Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Rencana Besar


__ADS_3

"Kau sungguh sangat nekat, Bayu."


Bayu, pria yang saat ini status buronan itu diam-diam menemui Ibu Tasya di sebuah gedung kosong di sudut kota. Ibu Tasya menatap penampilan pria yang sempat Ia minta untuk menembak Chelsea di ballroom hotel kala itu, kini sudah berubah menjadi pria yang cukup di penuhi rambut di bagian dagu dan kumis.


"Aku nekat, karena ingin mengambil sisa imbalan ku!" kata Bayu dengan menatap Ibu Tasya dengan sengit.


"Imbalan? Kau bahkan tidak mengerjakan tugas mu dengan baik! Sasaran ku adalah Chelsea, bukan Daniel! Karena mu, aku harus pergi meninggalkan mansion Lincoln!" kesal Ibu Tasya dengan menatap Bayu yang saat ini terkekeh geli.


"Lalu apa hubungan dengan ku, Tasya? Kau baru pergi dari mansion Lincoln, sedangkan aku? Aku harus mengundurkan diri, meninggalkan keluarga ku karena ulah mu!"


TAK ....


Ibu Tasya sontak mundurkan langkahnya, saat Bayu menendang balok kayu ke sembarangan arah. Tersirat wajah penuh amaran dari Bayu, membuat Ibu Tasya mulai memikirkan sesuatu untuk mengatasi pria di hadapannya.


Aku tidak boleh ceroboh. Kalau aku salah mengambil jalan, aku bisa habis! batinnya berkecamuk.


"Kau menginginkan sisa imbalan mu kan?" tanyanya dengan bergetar. Bayu menaikkan alisnya dan mengangguk cepat.


"Berikan aku sisa imbalannya, maka urusan kita selesai!"


Ibu Tasya terdiam sejenak dan menyungging senyum, "Tidak semudah itu untuk mendapatkan sisa imbalan mu, Bayu."


Alis pria tersebut menaikkan alisnya bingung, "Apa maksud mu?"


Ibu Tasya menendang balok kayu agar menjauh dari jangkauannya, dan mendekati Bayu yang tampak kebingungan. "Bantu aku untuk menuntaskan balas dendam ku!"


"You are crazy! Aku sudah cukup hidup di luaran sana karena-"


"Atau uang imbalan mu tidak aku berikan,"


Bayu mengepalkan kedua tangannya dan menatap sengit ke arah wanita di hadapannya, "Kau wanita yang sangat licik. Entah dendam apa yang kau miliki kepada wanita hamil berwajah polos yamu ingin habisi itu," kata Bayu dengan tertawa sarkas.


Sejak awal, Bayu sudah memikirkan tentang dendam apa yang di miliki oleh Ibu Tasya kepada Chelsea. Setelah Bayu lihat dari segi raut wajah, Chelsea terlihat wanita baik-baik dan begitu polos, bahkan nasib wanita hamil itu begitu beruntung karena memiliki keluarga yang menjaganya, terlebih lagi Chelsea adalah istri dari Zane. Bahkan saat ini, Bayu terus mencari tahu tentang permasalahan Ibu Tasya hingga membuatnya begitu dendam.


"Aku memang licik, dan aku memanfaatkan kelicikan ku dengan baik. Katakan, kau bersedia membantu ku untuk menyingkirkan Chelsea dari kehidupan Zane atau aku yang akan membuat mu sengsara?"


Mendengar ancaman dari wanita paruh baya di hadapannya, membuat Bayu seketika mengerutkan keningnya. "Memangnya apa yang bisa kau-"

__ADS_1


BRAK .....


"KAKAK!"


Seketika jantung Bayu ingin lepas saat mendengar teriakan dari seseorang yang begitu familiar di pendengarnya. Ibu Tasya menunjuk ke arah pintu yang baru saja terbuka, dan terlihat seorang Anak laki-laki yang di pegang paksa oleh dua orang suruhan dari Ibu Tasya. Bayu semakin mengepalkan kedua tangannya bukan main.


"Lepaskan Adikku, Tasya!" hardik Bayu yang terlihat geram dengan aksi gila wanita di hadapannya. Ibu Tasya tertawa ringan dan menggoyangkan salah satu jarinya pertanda tidak.


"Aku akan melepaskan Adikmu, bila kau mau bekerjasama dengan ku. Aku berhasil mencapai tujuan ku, dan kau mendapatkan Adikmu dengan selamat. Tapi, bila kau gagal, maka Adikmu akan tiada!"


BRAK ....


"KAU WANITA BRENGSEK!"


...****************...


Di besok harinya dan di tempat yang sama pula, terdapat empat orang berlawanan jenis tengah duduk berhadapan satu sama lain. Tidak ada yang bersuara, hanya ada suara hembusan napas dari mulut mereka.


"Jadi dia yang bernama Bayu?" tanya seorang wanita dengan melirik Bayu yang sejak tadi hanya diam tak berkutik. Ibu Tasya melipat kakinya dan tersenyum miring.


"Iya, dia juga yang sudah melakukan tembakan di ballroom hotel,"


"Tidak,"


"What?"


"Penembakan itu gagal karena kecerobohannya sendiri, Clara." ungkap Ibu Anggun yang berada di sana.


Clara Adelin Lemos, wanita yang masih ada ikatan keluarga dengan Robert Lewandowski Lemos, hanya saja mereka berdua tidak memiliki ikatan darah, atau bisa di katakan bahwa Clara adalah seorang anak adopsi dari panti asuhan. Ya, Clara adalah Adik dari Ayah Chelsea, yang sampai saat ini belum menikah karena satu hal.


