Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Tawaran Untuk Menikah


__ADS_3

Satu Minggu Telah Berlalu ....


Satu Minggu telah berlalu, hampir satu Minggu juga Zane memilih untuk tinggal di rumah sederhana tanpa pendingin ruangan di rumah Chelsea. Bahkan Daniel dan Nicholas di tolak mentah-mentah melalui sambungan telepon, saat akan mengunjungi Zane di kediaman Chelsea.


Dan berakhir, dalam satu Minggu ini hanya dua kali Zane melihat langsung proyek pembangunan yang Ia lakukan di desa Mentari. Zane begitu betah tinggal lama-lama di rumah Chelsea, terlebih lagi setiap kali wanita kembang desa itu memaksa pasti selalu pas di lidah Zane.


Kondisi Zane sendiri udah jauh lebih baik dan sudah lepas perban, tetapi pria itu tetap enggan untuk pergi meninggalkan rumah itu. Tak jarang Ibu Anggun mengomel karena Zane tidak pernah memberikan apapun sebagai balas budinya. Anggap saja Zane tidak tahu malu dan tidak tahu diri, padahal Chelsea sudah wanti-wanti akan mengantar Zane keluar dari rumahnya, apabila kondisinya sudah memungkinkan.


"Apakah kau tidak tahu malu?!"


Zane yang akan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, langsung mengurungkan niatnya. Pria tampan dengan wajah bule itu menatap Ibu Anggun yang sudah berkacak pinggang, seraya menatap dengan penuh amarah.


"Ibu, apa yang Ibu katakan?" tanya Chelsea tidak mengerti. Chelsea sangat senang saat pujian mengenai masakannya terus-menerus Zane lontarkan sejak awal. Chelsea merasa masakannya sangat di hargai.


"Bukankah sudah sangat jelas? Kondisinya sudah sehat, kenapa dia tidak juga pergi dari rumah ini?!" kata Ibu Anggun dengan emosi menggebu-gebu. Ayah Robert tidak sedang ada di rumah, mungkin jika pria paruh baya itu ada di rumah, Ibu Anggun sudah di marahi habis-habisan olehnya.


Chelsea menghela napas panjang, "Bu, aku sama Ayah tidak masalah kalau misalnya Tuan Zane masih betah tinggal di sini." jawab Chelsea dengan menatap Ibu Anggun sayu.


Chelsea sebenarnya tidak mau berdebat dengan masalah yang sama, lagipula Ayah Robert tidak masalah dan sangat senang Zane tinggal lama di rumahnya. Setidaknya pria paruh baya itu memiliki seorang teman untuk mengobrol dan minum kopi di siang hari. Bukan hanya Ayah Robert, Adik kembar Chelsea yaitu Ashton dan Ashley saja sangat menyukai Zane.


"Kamu dan Ayah kamu tidak keberatan, yang keberatan itu Ibu! Harusnya kamu mikir dong, ekonomi kita sedang sulit, bahkan hanya untuk akan sehari saja harus minta beras ke tetangga dan sekarang dia tidak pulang!"


Zane hanya diam dan mendengarkan setiap kemarahan Ibu Anggun yang tidak ada habisnya. Zane sebenarnya ingin pulang ke rumah sewanya, tetapi hatinya menolak untuk pergi. Hatinya sudah sepenuhnya terbuka untuk seorang wanita, dan wanita itu adalah Chelsea seorang. Zane bagaikan memiliki kehidupan yang baru setelah bertemu dengan Chelsea dan Ayah Robert. Keluarga kecil bahagia, tetapi itu semua tinggal kenangan karena Ibu kandung Chelsea sudah meninggal, dan sekarang di gantikan dengan Ibu Anggun yang benar-benar cerewet.


Zane tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Chelsea dan Ayah Robert tempo hari. Ayah Robert meminta Chelsea untuk menikah dengan Reno, mengingat Ayah Robert sempat terlilit hutang cukup banyak hingga saat ini. Tetapi Chelsea menolak dan terus menolak hingga saat ini.


