Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Pesta Pernikahan


__ADS_3

Hari yang tunggu-tunggu pun akhirnya tiba, semua tamu udah berdatangan tapi tidak dengan pasangan suami istri yang tampak gugup, lebih tepatnya hanya Chelsea saja, sedangkan Zane hanya menatap sang istri yang tampak bergetar.


"Zane, aku gugup!" pinta Chelsea membuat Zane terkekeh geli. Penampilan Chelsea yang sungguh cantik dengan dress pernikahan yang tidak terlalu terbuka. Zane bahkan langsung terpana melihat kecantikan Chelsea yang benar-benar memukau itu.


"Kau sungguh cantik," puji Zane membuat wajah Chelsea mulai merona.


"Di sini masih ada mereka!" Chelsea melirik ke arah MUA yang sudah membereskan peralatannya. Zane tersenyum dan memeluk pinggang sang wanita.


"Kalian keluar lah!" perintah Zane membuat para pelayan dan MUA bergegas keluar. Mereka tidak ingin menganggu keromantisan pasangan suami istri tersebut.


Setelah memastikan hanya ada mereka berdua, Zane mengangkat dagu Chelsea agar menatap matanya, "Aku mencintai mu." katanya dengan begitu tulus.


Chelsea tersenyum simpul dan membenarkan tuxedo hitam berdasi kupu-kupu. Berapa tampannya Zane malam ini, mengingatnya dengan sang Ayah saat di hari pernikahan keduanya dengan Ibu Anggun. Mengingat tentang kejadian yang membuat Ibu Anggun harus di usir, Chelsea merindukan Ibu tirinya hingga saat ini, tidak ada yang tahu di mana keberadaan wanita itu. Bahkan untuk bertanya kepada Zane atau Ayah Robert, Chelsea tidak memiliki keberanian lebih untuk hal itu.


"Kau memikirkan apa?" tanya Zane dengan mengelus pelan pipi Chelsea yang mulai terlihat berisi. Chelsea hanya diam dan enggan untuk menjawab.


"Sayang," panggil Zane membuat Chelsea akhirnya menghela napas panjang.


"Apakah Ibu Anggun datang?" tanya Chelsea pada akhirnya. Tatapan mata Zane yang awalnya begitu tulus, kini mulai berubah menjadi datar. Zane sengaja tidak mengundang, mencari, atau bahkan membawa kembali wanita licik itu. Kegilaannya terharap harta, membuat siapapun pasti akan muak, termasuk dirinya dan Ayah Robert.


"Kau mengkhawatirkannya?" tebak Zane dengan suara dingin. Chelsea menelan ludahnya dan menggeleng sebagai jawaban, tapi Zane tahu bahwa gelengan itu adalah kebalikan dari jawabannya.


"Aku hanya merindukan Ibu ku,"


"Chelsea, setelah apa yang Ibu Anggun lakukan terhadap mu, kau masih merindukan dan mengkhawatirkannya?" tanya Zane tak habis pikir. Ini yang Zane sukai dari Chelsea sejak pandangan pertama dulu, wanita sederhana yang memiliki hatj berlian, mudah memaafkan orang lain dan melupakan semua kesalahan mereka.


Tetapi hal itu membuat Zane harus ekstra sabar dan terus menasehati sang istri. Zane hanya tidak ingin orang-orang di luaran sana, mencoba untuk memperalat sang istri.


"Bagaimana pun, Ibu Anggun tetap Ibu ku, Zane." Jawab Chelsea membuat Zane langsung bungkam. Hal yang tidak bisa di hindari adalah Ibu Anggun tetap Ibu tiri dari Chelsea, terlihat dari tatapan sang istri, bahwa wanita hamil itu begitu menyayangi Ibu sambungnya.


"Sayang, tidak ada Ibu yang tega menjebak anaknya sendiri dengan obat perangsang! Tidak ada Ibu manapun yang bisa menggantikan posisi Ibu kandung!" nasihat Zane dengan memegang kedua pundak sang istri. Chelsea mulai tertunduk dan membenarkan ucapan Zane.


"Tapi Ibu Kimberly bahkan tidak memeluk ku untuk terakhir kalinya," gumam Chelsea. Zane mulai cemas saat Chelsea membahas tentang masa lalu yang tidak Ia ingat.

