
DOR ....
Chelsea langsung lemas seketika, saat peluru menembus tubuh Reno dengan cepatnya. Tubuh Reno tergeletak dengan tatapan mengarah kepada Chelsea yang terlihat ketakutan karena suara tembakan.
"Che ... chelsea,"
"Tidak," Chelsea menutup kedua telinganya dan tatapannya tertuju pada seorang pria yang masih mengarahkan ujung senjata api ke arah Reno.
"Aku sudah memperingatkan mu, jangan pernah mendekati Chelsea." tutur pria tersebut dengan wajah datar dan tidak merasa bersalah sedikitpun atas apa yang Ia lakukan. Tak lama suara langkah kaki begitu terdengar jelas.
"Chelsea!"
Mama Bellamy dan Papa Owen langsung mendekati Chelsea yang terduduk lemas di dekat tubuh Reno, yang sudah terkapar tak bisa bergerak. "Nak, kau baik-baik saja?" tanya Mama Bellamy khawatir.
"Tidak, tidak." gumam Chelsea yang terus menatap darah yang mengucur deras dari tubuh Reno. Pria yang menjadi dalang penembakan Reno, memasukkan senjata apinya kembali dan melepaskan sarung tangan hitamnya.
"Kau terlalu menyepelekan semua ancaman ku, dan ini adalah hukuman bagi mu, Reno."
DUG ....
Pria tersebut menendang tubuh Reno hingga berbalik. Reno meringis kesakitan, saat pria wajah datar tersebut meletakkan kakinya di atas dada Reno. "Ka ... kau ba ... bajingan!"
Pria tersebut tersenyum mengejek, "Ajal mu sudah di depan mata, dan kau masih mengatakan aku bajingan? Kau sungguh konyol, Reno Mustafa." balas pria tersebut dengan senyuman berbalik mengejek.
Papa Owen mendekati pria yang terlihat berbeda dari biasanya, "Nic, jangan di teruskan, dia bisa mati!" tegur Papa Owen kepada pria yang tak lain adalah Nicholas.
Pria itu kembali ke mansion, berniat untuk mengambil berkas Zane yang tertinggal. Tetapi melihat satpam yang terlihat terburu-buru, membuat dirinya curiga dan merasa tidak ada yang beres. Terlebih lagi saat melihat pria asing masuk dengan mengendap-endap, membuat Nicholas langsung berwaspada dan merasa juga akan terjadi sesuatu.
Dan semua dugaannya benar, pria itu adalah Reno yang selama beberapa bulan tidak ada kabar di manapun, dan sekarang Nicholas bisa menuntaskan apa yang selama ini Ia inginkan. Membunuh Reno dengan tangannya sendiri, pria itu merasa geram dengan tingkah laku kekanakan Reno. Tatapan pria itu sama sekali tidak ada ekspresi sedikitpun, Nicholas terus menekan kakinya di tubuh Reno dengan cukup kuat.
"Pria seperti mu memang pantas untuk mati. Kau tidak ingat dengan kedua orang tua mu di desa? Orang tua mu begitu menyayangi mu, bahkan mereka rela bersujud kepada Ayah Chelsea, agar membantu mereka mengobati penyakit mu. Tapi ini balasan mu kepada mereka?" Nicholas tersenyum miring dan menadah menatap Chelsea yang masih terkejut dengan apa yang terjadi.
"Pa, bawa Chelsea ke dalam. Aku akan mengurus pria ini, jangan sampai Zane dan keluarga Lemos mengetahuinya." kata Nicholas membuat Mama Bellamy menghela napas panjang.
"Ayo, Chel. Kau harus beristirahat," ajak Mama Bellamy dengan menuntun tubuh sang menantu menjauh dari sana. Papa Owen menatap kepergian istri dan menantunya, dan beralih ke arah Reno.
"Orang tua mu masih berhutang kepada Tuan Lemos, dan hutang itu karena untuk mengobati penyakit mu dulu. Orang tua mu dan Tuan Lemos menyusun rencana tentang hutang-piutang, dan kau dengan tidak tahu dirinya ingin menikah dengan Chelsea? Kau ingin tahu, bahwa Chelsea sudah menjadi jodoh Zane sejak usia 7 tahun. Aku tidak dapat membayangkan, apa yang akan orang tua mu lakukan bila mengetahui tabiat putra mereka." ungkap Papa Owen membuat tubuh Reno bergetar menangis dan menahan sakit di bagian dada.
