikir panjang langsung membiayai Tuan Arjun yang memiliki impian menjadi seorang pengacara. Hal tersebutlah yang membuat Tuan Arjun begitu berhutang besar kepada Atasan dari sang Ayah.


"Percayalah kepada kekuasaan Tuhan, saya yakin pasti Chelsea bisa menyembuhkan dirinya sendiri, Tuan." nasihat Tuan Arjun membuat Ayah Robert hanya tersenyum kecil.


"Ternyata kau sudah dewasa," ucap Ayah Robert dengan mengacak rambut pria di sebelahnya.


DEG ....


Sikap Ayah Robert yang begitu menyayangi sesama, dan tidak membedakan antara atasan dan bawahan, membuat siapapun akan nyaman di dekatnya, terutama Tuan Arjun.


"Tu ... tuan,"


"Panggil aku Kakak. Bukankah kita sudah sepakat, Arjun?"


Tuan Arjun terdiam, menatap sendu pada pria di sampingnya dan mulai merasakan perasaan bersalah. Selama 17 tahun, Ayah Robert hanya memintanya untuk mencari bukti-bukti kejahatan dan kecelakaan yang menimpa keluarga kecilnya, tetapi hingga saat ini Tuan Arjun belum menemukan lebih dari voice dan rekaman, serta bukti suap.


"Maafkan, saya."


"Untuk apa kau meminta maaf, Arjun?" tanya Ayah Robert tidak mengerti. Tuan Arjun menundukkan kepalanya dan menangis kecil.


"Besar harapan Anda kepada saya, untuk mengungkapkan kecelakaan tersebut, dan saya hingga saat ini belum-"

__ADS_1


"Semua hal membutuhkan proses, Arjun. Tidak bisa kita tuntut waktu untuk harus menemukan hari ini juga," potong Ayah Robert begitu bijaksana dan menepuk-nepuk punggung pria pengacara tersebut.


Saya sangat berterima kasih kepada Anda, Tuan Robert. Batin Tuan Arjun dengan rasa besarnya.


...****************...


"Kau mendapatkan sesuatu, Nic?" tanya Zane kepada Nicholas. Mereka berdua, kini berada di dalam ruang kerja Zane. Daniel sedang turun tangan untuk rapat dengan pebisnis lain.


"Cukup sulit, mengingat kejadian itu sudah lama, Zane." jawab Nicholas membuat hembusan napas mulai terdengar. Zane memijat pangkal hidungnya dan menatap lembaran map yang di sodorkan oleh Nicholas.


"Ibu tentang Ibu Anggun dan tiga oknum polisi tentang kasus suap," kata Nicholas. Zane membuka map tersebut dan tersedak air liurnya sendiri melihat sebuah lemparan foto Ibu Anggun.


"Dia wanita malam?!" pekik Zane tidak percaya. Nicholas mengangguk dan langsung menggaruk tengkuknya sendiri, tatapan mata dari Zane membuatnya tak berkutik.


"Kau mendapatkan foto ini dari mana?" tanya Zane. Sesuai bayangan Nicholas, pertanyaan itu pasti akan keluar kapanpun untuknya.


"Ke ... kenapa kau bertanya se ... seperti itu?" tanya balik Nicholas membuat Zane mendengus kesal.


PLAK ....


"HEI! SIAL, INI SAKIT!" keluh Nicholas dengan mengusap kepalanya yang baru saja terkena gamparan dari Nicholas.


"Jangan katakan kau-"


Mata Zane mulai membaca dengan teliti dan sesekali mengerutkan keningnya, "Ini benar? Ibu Anggun itu wanita malam?" tanya Zane memastikan.


"Aku sudah mendapatkan informasi akurat mengenai asal-usul Ibu Anggun. Awalnya Ibu Anggun lahir di kalangan menengah, Ayahnya dan Ibunya memiliki usaha, sedangkan Ibu Anggun hanya wanita yang tidak memiliki bakat apapun. Satu kejadian menimpa dirinya dan merebut semuanya, aku tidak tahu apa itu, tapi yang pasti kejadian itu membuat Ibu Anggun memilih untuk menjadi wanita malam." jelas Nicholas membuat Zane mengangguk paham. Sekarang Ia mengerti, mengapa Ibu tiri Chelsea menjadi wanita malam.


"Aku merasa bahwa wanita ini hanya menjadi kambing hitam," kata Zane membuat Nicholas langsung melipat kedua tangannya dan menatap Zane tidak mengerti.


