
Sonia berada di dalam kamar mandi, wanita itu menatap pantulan dirinya di cermin dan tersenyum kecil. Wanita itu meletakkan blazer hitam milik Arthur di atas wastafel dan membersihkan bekas tumpahan dari gaunnya.
"Aku merasa Arthur hari ini berbeda. Apakah dia sama seperti diriku?" gumamnya penuh tanda tanya. Setelah selesai, Sonia membenarkan penampilannya sejenak yang sedikit berantakan. Mengingat Arthur yang sungguh tampan dengan kemeja hitam, Sonia mengira bahwa Arthur adalah teman kencannya, tetapi dirinya salah mengira.
"Sebelum janur kuning melengkung, Sonia siap menikung. Arthur, kau sangat tampan!" puji Sonia dengan senang dan menunjuk cermin di hadapannya dengan girang.
Rambut hitam legam bergelombang tersebut mulai bergerak kesana-kemari, bersamaan dengan Sonia keluar dari bilik kamar mandi. Senyuman terus tersemat di sudut bibirnya dan mempercepat langkah berjalan memasuki restoran yang Ia tuju.
"Excuse me," pelayan yang tengah membawa nampan pun menoleh, "ruang VIP, atas Tuan Ziano di sebelah mana?" tanya Sonia membuat pelayan wanita tersebut langsung menunjuk ke arah lain.
"Nona bisa lewat sana, lalu berbelok kiri." jawab pelayan tersebut membuat Sonia langsung bergegas menuju ruangan VIP.
Setelah bertahun-tahun dan sempat gagal di pernikahannya, membuat Sonia jarang menikmati dunia luar seperti sekarang. Bahkan sekedar untuk kencan buta, tidak pernah Ia pikirkan dan malah mengejar-ngejar cinta seorang Zane, yang hingga saat ini tidak terbalaskan. Namun, Sonia memutuskan untuk melepaskan Zane dan mencari kebahagiaannya sendiri. "Aku harap, kali ini tidak gagal." gumamnya penuh harap.
Setelah tiba di depan pintu ruang VIP yang tertutup, jantung Sonia semakin berdetak kencang tak menentu. Wanita itu mengeratkan blazer hitam di pundaknya dan menarik napas panjangnya, "Sonia kau pasti bisa!"
CEKLEK ....
"Maaf, Tuan. Saya-KAU!"
Sonia langsung menjatuhkan rahangnya karena terkejut bukan main, bahkan tak sadar juga menjatuhkan tas tangannya ke lantai. Sedangkan pria yang awalnya menikmati sajian makan siang, juga tak kalah terkejut dengan siapa yang datang ke ruang VIP yang Ia pesan.
"Sedang apa kau di sini?" tanya pria tersebut terheran-heran. Sonia langsung tersadar dan mengendus kesal.
"Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kau di ruangan yang pria kencan ku pesan, Arthur!"
Ya, pria tersebut adalah Arthur. Sonia menatap Arthur dengan menggebu-gebu penuh menuntut jawaban. Arthur mengernyit heran dan menatap ponselnya, yang memperlihatkan sebuah aplikasi kencan buta. "Tentu saja aku sedang menunggu wanita yang aku ajak kencan," jawabnya santai.
Sonia terbengong mendengarnya dan langsung mengecek ponselnya. "Kau pasti-"
Drtttt ....
DEG ....
Dering telpon itu ke arah ponsel Sonia? Batin Arthur.
Sonia menatap layar ponselnya yang menampilkan sebuah panggilan telepon dari seorang pria, Sonia langsung menatap Arthur yang mematung dengan ponsel yang juga menampilkan sedang menelepon seseorang.
"Kau ... kau pria yang mengajak ku kencan buta?" tanya Sonia yang masih terkejut. Arthur langsung mematikan sambungan telepon tersebut dan menghela napas.
__ADS_1
"Jangan terlalu percaya diri, mana mungkin aku mengajak wanita jahat seperti mu pergi kencan." sahut Arthur membuat Sonia langsung terdiam kaku.
"Kau mau ke mana?" tanya Sonia saat melihat Arthur yang seperti hendak pergi. Arthur melirik malas dan memasukkan tangannya ke saku celana.
"Tentu saja pergi,"
"Lalu bagaimana dengan-"
"Cancelled."
"What?" Sonia tercengang dengan ucapan pria di hadapannya. Sonia memutar tubuhnya dan menatap punggung Arthur yang melenggang pergi tanpa mengatakan apapun lagi. "ARTHUR!"
...****************...
"Jadi, apa rencana kita, Robert?" tanya Owen kepada sang sahabat karib nya, yang sibuk menyesap nikotin miliknya. Robert dan Owen saat ini berada di ruang tamu di kediaman Lemos, Robert sengaja mengundang pria sebaya nya itu untuk datang hanya sekedar menikmati jamuan makan siang di waktu senggang.
"Seperti rencana awal ku, Owen. Setelah kita berhasil menjodohkan Zane dengan Chelsea, bagaimana kalau-"
"Jangan bilang kau ingin menjodohkan orang lagi, Robert?" sela Owen menebak kalimat selanjutnya yang akan di ucapkan oleh Robert. Pria paruh baya tersebut tertawa renyah dan mengangguk membenarkan.
"Ternyata 40 tahun kita bersahabat, membuahkan hasil yang cukup memuaskan." kata Robert membuat Owen memutar matanya malas dan meraih segelas wine di hadapannya.
"Katakan saja,"
"Kau memiliki berapa anak?" tanya Owen membuat Robert terdiam sejenak dan menghitung dengan jari.
