
"Tuan! Tuan Robert!"
Uhuk ....
Ayah Robert langsung menyemburkan kopi hangatnya, saat salah satu bodyguard datang dengan tergopoh-gopoh dengan membawa sebuah koran di genggamannya.
"Tuan Robert!" panggilnya kembali membuat Robert langsung menoleh kesal dan meletakkan cangkir kopinya dengan kasar.
"Ada apa, Sam? Kau membuat ku terkejut saja!" ketus pria paruh baya tersebut dengan menatap pria yang berprofesi sebagai bodyguard bernama Samuel.
Samuel langsung menggaruk tengkuknya sendiri dan menjadi metaea bersalah, "Maafkan saya, Tuan. Ta ... tapi ada yang jauh lebih pen-"
"Katakan saja, jangan bertele-tele!" kesal Ayah Robert mulai bertambah dua kali lipat karena ulah bodyguardnya sendiri.
"Ini, Tuan. Koran ini baru saja di kirim oleh petugas, dan wanita bernama Lona itu tewas di tabrak."
"APA?!" pekik Ayah Robert dengan merebut koran dari Samuel dengan cepat. Pria itu membaca semua artikel tentang kasus tabrak lari yang baru saja terjadi kemarin siang. Ayah Robert tak percaya dengan apa yang terjadi.
"Lona? Wanita yang kau ajak ...."
"Benar, Tuan. Wanita yang menjadi bartender itu," jelas Samuel yang mulai cemas dengan raut wajah sang Tuan yang mulai pias.
"La ... lalu bagaimana keadaannya?" tanya Ayah Robert penuh pertanyaan sekaligus cemas di wajahnya. Samuel tertunduk dan menggelwng sebagai jawabannya.
"Lona tiada karena kecelakaan tersebut, Tuan. Tubuh Lona terseret beberapa kilo meter oleh sebuah mobil hitam, saya sudah meminta pihak IT kita untuk mencari tahu siapa dalangnya tabrak lari tersebut, Tuan." kata Samuel dengan serius. Ayah Robert mengepalkan kedua tangannya dan menatap ke depan dengan penuh amarah.
"Kau benar, kita harus mencari tahu dalangnya, tapi aku sudah mengetahui siapa dalangnya. Sam, hubungi Calvin, Arthur, Zane untuk segera datang!" perintah Ayah Robert membuat Samuel langsung membungkuk hormat sebagai jawaban.
"Baik, Tuan." Samuel bergegas pergi, tetapi pria tersebut kembali lagi dan membungkuk hormat, "maaf membuat Anda tidak menikmati kopi Anda, Tuan."
Ayah Robert menoleh kesal, "Kau ingin aku tendang, Sam?!"
Samuel menggeleng dan bergegas pergi setelah itu. Sedangkan, Ayah Robert menghela napas panjang dan memilih untuk pergi ke kamarnya, dan meninggal aktivitas awalnya, menikmati kopi. Entah kenapa, perasaannya mulai tidak bersahabat.
__ADS_1
"Aku merasa ada hal besar yang akan terjadi, Kim." Gumam Ayah Robert dengan lirih. Pria itu masuk ke dalam kamar, kamar lamanya dengan mendiang sang istri. Bahkan terpajang foto USG pertama kandungan mendiang sang istri dan juga alat tes kehamilan yang di bingkai rapi, bersebelahan dengan tes kehamilan pertama milik mendiang istrinya dan juga tes kehamilan pertama milik Chelsea.
Pria itu menatap ketiga benda yang begitu menenangkan hatinya, "Kim, apakah kau juga merasakan hal hak yang sama seperti ku dari atas sana, Sayang?" tanyanya dengan mengelus tes kehamilan pertama mendiang sang istri.
"Aku akan berusaha untuk menjaga putra dan putri kita dengan nyawa ku. Aku berjanji akan menangkap dalang kecelakaan itu secepatnya, walaupun aku sudah mengetahui siapa dia, tapi aku harus menunggu waktu yang tepat, Kim. Aku berjanji," lirihnya dengan tersenyum sangat tipis, bahkan tak sadar dengan air mata yang sudah lolos begitu saja.
...****************...
Chelsea, wanita itu menatap layar televisi yang sejak tadi terus menayangkan sejumlah berita yang sama di setiap kali di alihkan ke acara lain. Wanita yang sedang menikmati pijatan dari Daniel itu, berdecak kesal.
"Kenapa hanya berita saja sih adanya!" kesal wanita itu, membuat Daniel yang sejak tadi memasang wajah pasrah pun mulai menadah.
"Ada apa? Berisik sekali sejak tadi," ketusnya dengan malas. Chelsea melirik dan menunjuk televisi dengan dagunya.
"Aku ingin menonton kartun, tapi yang di tayangkan sejak tadi hanya berita tabrak lari!" jawabnya membuat Daniel langsung menoleh ke arah televisi. Seketika mata pria itu menyipit sempurna di kala melihat rekaman cctv yang memperlihatkan sebuah mobil hitam yang melaju kencang.
"Matikan saja, Zane bisa marah kepada ku kalau membiarkan mu menonton berita ini," tuturnya dengan merebut remote televisi dan tersenyum pasrah dengan menyerahkan kembali remote tersebut. "Sekarang nikmati pijatan ku, Nyonya Ratu." imbuhnya dengan menyindir.
"Pijatan mu kurang keras, lihat kaki ku semakin terlihat bengkak!" keluh Chelsea dengan menepis tangan Daniel yang hendak memijat kakinya lagi. Daniel menghela napas panjang dan melirik jam dinding di dekat sana.