__ADS_1


"Jangan di bahas, ayo kita keluar. Keluarga kita pasti menunggu,"


Zane langsung menarik lengan Chelsea dengan begitu lembut. Tatapan pria itu berubah menjadi sangat datar dan tidak ada ekspresi apapun. Karena perbuatan Reno dan Ibu Anggun yang masih melekat di ingatannya, membuat Zane benar-benar membenci mereka. Bahkan Zane kini mulai berwaspada bila ada orang yang mencurigakan di dekat mereka, hotel keluarga Lincoln sudah di jaga sangat ketat oleh bodyguard dari keluarga Lincoln dan Lemos. Mereka tidak ingin ada masalah dalam pesta pernikahan kedua anak pengusaha tersohor itu.


Bahkan beberapa awak media sudah bersedia di tempat untuk meliput tentang pernikahan Zane dan Chelsea. Mereka awalnya tidak percaya, bahwa putra sulung dari keluarga Lincoln telah menikah dan kini istrinya tengah mengandung 7 minggu, berita mengejutkannya lagi ternyata Istri dari Zane adalah putri dari Robert Lewandowski Lemos, yang selama 17 tahun lalu di nyatakan meninggal dunia bersama sang istri dan putrinya.


Tetapi siapa yang akan menebak takdir kehidupan? Mereka belum memastikan apakah benar Robert Lewandowski Lemos masih hidup atau tidak, dan semua tentang keluarga Lemos serta Lincoln.


...****************...


"Kau sudah siap?" tanya Ibu Tasya kepada orang di seberang sana. Orang yang sama yang Ia jumpai dua hari yang lalu di sebuah restoran cepat saji.


"Kau sudah memastikan situasi tempat ku aman?" tanya pria tersebut yang sudah siap dengan pakaian yang serba hitam. Kacamata, jaket, sarung tangan, masker, topi dan juga sebuah tas ransel berukuran cukup besar. Tas ransel yang berisi senjata api beserta peluru..


Pria tersebut memainkan kunci yang sempat Ibu Tasya berikan kepadanya dan menatap keramaian di ballroom Gervinho Hotel's. Sangat padat dan undangan pun tak sedikit, bukan hanya tamu undangan yang sungguh banyak, ada wartawan yang siap meliput dan sudah di penuhi juga bagian dalam serta luar hotel.


"Sangat aman," jawab Ibu Tasya di seberang ponsel. Pria tersebut terkekeh geli.


"You don't try to trick me," kata Pria tersebut menyeringai. "Wartawan sudah memenuhi hotel, kau tahu pasti apa yang akan terjadi, bila aku meletuskan tembakan dan akan ada berita yang wow," tambahnya lagi dengan menatap banyaknya wartawan televisi yang sudah siap dengan kamera.


"Wartawan?!" Ibu Tasya yang berada di balik pilar ballroom hotel, langsung terkejut melihat banyaknya wartawan yang ada di dekat pintu masuk. "Sial! Kenapa aku baru menyadari kedatangan mereka!"


Tidak ada yang membahas akan mengundang wartawan di keluarga Lincoln. Ibu Tasya menggigit kuku jarinya dengan gelisah, "Tidak perlu khawatir. Aku akan mengalihkan perhatian mereka," kata Ibu Tasya pada akhirnya. Awalnya sempat ragu, tetapi karena keinginannya begitu besar untuk menyingkirkan Chelsea dari kehidupan Zane, maka Ia rela melakukan apapun demi Sonia.


"Kau masuk lewat pintu di basement, aku akan menemui mu di sana!" pinta Ibu Tasya dengan panggilan telepon yang di akhiri. Pria tersebut tersenyum miring dan menyimpan ponselnya kembali.


Sedangkan di lain sisi, keluarga besar Lincoln menyambut kedatangan para tamu serta para wartawan. Papa Owen dan Mama Bellamy di buat kebingungan dengan kedatangan wartawan yang di luar rencana mereka.


"Siapa yang mengundang wartawan kemari?" tanya Mama Bellamy berbisik kepada sang suami.


"Aku, Ma." sahut Zane secara tiba-tiba dari arah lain. Pria itu terlihat sangat tampan dan tersenyum mendekati kedua orang tuanya.


"Kau mengundang wartawan? Untuk apa?" Papa Owen mencubit lengan sang istri, karena pertanyaan konyol itu. Mama Bellamy mendelik dan berdecak sinis.