Hal itu membuat Zane seperti memiliki kesempatan untuk mengutarakan keinginan dengan jaminan yang lebih layak. Nicholas sudah mencari semua informasi tentang Reno Mustafa, putra bungsu dari kepala desa yang di hobi gonta-ganti pacar. Zane tidak terima bila yang menjadi pasangan Chelsea adalah Reno, dan bagusnya Chelsea sendiri yang menolak mentah-mentah tawaran menikah untuk menembus hutang Ayah Robert.


Sedangkan Ibu Anggun? Wanita paruh baya itu terus-menerus mendesak Chelsea untuk menerima tawaran menikah dari Reno, tentunya di berikan iming-iming oleh pria itu. Tetapi bujuk rayunya tidak membuahkan hasil sampai saat ini.

__ADS_1


Chelsea menatap Zane dengan perasaan tidak enak hati. Selama satu Minggu ini, Zane terus-menerus di salahkan oleh Ibu Anggun dengan alasan yang tidak jelas dari mana. Zane mencoba memberikan pengertian, tetapi Chelsea cukup keras kepala, membuat Zane hanya bisa menghela napas panjangnya.


"Sebenarnya mau Ibu itu apa? Chelsea tidak mengerti dengan sikap Ibu akhir-akhir ini," Chelsea menatap serius pada Ibu tirinya itu. Walaupun berstatus sebagai Ibu tiri, tetapi perilaku Anggun kepadanya cukup baik selama ini, hanya kata-katanya saja yang pedas dan tidak enak di dengar. Terkadang Ashton dan Ashley memilih untuk bermain hingga hampir malam, karena bosan mendengar Ibu Anggun yang terus-menerus berbicara tanpa henti.


"Ibu mau kamu menikah dengan Reno!" desaknya untuk sekian kalinya. Zane mengepalkan kedua tangannya dan menatap tajam pada wanita paruh baya di hadapannya.


Chelsea menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Kenapa Ibu ngebet sekali ingin menikahkan aku dengan Reno? Reno itu playboy, Bu! Dia juga kasar sama Chelsea!" jawab Chelsea dengan emosi yang mulai menguasai dirinya.


"Ya jelas lah, Ibu ngebet pengen kamu nikah. Reno itu kaya, Bapaknya juga Kepala desa di sini, ya wajar lah Ibu mau kamu nikah sama Reno! Ibu juga pengen kayak Mamanya Reno," Chelsea terdiam dengan ucapan Ibu Anggun.


"Ibu harus menurunkan gengsi, Bu. Zaman sekarang banyak loh yang jatuh miskin karena gengsi," cibir Zane membuat Ibu Anggun tertawa mengejek.


"Sebaiknya kau diam! Kau tidak berhak mengatakan apapun tentang ku!"


...****************...


"Apakah kau yakin tidak ingin menerima tawaran dari Reno?" tanya Zane memastikan untuk sekian kalinya. Chelsea dan Zane kini berada di halaman belakang rumah. Keduanya sudah tampak dekat walaupun hanya sebatas teman saja.


"Aku tidak tahu bagaimana bisa Ibu berpikiran seperti itu. Mementingkan gengsi daripada keluarga, bukankah itu sebuah kejahatan tersendiri bagi ku?" tanya Chelsea dengan tatapan sendunya. Hatinya cukup sakit karena perkataan dari Ibu tirinya.


"Semua orang memiliki cara tersendiri untuk berpikir dan tidak harus sama dengan apa yang kita pikirkan, Amora. Yang di katakan oleh Ibu Anggun itu adalah hal yang wajar, karena beliau juga ingin merasakan kekayaan, tapi salahnya adalah egonya sendiri." jelas Zane dengan suara lembut. Chelsea begitu tenang saat Zane memberikannya sebuah wejangan nasihat yang begitu berarti baginya.


"Aku tidak tahu berapa Ayah memiliki hutang dengan kepala desa, mungkin cukup banyak." Dengan kepala yang masih tertunduk, air mata wanita cantik itu menetes tepat di punggung tangan Zane. Pria itu menghela napas dan berpindah posisi, berjongkok di depan Chelsea.