"Ka ... kau berbohong,"
__ADS_1
"Iya, aku berbohong dan kau adalah pria bodoh yang tidak tahu mana yang bohong dan mana yang benar. Percuma orang tua mu, menyekolahkan mu hingga kuliah, tetapi kau hanya memiliki otak udang." ucap Papa Owen kembali dengan tatapan penuh kebencian. Nicholas memiringkan wajahnya dan menyunggingkan senyum tak biasa kepada Reno.
"Papa kembalilah, Reno akan menjadi urusan ku."
Papa Owen mengangguk, "Kau tidak tahu siapa keluarga Lemos dan Lincoln sebenarnya, Reno. Aku tidak peduli bila dia mati sekarang juga! Papa harus menyusul Mama mu, Nak." Papa Owen langsung pergi meninggalkan Reno dan Nicholas seorang diri.
Reno menangis semakin menjadi, Nicholas melipat kedua tangannya, "Katakan, kau ingin mati sekarang atau nanti?" tanya Nicholas membuat Reno menatap pria yang masih setia menahan tubuhnya.
"Jangan bunuh aku, Nic. Apakah kau tidak takut dengan-AKHHH!"
"Hukum memang ada, tapi hukum tidak bisa menjerat ku sampai kapanpun. Karena aku adalah ...."
...****************...
MALAM HARI ....
Nicholas menyunggingkan senyum miring saat melihat reaksi dari sebuah video, yang menampilkan kedua orang tua Reno. Ya, pria itu sudah melakukan apa yang Ia inginkan, yaitu mengirimkan mayat Reno kembali ke kampung.
"Kau terlihat senang, apakah segitu bahagianya kau mengirim mayat orang lain yang sudah membusuk kepada orang tuanya?" tanya seorang pria berambut gondrong, Michael.
"Kau mendapatkan dari mana mayat laki-laki itu, Nic?" tanya Max. Pria berambut rapi dengan tatapan yang begitu cerah alias ceria.
Keempat pria dewasa yang hanya memiliki jarak usia dua tahun, dan di tambahkan mereka berempat adalah sahabat dari Nicholas sejak dulu. Max adalah orang kebangsaan Amerika, memiliki perawakan tinggi dengan otak cerdasnya, dan juga tampan dengan mata birunya. Lalu ada Harold, pria dengan watak yang sangat mirip dengan Nicholas itu seperti penyembah setia Nicholas, perawakan tinggi, kekar, dan suka bermain senjata api. Beralih kepada Michael yang suka memanjangkan rambutnya hingga melewati batas bahu, pria yang memiliki hobi menembak.
"Di mana Anthony?" tanya Nicholas tanpa menjawab pertanyaan kedua sahabatnya. Keempat pria dewasa itu berada di sebuah rumah besar, lebih tepatnya sebuah mansion pribadi milik Nicholas yang memang sengaja di buat di tengah hutan lebat.
"Kau menyuruh nya pergi ke desa kan. Jawab dulu pertanyaan ku, kau mendapatkan mayat laki-laki dari mana?" tanya Michael mengulang pertanyaannya kembali. Nicholas melirik pria gondrong di sampingnya dan meletakkan ponselnya.
"Aku tak sengaja menemukan mayat laki-laki di dekat jurang. Jadi aku memanipulasi sedikit, sudah lama aku tidak bermain seperti ini." jawab Nicholas dengan acuh. Max dan Michael saling berpandangan.
"Lalu pria culun itu di mana?" tanya Michael dengan rasa penasaran yang besar.
"Dia akan menjadi urusan ku."
Nicholas berdiri dan membuka gorden hitam, pemandangan alam di malam hari dari ketinggian begitu membuatnya tenang. Tempat yang paling Ia sukai sejak dulu adalah kesunyian dan ketenangan, maka dari itu Nicholas membuat mansion di tengah hutan belantara yang banyak binatang buas. Selain tempatnya yang strategis, tempatnya juga sangat cocok untuk di jadikan tempat bersembunyi dari musuh-musuhnya.
Tidak ada yang pernah Ia mengajak siapapun datang ke mansion ini, bahkan Zane sekalipun. Pria itu sampai saat ini belum mengetahui apa-apa tentang kehidupannya yang begitu gelap seperti tanpa cahaya. Hanya suara senjata api, lolongan serigala dan lainnya yang ada di pendengarnya.