__ADS_1


"Tentu saja untuk mengumumkan pernikahan ku dan Chelsea. Tapi ada hal penting mengapa aku mengundang mereka,"


Mama Bellamy dan Papa Owen saling berpandangan satu sama lain, "Apakah akan ada konferensi pers?" tebak Papa Owen dengan menunjuk sebuah meja berjejer di dekat altar pernikahan. Zane mengangguk sebagai jawaban.


"Ayah Robert sudah siap untuk mengungkap semuanya, termasuk kepalsuan berita kematiannya. Kita lihat, apakah ada pihak yang benar-benar tidak menginginkan atau tidak." jelas Zane dengan tatapan begitu tajam.


Mama Bellamy kini mulai paham dan tersenyum seraya menepuk pundak sang Putra. "Putra ku ternyata sudah dewasa, berapa usia mu tahun ini? 32?" tanya Mama Bellamy membuat Zane mendelik tajam.


"Ma! Aku tidak setua yang Mama bayangkan! Tahun ini usia ku 31!" jawab Zane ketus sekaligus kesal. Mama Bellamy tertawa kecil melihat raut wajah sang putra yang sudah sangat masam.


"Awas saja istri mu di ambil pria lain," goda Papa Owen sontak membuat Zane menoleh ke arah Chelsea yang tampak tertawa dengan Arthur. Wajah Zane langsung berubah sangat masam dan bergegas mendekati sang istri.


Papa Owen tertawa dan merangkul mesra sang istri, "Bahkan Zane cemburu buta dengan Kakak laki-laki Chelsea, Ma." celetuk Papa Owen, Mama Bellamy memutar matanya malas dan menepis tangan sang suami yang mulai mengelus pipinya.


"Jaman sekarang itu bahkan jauh lebih keras! Anak laki-laki saja bosa mencintai keluarganya, mungkin Arthur begitu dengan Chelsea. Lagipula Arthur dan Chelsea itu tidak ada hubungan darah, jadi bila mereka menikah pun tidak ada larangan apapun!" jelas Mama Bellamy membuat Papa Owen langsung bungkam. Yang di katakan oleh Mama Bellamy ternyata ada benarnya, Arthur hanyalah Putra angkat dari Robert dan Kimberly saat di usia 5 tahun.


Papa Owen teringat dengan istilah 'Sebelum janur kuning melengkung, maka siap menikung!' Membayangkannya saja sudah membuat Papa Owen berwaspada.


Bila keluarga Lincoln sibuk menyambut tamu, maka lain hal dengan Sonia yang sibuk mencari Ibunya, yang tiba-tiba saja menghilang dari pandangan matanya. Wanita berstatus janda, yang menggunakan dress merah maroon dengan high heels senada, itu terus mencari Ibunya.


"Ibu, kemana sih? Baru juga di samping ku!" gerutu Sonia yang mulai kelelahan karena berjalan dengan high heels, yang membuat kedua kakinya mulai sakit.


"Kau kenapa?" tanya Daniel yang sudah berdiri di belakang wanita janda itu. Sonia menoleh terkejut dan langsung memasang wajah kesal.


"Kenapa kau terus saja mengangguk ku! Aku tidak melakukan apapun kali ini!" jawab Sonia dengan ketus. Daniel memutar matanya malas, padahal niatnya sudah baik bertanya tadi.


"Siapa juga yang ingin menganggu mu, dasar kepedean! Mood ku jadi buruk karena ulah mu!" ketus Daniel membuat Sonia membulatkan matanya.


"Kenapa jadi aku! Kau yang menghampiri ku lebih dahulu!" tampik Sonia dengan geram. Rasanya ingin memukul mulut pria lemes itu dengan high heels.


"Sudah lah." Daniel sebenarnya hendak pergi, tetapi tatapannya tetap jatuh pada kaki Sonia. "Kaki mu tidak apa-apa?" tanya Daniel dengan melipat kedua tangannya. Daniel sebenarnya masih kesal dan bisa di bilang bahwa dirinya dan Sonia adalah musuh bebuyutan yang sudah sangat lama.


"Sedikit sakit. Apakah kau ingin menggendong-"

__ADS_1


"Lebih baik aku mencari wanita yang masih tersegel daripada wanita janda," sela Daniel dengan sarkas nya. Sonia tercengang mendengar pernyataan dari Daniel.


"PRIA SIALAN!"


__ADS_2