"Ada Arthur, ada Calvin, ada Chelsea, ada Ashton, ada Ashley. Total aku memiliki anak ada lima," jawab Robert dengan menunjukan kelima jarinya kepada Owen. Kedua pria tersebut tertawa setelahnya dan Owen menganggukkan kepala mengerti.
"Aku memiliki 4 putra dan 1 putri. 1 sudah menikah, dan 2 putra ku masih belum memiliki pasangan, dan 2 lagi masih kecil." kata Owen membuat Robert mengerutkan keningnya.
"Bukankah kau sudah berencana untuk menikahkan Daniel dengan wanita pilihan mu?"
Owen menggaruk tengkuknya, "Masih rencana. Ah, aku jadi teringat dengan penolakan Nicholas dan Daniel saat aku merencanakan untuk menjodohkan mereka berdua,"
"Ada yang ingin aku ketahui tentang Nicholas dan Daniel, bagaimana bisa mereka bertiga menjadi teman?"
Owen terdiam sejenak untuk mengingat-ingat, "Aku mengenal sudah sangat lama dan mengenal anak itu juga karena Ayahnya itu bekerja sebagai asisten ku, kalau tentang Nicholas, aku hanya mengetahui kalau dia sedang menjalani hukuman dari keluarga. Bisa di katakan, Nicholas di asing kan untuk beberapa tahun dan berakhir berteman dengan Zane." jelas Owen dengan ragu-ragu. Robert mengelus dagunya sendiri.
"Tapi aku melihat Nicholas itu sangat lihai memainkan senjata. Kau tidak bertanya lebih tentang identitasnya?" tanya Robert membuat Owen mengangkat bahunya acuh.
__ADS_1
"Aku tidak terlalu ingin tahu, biarkan saja waktu yang memberitahu kita. Kau ini sangat penasaran sekali, sejak dulu tidak berubah." ketus Owen membuat pria paruh baya lainnya mendengus kesal.
DUG ....
"Akkh! Si**** kau Robert!" umpat Owen dengan memegangi tulang keringnya yang terasa sakit.
"Aku berencana untuk menikahkan Arthur dengan Sonia."
"APA?!"
Robert dan Owen sontak menoleh ke arah belakang, di mana Sonia dan Arthur sudah tercengang dengan ucapan Robert tentang mereka. Sonia yang semulanya terkejut, langsung tersenyum dan melirik ke arah Arthur yang masih terkejut bukan main.
"Dad didn't lie, right?!" tanya Arthur dengan mendekati kedua pria paruh baya tersebut dengan langkah panjang. Sonia tersenyum cerah dan mengikuti Arthur di belakang sana.
"Paman benar-benar ingin menikahkan aku dengan Arthur?" tanya Sonia kepada Owen, bahkan wanita itu sudah bergelayut manja di lengan pria itu. Arthur mendengus melihat reaksi Sonia.
"Tentu saja, kenapa Ayah harus berbohong untuk suatu kebenaran." jawab Robert yang terlihat sangat bersungguh-sungguh. Arthur langsung memasang wajah memelas dan mendudukkan dirinya di sebelah Robert.
"Aku tidak ingin menikah dengan wanita galak ini, apalagi dia itu janda!" tolak Arthur dengan menatap Sonia sinis. Sonia mendelik dan berkacak pinggang.
"Kau itu kampungan sekali, apakah kau tidak pernah mendengar istilah kalau janda itu lebih lihai dan berkelas? Apalagi aku ini janda tanpa anak, masih rapat luar dalam, cantik, sexy, pintar, terlebih lagi dalam bidang memasak!" balas Sonia dengan menohok. Bahkan wanita itu secara terang-terangan mengangkat kedua payudara sintalnya, Owen dan Robert bahkan langsung menutup mata dan memalingkan wajah mereka.
Arthur? Pria itu malah mendelik tajam dengan aksi Sonia, "Kau-"
"Paman Robert, aku setuju menikah dengan Arthur!" potong Sonia dengan antusias membuat Arthur sontak berdiri.
"I refuse!"
"Kau tidak bisa menolak, baru tadi kau-mphttt!"
"Shut up!" bisik Arthur dengan membekap mulut Sonia dengan tangan besarnya. Owen dan Robert saling berpandangan dan tersenyum tipis. Sepertinya pikiran dan batin kedua pria paruh baya tersebut sudah saling satu frekuensi dan mengerti kode satu sama lain.
Sepertinya akan mudah menikahkan Arthur dan Sonia. batin Robert dengan melirik ke arah putra sulungnya yang sibuk mengurus Sonia. Kedua lawan jenis itu pergi dengan Sonia yang di tarik paksa pergi dari ruang tamu.
"Kau lihat itu Owen, keponakan mu dan putra ku begitu sangat terasi." ujar Robert membuat Owen mengangguk setuju. Lagipula yang di katakan Sonia ada benarnya, dirinya janda karena menjadi korban perselingkuhan dari suaminya sendiri, bercerai tanpa memiliki anak, membuat Sonia merasa tidak terbebani oleh statusnya.
"Kau yakin kalau Arthur akan menerima Sonia nantinya?"
"Kenapa tidak, walaupun Arthur bukan darah daging ku dengan Kimberly, tetapi sifatnya itu mirip dengan ku." jawab Robert dengan menepuk dadanya dengan bangga. Owen langsung berdecak sinis dan meneguk wine nya kembali hingga tandas.
__ADS_1
"Terlalu percaya diri," cibirnya membuat Robert tertawa terbahak-bahak.