Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Zane Yang Sensitif


__ADS_3

HUEK ....


HUEK ....


Chelsea terus-menerus mengeluarkan isi perutnya si pagi hari, Zane tetap setia menemani sang istri yang sedang menghadapi gejala trimester pertama. Pria itu mengusap tengkuk leher Chelsea, agar menggeluarkan isi perutnya.


"Sudah?"


Chelsea mengangguk dan merentangkan kedua tangannya. Zane tersenyum tipis saat melihat tingkah manja sang istri, akhir-akhir ini. Mengangkat Chelsea dalam gendongan, membuat Zane tak masalah akan hal itu. Tubuh wanita itu semakin hari semakin molek karena tengah mengandung dua janin kembar.


"Sebentar," Chelsea hanya menurut dan membiarkan Zane membersihkan mulutnya dengan teliti, tak lupa mengikat rambut Chelsea dengan teliti.


"Aku ingin pulang," kata Chelsea dengan tatapan bosan. Wanita itu sudah hampir lima hari berada di rumah sakit, Zane terus melarangnya melakukan ini dan itu tanpa sepengetahuannya.


"Tidak sekarang, baby." jawab Zane, Chelsea menghela napas panjang.


"Aku bosan, Ashton dan Ashley saja sudah pulang, tapi aku saja yang belum." adu Chelsea, Zane terkekeh geli dan meletakkan kedua tangannya di kedua sisi tubuh Chelsea. Tatapan mata mereka terkunci, Zane mengusap pipi chubby Chelsea dan mengecupnya sesekali.


"Sampai kau sembuh total," jawab Zane seadanya. Chelsea langsung terdiam dan mengelus perutnya yang sedikit membuncit itu. Zane menunduk dan ikut mengelus perut dan menggenggam erat tangan Chelsea.


"Bagaimana kalau kita berjalan-jalan saja di taman?" tawar Zane tanpa menatap Chelsea yang sudah tersenyum senang, atas tawarannya.


"Ayo!"


Zane tersenyum kembali dan mengangkat tubuh sang istri, keluar dari kamar mandi. Mendudukkan sang istri kembali di atas ranjang dan memakaikannya sebuah blazer di kedua pundaknya. "Aku akan mengambil kursi roda."


"Kursi roda? Tapi aku tidak lumpuh!" balas Chelsea membuat Zane kembali menghela napas panjang.


"Tapi Amora, kau-"


"Aku tidak apa-apa. Aku sudah membaik," potong Chelsea dengan mengusap lengan Zane. Chelsea tentu tahu dan sangat tahu apa yang di khawatir oleh Zane akhir-akhir ini, hingga membuat pria itu semakin overprotektif kepadanya.


Bayangan tentang tembakan itu benar-benar begitu menggema di pendengarannya, bahkan selama beberapa hari belakangan kemarin dirinya hanya diam tidak berbicara. Chelsea mengalami syok berat, hingga membuat perutnya menjadi kram, sekaligus penyebab utama adalah benturan. Chelsea juga menyadari, bahwa ada beberapa pihak lain yang tidak menyukai dirinya, bersanding dengan Zane.


Wajah Chelsea seketika menjadi murung, Zane sedikit membungkuk dan mengerutkan keningnya, "Apa yang kau pikirkan? Dokter sudah menganjurkan kepada mu, jangan terlalu memikirkan yang membuat mu mengalami stress, Amora." nasihat Zane begitu lembut di pendengaran Chelsea. Wanita itu mengusap air matanya dan mengangguk.


"Aku pikir, bahwa banyak pihak yang tidak menyukai ku," ungkap Chelsea dengan lirih. Rasa takut mulai datang beberapa kali, tetapi Zane, pihak keluarga Lincoln dan Lemos, terus mendukung dirinya.


Zane yang mengerti jalan bicara Chelsea, mulai mengurungkan niatnya untuk mengambil kursi roda. "Kau percaya kan dengan ku?" tanya Zane.


Chelsea mengangguk tanpa pikir panjang, "Aku sangat percaya dengan mu."


"Bila kau percaya dengan ku, jangan pernah berpikiran jauh, Amora. Masalah yang kita hadapi, anggap saja seperti sebuah hiasan semata di kehidupan awal kita ini. Kehidupan tidak akan lengkap tanpa adanya rintangan masalah, di sini kita di uji, apakah kita akan tetap setia, mendukung, saling percaya, atau memilih untuk berhenti dan mengakhiri semuanya. Kau tidak ingin hal itu terjadi bukan?"


