Wanita Sederhana Pilihan CEO

Wanita Sederhana Pilihan CEO
Reno dan Ibu Anggun


__ADS_3

Reno, pria itu mengacak rambutnya dengan frustasi bukan main. Tiga bulan lamanya setelah di PHK dari pekerjaan di kantor pusat Zane, membuat Reno tidak bisa bekerja sesuai kemampuan yang Ia miliki. Tiga bulan juga dirinya menganggur tidak jelas dan terpaksa meminta meminta bantuan dari Pak Gunawan dan Ibu Asih. Tetapi tidak seperti biasanya, orang tuanya bahkan menolak untuk membantu atas permintaan dari Ayah Robert.


Ayah Robert mengadukan perbuatan Reno yang di luar nalar itu kepada Pak Gunawan dan Ibu Asih, sebenarnya Ayah Robert ingin menghukum Reno dengan caranya, karena telah merencanakan pelecehan di hotel milik Arthur. Dan bila tanpa bantuan resepsionis yang melaporkan perihal tamu yang selama ini Arthur cari, pasti Arthur tidak akan memaafkan dirinya. Tetapi setelah melihat wajah memelas dari Ibu Asih, membuat Ayah Robert tidak tega dan membiarkan Reno menjadi urusan mereka berdua.


"Sial, sial, sial!" umpat Reno dengan menjambak rambutnya dengan kesal. Orang tuanya menolak membantu, dan hal itu membuat Reno semakin di buat frustasi.


"Karena wanita ****, aku harus mengalami ini. Bagaimana bisa wanita ***** itu mengajak Chelsea ke hotel milik Pak Arthur! Benar-benar sialan kau Anggun!" geram Reno yang mulai menghilangkan panggilan 'Ibu' kepada Anggun.


Tiga bulan setelah di PHK dan Ibu Anggun yang di usir dari mansion Lincoln, entah kemana perginya wanita itu dan Reno tidak peduli. Kehidupan sehari-hari kini mulai terancam tidak akan sukses, makanya telah di black list dari semua perusahaan yang ada, hingga membuatnya kesulitan untuk mencari dan melamar pekerjaan di perusahaan besar ataupun menengah.


Kebenciannya semakin bertambah besar kepada Zane, pria yang Ia cap sebagai perebut wanita miliknya semakin menjadi dan bertingkah seenaknya kepadanya. Bahkan tanpa memberitahu kepada dirinya, Zane langsung melakukan PHK sepihak tanpa uang pesangon sama sekali. Bayangkan bagaimana frustasinya Reno.


Lagipula Zane melakukannya tanpa alasan, terlebih lagi banyak laporan dari karyawan kantor yang di sampaikan oleh Daniel, tentang sikap angkuh, tidak sopan dari Reno saat bekerja sebagai OB kurang dari seminggu itu.


"Aku tidak akan menyerah sebelum aku mendapatkan Chelsea! Zane, kau terlalu bermain-main dengan Reno Mustafa!" tangan pria itu terkepal kuat bukan main. Kondisi dalam rumah sudah sangat berantakan, ART yang Ia kerjakan bahkan mengundurkan diri dengan alasan yang masuk logika. Karena setelah di PHK, Reno begitu hobi melampiaskan semua marahnya kepada benda-benda di sekitar dan marah-marah tidak jelas kepada ART, membuat ART tidak betah akhirnya.


"Chelsea, Chelsea, Chelsea!" racau Reno dengan berakhir menghembuskan napas kesal. Reno mengeluarkan ponselnya dan mengerutkan keningnya, kala melihat sebuah notifikasi pesan dari John. Reno bergegas menelpon pria lambai itu.


"Ada apa, Ren?"


"Undangan yang kau kirim itu benar?" tanya Reno tanpa basa-basi. John menghela napas panjang.


"Iya, jangan bilang kau merencanakan sesuatu untuk mendapatkan istri Tuan Zane, Ren. Sampai sekarang pun kau masih jadi bahan gosip," kata John di seberang sana membuat Reno mendengus kesal.


"Jangan memanggil pria perebut wanita itu dengan sebutan Tuan!" geram Reno.


John terkekeh geli mendengar penuturan Reno yang begitu menggelikan di perutnya.


"Come on, Reno. Tuan Zane menikah dengan Nyonya Chelsea, kenapa kau yang marah hingga dendam? Padahal Nyonya Chelsea tidak memiliki hubungan spesial dengan mu," jawab John dengan nada cukup mengejek di pendengar Reno.


"Jangan menguji kesabaran ku, John!"


"I speak reality, Ren. Bila kau tidak ingin semakin frustasi setelah di PHK, jangan berbuat macam-macam." ketus John membuat Reno menyunggingkan senyum tak biasa.


"Kau hanya pria lambai yang tidak tahu apa-apa, jangan berlagak kau adalah orang besar, John!" hina Reno, John terkekeh geli yang terdengar begitu jelas di pendengaran Reno. Apakah ucapannya salah?