"Lihat aku, Amora." Suara itu begitu lembut, sangat lembut hingga membuat Chelsea terbuai. "Aku mohon jangan menerima tawaran itu,"


"Ke ... kenapa? Bila Ayah ingin aku menikah dengan Reno, akan aku lakukan bila itu semua membuat-"


"Tidak benar, Amora. Ayah mu tidak akan pernah bahagia, mana mungkin Ayah mu tega menjadikan mu kambing hitam di hutang itu. Tidak akan pernah, dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." sela Zane membuat Chelsea langsung bungkam. Kedua tangan Chelsea di genggam erat oleh tangan kekar milik Zane, degup jantung Zane begitu membuat pria itu hanya bisa menghela napas panjangnya.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Ibu? Aku tidak ingin Ayah dan Ibu kembali bertengkar karena aku,"


Zane tersenyum lebar, sangat lebar dan manis. Sangat jarang Ia menampilkan senyuman kepada seorang wanita, terkecuali Ibu dan Alexia. Mereka berdua adalah belahan hati Zane, mungkin setelah mereka akan terisi dengan wanita lain.


"Coba pikirkan ini, kau menikah dengan Reno, apakah bocah ingusan itu akan membuatmu bahagia? Apakah bocah ingusan itu akan bersikap lembut bukan seperti tempo hari? Apakah bocah ingusan itu tidak akan membuat wanita ku ini menangis?"


Tubuh Chelsea menjadi kaku mendengar kalimat terakhir dari Zane. Pria itu menyadari apa yang harus saja Ia katakan, hanya bisa menghela napas panjang.


"A ... apa maksud mu?" tanya Chelsea dengan terbata-bata. Zane berdiri dan memberanikan diri untuk mengacak rambut wanita cantik itu. Chelsea hanya diam, membiarkan Zane mengacak rambutnya.


"Izinkan aku mengatakan sesuatu kepada mu, Amora." Dengan perasaan gugupnya, Zane menatap dan menggenggam erat tangan Chelsea yang sudah berubah menjadi dingin.


"Aku mencintaimu, Amora."


DEG ....


"Aku sudah menaruh hati kepada mu saat pertama kali aku melihatmu di sungai. Kau adalah wanita yang selama ini aku cari, aku tidak pernah menemukan sosok wanita seperti mu di dunia ini setelah Mama ku. Sikap mu yang dermawan, kebaikan hati, sikap mu yang lugu dan polos, membuat ku semakin jatuh hati kepada mu. Bila kau berkenan, izinkan aku memberikan mu sebuah tawaran."


Jantung Chelsea sudah berdetak lebih kencang. Semilir angin mulai berhembus, membuat keduanya semakin di kuasai rasa gugup. Chelsea bahkan tanpa sadar membalas genggaman tangan Zane dan memberanikan diri untuk menatap jauh lebih dalam pada pria itu.


"Tawaran apa itu, Zane?" tanya Chelsea dengan gugupnya. Zane tersenyum tipis dan semakin enggan untuk memalingkan wajahnya, tatapan putus asa dan kecantikan Chelsea membuat hati Zane begitu tertarik lebih pada wanita desa itu.


"Menikah lah dengan ku, Amora. Aku berjanji akan membuat mu bahagia dengan cara ku sendiri, izinkan aku mencintaimu lebih dalam dan menjalin hubungan bukan hanya sekedar teman." ungkap Zane pada akhirnya membuat Chelsea semakin terdiam seribu bahasa.


Bibir wanita itu terasa kelu untuk mengeluarkan sepatah kata, yang ingin Ia katakan. Zane berjongkok dan meraih dagu Chelsea. "Tatap mata ku, Amora." Pintanya penuh harap.


"A ... aku tidak tahu, Tuan. Bila kau hanya mencari kelebihan ku tanpa mau menerima kekurangan ku, maka-"


"Kekurangan mu adalah istimewa mu sendiri, Amora. Semua orang memiliki itu semua, termasuk aku. Kekurangan ku adalah hal yang istimewa bagi ku, jangan menganggap kekurangan kita adalah sebuah kesulitan, Amora." jelas Zane membuat hati Chelsea merasa tenang.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan tawaran Reno?"


"Aku tidak memaksa mu untuk menikah dengan ku, tapi aku juga tidak akan membiarkan mu menikah dengan Reno."


__ADS_2