"Ada apa ini?"
Daniel langsung menelan mentah-mentah ucapannya dan tersenyum saat menyadari bahwa Zane sudah berdiri di belakangnya dengan menenteng jas hitam miliknya. Chelsea tersenyum senang dan bergegas memeluk suaminya, yang semakin tampan setiap harinya membuat Chelsea semakin di buat jatuh cinta.
"Sayang, i miss you."
Zane dengan senang hati membalas pelukan sang istri dan mengecup puncak kepala Chelsea, "I miss you to, baby. Apakah mereka terus bergerak aktif?" tanya Zane dengan mengelus perut bulat Chelsea. Daniel menghela napas panjang dan sedikit meregangkan otot-otot tubuhnya.
"Karena suami mu sudah datang, aku harus pergi."
Zane melirik sahabatnya dengan mengerutkan kening, "Kau ingin pergi ke mana?"
"Tentu saja perawatan, aku harus rutin melakukan SPA." jawab Daniel dengan menyentuh kulit wajahnya dengan menyunggingkan senyum. Zane memutar matanya malas dan mengibaskan tangannya, mengusir Daniel.
__ADS_1
"Pergi-pergi, aku ingin berduaan dengan istri ku!" Usirnya. Daniel mendelik dan langsung pergi begitu saja dengan menghentakkan kakinya. Chelsea tidak peduli dengan Daniel dan menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
"Zane, aku bosan." ungkapnya dengan memainkan kancing kemeja hitam sang suami. Zane terdiam sejenak dan mengulas senyum.
"Kau ingin apa? Menonton film? Kartun? Atau kita pergi berbelanja?" tawar pria tersebut dengan memainkan anak rambut Chelsea. Wanita hamil itu berpikir sejenak dan menggelengkan kepalanya, menolak.
"Aku tidak ingin kemana-mana, aku takut kalau kita mengalami kecelakaan nanti." balas Chelsea dengan lugas, Zane terkejut dengan ucapan sang istri.
"Kenapa kau mengatakan itu, Sayang?"
Chelsea mengangkat bahunya tidak tahu, perasannya tidak menentu sejak tadi, lebih tepatnya sejak ada berita kecelakaan tabrak lari yang terus tayang di televisi sejak tadi pagi. Wanita hamil itu memiliki firasat yang begitu buruk yang akan terjadi. Zane mengelus rambut panjang sang istri dan berkata, "Apakah ada yang mengatakan sesuatu kepada mu?"
"Tidak, hanya saja ada berita kecelakaan tabrak lari yang melibatkan satu mobil. Tapi kalau di lihat-lihat, mobil itu sengaja menabrak wanita itu hingga tiada." jelas Chelsea dengan menunjuk ke arah televisi yang mati karena ulah Daniel.
"Jangan di pikirkan. Dokter sudah mengatakan jangan terlalu memikirkan sesuatu yang tidak penting, kan? Itu bahaya untuk kandungan mu, Sayang." ujar Zane dengan penuh perhatian. Chelsea tersenyum dan mengangguk.
"Jangan ke mana-mana ya, aku takut."
Sedangkan di sisi lain, Ibu Tasya menatap layar televisi yang terus-menerus menampilkan berita kecelakaan tabrak lari di sana. Wanita itu terus dan tanpa hentinya menyipitkan mata saat melihat mobil hitam yang benar-benar terekam kamera CCTV di beberapa persimpangan lampu merah.
"Mobil itu? Dasar wanita gila!" umpat Ibu Tasya setelah menyadari sesuatu yang begitu mengejutkan. "Rencana belum di mulai, tapi wanita **** itu sudah membuat masalah!" tambahnya dengan penuh kesal. Wanita itu sengaja kembali ke kediaman Lincoln untuk mengambil beberapa barang penting, termasuk menemui Sonia yang sudah beberapa hari tidak berada di sampingnya.
"Tapi apa peduli ku, lagipula kasus ini tidak ada sangkut pautnya dengan ku. Lagipula aku merasa tidak dirugikan," ucap Ibu Tasya dengan acuh dan melenggang pergi begitu saja untuk menemui Sonia yang masih berada di kediaman Lincoln.
"Sonia harus kembali menjadi pion ku, kalau tidak bisa gagal semua rencana ku!" Gumamnya dengan penuh percaya diri. Wanita itu berjalan keluar dan tersenyum saat melihat wanita yang tengah Ia cari, berada di depannya dengan membawa nampan kosong.
"Sayang!"
Langkah Sonia terhenti dan mengerutkan keningnya saat melihat sang Ibu yang sudah berdiri tak jauh darinya. Sonia tersenyum senang, "Ibu Tasya!" sapanya dengan girang. Ibu Tasya mendekat dan memasang wajah angkuh.
"Kenapa kau betah sekali di sini? Kenapa tidak ikut Ibu pulang ke rumah? Kau tidak merindukan ku dan Ayah mu?" tanya Ibu Tasya dengan banyak pertanyaan. Sonia meletakkan nampan kosong yang Ia bawa di meja kaca di sana.
"Mana mungkin, aku masih di sini karena misi ku belum selesai. Aku masih harus merebut Zane dari Chelsea, Bu!" balas Sonia dengan memeluk tubuh Ibu Tasya. Sonia yang awalnya tersenyum, kini berubah menjadi datar dan penuh dendam.
__ADS_1
Misi ku beralih untuk membunuh mu, Tasya Kamila. Kau wanita busuk yang pernah aku temui. Kini ajang balas dendam sudah di buka, kita lihat siapa yang akan menang di sini.