
Setelah mengurus berkas-berkas kepindahan Ashton dan Ashley, kedua anak remaja itu hanya menatap datar pada bangunan sekolah yang sudah 2 tahun, tempat mereka menimba ilmu. Dengan diikuti dua bodyguard, para siswa-siswi di SMA tersebut menatap kebingungan pada teman mereka.
"Aku merasa mereka berdua sedikit berbeda," celetuk remaja laki-laki bernama Dani. Remaja yang besar di tangan kesayangan Mama, putra bungsu dari juragan beras.
"Kau benar, dan siapa dua orang di belakang kembar idiot itu?" tanya seorang siswi berambut ikal dengan centil kepada Dani.
"Entahlah," Dani mengangkat bahunya tidak tahu. "Tapi coba kau perhatikan pada outfit si kembar, kalau di lihat-lihat baju yang mereka pakai itu-"
"What!" Pekik siswi tersebut dengan mengucek mata, "i ... itu kan outfit yang sedang trend akhir-akhir ini!" sambung siswi tersebut membuat Dani langsung memicingkan matanya.
Dani termenung melihatnya, terlebih lagi melihat Ashton dan Ashley masuk ke dalam mobil hitam yang begitu mewah. Bila di bandingkan dengan mobil miliknya, mobil miliknya tentu kalah jauh. Tanpa sadar, kedua tangan Dani terkepal kuat dan merasakan iri dengki dengan remaja kembar yang selalu menjadi target bully.
"Kenapa tiba-tiba Ashton dan Ashley menjadi sangat kaya? Outfit yang mereka pakai sangat mahal dan mobil itu juga!" siswi tersebut semakin tercengang bukan main. Mereka tidak tahu berapa harga outfit kemeja formal dan jam yang di kenakan oleh si kembar, tetapi dapat di simpulkan bila barang-barang tersebut sangat mahal.
Melihat kepergian mobil tersebut, yang tentu saja menyita perhatian hampir seluruh murid di SMA tersebut, termasuk para guru. Yang mereka ketahui adalah, Ashton dan Ashley lahir di keluarga sederhana tanpa adanya barang-barang mewah, di desa mentari hanya Dani yang memiliki semua itu walaupun tidak banyak, tapi nama Dani begitu familiar bagi mereka.
"Kau kenapa?" tanya siswi tersebut dengan menepuk pundak sang sahabat. Dani menepis dan langsung pergi begitu saja.
"Aku tidak suka ada saingan, apalagi saingan ku adalah si kembar idiot!" gumam Dani dengan terus berjalan seraya mengeluarkan ponselnya, remaja bad boy itu segera menghubungi sang Ibu.
"Halo, Ma!"
"Ada apa, kesayangan ku?" tanya Mama dari Dani dengan suara lembut.
Yang hanya bisa memenuhi keinginan Dani selama ini adalah Mamanya. Dani adalah remaja manja bila saat bersama Mamanya, semua kemauannya harus di turuti, tetapi berbeda dengan Ayah dari Dani, tidak ingin menjadikan putra bungsunya menjadi manja.
"Ma, Dani mau Mam belikan aku outfit baru!" kata Dani dengan setengah rengekan.
"Outfit apa sih, Nak? Kan sudah Mama-"
"Beda, Ma! Dani mau yang terbaru kayak punya si kembar idiot itu!" sela Dani setelah memasuki ruang UKS..
"Loh? Kenapa kamu bawa-bawa nama Ashton dan Ashley?" tanya Mama Dani tidak mengerti.
"Mama tahu, mereka ke sekolah itu pakai outfit terbaru, Ma! Aku di ejek karena enggak punya outfit keluaran terbaru itu!" jelas Dani dengan berpura-pura. Padahal aslinya tidak ada yang mengejek dirinya, hal itu hanya di buat berdalih agar keinginannya terpenuhi.
"Siapa yang berani mengejek anak kesayangan Mama ini, hmm? Bilang sama Mama!" desak Mama Dani membuat remaja itu menghela napas.