"Oh ****, seharusnya kau lebih memperhatikan. Kalau aku ada di sana, sudah aku pastikan Chelsea ikut menyusul Kimberly," kata Clara dengan sarkas dan bahkan melirik Bayu yang terkejut dengan ucapannya itu.


"Siapa Kimberly? Apa hubungannya dengan mu?" tanya Bayu kepada Clara yang sudah tersenyum karena mendapatkan sebuah pertanyaan yang Ia tunggu-tunggu.


"Hampir 25 tahun lamanya, aku menunggu Robert menjadi milikku, 17 tahun sudah Kimberly tiada dan itu adalah rencana ku. Aku menginginkan Robert, dan setelah Kimberly tiada, maka Chelsea yang akan menyusul." jelas Clara membuat jantung Bayu seakan-akan mau lepas. Kenapa dirinya bisa berada di antara ketiga wanita gila, yang sama-sama memiliki urusan dengan keluarga Lemos dan Lincoln.


"Tapi sayangnya, Chelsea selamat dari kecelakaan yang sudah aku perbuat itu." sahut Ibu Anggun dengan berdecak kesal. Bayu semakin di buat terkejut dengan penuturan dari Ibu Anggun yang begitu menggema di seluruh ruangan berdebu.

__ADS_1


"Sudah lah, jangan membahas percintaan kalian itu. Sekarang kita menyusun rencana, bagaimana caranya agar aku mendapatkan harta keluarga Lincoln!" kesal Ibu Tasya menatap Clara dan Ibu Anggun secara bergantian.


"Kau lupa, bahwa masih ada aku di sini, Tasya. Jangan egois, karena kau hanya butiran kerikil bila tidak ada kami," ejek Clara membuat Ibu Tasya menegang di buatnya.


"Ka ... katakan saja, apa rencana kalian!" kata Bayu dengan nada bergetar, "asalkan lepaskan Adikku." Tambahnya dengan melirik Ibu Tasya. Pria itu tampak mencoba menahan amarahnya agar tidak terpancing di setiap ucapannya sendiri. Bagaimanapun, misinya kali ini berbeda, yaitu menyelamatkan diri sekaligus sang Adik, dari jangkauan ketiga wanita gila di hadapannya.


"Aku memiliki rencana yang besar untuk Chelsea." Clara menatap lurus ke depan dan menyungging senyum miring. "Penculikan, dan yang lebih spesial lagi adalah pembunuhan,"


"You're not kidding?" tanya Ibu Tasya. Sebenarnya wanita itu terlihat sedikit takut saat Clara membahas tentang 'pembunuhan' kepada Chelsea, terlebih lagi wanita itu sedang mengandung bayi kembar.


"Aku tidak pernah bercanda dengan kata-kata ku, Tasya. Terlebih lagi Chelsea sedang mengandung bayi kembar, itu adalah hadiah besar untukku. Sekali tepuk, tiga lalat kena."


Ibu Anggun tampak mengangguk setuju, "Kau benar. Aku setuju dengan rencana mu, tapi sebelum itu kita harus berbagi misi. Chelsea akhir-akhir ini di kelilingi keluarga Lincoln dan Lemos secara ketat. Reno saja sudah tiada karena terkena tembakan dari Nicholas,"


"Aku tidak peduli siapa Reno, yang aku pedulikan adalah bagaimana caranya agar aku bisa memiliki Robert seutuhnya. Sejauh ini, aku sudah melakukan segala hal, termasuk membunuh Kimberly dan bayi kedua mereka. Lalu setelahnya adalah Chelsea,"


Clara melipat kakinya dan tertawa pelan. Bayu rasanya ingin pergi karena merasa sesak di antara ketiga wanita ini, yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana caranya agar bisa melepaskan dirinya dan Adiknya dari Clara, Ibu Tasya, dan Ibu Anggun.


Mereka ini wanita sampah, menyesal aku berurusan dengan mereka. Batin Bayu.


"Aku akan memantau Chelsea, terlebih lagi Zane sedang ada pertemuan di luar kota. Kita memiliki kesempatan untuk itu," kata Ibu Tasya membuat sebuah senyum terukir di sudut bibir Clara.


"Pastikan Chelsea benar-benar masuk perangkap," balas Clara yang mendapatkan anggukkan dari Ibu Tasya dan Ibu Anggun.


"Dan untukmu,"


"A ... aku?" Bayu menunjuk dirinya sendiri dengan raut wajah bodoh. Clara mendekati Bayu yang tampak terlihat gugup.


DUG ....


"AKHH! APA YANG KAU ...."


"Bila kau berani berkhianat, maka pisau ini akan menembus leher mu," Bayu menatap Clara dan pisau yang baru saja di asah itu dengan takut-takut. Pisau tajam itu seakan-akan ingin menari-nari di lehernya, Bayu memalingkan wajahnya dengan cepat seraya menahan rasa sakit di tulang keringnya.


GLEK ....


"A ... aku ti ... tidak akan berkhianat, tapi aku mohon lepaskan Adikku!" pintanya dengan nada memohon. Ibu Tasya tertawa ringan dan menatap tajam ke arah Bayu.

__ADS_1


"Tergantung dari tugas mu. Bila kau gagal, maka Adikmu yang harus menanggung semuanya,"


__ADS_2