"Bila aku adalah pria lambai, dan kau adalah pria *****, Nyonya Chelsea menolak mu dan kau masih berharap? Untung saja Nyonya Chelsea menikah dengan Tuan Zane, bukan dengan pria pencari penyakit seperti mu!"


"KAU-"


"Aku hanya ingin mengingatkan, bahwa kau belum membayar hutang mu sebanyak 50 juta kepada ku! Aku memiliki banyak bukti tentang mu,"


Reno tertegun saat John benar-benar di luar dugaannya. Reno mengira bahwa John hanyalah pria lambai yang begitu bodoh, tetapi ternyata di luar ekspektasi. John diam-diam menikam dirinya dan mengancam dirinya.

__ADS_1


Reno tertawa geli dan meremas ponsel miliknya, "Berani sekali John mengancam ku!"


PRANG ....


Ponsel tersebut langsung hancur karena di lempar asal oleh Reno, dan mengenai salah satu vas bunga hingga hancur tak tersisa ke lantai. Reno menyunggingkan senyum, "Kalian akan merasakan apa yang aku rasakan. Lihat saja,"


Mungkin bila orang terdekat Reno sudah langsung membawa pria itu ke rumah sakit jiwa, untuk mendapatkan perawatan, di lihat dari mental psikis nya yang mulai terganggu dan melakukan di luar nalar.


...****************...


Lain hal dengan Reno yang frustasi karena tidak memiliki pekerjaan, berbeda pula dengan Ibu Anggun yang kembali ke pekerjaan awalnya, menjadi wanita di rumah bordil di club' malam yang sama seperti 17 tahun yang lalu. Ibu Anggun tampak anggun walaupun usianya tak lagi muda, bahkan ada bartender yang sudah menjadi sahabat Ibu Anggun sejak 17 tahun yang lalu.


"Jadi kau menikah dengan pria yang kau jebak itu?" tanya Lona, sang bartender yang usianya sudah sangat matang untuk menikah..


"Benar, obat yang kau masukkan ke dalam gelas itu benar-benar manjur, sampai-sampai aku di buat jatuh miskin oleh pria itu!" kata Ibu Anggun dengan sarkas di akhir kalimat.


"Jatuh miskin bagaimana? Bukannya kau yang menginginkan pria itu?" Lona mengerutkan keningnya tidak mengerti. Ibu Anggun mendengus kesal dan meneguk minuman beralkohol kadar tinggi itu.


"Ternyata pakaian mewah yang Ia pakai bukan miliknya, dasar aku tertipu sampai saat ini!" kesal Ibu Anggun membuat Lona tertawa ringan.


"Tidak seperti biasanya, dulu kau akan mencari dulu tentang pria yang ingin aku tidur. Katakan kepada ku, siapa namanya?"


"Robert Pattinson," jawab Ibu Anggun dengan mata malas. Lona tersenyum tipis dan memberikan sebuah minuman wine kembali kepada sahabatnya itu.


"Maksud mu bagaimana? Kau yang memberikan aku obat perangsang itu!" ketus Ibu Anggun dengan kesal, bagaimana wanita yang tidak ingin di salahkan membuat Lona semakin tertawa ringan.


"Aku memang menawarkan tapi aku tidak memaksa. Kau saja yang terlalu tergesa-gesa, jangan menyalahkan aku karena kesalahan mu sendiri, Anggun." jawab Lona dengan santai dengan meneguk wine miliknya, seraya melirik Ibu Anggun yang lagi dan lagi mengetuk wine berkadar tinggi itu.


Kena kau, Anggun. Batin Lona dengan menyeringai.


"Lalu aku harus bagaimana? Aku ingin kaya, tapi malah aku terjebak dalam kemiskinan!" gerutu Ibu Anggun membuat Lona seolah-olah sedang berpikir. Lona kembali menelisik penampilan Ibu Anggun yang tak lagi menarik, tubuhnya sudah melebar dan wajahnya sudah keriput, Lona memutar matanya malas dan mengambil kaca, menatap wajahnya yang ternyata jauh lebih terawat dari Ibu Anggun.


"Kenapa kau kembali ke rumah bordil setelah 17 tahun?" tanya Lona mengabaikan pernyataan dari sang sahabat. Ibu Anggun memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.


"Tentu saja karena ingin kaya, setelah menikah dengan Robert aku harus tinggal di desa dengan balas kasihan!" jawab Ibu Anggun semakin membuat Lona terdiam.


Lona memutar-mutar gelas minumannya dan menatap betapa ramainya club malam yang sudah menjadi tempatnya mencari uang. Walaupun dirinya bekerja di rumah bordil, bukan berarti Lona akan melakukan pekerjaan serendah Ibu Anggun yang rela menjajal tubuhnya, hanya untuk kepuasan sendiri. Lona hanya wanita yang di paksa untuk dewasa di usia muda, walaupun begitu Lona tidak ingin seperti para wanita bordil lainnya.