"Nanti Dani kasih tahu. Pokonya Dani mau outfit terbaru itu sekarang juga, Ma!" rengek Dani membuat Mamanya mulai tidak tega.
__ADS_1
"Iya, Mama belikan. Outfit yang keluaran terbaru, terus yang paling mahal!" kata Mama Dani membuat remaja laki-laki itu tersenyum senang.
"Mama yang terbaik!"
Sedangkan di sisi lain, Ashton dan Ashley tampak diam dengan meremas surat kepindahan mereka ke kota. Ayah Robert tidak ikut, karena mereka berdua tidak ingin sang Ayah melihat apa yang mereka alami.
"Tuan muda baik-baik saja?" tanya salah satu bodyguard yang sibuk menyetir mobil. Mereka berdua diutus untuk mengawasi kedua putra dari atasan mereka.
"Sekarang jauh lebih baik," cicit Ashton membuat kedua bodyguard tersebut saling berpandangan.
"Aku harap, aku tidak melihat wajah orang-orang munafik itu lagi." kata Ashley yang langsung mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Kami akan kembali dan membuat kalian merasakan hal yang sama, batin kedua anak kembar itu. Entah secara kebetulan atau tidak, mereka membatin hal yang sama.
...****************...
Dua Hari Kemudian ....
"Kalian harus baik-baik di sekolah baru kalian!" pinta Ayah Robert dengan menatap kedua putra kembarnya. Sarapan pagi telah mereka lalui dengan suka cita, Arthur sangat senang karena pada akhirnya meja makan yang biasanya ada 2 orang saja, kini bertambah tiga orang lagi. Bayangkan bagaimana ramainya meja makan.
"Ayah sudah mengatakannya kalimat yang sama sejak kemarin," protes Ashley membuat Ayah Robert tertawa kecil.
"Sangat manis," gumam Calvin dengan menggoda Arthur yang kini mendengus kesal. Calvin terkekeh geli melihat raut wajah sang sahabat.
"Diam!" gertaknya pelan membuat Calvin langsung mengunci mulutnya.
"Ayah kami sudah dewasa!" Protes Ashton saat Ayah Robert merapihkan anak rambutnya. Alis pria itu menyatu keheranan.
"Kalau kalian dewasa begini, apakah itu artinya Ayah tidak boleh memanjakan kalian?"
Ashton dan Ashley gelagapan mendapatkan pertanyaan tersebut. "Bu ... bukan seperti itu!" kelit mereka berdua dengan panik. Ayah Robert tersenyum tipis dan mengelus pundak kedua putranya.
"Ingat pesan Ayah kalian ini, twist." Ashton dan Ashley mengangguk, "Tetap sederhana seperti sebelumnya. Walaupun status kita sudah berbeda, bukan berarti sikap kita harus berbeda juga. Tetap seperti Ashton dan Ashley dahulu, jangan pernah mempamerkan hal yang tidak perlu, okay."
"Ayah, kami tidak membutuhkan harta atau kekuasaan, kami hanya membutuhkan Ayah tetap di sisi kami!" ungkap Ashley, sedangkan Ashton mengangguk membenarkan. Mendengar ucapan Ashley, membuat orang tua mana yang tidak terharu.
Sedangkan di posisi lain, Arthur mematung di tempat mendengar ucapan kedua adik kembarnya. Di usia yang masih 17 tahun, keduanya begitu sederhana dan dewasa sebelum waktunya. Arthur tersenyum dan melipat kedua tangannya di depan dada. Sebuah feeling langsung datang ke pikirannya, pria itu menerawang jauh sekali.
"Mereka berdua akan menjadi pengusaha yang bijaksana kedepannya," gumamnya membuat Calvin mengernyit.
__ADS_1
"Kau mengatakan sesuatu, Ar?"
Arthur berdecak kesal dan lambat mendekati Ayah dan kedua adiknya, "Saatnya berangkat ke sekolah baru, twist." kata Arthur membuat Ayah Robert menoleh.