"Oh ya, aku tak sengaja datang ke ruangan bawah tanah. Dan aku melihat-"
__ADS_1
"DIAM!" Hardik Nicholas membuat ketiga pria di belakang sana terkejut. Harold yang semulanya sibuk dengan buku-bukunya, kini beralih menatap Nicholas yang tampak sangat marah.
"Aku sudah meminta kalian untuk tidak datang ke sana!" katanya dengan menatap Max dengan tajam. Michael mengerutkan keningnya dan melirik Max yang terdiam di sampingnya.
"Hey, kau ini kenapa? Biasanya kau tidak pernah melarang ku untuk ke sana, kenapa sekarang seperti ini?" tanya Max bingung. Harold menghela napas panjang dan langsung melayangkan buku tebal miliknya pada kepala Max.
BUGH ....
"KAU!" Max mendelik tajam ke arah Harold. Zane mengeraskan rahangnya dan tak lupa mengepalkan kedua tangannya.
PRANG ....
Ketiga pria di sana di buat terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Zane. Bahkan Max langsung mengunci mulutnya agar tidak bertanya atau melakukan apapun. Harold membenarkan kacamata yang bertengger di batang hidungnya dan menaruh buku tebalnya.
"Aku membencinya! I hate you, Belva!"
"Stop it, Nic!" Harold langsung menahan Nicholas yang hendak memecahkan guci mahalnya itu. Nicholas menepis tangan Harold dan langsung pergi begitu saja, tanpa banyak bicara.
Max menghembuskan napasnya, "Siapa Belva?" tanyanya membuat Michael langsung melayangkan cubitan kecil.
"Sebaiknya jangan ke ruangan bawah tanah lagi, bila kau masih ingin bernapas!" tegur Michael dengan tak main-main. Max mengangguk dan melirik Harold yang kembali membuka buku tebal miliknya.
"Kau tahu siapa itu Belva?" tanya Max kepada Harold.
"Yang aku tahu, Belva adalah wanita yang sudah membunuh sahabat kecil Nicholas," jawab Harold dengan datar. Max melirik Michael yang hanya mengangkat bahunya tidak tahu.
"Aku tidak mengerti,"
Harold menutup bukunya, "Belva adalah saudari kembar dari Bella. Bella adalah sahabat kecil Nicholas, aku tidak tahu apa yang membuat Belva membunuh saudarinya sendiri. Sebaiknya jangan bertanya kepada Nicholas, kau bisa kena getahnya." kata Harold membuat Max hanya mengangguk sebagai jawabannya.
Sedangkan di lain sisi, Nicholas masuk ke dalam kamarnya. Kamar sekaligus ruangan pribadi yang tidak boleh di masukin oleh siapapun, kecuali hanya dirinya saja. Pria itu menatap sebuah foto lama yang masih terlihat seperti baru, "Bella, I really miss you." lirihnya dengan memeluk erat frame foto tersebut.
"Kenapa kau harus meninggalkan ku, di saat aku sudah mencapai apa yang aku inginkan? Bukankah kau selalu ingin berada di samping ku dan menikah dengan ku? Tapi kenapa kau malah pergi sangat jauh dan tidak ada di sisi ku?" Suara Nicholas mulai memberat dan terdengar begitu sedih, bersamaan dengan air matanya yang luruh.
Tak pernah sekalipun seorang Nicholas, menampilkan wajah sedihnya kepada siapapun, termasuk kepada para sahabatnya dan keluarga Lincoln. Pria itu begitu pintar menyimpan apa yang selama ini Ia rasakan, suka-duka telah Ia lewati karena dukungan sahabat kecilnya, Bella.
"A ... aku akan membalaskan semuanya, Bella. Aku berjanji, Belva harus merasakan apa yang kau rasakan." gumam pria tersebut dengan mengecup frame foto yang berisi dirinya dan juga gadis cantik berambut panjang.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, Bella." ucapnya dengan begitu tulus. Tak ada yang bisa menggantikan atau menggeser posisi Bella di hatinya, hanya ada Bella, Bella, dan Bella di pikiran serta di hatinya. Menunggu selama bertahun-tahun untuk mencapai apa yang Ia inginkan, bukanlah hal yang mudah bagi Nicholas. Terlebih lagi harus pergi menjauh dari keluarga, dan mengawali semuanya dengan hampa.
__ADS_1