"Kenapa kau tidak bercerai saja? Setelah melahirkan?"


"Tidak semudah yang kau bayangkan, warga desa di sana sungguh sangat gila! Aku bahkan tidak bisa bernapas lega bila bertemu dengan mereka!" Ibu Anggun mulai meracau tidak jelas, kepalanya berkunang-kunang dan sesekali Ia pijat.


"Sial, kenapa kepala ku sakit sekali?!" kesal Ibu Anggun membuat Lona berpura-pura tidak tahu.

__ADS_1


"Mungkin karena kau sudah lama tidak mengonsumsi alkohol kadar tinggi," jawab Lona acuh dan semakin memperhatikan gerak-gerik dari Ibu Anggun.


Kenapa Ibu Anggun bisa seperti sekarang? Semua itu karena ulah Lona sendiri. Wanita bartender mencampurkan obat tidur dengan kadar cukup tinggi, Lona hanya menyunggingkan senyum tipis, saat Ibu Anggun langsung tak sadarkan diri bersamaan dengan suara dengkuran.


Lona mengambil ponselnya untuk menelpon seseorang. Lona memiliki alasan mengapa berbuat seperti ini, bukan sekali saja, tetapi dua kali untuk malam ini kepada Ibu Anggun. Semua itu atas perintah seseorang yang membuatnya bersyukur.


"Halo, Tuan."


"Halo, Lona. Lama tidak mendengar suara mu, apa kabar?"


Lona tersenyum tipis, "Cukup baik, Tuan. Saya ingin melaporkan, bahwa Anggun sudah meminum obat tidur tersebut, dan sekarang Anggun bersama saya di club yang sama." jawab Lona membuat pria di seberang sana tersenyum devil.


"Bagus, bawa dia ke kamar yang sudah anak buahku siapkan. Di sana ada pria berkemeja putih dengan pin burung, minta bantuan kepadanya." kata pria tersebut membuat Lona langsung mengedarkan pandangannya.


Pria berkemeja putih yang bersandar di dinding dengan mata mengarah kepadanya dengan sebuah pin tersemat di pakaiannya, Lona tersenyum miring dan mengisyaratkan pria tersebut untuk datang. "Baik, Tuan. Saya akan mengurusnya,"


"Aku akan datang, pastikan Anggun tidak pergi kemana-mana atau mengetahui aktivitas mu!"


"Baik, Tuan."


Lona menyimpan ponselnya kembali dan membersihkan gelas minum milik Anggun. Lona memiringkan kepalanya dan melirik pria yang sudah berdiri di sampingnya, "Kau utusan dari Tuan?" tanya Lona dengan menelisik pria tersebut.


"Benar, Nona Lona." jawabnya tegas membuat Lona sedikit tersenyum.


"Bantu aku membawanya ke kamar atas, Tuan akan segera tiba." Pria tersebut lantas menggendong tubuh Ibu Anggun, dan melewati lautan manusia yang sibuk dengan dunia mereka sendiri.


Setelah melewati lautan manusia dengan susah payah, dan memastikan tidak ada yang melihat apa yang mereka berdua lakukan, akhirnya Lona dan pria utusan tersebut berhasil membawa Ibu Anggun masuk ke dalam kamar private kelas dengan fasilitas kedap suara.


"Kau akan langsung pergi atau ingin di sini dulu?" tanya Lona membuat pria tersebut menggeleng.


"Saya akan berjaga di luar, menunggu Tuan." Pria tersebut langsung pergi dan memilih untuk menunggu Tuannya. Lona melirik ke arah Ibu Anggun dengan tatapan datar dan langsung melucuti pakaian wanita itu.


"Di saat kau mengkhianati ku, maka inilah pembalasan ku untuk mu, Anggun. Kau menganggap ku seorang sahabat, tapi aku menganggap mu sebagai seorang musuh." kata Lona setelah berhasil membuat Ibu Anggun full naked dan langsung mengeluarkan ponselnya untuk memotret.


Cekrek ....


Lona tersenyum miring melihat beberapa foto yang Ia ambil dan dua buah video dengan durasi berbeda begitu juga dengan aktivitas Ibu Anggun. Lona melempar pakaian milik wanita itu, tanpa memakaikannya kembali, Lona terlalu muak berurusan dengan wanita ular seperti Ibu Anggun.


Karena kesalahan fatal yang Ibu Anggun lakukan, membuat Lona harus melakukan hal di luar nalar. Lona memilih untuk menyambut kedatangan Tuan yang Ia maksud, lalu tersenyum tipis saat orang tersebut ternyata sudah berada di dalam club malam dengan banyak bodyguard.


"Selamat malam, Tuan Robert. Anggun sudah ada di kamar private sesuai perintah Anda," Lona membungkuk hormat sebentar dan berjabat tangan dengan pria yang tak lain adalah Robert, Ayah Chelsea.


"Kerja bagus,"

__ADS_1


__ADS_2