"Ayah akan mengurus sopir untuk mengantar jemput kalian selama sekolah." ucap Ayah Robert, mau tidak mau kedua remaja kembar itu mengangguk dan melirik ke arah Arthur yang sudah siap dengan pakaian formal.
"Ayah, kami berangkat. Tolong temui Kak Chelsea, kami merindukannya." Ayah Robert mengangguk dan membiarkan kedua putra itu masuk ke dalam mobil. Arthur mendekat dan memeluk tubuh Ayah Robert dengan penuh rindu.
"Aku menyayangi Ayah," bisik Arthur membuat senyuman mengembang sempurna di kedua sudut bibir itu.
"Ayah juga menyayangi mu."
Arthur tersenyum dan langsung menyusul kedua adiknya masuk ke mobil. Calvin hanya membungkuk formal dan ikut menyusul Arthur. Mobil Pajero putih itu langsung berjalan keluar dari pekarangan mansion yang sungguh luas itu. Setelah kepergian mobil tersebut, Ayah Robert menghela napas panjang dan mengeluarkan ponselnya.
"Mereka harus di berikan pelajaran yang setimpal," lirih Ayah Robert dengan meremas ponselnya. Ya, dua bodyguard yang sempat mengantar Ashton dan Ashley ke desa mentari untuk mengurus kepindahan sekolah, memberitahu sesuatu yang mengejutkan.
Dua tahun kedua putranya mengalami pembullyan dan ketidakadilan yang menyertai. Banyak sekali desas-desus tentang pembullyan yang Ayah Robert simpan tantang SMA tersebut. Masalah rumah tangga putrinya belum usia, kini kedua putranya juga turut mengalami masalah pembullyan.
Ayah Robert mengisyaratkan dua bodyguard yang tengah berjaga-jaga di sekitar mansion, "Ada yang bisa kami bantu, Tuan besar?"
"Kalian pergilah ke desa mentari dan cari tahu tentang ketiga anak remaja bernama Dani, Tiara, dan Kevin." perintah Ayah Robert dengan mengetikan sebuah foto masing-masing ketiga anak remaja berbeda gender tersebut.
"Baik, Tuan."
"Bila perlu, hancurkan bisnis orang tua mereka. Mereka berani meremehkan aku selama ini, aku tidak akan tinggal diam bila mengenai anak-anak ku!" perintahnya kembali dengan nada yang benar-benar tegas. Dua bodyguard tersebut bahkan sampai berkeringat dingin karena berhadapan dengan Tuan Besar.
Sedangkan di lain sisi .....
"Kak, bisakah kau mengantar kami hingga ke dalam?" pinta Ashton membuat Arthur dan Calvin langsung menoleh ke belakang. Melihat bagaimana megahnya sekolah yang Calvin cari untuk mereka, membuat jiwa percaya diri mereka menguar ke udara. Ashley tampak tenang, tetapi tidak dengan jari-jari remaja itu yang bergerak gelisah.
"Tentu, apakah kalian belum pernah kemari?"
"Sudah, hanya saja lingkungan sekolah sangat luas, kami tidak hapal." sahut Ashley membuat Calvin tersenyum gemas dengan remaja pendiam itu.
"Baiklah, ayo turun!"
Ashton dan Ashley turun, menatap kagum pada bangunan bertingkat di hadapan mereka. Arthur tersenyum dan menatap sekitaran sekolah, sekolah tersebut adalah sekolah yang sama dimana Arthur menimba ilmu. Sekolah bernuansa biru dan putih itu, kebanyakan muridnya adalah orang menengah atas. Tetapi guru mau staff sekolah lainnya, tidak membedakan antar status para murid. Calvin membenarkan jas formalnya dan memasang kacamata hitamnya.
"Paman kenapa memakai kacamata?" tanya Ashley membuat Calvin mendengus kesal.
__ADS_1
"Bukan urusan mu, bocah!"