Chelsea merasa bibirnya kelu untuk menjawab. Zane yang terlalu dewasa, untuk dirinya yang kekanakan. "Zane, masalah kita selalu berbeda. Bahkan masalah di desa, di hotel, Reno, Ibu Anggun, belum selesai. Dan sekarang, ada masalah baru yang harus kita-"

__ADS_1


"Kita lalui bersama. Itu arti sebuah pernikahan, Amora. Aku mencintaimu dan kau mencintaiku, bahkan mereka juga turut hadir untuk melengkapi kehidupan kita." Zane mengelus perut Chelsea yang cukup bulat di usia kandungan 2 bulan. Zane tak henti-henti tersenyum, saat mengetahui bahwa ada dua kehidupan yang harus Ia jaga setelah Chelsea.


Air mata Chelsea luruh seketika, Zane mencium perut Chelsea dengan begitu tulus dan tak menyadari bahwa air matanya juga ikut luruh. "Apapun keadaan kita, aku tidak akan meninggalkan mu dan mereka." Bisik Zane dengan posisi memeluk perut Chelsea. Wanita itu mengangguk dan mengusap-usap rambut hitam legam Zane.


"Aku juga tidak akan meninggalkan ku, kita harus melewati masa-masa ini. Aku tidak ingin berpisah dengan mu, selain ajal yang memisahkan kita." ujar Chelsea membuat Zane semakin menenggelamkan wajahnya di perut sang istri.


...****************...


Pagi harinya, Zane di minta untuk segera ke kantor karena ada hal yang mendesak. Dengan pakaian formal, pria itu menenteng dasi miliknya dan menatap ke arah Chelsea yang sibuk dengan buku kehamilannya.


"Sayang,"


Chelsea menurunkan buku dan menatap Zane yang menatapnya memelas. "Kau membutuhkan sesuatu?"


Zane mengangguk dan mengangkat dasi yang belum terpasang itu. Chelsea mendekati dan sedikit menjinjit kaki, "Menunduk sedikit."


Zane menurut dan membiarkan Chelsea memasangkan dasinya. "Kau tidak keberatan bila aku tinggal sebentar?" tanya Zane langsung mendapatkan anggukan dari Chelsea.


"Tentu saja tidak keberatan. Lagipula Nicholas meminta mu ke kantor, pasti ada yang penting." jawab Chelsea dengan senyuman tipis. "Sudah, segera lah berangkat."


"Kau mengusirku?"


HAH?


Chelsea menadah dan terkejut melihat Zane yang sudah menangis, "Kenapa kau menangis?" tanya Chelsea tidak mengerti. Wanita itu menghapus air mata Zane dengan tangannya. Apakah ucapannya ada yang salah? Pikir Chelsea.


"A ... apa yang kau katakan? Tentu saja tidak, Zane!" jawab Chelsea gelagapan sendiri karena Zane menangis.


"Kau bahkan tidak memanggil ku dengan panggilan Sayang. Kau memang tidak menyayangi ku!" lirih Zane yang langsung pergi dari kamar inap begitu saja tanpa ingin mendengar jawaban Chelsea.


Chelsea tercengang melihat sang suami, "Dia kenapa?" gumam Chelsea penuh tanda tanya. Wanita itu mengambil buku hamilnya dan membaca sesuatu di sana.


Seulas senyuman langsung terbit di sudut bibirnya, "Zane mulai sensitif ternyata." Chelsea terkekeh geli melihat raut wajah Zane yang tidak seperti biasanya. Di saat dirinya menjadi manja, maka akan ada Zane yang jauh lebih manja kepadanya.


Di lain sisi, Zane mengusap air matanya dengan tissue seperti anak kecil. Bahkan ikut mengeluarkan ingusnya sendiri tanpa ragu di hadapan Nicholas yang terkejut akan tingkah sahabatnya.


"Kau sangat menjijikkan!" ketus Nicholas dengan menyodorkan segelas air dan tissue kering kepada Zane, yang berada di sampingnya.


"Kau bahkan mengatakan jijik, aku sungguh tersinggung, hiks ....."


DEG ....