"Maksud mu?"


"Aku hanya merasa bahwa Ibu Anggun sebagai pengalih kasus kecelakaan 17 tahun yang menimpa Ayah Robert." Ungkapnya membuat Nicholas terdiam sejenak.


"Kau ada benarnya, setelah aku gali informasi, Ibu Anggun tidak ada sangkut pautnya dalam kasus kecelakaan tersebut. Hanya saja, ada satu hal yang aku belum mengerti."


"Apa itu?" tanya Zane membuat Nicholas mengelus dagunya, berpikir.


"Tapi kenapa Ibu Anggun seolah-olah tahu tentang kecelakaan yang menimpa keluarga Lemos, bukanlah kecelakaan tanpa di sengaja, jatuhnya seperti sebuah yang di sengaja, mungkin mobil Ayah mertua mu di sabotase oleh seseorang." beber Nicholas membuat Zane semakin kebingungan. Bahkan saat Chelsea menanyakan tentang keluarga Lemos di Belanda, pria paruh baya itu hanya diam saja dan seolah-olah tidak ingin siapapun mengetahuinya.


Zane semakin di buat penasaran dengan kecelakaan dan keluarga Lemos lainnya, "Pasti Ayah sudah mengetahui siapa dalangnya." gumam pria itu.

__ADS_1


"Lalu kau ingin apakan 3 oknum polisi ini? Mereka sudah menjadi sampah masyarakat," cibir Nicholas dengan memandang tidak minat pada map satunya. Zane melirik map tersebut.


"Sudah sesuai seperti yang aku minta?" Nicholas mengangguk, pria itu memberikan sebuah flashdisk kepada Zane. "Flashdisk untuk apa?"


"Aku sudah mendapatkan rekaman dan voice suap menyuap itu. Kau simpan ini, aku bersusah payah mencarinya," kata Nicholas yang langsung melenggang pergi begitu saja. Zane meraih flashdisk hitam tersebut dan menatap dengan datar.


Tok ... tok ....


Zane langsung bergegas menyembunyikan flashdisk tersebut dan mengerutkan keningnya, saat melihat Alex masuk dengan raut wajah khawatir.


"Alex? Ada apa?" tanyanya dengan mendekati Adik kembarnya itu.


"Kak Chelsea," napas pria kecil itu terengah-engah. Zane berjongkok dan menaikkan alisnya tidak mengerti.


"Kenapa?"


"Kak Chelsea menangis, Kak!" kata Alex membuat Zane terkejut, dan bergegas menuju kamarnya.


Sedangkan di Zane, Chelsea terus-menerus mengeluh sakit dengan Mama Bellamy yang menenangkan. Papa Owen bahkan sudah menghubungi Dokter pribadi keluarga Lincoln untuk segera datang, wajah Chelsea sudah sangat pucat dengan terus-menerus mengeluh sakit kepala.


"Sayang, minum lah." Mama Bellamy menyodorkan minuman hangat kepada sang menantu, Chelsea menggeleng.


"Aku ingin Zane, Ma. Zane ..." Jawab Chelsea membuat Mama Bellamy menghela napas.


"AMORA!"


Chelsea menoleh dan langsung menangis kembali, Zane datang dengan napas terengah-engah dan langsung memeluk Chelsea yang tengah menangis. Papa Owen dan sang istri hanya melipat kedua tangannya.


"Ada apa? Kenapa menangis, Sayang?" tanya Zane cemas.


"Kepala ku sakit. Kenapa sakit terus," keluh Chelsea dengan menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami. Tidak peduli kemeja nya menjadi basah, Zane hanya ingin rasa sakit yang Chelsea keluhkan sedikit berkurang.


"Sudah aku katakan, jangan banyak pikiran. Kau harus istirahat, Sayang." nasihat Zane dengan cemas. Chelsea kembali menggelar sebagai jawabannya.


"Zane, sebenarnya ada apa?" tanya Papa Owen tidak mengerti. Sedangkan Mama Bellamy terdiam dan mencoba untuk memahami apa yang Chelsea rasakan.


"Istri ku hanya kelelahan dan banyak pikiran, itu yang memicu kepalanya terus saja sakit dan pusing." jelas Zane membuat Papa Owen melirik ke arah sang istri.


"Bukan karena istri mu hamil kan, Zane?"


HAH?

__ADS_1


"Hamil?" beo Zane tidak mengerti.


__ADS_2