Tubuh Nicholas menjadi tegang sendiri, saat mendengar Zane kembali menangis dengan tersedu-sedu. Pria itu bahkan bingung, saat tiba-tiba Zane datang dengan derai air mata, entah apa yang terjadi kepada pria yang akan segara menjadi Ayah itu. Sangat jarang Nicholas melihat pria di sampingnya menangis.


"Apakah kau sakit?" tanya Nicholas dengan meletakkan punggung tangannya di dahi Zane.

__ADS_1


"Kenapa kau sungguh menyebalkan sekali! Kau bahkan mengatakan bahwa aku menjijikkan!" kesal Zane dengan terus menghapus air matanya. Nicholas menggaruk tengkuknya sendiri dan memilih untuk menjalankan mobilnya.


"KENAPA KAU MENJALANKAN MOBIL TANPA MEMINTA PERSETUJUAN DULU!" Hardik Chelsea dengan melempar tissue bekasnya ke arah Nicholas.


CIT ....


"Damn ****! Ada apa dengan mu, Zane?!" tanya Nicholas dengan kesal. Sudah di katakan, bahwa kesabaran seorang Nicholas setipis tissue toilet yang terkena air.


"Kau masih tanya kenapa dengan ku? Karena kau tidak meminta persetujuan ku untuk menjalani mobil!" jawab Zane dengan perasaan kesal. Nicholas mengacak rambutnya dengan kesal.


"Kau ini, hanya masalah aku menjalankan mobil saja kau sampai-"


"APA?!"


Nicholas menghembuskan napas panjang dan melipat kedua dengannya. "Tidak ada!" mood nya seketika menjadi buruk karena Zane.


"Kenapa tidak jalan? Kau ingin kita terlambat ke kantor!" bentak Zane semakin membuat Nicholas kesal. Pria itu langsung menjalankan mobil dengan gesit keluar dari teras rumah sakit.


"Padahal kau sendiri yang meminta untuk berhenti!" gerutu Nicholas yang benar-benar langsung tertangkap ucapannya oleh telinga Zane.


"Oh ya? Kapan aku meminta untuk berhenti? Dengar ya, aku hanya meminta untuk meminta persetujuan dulu, bukan untuk berhenti!" cecar Zane dengan melipat kedua tangannya. Nicholas memilih untuk memasang headset di kedua telinganya, agar tidak mendengar ucapan Zane.


"Whatever!"


"Hiks ..." Isak tangis kembali terdengar dari Zane. Nicholas melirik dan memilih untuk acuh, "Chelsea benar-benar tidak sayang kepada ku, Nicho!" adu Zane seperti anak kecil. Nicholas menepis tangan Zane yang hendak bergelayut di lengannya.


"Aku sedang menyetir!" balas Nicholas tanpa menatap wajah Zane yang sudah memerah, begitu pula dengan matanya.


"Chelsea tidak menyayangi ku, bahkan tega mengusir ku dari kamar." adu nya kembali membuat pemikiran jahil Nicholas mulai bekerja.


"Mungkin saja istri mu itu, memiliki pria lain." jawab Nicholas asal, membuat Zane langsung menoleh cepat.


"Itu tidak benar?! Chelsea hanya memiliki aku sebagai seorang pria, pacar, dan suami!" tampik Zane. Nicholas menyunggingkan senyum tipis dan mengangkat bahunya.


"Mungkin Arthur, atau Calvin, atau mungkin Daniel." suara Nicholas tentu mulai samar-samar di akhir kalimat. Kedua tangan Zane mulai terkepal kuat, musuh bebuyutannya adalah Arthur. Pria yang menurutnya terlalu pick me.


"Untung saja kucing pemberian Arthur, sudah mati karena racun tikus!" gumam Zane membuat Nicholas menoleh terkejut.


"KAU MEMBUNUH KUCING MILIK CHELSEA?!" tanya Nicholas berpura-pura terkejut dan syok.


"Hanya tidak sengaja memberikan susu hamil Amora kepada ..." Zane menggantung ucapannya dan melirik sinis ke arah Nicholas, "kau juga ada di sana!"


Nicholas tertawa kecil melihatnya. "Kau saja yang pelupa."


"Pantas saja Chelsea mengusir ku, karena kau saja menyebalkan."

__ADS_1


"NICHOLAS!"


__ADS_2